Andra bersiap untuk melangkahkan kakinya. Sebuah tas berukuran cukup besar di punggungnya dan tas di tangannya berisi keperluan Farrel dan dirinya. Ya, Andra memutuskan untuk pergi. Berbekal uang yang ada di tabungannya Andra akan pulang ke kampung halamannya di Kuningan, Jawa Barat. Mengenai Farrel, Andra akan berterus terang, entah keluarganya akan menerimanya atau mengusirnya Andra tidak peduli, baginya kini Farrel lah yang terpenting. Jangan sampai dia di bawa oleh pria yang bahkan Andra tidak tahu siapa namanya.
Ellen sudah di beritahu, meski sempat melarang, toh Ellen tidak bisa berbuat banyak. Ellen hanya bisa mendoakan Andra dan Farrel yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Mengenai barang-barang di kontrakan Andra, di serahkan semua padanya, Ellen akan melelang semua tanpa terkecuali dan uangnya akan di transfer ke rekening Andra.
Andra baru saja turun di terminal. Dia nampak kesusahan dengan apa yang di bawanya, tas di punggungnya, Farrel di gendongannya, dan satu tas lagi di tangannya. Dia sedikit kepayahan.
Andra menunggu bis keberangkatannya, dia memberikan Farrel camilan supaya putranya itu diam.
"Maaf Farrel, tapi mama terpaksa harus bawa kamu pulang. Mama tidak mau kamu di bawa pria itu, meski dia memang ayah kamu!" ucap Andra dalam hati.
Andra menurunkan Farrel, anak itu sudah mulai belajar berjalan dan tidak mau terus berada di dalam gendongan sang ibu. Dengan berpegangan tangan pada bangku, Farrel berjalan perlahan, satu tangannya berpegangan pada Andra. Andra sibuk memperhatikan punyanya, tak peduli dengan tatapan orang lain yang merasa heran Andra bepergian sendiri dengan membawa anak kecil.
Bis yang akan membawa Andra pun datang, Andra di bantu seorang porter membawakan kedua tasnya sedangkan Andra menggendong Farrel. Setelah sampai di bis Andra mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk jasa sang porter tersebut.
Farrel begitu antusias saat naik ke dalam bis. Dia merasa sangat bahagia karena baru pertama kali ini dia naik bis besar seperti ini.
"Yo, iyo!" racau Farrel yang kini berdiri di dekat jendela seraya menunjuk-nunjuk ke arah bis lain berwarna biru.
"Tayo sayang, Taaayoooo!" Andra membenarkan ucapan sang anak yang di sambut dengan teriakan girang.
"Yo. Iyo." masih sama, Andra hanyabtertawa kecil melihat Farrel meloncat senang sambil memukuli kaca jendela.
"Farrel mau Tayo?" tanya Andra, Farrel yang merasa namanya di sebut menoleh dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Nanti kalau sampai di tempat nenek, kita beli Tayo yang besar ya!" Farrel berteriak girang. Dia mengoceh tidak jelas meski perbendaharaan katanya masih terbatas.
"Sekarang Farrel bobok yuk. Mau mimik? Nanti Farrel bangun udah sampai rumah nenek." bujuk Andra, tapi Farrel menolak untuk dibaringkan di pangkuannya. Farrel masih asyik memperhatikan banyaknya mobil disana.
Andra menghela nafas lelah. Dia sangat, sangat lelah. Terlalu banyak yang di fikirkan hingga dia hampir tidak tidur semalaman. Berfikir dan terus menangis.
Andra hanya sedikit menurunkan tubuhnya, menghalangi kedua tubuh Farrel agar tidak jatuh karena Farrel sedari tadi terus melompat senang.
Penumpang semakin penuh, mobil mulai melaju perlahan. Farrel pun mulai kelelahan, dia duduk di pangkuann dengan posisi menyamping, kepala yang bersandar di lengan Andra, dengan botol s**u yang sudah dingin. Sesekali dia meracau menyebut mama dan papa.
"pastilah dia yang mengajari Farrel menyebut papa. Kenapa dia datang lagi? padahal kami baik-baik saja tanpa dia. Kami cukup bahagia. Kenapa datang dan kembali membuka luka?" batin Andra sambil memperhatikan Farrel.
'Memang semua yang ada pada diri Farrel adalah wajah pria itu.' Andra menatap lekat putranya yang mulai mengantuk.
Seseorang menyimpan tasnya di atas lalu duduk di samping Andra. Kacamata besar bertengger di atas hidungnya. Dia memainkan hpnya, sesekali ujung matanya menatap anak balita tangerang di oangku di sampingnya, tertidur dengan wajah lucu. Dia tersenyum miring.
'Tak akan aku biarkan kau lari kemanapun!' batinnya.
*
Andra sudah sampai di kota kelahirannya, terduduk diam di terminal. Tiba-tiba saja dia merasa bingung, apakah keputusannya tepat arau tidak. Farrel, meski dia berencana akan mengatakan hal yang sejujurnya pada keluarganya tapi Andra kenapa menjadi takut? Takut jika dia akan di gunjing karena pulang dengan membawa seorang balita, takut jika keluarganya akan menjadi pembicaraan para tetangga. Takut jika Farrel di cap sebagai anak haram. Andra menghela nafas panjang.
Semua itu tak luput dari penglihatan seseorang yang duduk tak jauh dari Andra. Pria dengan kaca mata hitamnya duduk sambil memegang ponsel, tapi di balik kacamata hitam itu yang ia perhatikan adalah wanita yang membawa putranya.
Arsen berniat mengikuti Andra hingga dia mendapatkan yang dia mau.
'Berani-beraninya dia pergi. Aku tidak akan melepasmu lagi, Diandra!' Arsen bangkit saat Diandra sudah mulai berdiri dan membawa Farrel di dalam gendongannya.
*
Sampai di tempat dimana Andra di besarkan. Dia menatap lekat rumah sederhana yang selama ini menjadi tempatnya bernaung, dimana cinta dan kasih sayang tercurah disana.
Mengusap lelehan air matanya, Andra mencoba melangkah kan kaki. Bagaimanapun juga dia harus bertemu dengan orangtuanya, sudah dua tahun lebih Andra tidak bertemu.
"Assalamualaikum."
"Assalamualaikum." teriaknya lagi, dan pada teriakan ke tiga, seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dia tertegun melihat Andra dengan menggendong seorang anak lelaki di tangannya.
"Andra!" sesaat setelah terdiam akhirnya bersuara.
"Ibu!" suasana haru seketika terasa disana, di susul dengan kedatangan adiknya yang baru saja keluar dari dalam rumah. Saling berpelukan dan menangis. Menumpahkan kerinduan.
"Kamu kemana saja, neng? Ibu kangen, sudah lama kamu gak kasih kabar." Andra menunduk. Dia menangis tersedu. Ingat jika memang dia hanya sesekali mengirim kabar pada tetangganya untuk di sampaikan pada sang ibu.
"Ini..." terhenti pada sosok mungil di gendongan putrinya.
"Ini...ini..." nyatanya Andra tak mampu untuk bicara, suaranya hanya sampai di tenggorokan.
"Ya sudah ayo masuk. Suami mu juga suruh masuk neng." ucap ibu Tiwi, ibu dari Andra.
Andra menegang mendengar kata suami dari mulut sang ibu.
"Ayo nak masuk!" ibu melambaikan tangannya ke arah belakang Andra, Andra menoleh dan terkejut mendapati seseorang tengah berdiri di sana.
'Kenapa dia ada disini?' batin Andra. Dia mengenali jaket dan kacamata yang kini ada di atas kepala pria itu. Dia pria yang sama yang ada di bus dan di terminal. Sialnya, Andra terlalu cuek dan tidak sadar kalau pria itu yang sudah membuat dirinya pergi dari Bali.
Arsen hanya menganggukan kepala seraya tersenyum lebar mendapati keramahan yang di tunjukkan padanya.
"Ayo masuk, pasti kalian capek!" ajak bu Tiwi lagi. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa yang sudah usang bahkan bolong di beberapa bagian.
Andra dan Arsen duduk berdampingan agak jauh, Farrel sudah berjalan kesana kemari di jaga oleh Fatmah, adik Andra. Sedangkan ibu Tiwi di belakang sedang membuatkan minuman untuk keduanya.
"Kenapa kamu ikutin aku!" bisik Andra, nada suaranya terdengar dingin.
"Aku sudah bilang kan, aku gak akan lepaskan kalian." jawab Arsen sama dinginnya.
Andra menghela nafas lelah. Dia ingin sekali menghindar dari pria ini.
Ibu Tiwi datang dan meletakkan minuman dan camilan di atas meja.
"Ayo di makan dan di minum, seadanya ya nak!" Bu Tiwi merendah, lalu duduk di depan kedua muda mudi itu. Memperhatikan sosok pria yang ada di depannya. Tampan!
"Maaf bu sebelumnya." Arsen angkat bicara. "Kedatangan kami kesini sebenarnya karena Andra rindu dengan ibu dan keluarga. Salah saya selama Andra bersama saya, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak sempat untuk membawa Andra berkunjung." Andra terkejut dengan penuturan yang Arsen katakan.
"Ah, ibu sungguh khawatir, tapi kalau sudah lihat kalian ibu jadi tenang. Kamu..."
"Ibu, kami...dia bukan.."
"Maafkan kami bu" Arsen memotong ucapan Andra. "Saya merasa bersalah, karena saat kami menikah kami tidak mengabari ibu dan keluarga. Pernikahan kami sederhana hanya di lakukan secara agama karena beberapa hal yag mengharuskan saya belum bisa menikahi Andra dengan cara yang benar di mata negara. Untuk itu sekalian kedatangan kami kesini, untuk mengulang pernikahan kami dan tujuannya juga untuk mendapatkan buku nikah resmi." Andra melotot mendengar perkataan Arsen. Dia tidak menyangka Arsen benar-benar nekat. Raut muka Arsen sangat serius.
Ibu Tiwi tersenyum senang mendengar penuturan pria yang ia kira menantunya.
"Iya tentu!"
*
Andra sudah menidurkan Farrel di atas kasur, sedangkan Arsen sedang berbaring di atas kasur lantai tipis yang baru saja di gelar. Tubuhnya pegal karena baru pertama kalinya naik bis dengan jarak jauh. Biasanya Arsen memakai pesawat untuk pergi ke tempat jauh, tapi kali ini demi putranya dia rela ikut naik bis.
"Apa tujuan kamu sebenarnya?" tanya Andra yang kini duduk di tepian kasur kecil miliknya.
Arsen yang baru saja terlelap kembali terjaga.
"Tujuan? Tentu kamu tahu. Aku ingin Farrel!"
"Hanya ingin Farrel? Kenapa juga harus dengan ku? Berkata kalau kita sudah bersama. Itu bohong, tuan."
Arsen bangkit duduk. Dia lupa belum memperkenalkan dirinya.
"Panggil aku Arsen, tuan membuat aku merasa tua, padahal umur kita hanya beda lima tahun!" tutur Arsen lagi membuat Andra sedikit terkejut, aArsen bisa tahu itu.
"Aku hanya tidak mau kau pulang lalu tetangga menggunjing mu dan anak kita. Bagaimana dia nanti saat besar jika mereka mempertanyakan ayahnya. Apa kau tidak memikirkan hal itu? Bagaimana psikisnya nanti?" Mencoba untuk tenang.
"Dia sudah terbiasa sedari dulu!" ucap Andra.
"Karena dia belum mengerti apa-apa. Semakin lama dia semakin besar, dia pasti akan mengerti Andra!" Bukannya Andra tidak tahu itu, tapi Andra terpaksa membawa Farrel kesini, lagipula Andra tidak bisa terus menerus lari dari kenyataan.