Diandra Alexandria, seorang gadis dengan perawakan mungil nan imut, meskipun dia sudah berusia 22 tahun tapi masih terlihat imut seperti anak SMA. Bahkan orang tidak akan percaya jika tidak melihat kartu pengenalnya.
Seperti saat Andra melamar pekerjaan di kafe ini. Manager kafe itu hanya melihat Andra tak percaya hingga ia melihat CV Lamaran kerja yang dibawa Andra.
"Di!" seru Ellen memanggil sahabatnya yang malah melamun.
"Diandra Alexandria!!!" teriak Ellen tepat di dekat telinga Andra, hingga gadis itu terlonjak kaget.
"Gue tahu ya elo lagi ada masalah, tapi jangan ngelamun saat kerja woyyy!!" peringat Ellen. Andra hanya tersenyum malu mendapati dirinya terciduk sambil mencuci piring yang tidak habis-habis karena sama sekali tidak ia kerjakan.
"Itu piring dari tadi masih satu aja?!"
"Eh, iya. Maaf-maaf. Gue beresin sekarang!" Diandra segera melakukan tugasnya.
"Gak usah, itu nanti aja. Noh di depan pengunjung lagi banyak. Sana elo urus, kita lagi kekurangan orang. si Dita gak masuk hari ini!" ucap Ellen menunjuk ke depan.
"Loh si Dita kenapa lagi?" tanya Andra sambil mengelap tangannya dengan lap bersih.
"Adiknya kena demam berdarah, jadi tadi ijin ke rumah sakit."
"Oh, kasihan." Andra mengiba.
"Lebih kasihan lagi kalau bos lihat elu ngelamun, gak kasihan sama diri sendiri kalau elo di pecat sama pak bos?" Andra meringis.
"Hehe, jangan dong, kok doainnya jelek banget sih."
"Ya lagian elo, tahu lagi jam makan siang malah ngelamun, masih untung gue yang nemuin elu, lah kalau pak bos? Bisa langsung di tendang elu dari sini!"
"Iya. Meja mana yang belum di layani?" Andra sambil berlalu.
"Tanya si Roni noh!" tunjuk Ellen.
"Ron, meja nomor berapa?" Tanya Andra mengambil alih nampan dari tangan Roni.
"Meja dua belas!" seru Roni lalu kembali masuk ke area dapur.
"Oke Andra, semangat! Gak usah melamun hari ini!" Andra menyemangati dirinya sendiri dan mulai melangkah ke meja nomor dua belas.
"Silakan pak, ini pesanan ba-pak!" Andra tertegun saat melihat seseorang yang tengah tersenyum miring padanya. Andra menundukkan pandangannya dan segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke belakang.
Andra bersandar pada dinding dan memegangi dadanya yang berdetak tiga kali lebih cepat.
'[Kenapa bisa sampai ketemu dia lagi?'] batin Andra dia melongokkan kepalanya ke arah dimana pria itu duduk.
'[Tidak salah lagi, itu memang dia!'] Andra memukul kepalanya dengan nampan yang di ada di tangannya.
"Eh elu udah gila ya?" tanya Ellen yang melihat kelakuan Andra.
"Napa malah disini. Noh pengunjung makin banyak. Cepetan. Gue lagi bantuin di dapur!" Usir Ellen. Lagi-lagi Andra tersenyum so imut.Ellen haya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Andra yang seperti ini.
"Len, elo aja deh yang di depan biar gue di dapur, ya please!" Andra menangkupkan kedua telapak tangannya di depan d**a.
"Napa sih lo?" tanya Ellen heran. Andra yang tidak suka berada di dapur mendadak ingin di tempat dengan suhu panas itu.
"Enggak-enggak! Yang ada entar kacau kayak waktu itu. Udah sana cepetan, ntar pak bos lihat malah di omelin lu!" Ellen melenggang kembali ke arah dapur meninggalkan Andra yang berbalik ke tembok dan membenturkan kepalanya di sana.
Mau tidak mau, Andra pun kembali melayani para pengunjung yang semakin membludak.
Tatapan dari seorang pria tidak pernah lepas dari tubuh mungil itu. Dia memakan makanannya sambil terus memperhatikan Andra yang bergerak lincah kesana kemari melayani pengunjung. Tak lupa dengan senyum ramah nan manis yang sebenarnya tak rela ia lihat dan di tujukan Andra pada orang lain. Tapi apa daya, Andra bukan siapa-siapanya. Dan ia berniat akan menjadikan Andra miliknya selamanya. Dan secepatnya!
"Finally, I found you. Diandra Alexandria!"