Andra terkejut saat dia pulang dan mendapati seseorang di rumah kontrakan ibu Ani. Dia menatap lekat pada sosok pria yang kini tengah memangku putranya. Tertawa dan bercanda, begitu juga dengan sang putra yang sedang tertawa riang.
Andra berjalan dengan cepat ke dalam rumah bu Ani tanpa menyebutkan salam terlebih dahulu seperti biasanya, dia terlalu takut sekarang. Takut akan mimpi buruknya akhir-akhir ini menjadi nyata. Seseorang membawa Farrel pergi dalam mimpinya. Dan kehadiran pria itu beberapa hari ini membuat Andra takut.
"Diandra!" pekik Arsen, terkejut karena Andra tiba-tiba mengangkat Farrel dari pangkuannya.
"Lebih baik anda pulang!" usir Andra pada Arsen. Farrel menggeliat minta di turunkan. Dia sangat asik bermain dengan Arsen hingga tidak mau meninggalkan pria itu.
"Papaa, papapphhh." Farrel terus menggeliat dalam gendongan sang ibu. Dia masih ingin bermain dengan Arsen. Kedua tangannya terulur minta pertolongan pada Arsen. arsen berdiri dia hendak mengambil alih Farrel, Tapi tangannya di tepis oleh Andra.
"Dia bukan papa kamu, Farrel! Ayo kita pulang!" tukas Andra kemudian tanpa mengambil tas perlengkapan Farrel dia pergi meninggalkan Arsen sendirian.
Bu Ani baru saja datang dengan membawa kopi dan camilan untuk Arsen.
"Loh, Farrelnya kemana?" tanya Bu Ani.
"Sudah di bawa Andra pulang." gumam Arsen, dia merasa hatinya berlubang saat Andra membawa balita yang ia yakini putranya pergi.
"Loh kok nak Arsen masih disini bukannya pergi bujuk Andra?" perkataan bu Ani membuat Arsen melangkah kan kakinya mantap ke arah kontrakan Andra.
Bu Ani dan para tetangga hanya tahu kalau Andra telah menikah, dan suaminya bekerja di luar kota, tapi sejauh ini mereka tidak pernah melihat sosok pria yang datang ke rumah Andra. Andra juga menjaga jarak dengan beberapa pria karena dia tidak tahu dengan kehadiran Farrel apakah dirinya akan di terima oleh orang lain atau tidak. Andra merasa dirinya kotor dan tidak pantas untuk dicintai. Andra cukup bahagia dengan keadaannya yang kini bersama Farrel, meskipun saat awal merasa hidupnya sulit, tapi Andra tidak pernah merasa kekurangan apalagi Ellen yang sudah berbaik hati menolong Andra selama ini.
"Diandra!" teriak Arsen mengetuk pintu kontrakan Diandra.
"Diandra?" Tapi Diandra tidak menggubris panggilan itu. Dia bersembunyi di kamar dengan deraian air mata sambil memeluk sang putra yang kini terisak karena melihat sang mama bersedih. Diandra sangat takut jika Arsen datang untuk mengambil putranya, apalagi tadi mereka terlihat bahagia. Farrel pun tertawa sangat lepas saat bermain bersama Arsen.
"Diandra, tolong buka pintunya!" teriakan Arsen mulai menarik perhatian para tetangga hingga satu persatu keluar dari dalam kontrakan, dan ada pula yang sengaja berdiri di depan kontrakan Andra untuk melihat apa yang akan terjadi. Mungkin mereka berharap Andra membuka pintu lalu berbagai barang melayang pada tubuh pria itu. Itu akan menjadi topik trending untuk di gosipkan para ibu-ibu di teras bukan?!
"Mas siapa?" tanya seorang ibu yang masih cukup muda, mungkin berusia awal empat puluhan, baru saja keluar dari kamar kontrakan tepat di sebelah kamar Andra.
Arsen tertegun, dia masih bingung untuk menyebutkan dirinya apa.
"Suaminya Andra ya?" tanyanya lagi.
"Iya mbak. Saya mau ketemu Andra, tapi Andra gak mau bukain pintu!" Tutur Arsen.
"Lagi marahan ya mas?" tanyanya lagi, Arsen hanya tersenyum meringis.
"Makanya jangan lama-lama kalau kerja di kuar kota, gak inget buat pulang nengokin anak istri! Jadi marah kan!" cibirnya sambil melangkah melompati tembok setinggi lutut, penyekat antara satu kamar dan kamar lainnya.
"Andra!" teriak ibu itu sambil mengetuk pintu. "Ni suami elu datang. Suruh masuk ngapa jangan marahan suami baru pulang juga!" teriaknya sambil menggedor pintu kontrakan Andra.
Beberapa kali di ketuk akhirnya Andra membukakan pintu. Dia cukup malu juga karena di luar banyak orang yang berkumpul. Mereka saling berbisik dan menatap mereka.
"Suami pulang tuh di sambut jangan di manyunin gitu, kalau mau marahan nanti noh di kasur biar puas sekalian nyiksa suami elu sampe jengker!" wanita itu terkikik, kata-katanya barusan membuat Andra dan Arsen malu.
"Gue pulang yak. Awas lu kalau berantem dan gak bolehin suami elu masuk nanti di gondol si Eno noh, elu mau apa?" bisik nya dekat di telinga Andra.
"Dah lu masuk dah, kasian tuh si Farrel juga pengen ketemu bapaknya!" titahnya sambil berlalu.
Mau tidak mau Andra membukakan pintu untuk Arsen. Dia tidak mau menjadi bahan gosip para emak-emak yang kini masih menatapnya.
"Dra, suaminya cakep bener. Bening!" tutur seorang ibu dengan mengangkat jempolnya setelah Arsen masuk ke dalam.
"Kalau elu gak mau buat anak gue aja. Si Fika udah ngebet pengen kawin tapi belum juga dapet jodo!" yang lain menimpali.
Andra hanya tersenyum lalu memasuki kontrakannya. Ini memang di Bali, tapi kebanyakan penghuni kontrakan ini dari beberapa daerah yang berbeda, maka tidak heran kalau mereka Terkadang bicara dengan logatnya masing-masing.
Arsen menatap ruangan kecil itu. Sebuah ruangan berukuran 3×4, lalu kamar tidur, dapur kecil dan satu lagi yang tertutup pintu. pasti itu kamar mandi.
"Mau apa kesini?" tanya Andra sengit, dia tidak mempersilahkan tamunya untuk duduk. Andra mengambil Farrel yang tangannya melingkari kaki Arsen ke dalam gendongannya.
"Aku cuma mau ketemu kalian." Arsen berujar masih dalam posisi berdiri. Farrel menggapai ke arah Arsen ingin di gendong, tapi Andra mundur satu langkah membuat Farrel hanya bisa menggapai udara kosong di depannya.
"Untuk apa? Anda tidak punya kewajiban untuk bertemu kami." ujar Andra ketus.
"Tapi saya harus bertanggung jawab atas hidup kalian."
Andra menggelengkan kepala. "Sekarang silahkan anda pulang. Saya hanya ingin bilang sama anda, malam itu semua kesalahan teman saya. Dia yang menjebak saya, meninggalkan saya di hotel itu, dia hendak menjual saya pada lelaki hidung belang. Jadi semua tidak ada hubungannya dengan anda meski saya tidak tahu bagaimana caranya anda bisa ada disana malam itu. Tolong, sekarang pergi saja. Anda tidak perlu bertanggung jawab!" tutur Andra.
Katakan saja kalau dirinya bodoh menolak pertanggung jawaban seorang pria. Tapi Andra hanya tidak ingin lukanya terbuka kembali. Masa lalu yang selalu membuat dirinya terluka lebih dalam.
"Diandra, tapi ini anakku kan?" tanya Arsen menatap tajam Farrel yang terus menggapai-gapai ke arahnya. "Dia mirip sama aku!"
"Mirip bukan berarti dia anakmu tuan!" ucap Diandra meski di hatinya terasa sakit, karena secara tidak langsung dia mengatakan kalau bukan hanya dengan Arsen saja dirinya pernah tidur.
"Tidak mungkin, usia nya tepat perhitungannya dengan kejadian itu!" kekeuh Arsen.
"Tolong pergi sekarang tuan! Aku mohon!" pinta Diandra, dia sudah tidak sanggup lagi dengan luka-luka yang kini kembali terbayang di dalam fikirannya.
Andra mendorong tubuh Arsen untuk keluar dari pintu.
"Pergi!" usir Diandra air matanya berderai jatuh tanpa bisa di tahan.
Arsen yang melihat itu merasa dirinya terluka, entah kenapa meskipun dirinya belum mengenal Diandra tapi melihat mata itu mengeluarkan air matanya Arsen merasa terenyuh dan merasa sangat bersalah.
"Pergi!" usir Andra setengah berteriak. "Tolong tinggalkan kami." pinta Andra.
"Enggak Diandra, bagaimana pun aku gak bisa meninggalkan kalian lagi. Tolong bantu aku supaya bisa membayar kesalahanku waktu itu sama kamu."
"Semua itu kesalahan temanku. Dan aku bodoh karena sudah percaya sama dia. Please pergi!"
"Kalau begitu aku akan pergi dengan membawa Farrel, dengan atau tidak sama kamu!" suara berat pria itu membuat Andra tersentak, dadanya bergemuruh, rasa takut seketika hinggap di dalam hatinya.
"Jangan seenaknya tuan! Jangan seenaknya anda bicara akan membawa anakku!" jerit Andra.
"Anakmu? Cuma anakmu?" Arsen sedikit emosi kali ini. Dia tidak pernah mengira Andra akan menolaknya. Dia kira selama ini Andra akan menerima bentuk tanggung jawabnya, karena sebagai wanita yang mempunyai anak di luar pernikahan pasti ingin anaknya memiliki ayah dan di akui, bukan? Tapi kenapa Andra tidak?
"Oke! Kita lakukan tes DNA. Kalau Farrel bukan anakku. Aku hanya akan memberi kamu uang untuk kejadian malam itu, tapi kalau Farrel benar anakku, aku akan pastikan Farrel ikut denganku!"
Plak!!
Andra menampar keras pipi Arsen.
"Membayar? Anda kira aku ini wanita jalang?" jerit Andra. Arsen sama sekali tidak menyentuh pipinya yang panas, justru sekarang yang panas adalah hatinya karena ternyata perkataan Andra malah menyakiti hatinya.
"Pergi sekarang! Pergi!!" teriak Andra yang malah membuat putranya menangis kencang karena ketakutan. Farrel menggapai-gapai tangannya mencoba meraih tangan Arsen. Andra kembali mundur satu langkah. Arsen mendekat, dia mengelus kepala Farrel. Mata Farrel yang basah menatap Arsen dengan sedihnya, bibirnya tertarik ke bawah tanpa suara.
Arsen yakin kalau Farrel adalah putranya, darah dagingnya, dia yakin kalau Farrel adalah bentuk nyata dari kesalahannya malam itu. Malam dimana dia telah menghancurkan hidup seorang gadis.
Tanpa berkata apa-apa lagi Arsen keluar dari sana. Seketika semua orang yang ada disana membubarkan diri, bahkan ada yang sibuk memegang sapu dan menyapu, mengelap kaca yang sama sekali tidak kotor, berpura-pura memijit yang lainnya.
Arsen menatap ke arah pintu kamar kontrakan Andra yang tertutup.
"Aku akan bawa kalian pergi dari sini. Benar atau tidaknya Farrel anakku. Aku akan tanggung jawab denganmu dan anakmu, Diandra!" batin Arsen dalam hati
Dia kemudian berlalu dari sana dengan hati yang terluka.
Dia hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia perbuat dulu. Hanya itu. Masalah cinta atau tidaknya Arsen tidak peduli. Sang ayah mengajarkan laki-laki tidak pernah lari dari tanggung jawab, dan sampai sekarang Arsen memegang teguh ajaran ayahnya itu.
Andra terduduk lesu, membiarkan Farrel berdiri di pintu dan memukul-mukul daun pintu seraya memanggil 'papa' seolah anak itu tahu kalau Arsen adalah papanya. Air mata Andra terus mengalir, Andra memijit kedua pelipisnya yang terasa pusing. Terus menatap sang putra yang menangis memanggil papa.
Andra bangkit dan mengambil Farrel ke dalam pelukannya.
"Maafkan mama Farrel. Maafkan mama." lirih Andra.
Bertemu dengan Arsen seperti membuka luka yang sudah tertutup rapat. Sakit, perih. Itulah yang di rasakan Andra saat ini. Apalagi kata-kata Arsen soal DNA. Andra tidak ingin itu terbukti dan Arsen membawa Farrel darinya.