Usia kehamilan Saskia yang sudah memasuki lima bulan. Saskia hari ini berencana melakukan periksaan kehamilannya, ia ingin sekali mengetahui perkembangan janinnya dalam rahimnya hasil hubungannya dengan sang kekasih pujaannya Shafi. Cinta yang ia punya untuk lelaki itu, masih tersimpan indah dilubuk hatinya yang terdalam. Suatu saat nanti ia berharap bisa bertemu lagi sang kekasih, walaupun itu rasanya nihil. Lama ia mematut dirinya di depan cermin, melihat perutnya yang sudah mulai membesar. Kali ini ia sudah nekat pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya tanpa di temani oleh siapapun. Seperti biasa ia juga tidak ingin sopir pribadi yang ada di rumahnya untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Ia sengaja memakai jasa taksi online untuk mengantar dirinya ke rumah sakit. Tidak lama kemudian, taksi online sudah menjemputnya. Ia memasuki mobil itu dan meminta sopir taksi itu segera berangkat.
Setibanya ia di rumah sakit, ia mencari ruang SpOG atau dokter spesialis kandungan. Karena kebingungannya tanpa sengaja tubuhnya tertabrak oleh seseorang yang hampir membuatnya jatuh.
"Akhh!" Teriaknya kaget hingga tubuhnya ditangkap oleh orang yang menabraknya tadi.
"Astagfirullah!" Alhamdulillah terimakasih tuan...!" Ucapnya putus-putus ketika melihat orang yang menabraknya tadi adalah dosennya, pak Rangga.
"Saskia!" Pekik Rangga dengan mata melotot kearah Saskia, mahasiswanya yang telah mencuri perhatiannya selama ini.
"Pak Rangga!" Maafkan saya sudah menghalangi jalan anda." Ucap Saskia gugup.
"Apa yang kamu lakukan di sini Saskia?" tanya Rangga yang sudah mengusai keterkejutannya setelah berpapasan dengan mahasiswi kesayangannya ini.
"Oh itu pak saya mau memeriksa kehamilan saya, tapi saya bingung mencari ruangan dokter spesialis kandungan, karena saya baru pertama kali datang ke rumah sakit ini untuk memeriksa keadaan kandungan saya." Ucap Saskia hati-hati dengan wajahnya yang kelihatan gelisah.
"Apaaa?" Maksudmu kamu baru mau memeriksa kehamilanmu sekarang, dan kamu ke sini datang sendiri tanpa ditemani oleh suamimu?" Tanya Rangga yang merasa heran dengan Saskia yang nekat datang ke rumah sakit sendiri tanpa ditemani oleh siapapun.
"Tidak apa-apa pak, suami saya memang sangat sibuk jadi, ia tidak punya waktu untuk menemani saya ke dokter." Ucap Saskia membohongi dosennya ini.
"Ayo aku temani kamu, aku tahu dokter spesialis kandungan yang terbaik di sini." Ucap Rangga sembari meraih tangan Saskia menuju ruang dokter spesialis kandungan yang ia maksud.
"Tapi pak saya ingin sendiri saja, saya tidak mau merepotkan anda pak Rangga." Ucap Saskia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan Rangga.
Tanpa memperdulikan penolakan Saskia, Rangga malah merangkul pundak Saskia, seolah sedang menunjukkan kepada pengunjung rumah sakit tersebut bahwa Saskia adalah istrinya.
"Pak kita sedang diperhatikan banyak orang, entar malah jadi viral di medsos kalau diantara pengunjung itu mengenali kita." Ucap Saskia yang sudah jengah dengan perlakuan Rangga yang tidak memikirkan dampak buruk prilakunya pada Saskia jika ketahuan oleh orang-orang terdekat mereka.
"Aku tidak peduli Saskia, justru itu yang aku inginkan, jika hubungan kita sampai ketahuan, aku ingin menikahimu setelah suamimu menceraikanmu ketika mengetahui hubungan kita.
"Hubungan apa sih pak, kapan kita buat komitmen untuk hubungan kita, bukankah kita hanya dosen dan mahasiswa, tidak lebih dari itukan?" Tanya Saskia yang sudah mulai kesal dengan tingkah kekanak-kanakan dosennya ini.
"Barusan aku ucapkan bahwa kita berdua memiliki hubungan spesial, nah ini ruangannya yang kamu cari, ayo kita daftar namamu terlebih dahulu sebelum masuk ke sini. Kamu tunggu di sini, biar aku yang melakukan registrasi untukmu." Ucap Rangga lalu meninggalkan Saskia menuju loket pendaftaran pasien baru.
"Ada apa dengan orang itu, mengapa dia begitu semangat menemaniku, cih!" Emangnya aku miliknya apa." Gerutu Saskia yang merasa dosennya itu seperti orang aneh. Iapun mengambil ponselnya didalam tasnya hendak membuka aplikasi novel online yang sedang ia ikuti perepisodenya.
"Apakah kamu sedang merutuki diriku Saskia?" tanya Rangga dengan senyum menggoda sambil menaikan kedua alisnya.
"Apakah kamu mengira aku suka diperlakukan seperti ini oleh dirimu pak Rangga?" tanya Saskia yang merasa dosennya ini terlalu berlebihan memperlakukan dirinya.
"Nyonya Saskia!" panggil suster untuk pasien berikutnya.
"Ayo masuk, namamu sudah dipanggil." ucap Rangga seraya menarik tangan Saskia.
Saskia menuruti perintah dosen gilanya itu tanpa banyak berkomentar. Percuma juga ia menolak karena semakin ia menolak dosennya tidak mempedulikan perkataannya dan terkesan cuek menghadapi cemoohannya. Keduanya sudah duduk di hadapan dokter spesialis kandungan yaitu dokter Dita Siregar. Dokter itu tersenyum menatap wajah keduanya lalu menanyakan hal yang biasa ia tanyakan kepada para pasiennya.
"Apakah ini kehamilan anak pertama kalian?"
"Iya dokter!" Jawab Saskia singkat.
"Sudah pernah memeriksakan kehamilan anda sebelumnya."
"Belum sama sekali, hanya menggunakan tes pack saja ketika awal kehamilan saya dokter dengan dokter pribadi keluarga.
"Ok, silahkan anda berbaring nona, dan suster tolong dibantu nona Saskia." Pinta dokter Dita kepada Saskia dan suster secara bersamaan.
Suster memposisikan tubuh Saskia agar berbaring dengan nyaman lalu dokter memeriksa keadaan janin Saskia dengan cara USG pada perutnya Saskia. Rangga yang melihat perut mulus Saskia dan bagian pangkal paha Saskia yang nampak terekspos bentuk indah bagian bawah perut Saskia pada kewanitaannya. Rangga menelan salivanya dengan gugup, menyaksikan kemolekan tubuh Saskia walaupun hanya bagian perut sampai dibawah payudaranya yang nampak lebih besar karena pengaruh hormon kehamilannya.
Dokter mulai menjelaskan hasil USG pada janin Saskia kepada ibu hamil ini secara terperinci dan Rangga ikut mendengarkan penjelasan dokter Dita, tentang kehamilan Saskia, gadis yang sangat ingin dimilikinya.
Pada usia kehamilan 21 minggu, bobot janin sudah lebih berat daripada plasenta. Janin juga mengalami sejumlah perkembangan lain, seperti:
Tubuh mulai ditumbuhi bulu-bulu halus bernama lanugo yang berfungsi untuk menjaga suhu tubuh dan melindungi kulit janin. Lanugo biasanya akan menghilang sebelum bayi lahir.
Kelopak mata telah selesai terbentuk.
Organ pencernaan semakin matang.
Janin mulai berlatih bernapas untuk mempersiapkan diri hidup di luar rahim.
"Nanti usia kandungan sudah memasuki tujuh bulan sampai sembilan bulan tuan sering-sering mengunjungi calon bayinya dengan begitu calon ibu akan mudah melahirkan ketika jalan lahir sering menerima rangsangan dari pen*s suami pada va*na istrinya yang hamil tua. Apakah anda paham tuan Rangga?" tanya dokter Dita dan di sambut anggukan kepala Rangga dengan mengulum senyum manisnya.
"Bulan depan anda bisa melakukan kontrol kembali nona Saskia, karena kita harus melihat jenis kelaminnya jika kalian setuju ingin mengetahui jenis kelamin bayi anda." Ucap dokter Dita mengakhiri pemeriksaan kehamilan Saskia.
"Baik dokter!" Terimakasih banyak atas penjelasannya, kami pamit, selamat sore!" ucap Rangga lalu meninggalkan ruang pemeriksaan dokter Dita.
Sesampainya di luar gedung rumah sakit, Saskia berjalan cepat meninggalkan Rangga yang sudah keterlaluan mengakui dirinya sebagai istrinya.
"Saskia tunggu mengapa jalanmu buru-buru seperti itu!" teriak Rangga panik sembari mengejar langkah kaki Saskia.
"Mengapa anda lakukan itu padaku, mengapa anda tidak kuatir sedikitpun jika keluarga kita mengetahui ini semua. Aku tidak peduli lagi dengan status anda sebagai dosenku, aku dan kamu saat ini adalah dua orang lawan jenis yang sedang berhadapan saat ini sebagai orang biasa, jadi aku tidak perlu menjaga sopan santunku di hadapanmu." Ucap Saskia menatap tajam wajah dosen tampannya tersebut.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang, jangan berdebat dan jangan menolakku untuk mengantarmu sampai ke rumahmu, kamu mengerti Saskia?" Tanya Rangga sembari menarik Saskia membawa gadis itu ke mobilnya yang tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.
"Lepaskan aku, aku tidak mau di antar olehmu, toh aku tadi datang sendiri ke sini tanpamu mengapa sekarang kamu yang malah jadi so pahlawan begitu?" Sungut Saskia sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan tangan Rangga.
"Jika kamu berbicara lagi aku akan terpaksa menggendongmu membawa ke mobilku." Ancam Rangga dengan ekspresi wajah yang sangat serius hingga membuat Saskia cukup bergidik dibuatnya.
"Dasar laki-laki aneh kamu sangat menyebalkan." Gerutu Saskia yang sudah tidak mampu lagi melawan Rangga yang memperlakukan dirinya seperti ia adalah istrinya.
Rangga membuka pintu mobilnya lalu meminta Saskia masuk ke mobilnya, ia juga langsung memasang Seat belt pada tubuh Saskia dengan hati-hati karena perut Saskia yang sudah makin membesar.
"Sudah nyaman sayang?" Tanyanya kepada Saskia yang mendengar pertanyaannya itu sambil melotot tajam ke arah wajah Rangga. Bukannya takut dengan tatapan mata cantik itu yang memandangnya dengan wajah kesal, ia malah melumat bibir Saskia secara spontan membuat Saskia gelagapan. Saskia yang nampak terkejut itu ingin menolak namun Rangga telah mengusai dirinya, apa lagi posisi duduknya saat ini agak sulit bergerak, ia pun pasrah dan diam-diam ia menikmati ciuman hangat Rangga yang kini membuatnya merasa sangat nyaman. Rangga tersenyum dalam hati, iapun melepaskan pagutan bibirnya pada gadis muda ini lalu menutup pintu mobil yang ada di sisi Saskia. Iapun beranjak ke tempat duduknya yang siap mengantar gadis yang selama beberapa hari ini sangat ia rindukan. Pertemuan tidak terduga mereka membawa keberuntungan bagi dirinya, dengan semangat ia menjalankan mobilnya meninggalkan gedung rumah sakit tersebut untuk mengantar sang pujaan hati, ia tidak peduli walaupun Saskia sudah memiliki suami. Ia sudah meminta asisten pribadinya untuk menyelidiki kehidupan Saskia yang sudah banyak ia tahu tahu informasi tentang gadis ini. Dengan bermodalkan informasi itu ia ingin mengambil Saskia dari suaminya yang telah memiliki tiga istri itu. Mobil itu tidak mengarah ke arah rumah Saskia melainkan ke apartemen miliknya, Saskia mulai merasa bahwa ia sedang di tipu oleh dosennya ini.
"Hei!" Kamu mau membawa aku ke mana? arah rumahku bukan ke arah sini." Ucap Saskia yang menatap wajah tampan dosennya ini dengan tatapan curiga.
"Sebentar Saskia, ada sesuatu yang ingin aku ambil dulu di apartemenku, kebetulan benda itu yang akan aku berikan kepadamu yang sudah lama aku siapkan untukmu, hanya saja aku tidak tahu cara memberikannya padamu, tidak apakan sekalian saja aku kasih ke kamu, mumpung kita ketemu dan kebetulan sedang berdua saja." Ucap Rangga untuk membujuk Saskia supaya mampir dulu di apartemen miliknya.
"Aku tidak meminta dan tidak mengharapkan sesuatu darimu, mengapa kamu jadi mendadak perhatian padaku seperti ini?" Tanya Saskia yang tidak mengerti dengan jalan pikiran dosennya ini. Ia mulai lelah untuk terus bertanya kepada Rangga yang tidak begitu peduli dengan setiap perkataan keberatan yang diajukan kepada dosennya ini. Tidak lama mobil itu sudah memasuki parkiran gedung apartemen Rangga sesuai dengan lantai kamar Rangga. Mereka kemudian turun dan berjalan menuju kamar apartemen milik dosen Saskia tersebut.
"Silahkan masuk Saskia, kamu mau minum apa." Tanya Rangga menuju lemari es tersebut dan mulai memilih minuman yang cocok untuk ibu hamil. Minuman jus buah yang dipilih Rangga untuk Saskia, ia memasang sedotan ke minuman tersebut dan memberikannya kepada Saskia yang sedikit merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu di apartemen tersebut. Rangga mengamati wajah Saskia yang makin cantik dengan balutan jilbab pink yang dipakai gadis itu.
"Bagaimana rupa asli gadis ini ya, jika jilbab itu dibuka," gumamnya membatin.
Saskia menyedot minumannya sambil memperhatikan ponselnya untuk mengendalikan debaran jantungnya ketika merasa diperhatikan oleh pria tampan yang ada dihadapannya ini.
"Saskia, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya Rangga yang memulai memecahkan kebisuan diantara mereka yang beberapa saat begitu terasa hening.
"Apakah sangat penting untukmu mengetahui kehidupan rumah tanggaku?" Tanya Saskia yang tidak ingin dosennya ini tahu apa pun tentang kehidupan pribadinya.
"Saskia aku tahu kamu saat sedang merasakan kesepian, aku tahu kamu butuh suami yang memanjakanmu setiap saat, apa lagi saat ini kamu sedang mengandung." Ujar Rangga yang ingin Saskia berbagi dukanya dengan dirinya.
"Aku mau pulang!" Pinta Saskia yang tidak ingin terus diinterogasi oleh Rangga.
Rangga menangkap tubuh Saskia yang ingin beranjak pergi keluar dari apartemennya. Ia dengan bringas mencium wajah cantik Saskia dan menarik jilbab pasmina sifon yang melekat di kepala Saskia hingga terpampanglah kecantikan Saskia dengan mahkota rambutnya panjang yang indah. Saskia sangat kaget dengan perlakuan Rangga. Lagi-lagi Rangga kembali mendaratkan ciumannya dengan mendorong tubuh Saskia kembali berbaring di sofa itu, ia mengunci tangan Saskia ke belakang sehingga gadis itu tidak mampu berontak. Bibir itu dilumatnya dengan rakus hingga memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Saskia untuk mendapatkan lidah Saskia. Gadis itu akhirnya menikmati sentuhan lidah milik Rangga yang menari dalam rongga mulutnya, tukaran saliva pun terjadi, Rangga makin gila dengan serangannya ketika Saskia sudah pasrahkan tubuhnya untuk dinikmati pria tampan ini. Tidak hanya bibir dan lidah Saskia, ia mulai melucuti baju gadis itu hingga terlihat pay*dara Saskia yang menyembul indah yang nampak makin besar karena hormon kehamilannya. Kedua put*ng Saskia dipilinnya dengan lidahnya lalu dihisapnya dengan lembut.
"Ohhhh...akkhh Rangga!" lenguh Saskia menikmati sentuhan mulut Rangga pada bukit kembarnya.
Mendengar lenguhan Saskia yang begitu syahdu ditelinganya, seakan membakar birahinya untuk makin nekat mengusai tubuh gadis yang sedang hamil itu. Dengan tangan nakalnya ia sudah menggapai biji kenyal yang ada di organ kewanitaan Saskia yang sudah terasa basah karena rangsangan demi rangsangan yang dilancarkan oleh Rangga pada bukit kembarnya tersebut.