"Mbak Ellen, gue pulang ya!" pamit Andra setengah berseru pada Ellen yang masih memakai jaketnya.
"Iya hati-hati!" ucap Ellen yang sudah melihat Andra lari menjauh. "Dasar anak itu kebiasaan!" gumam Ellen sambil tersenyum.
Andra setengah berlari keluar dari kafe, waktu kerjanya sudah habis dan di gantikan oleh sif malam. Kafe ini memang buka sampai jam sepuluh malam. Minggu ini Andra bekerja sift pagi.
Andra berjalan ke arah halte dimana ia akan naik bis atau angkutan untuk pulang. Andra menunggu sebentar. Biasanya sepuluh menit bis sudah datang. Atau angkot lebih cepat lagi, tapi di jam sibuk seperti ini angkutan agak susah untuk di dapatkan.
*
"Duh, anak mama udah ganteng!" seru Andra sambil menciumi pipi seorang balita berusia 15 bulan. Balita itu terkikik geli saat hidung sang mama mendarat di pipinya yang gembul. Dia berteriak kegirangan sesekali tangannya memukul pipi Andra meminta Andra berhenti melakukan hal itu.
"Wanginya. Kita pulang yuk!" ajak Andra sambil membenarkan gendongan sang putra. "Dadah sama ibu, nak. Dadah ibuu..." Andra memegang tangan sang putra dan melambaikan tangannya yang mungil pada wanita paruh baya yang di panggil ibu.
"Dadddd...daaaaaahhh!!"
"Dadah Farrel, besok main lagi sama ibu ya!" ucap ibu Ani, tetangga Andra yang selama ini mengasuh Farrel.
Andra membawa Farrel pulang ke kontrakannya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah ibu Ani.
Kontrakan berjejer memanjang, dengan lima pintu di deretan kiri dan kanan. Andra melangkahkan kakinya ke pintu kontrakan paling ujung, dimana selama dua tahun ini dia bernaung.
"Mammmhh...Mammmamm...mam..." Farrel berceloteh, dia masih belum lancar berbicara, tapi Andra sudah faham kalau Farrel saat ini lapar.
"Farrel lapar?" tanya Andra sembari mendudukan Farrel di atas karpet. Andra pergi ke dapur dan mengambil biskuit khusus bayi untuk Farrel. Dengan segera Farrel menyambutnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Remahan roti seketika mengotori bajunya. Tidak ada yang paling membahagiakan Andra selain melihat Farrel tumbuh besar dan sehat.
"Farrel tunggu disini. Mama mandi dulu ya!" titah Andra, meski sebenarnya Farrel masih belum mengerti. Farrel diam tak menjawab, malah asik memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi.
Andra mengunci pintu, dan memastikan tidak ada benda yang akan membuat Farrel celaka. Dia mengeluarkan seluruh mainan milik Farrel di depan bocah itu, tak lupa empat keping biskuit di atas piring milik Farrel.
Andra segera menuju ke kamarnya, melepaskan seluruh bajunya smbil terus memperhatikan Farrel yang masih sibuk memakan biskuit. Andra memakai handuk menuju ke kamar mandi, tak lupa baju yang sudah ia pakai seharian tadi ia bawa ke dalam kamar mandi untuk disimpan di dalam ember, menyatu dengan baju-baju kotor lain yang sudah tiga hari ini belum ia cuci.
Mandi dengan cepat, sesekali melongokkan kepalanya di celah pintu kamar mandi melihat Farrel, memastikan putranya tidak kemana-mana, lalu kembali melanjutkan mandinya. Begitulah acara mandi Andra setiap hari. Mempunyai anak balita bukan hal yang mudah.
Andra selesai mandi kini dia menggendong Farrel keluar dari kontrakan, tak jauh dari sana ada penjual bubur ayam langganan Andra. Biasanya jika sore Andra membeli bubur ayam untuk Farrel, dan membeli gorengan untuknya makan malam nanti.
Malam pun tiba, Farrel sudah terlelap di atas kasur dengan botol s**u di mulutnya yang hampir kosong. Andra mencium kening sang putra dan mengambil botol itu dari mulut Farrel perlahan. Pikirannya kalut, sejak kemarin dia bertemu lagi dengan laki-laki itu.
Di tatapnya wajah Farrel, matanya, hidungnya, bibirnya, mirip. Tak ada satupun yang terlewatkan. Bahkan tak ada sedikitpun wajah Andra yang terlihat ada pada wajah putranya. Tak terasa air mata Andra mengalir. Dia terisak pelan, sesekali mengusap air matanya yang terus jatuh.
Ingat saat malam naas itu terjadi dimana seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam kamar hotelnya dalam keadaan mabuk dan memperkosanya. Betapa hancurnya Andra saat itu. Apa yang ia jaga selama ini di rusak oleh pria yang tidak ia kenal.
Flashback on.
Andra pergi dengan memakai baju milik Arsen, dia tidak peduli dengan tatapan orang lain yang menatapnya aneh. Andra keluar dari hotel itu beberapa saat setelah Arsen terlelap. Dia takut jika tetap berada disana Arsen akan melakukan aksi bejatnya lagi.
Andra menghentikan taksi. Ia akan datang ke tempat temannya yang mengajaknya ke kota ini. Beruntung ia masih ingat alamat kontrakannya.
Sampai di kontrakan temannya, Andra segera masuk kesana. Sayup terdengar suara dua orang yang sedang berdebat dari dalam kamar.
"Kamu salah kamar mungkin!" suara seorang pria.
"Enggak, kamar 215 kan. Aku sendiri yang antar dia kesana. Gak mungkin salah!" suara seorang wanita yang sangat Andra kenal.
"Tapi papi Robert bilang kamar itu sudah kosong. Dan tidak ada teman kamu disana. Kamu yakin sudah kasih dia obat tidur?"
"Iya, aku yakin aku sendiri yang masukin ke dalam jus nya Andra."
"Tapi gimana bisa dia gak ada?"
"Ya mana aku tahu! Apa mungkin dia kabur?"
"Terus bagaimana? Akhhhh." pria itu berteriak. "Kita harus cari dia, dan serahkan sama papi Robert, atau dia akan mengamuk dan minta uang di kembalikan tiga kali lipat."
Deg..!
'Apa mereka sedang berusaha menjualku?' batin Andra, dadanya terasa sesak. Teman yang ia anggap baik malah ternyata sangat jahat dan tega menjual dirinya pada p****************g.
Andra mengendap-endap, mengambil beberapa baju yang ada tak jauh dari sana, baju milik Vera yang baru saja di setrika tadi sore dan belum di masukkan ke dalam lemari. Baju milik Andra berada di kamar. Tidak mungkin dia masuk ke dalam kamar, dia tidak ingin bertemu mereka dan berakhir di kandang buaya.
Dengan cepat Andra memasukkan baju-baju itu ke dalam kresek yang ia temukan, lalu Andra pergi secepatnya dari sana. Setengah berlari seperti maling yang takut ketahuan, ya itulah Andra sekarang. Dia ingin memaki Vera, menjambak rambutnya, menampar pipinya, dan mencakar wajahnya, tapi apa mungkin setelah itu Andra akan selamat? Andra tidak mau mengambil resiko. Dia tidak ingin dirinya di jual.
Andra menghentikan taksi, ia menuju terminal. Lebih baik malam ini ia pergi, tapi kemana? Andra bingung. Andra harus segera berfikir. Pulang ke kampungnya tidak mungkin Andra baru saja dua hari menginjakkan kaki di kota ini. Apa yang akan ibunya fikirkan nanti? Andra juga tidak mungkin jujur dengan apa yang terjadi. Ibunya pasti akan sangat sedih jika mendengarnya.
Sampai di terminal keadaan disana lumayan sepi, hanya beberapa orang yang terlihat mondar mandir. Beberapa bus siap berangkat ke kota tujuannya. Tanpa fikir panjang Andra menuju ke sebuah loket pembelian tiket. Bali. Ya Andra akan kesana. Meskipun Andra tidak tahu akan bagaimana disana tapi Andra percaya Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya!
Selama beberapa hari Andra luntang lantung di jalanan, memakai sisa uang yang ada di dompetnya. Tidur di sembarang tempat, bahkan ia juga harus rela tidur di emperan toko. Miris bukan?!
Andra tidak punya siapa-siapa disini, hingga suatu hari Andra bertemu dengan seseorang yang baik hati, Ellen. Andra lapar, dia sudah tidak punya uang sepeserpun. Andra hanya duduk di emperan toko sambil memegangi perutnya yang perih, terakhir Andra makan kemarin siang, dan ini hampir malam.
Bagai lalat yang mengganggu, pemilik toko itu mengusir Andra. Penampilan Andra sudah persis seperti gembel. Ya memang itulah dia sekarang. Baju lusuh dan tidak terawat.
Andra berjalan ke arah taman tidak jauh dari sana. Duduk di atas bangku sendirian. Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang sambil menahan laparnya.
"Ini, makan!" seorang wanita cantik menghampiri Andra dan memberikan makanan dan minuman di dalam kantong kresek.
Andra hanya terdiam menatap barang yang di sodorkan padanya.
"Ayo di makan. Kamu pasti lapar." Ellen menyimpan plastik itu ke atas pangkuan Andra. Ellen duduk tak jauh dark Andra dan membantu membukakan roti untuk Andra makan.
Tanpa fikir lagi Andra mengambilnya dan makan dengan lahap. Dia makan sambil menangis.
"Trimakasih mbak." ucap Andra. "Ini saya tidak punya uang lagi. Kalau mbak mau, mbak ambil pakaian saya. Memang bekas, tapi baru di cuci beberapa hari yang lalu. Sebagai ganti makanan ini." Andra menyerahkan kantong kresek berisi pakaian pada Ellen. Ellen tertawa.
"Baju aku banyak di rumah. Lagipula ini gak seberapa cuma roti sama air!" ucap Ellen.
"Kamu dari mana? Bukan asli sini kan?"
Andra mengangguk.
"Dari Kuningan mbak. Jawa Barat."
"Oh, aku juga dari Jawa Barat. Purwakarta. Aku Ela, tapi panggil saja Ellen, hehe!" Ellen menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Andra mengambil dari botol air mencuci tangannya dan mengelapnya dengan tisu yang ada lalu menjabat tangan Ellen.
"Andra mbak. Diandra!"
Dari situlah Ellen mengajak Andra ke kontrakannya.
Flashback off
Dan sekarang disinilah Andra berada di kota Bali nan indah, meskipun tak seindah perjalanan hidupnya. Andra merasa bersyukur, saat itu di pertemukan dengan Ellen. Entah akan jadi apa dia jika tidak bertemu dengan sosok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya ini. Mungkin Andra akan mati di jalanan.
Beruntung Ellen tidak menghakimi Andra saat tahu dirinya hamil waktu itu. Malah Ellen yang melarang saat Andra akan menggugurkan janin yang tumbuh di dalam rahimnya. Ya saat Ellen memutuskan untuk mengajak Andra tinggal bersama Andra menceritakan kisahnya bagaimana ia bisa sampai di Bali dan menjadi gelandangan.