Arsen tersenyum miring sambil memutar-mutar pulpen di jarinya. Bayangan Diandra yang ia temui dua hari yang lalu membuat dia tidak bisa melupakan gadis itu. Rasa manis bibirnya, dan rasa hangat tubuh wanita itu masih jelas dalam bayangannya.
Dua tahun yang lalu.
Arsen dan teman-temannya sedang berada di klub untuk merayakan pesta lajang seorang temannya, karena lusa akan menikah. Mereka juga menyewa beberapa wanita seksi untuk menemani acara mereka. Menuangkan minuman atau sekedar menemani duduk, tak jarang pula ada yang saling mencumbu, tanpa malu berciuman padahal di sekitar sana masih banyak orang.
"Hey Sen, elo gak panas tuh lihat si Gio. Dia aja di temenin dua cewek seksi, dan elo?" goda Fandi menunjuk tepat pada wajah Arsen.
Arsen yang kesal mendengarnya hanya bisa mendengus kesal sembari menenggak minumannya langsung dari botol yang ia pegang.
Arsen, pria blasteran Indo-Spanyol, ibu dari Spanyol sedangkan ayahnya Indo asli. Wajahnya tampan, tinggi dan berisi, otot tubuhnya terlihat jelas di setiap bagian tubuhnya yang terbalut kemeja biru.
Bukan hal yang sulit untuk Arsen menggaet seorang wanita, bahkan di luaran sana, banyak yang mengantri untuk memperebutkan perhatiannya, bahkan dengan sukarela mereka mau membuka selangkangannya untuk Arsen. Gratis!
Tapi Arsen bukan pria yang kurang ajar, yang menggunakan kesempatan itu untuk menabur benih di manapun. Baginya ia hanya ingin menyerahkan semua hidupnya dengan wanita yang di cintainya, yang akan di nikahinya.
Berfikiran kolot? Ya, meskipun Arsen sering di ejek, tapi Arsen tidak peduli. Baginya ia juga tak ingin sembarangan dan tak ingin salah dalam bertindak. Contoh dari perbuatan itu adalah sahabatnya sendiri. Terbukti membuat seorang wanita hamil dan membuat dia terjebak dalam kehiduannya yang membosankan.
Arsen hanya terdiam mendengar celotehan teman-temannya yang terus mengejeknya.
"Gue pulang!" Arsen berdiri membuat beberapa teman yang lain menatapnya heran.
"Mau kemana lo?" tanya Denis si empunya acara.
"Pulang! Gue bosen disini." Tanpa menghiraukan panggilan yang lain Arsen melangkah menuju mobilnya.
Fikirannya kacau, tidak ada yang tahu kalau selama ini Arsen sedang mempunyai hubungan dengan seorang model ternama yang sedang naik daun. Arsen ingat kemarin malam Vanya memutuskan hubungan dengannya. Alasannya, karena Arsen terlalu monoton, membosankan, sedangkan Vanya haus akan belaian. Nyatanya materi yang selama ini ia berikan tak cukup membuat seorang Vanya Rosseline, setia padanya. Dia mengakui kalau selama ini berselingkuh dengan pria lain karena Arsen tidak pernah mau menyentuhnya. Hanya ciuman saja tidak membuat Vanya terpuaskan.
"Wanita JALANG!!!" Arsen berteriak, memukul setirnya beberapa kali. Selama ini dia tahu kalau Vanya diam-diam menjalin hubungan dengan pria lain hanya saja karena rasa sayangnya Arsen menutup mata. Mungkin Vanya hanya bosan dan dia akan kembali lagi padanya seperti dulu. Tapi Arsen salah, Vanya yang ia kenal sudah berubah, bahkan dia bilang sudah pernah tidur dengan pria lain. Wanita yang ia jaga dengan susah payah, tapi dengan gampangnya menyerahkan tubuhnya pada yang lain.
Arsen melajukan mobilnya ke hotel miliknya. Keluar dari mobil dengan satu botol air laknat di tangannya. Dia bersandar di kap mobil dan menenggak minuman itu hingga tandas, lalu membanting botol yang sudah kosong hingga pecah berserakan di lantai.
Arsen berjalan menuju lift ke lantai sepuluh dimana kamarnya berada. Efek alkohol masih merajainya, hingga ia sedikit limbung saat berjalan. Membuka kamar, dia melihat ada seseorang disana.
"Vanya?" panggilnya, tapi gadis itu malah mundur menjauh. Arsen melebarkan kedua tangannya. Biasanya Vanya akan langsung berlari ke dalam pelukannya, tapi gadis ini malah semakin mundur hingga tersudut di dinding.
"Maaf, pak. Anda si-siapa?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Diandra. Dia merasa takut dengan kehadiran pria asing di kamar hotelnya.
"Hehh, Vanya semudah itu kah kamu melupakan aku? Hahh, tentu saja. seorang Vanya Rosseline yang kini sudah menjadi model terkenal sangat mudah melupakan aku yang hanya kekasih gelapmu." racau Arsen.
"Aku bukan Vanya. Tolong lepaskan aku pak" Diandra semakin takut apalagi Arsen mencengkeram pipinya dengan tangan kiri.
"Hehh, jangan soak jual mahal kamu. Bukankah ini yang kau inginkan, hehh? Bukankah kamu sudah lama pngin kita bersenang-senang?" tawa Arsen membuat Diandra ketakutan setengah mati. Andra mencoba melepaskan tangan Arsen dari rahangnya, tapi Arsen tidak mudah melepaskan Andra.
"Pak saya mohon, lepaskan saya. Saya bukan orang yang anda cari! Bapak salah orang!" dengan susah payah Andra berbicara, tapi Arsen mencengkeramnya semakin keras.
"Jadi ini balasan kamu selama ini? Apa yang kurang dari aku, hahh?!!" teriak Arsen sangat dekat dengan wajah Diandra, bahkan Diandra sampai berjinjit karena Arsen.
"Uang, ketenaran, cinta. Semua sudah aku berikan sama kamu!! Tapi kamu sudah berkali-kali hianatin aku!!" air mata Andra terus saja mengalir tak bisa berhenti, membuat Arsen semakin suka saat gadis yang ia sangka Vanya itu menangis dan ketakutan. Sungguh otaknya sudah di pengaruhi oleh hal buruk.
"Pak, tolong, lepaskan..." Diandra memukuli tangan Arsen sekuat tenaga walau ia tahu itu akan percuma. Pria di depannya sudah di kuasai nafsu dan amarah.
"Lepaskan?" tanya Arsen. Andra mengangguk. Arsen tersenyum miring, mendecih dan mengumpat. Arsen malah mengangkat tubuh Andra dan menghempaskannya ke atas ranjang. Andra mundur, tapi satu kakinya di tarik Arsen. Teriakan dan permohonan Andra tidak di dengarkan sama sekali.
Dengan segera Arsen memegang gaun Andra di bagian depan dengan kedua tangan dan menariknya hingga baju itu robek, dan terpampanglah dua aset yang selalu Diandra jaga. Andra menutupi tubuhnya dengan selimut, tapi selimut itu di tarik Arsen dan di buangnya ke lantai. Tak ada lagi yang bisa menutupintibuh Andra selain kedua tangannya. Arsen menelan ludahnya kasar, meski masih tertutupi kain Arsen tahu betul apa yang ada di dalam sana. Jiwa kelelakiannya mulai keluar, aset yang ia jaga dan kendalikan bertahun-tahun tidak bisa lagi ia kendalikan kali ini. Meronta ingin keluar dan ingin merasakan nikmatnya syurga duniawi.
"Jangan pak! Saya mohon!" teriak Andra, Andra hendak berlari tapi dirinya di tahan oleh Arsen, Arsen mengunci tubuh Andra di bawahnya. Melumat bibir ranum Andra dengan kasar, membuat gadis itu membulatkan matanya. Andra terus menangis dan meronta hingga dia kehabisan tenaga. Kedua tangannya sudah diikat oleh Arsen dengan menggunakan dasi hingga Arsen dengan leluasa melucuti dua kain terakhir yang berada di tubuh Andra.
Melihat tubuh polos di depannya, Arsen lagi-lagi menelan ludah, apalagi Andra yang terus menggeliat mencoba melepaskan diri malah membuat Arsen melihat Andra semakin seksi dan menggoda, dia semakin hilang kendali.
Arsen segera melucuti pakaiannya sendiri hingga ia kini dalam keadaan polos.
Tak ingin berlama-lama. Arsen segara merangkak naik ke atas tubuh Andra. Arsen tak peduli dengan tangis Andra, dia malah sibuk menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Aahhh..." Desah Arsen saat dia merasakan milik Andra yang sempit, merasakan sesuatu yang menghalangi jalan masuk miliknya.
"Ahh..." desahan nikmat di rasakan Arsen, namun tidak untuk Andra. Andra merasa sakit, terhina, dan kotor. Andra terus menangisi nasibnya. Dia merasa salah dan merasa berdosa karena sudah nekat ke kota, padahal ibunya tidak mengizinkan.
'Ibu maafkan Andra.'
Arsen menggelengkan kepalanya, sekilas dia melihat wajah lain di depannya, bukan Vanya. Ya gadis yang kini ia lihat tak berdaya di bawahnya bukanlah Vanya, tapi orang lain. Tapi Arsen tidak bisa berhenti begitu saja. Entah kenapa dia tak bisa menghentikan perbuatannya. Nafsu bejatnya terlalu besar dan mengalahkan fikirannya.
Arsen terus bergerak di atas tubuh Andra yang sangat sakit dan lelah. Air mata Andra sudah tidak bisa keluar lagi. Hanya erangan rasa sakit pada bagian intinya. Namun terdengar seperti desahan bagi Arsen.
Hingga pada akhirnya Arsen menggapai puncaknya dan ambruk di atas tubuh Andra. Lelah dan pening di kepala membuatnya terlelap begitu saja tanpa melepas penyatuan mereka.
Andra merasa sesak di dadanya, tubuh Arsen sangat berat membuat dia tidak bisa bernafas. Andra segera mendorong tubuh Arsen dan dengan cepat ia bangkit. Tubuhnya terasa sakit, remuk redam dan juga perih.
Andra menatap nanar pada bajunya yang teronggok di lantai. Robek dan tidak bisa ia pakai lagi. Dengan segera ia mengambil kemeja biru milik Arsen dan juga celana pria itu. Ini lebih baik daripada ia keluar dengan keadaan telanjang. Mengenai pria itu, masa bodoh jika ia tak menemukan pakaiannya. Andra hanya ingin pulang.