Hari ini Andra dan Arsen melangsungkan pernikahan secara sederhana. Dengan berwalikan saudara ayahnya, karena ayah Andra sudah tiada beberapa tahun yang lalu. Andra begitu cantik dengan balutan kebaya putih, dengan sanggul kecil di kepalanya memperlihatkan leher jenjang gadis itu yang menawan. Tidak ada riasan yang berlebihan semua terlihat natural, tapi justru mengeluarkan sisi Andra yang feminim dan imut. Arsen tidak henti mencuri pandang pada wanita itu. Wanita yang sudah bersedia mengandung dan melahirkan putranya.
Arsen juga tak kalah tampan dan gagah dengan jas yang ia pakai.
Andra menghela nafas berat saat ia duduk di samping Arsen. Ini bukan pernikahan yang ia inginkan. Bagaimana pun juga Andra tidak mencintai pria itu sedikitpun. Andra terpaksa menerima tawaran Arsen, karena kebohongan pria itu ibunya jadi terlanjur bahagia dan percaya jika sebelumnya mereka sudah melakukan pernikahan secara siri.
Ingin Andra memberitahuku yang sejujurnya pada sang ibu, tapi benar kata Arsen, ibunya pasti akan merasa bersedih jika mendengar penderitaan Andra selama ini, berjuang sendirian di kota, bekerja saat sedang mengandung, lalu melahirkan tanpa di dampingi satu orang keluarga pun, dan membesarkan Farrel sendirian, itu bukan hal yang sulit.
'Fuuhh... Tenang Andra. Ini hanya sementara. Kamu pasti bisa.' gumamnya sambil menenangkan diri.
Andra merasa dadanya berdetak cepat saat Arsen dengan mudahnya mengikrar janji suci sakral pernikahan. Semua berucap syukur atas kelancaran Arsen. Sah. Andra dan Arsen kini sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Dua hari yang lalu, seseorang datang dari kota itu adalah asisten Arsen, dia yang mengurus semua dokumen Arsen untuk pernikahan ini. Karena acara yang mendadak maka dokumen yang kurang akan menyusul setelah ini.
Pernikahan mereka di adakan secara sederhana. Hanya pengajian untuk ibu-ibu dan malamnya untuk para bapak-bapak. Meski begitu Andra tetap di rias dan rumah di juga di dekor menandakan si empunya rumah sedang mempunyai acara.
Bu Tiwi tidak bisa menolak saat Arsen ingin menghias rumah, dengan tenda dan sound system layaknya pernikahan umumnya di daerah ini. Dia juga memesan ketring dari dua hari yang lalu hingga bu Tiwi tidak perlu bersusah payah menyediakan hidangan, tidak tanggung-tanggung Arsen memesan untuk seribu orang tamu, meski bu Tiwi hanya mengatakan tamu yang datang tidak akan sebanyak itu. Arsen bilang jika hidangan tidak habis maka bagikan saja untuk yang lain.
Sederhana bagi Arsen tapi bagi bu Tiwi ini termasuk pernikahan yang bisa di sebut lumayan, bukan lagi sederhana. Ukuran mewah disini adalah saat yang empunya hajat bisa mengundang penyanyi dangdut untuk menghibur acara mereka. Sayangnya untuk jadwal penyanyi dangdut yang ada sudah terisi dan tidak bisa si batalkan, ingin memanggil penyanyi dari ibu kota tapi Andra menolak, dia tidak mau di hari pernikahanya banyak tamu yang datang hanya karena ingin melihat artis saja. Dia ingin orang yang datang ke acaranya karena mereka benar-benar mengenal keluarganya, meski andra tidak yakin mengenal mereka juga.
Malam hari, Andra dan Arsen sudah berada di kamar mereka, lelah karena seharian ini mereka hanya sesekali duduk untuk melepas lelah, tamu yang datang lumayan banyak walau masih satu desa. Mungkin karena di undangan di sebutkan untuk tidak membawa dan memberi hadiah, hanya undangan lisan tapi antusiasme para tamu lumayan banyak dan hangat.
Andra duduk di kursi dengan kaca kecil di atas meja. Dia mulai melepas hiasan di kepalanya, dengan beberapa jepit hitam kecil. Sesekali meringis saat merasa rambutnya ada yang tercabut.
Arsen hanya memperhatikan wanita yang sudah menjadi istrinya dengan seksama. Dia terlihat sedikit kesulitan saat melepaskan sanggul tambahan di rambutnya.
Arsen bangun, dan mendekati Andra. Dia membantu Andra melepas beberapa jepit yang tersisa.
"Apa mau kamu sebenarnya?" tanya Andra dingin.
"Aku cuma mau bantu kamu melepas jepit ini!" jawab Arsen santai.
"Kau tahu bukan itu jawaban yang aku inginkan! Jangan berlagak bodoh kau juga tahu apa yang aku tanyakan." ucap Andra.
Arsen hanya terkekeh.
"Tidak ada." ucapnya santai. "Aku hanya ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Itu saja." selesai dengan jepitnya Arsen kembali ke tepi ranjang duduk disana sambil memainkan hpnya. Andra hanya menatap Arsen dari kaca kecil yang ada di atas mejanya. Dia masih merasa kesal kenapa harus bertemu lagi dengan Arsen dan terjebak dengan pria itu.
"Menebus kesalahanmu? Begitukah kau pada setiap wanita yang sudah kau tiduri? Jadi aku wanita yang keberapa?" sinis Andra, Arsen hanya terdiam mendengarkan ocehan Andra, dia tidak ingin berdebat karena dia tahu mereka sama-sama lelah sekarang, dan Arsen tidak berminat untuk berdebat dengan Andra.
Arsen menyalakan hpnya sesekali ujung matanya melirik punggung Andra yang ramping. Dia tersenyum melihat tubuh mungil itu.
Andra selesai membersihkan riasannya. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk baru dari sana dan baju tidur. Dia ingin mandi. Andra segera keluar dari kamar.
Arsen menghela nafas lelah, Andra sosok yang sulit untuk dia hadapi. Arsen berbaring di atas tempat tidur, dia memiringkan tubuhnya ke kanan.
'Aku akan buat kau jatuh cinta padaku Andra!' gumam Arsen pelan. Arsen menutup mata saat Andra masuk ke kamarnya, dia sudah berganti baju dengan piyama panjang.
Andra menatap ke arah Arsen tertidur, dia memastikan Arsen benar-benar tidur dengan melambaikan tangannya di depan wajah Arsen. perlahan Andra membuka lemari, dia takut lemarinya yang berdecit membangunkan Arsen.
'kenapa aku sampai lupa tidak membawa benda penting ini?' lirih Andra mengambil celana dalam yang lupa ia bawa tadi. Sekali lagi Andra menoleh pada Arsen sambil menutup pintu lemari perlahan. Dia sampai melipat bibirnya ke dalam, was-was, takut seperti anak kecil yang ketahuan sedang mencuri, takut jika Arswn membuka matanya.
'Aman!' mengelus dadanya lalu dengan cepat Andra membuka celana panjangnya dan menyimpannya di atas kursi. Tanpa Andra tahu ada sepasang mata yang memperhatikan dia.
Ya, Arsen memang tidak tidur. Ia hanya berpura-pura tidur tadi saat Andra masuk ke dalam kamar, Arsen malas jika Andra terus mencari alasan untuk berdebat.
Glek!!
Arsen menelan ludah nya dengan susah payah, sedari Andra melepas celananya hingga memasukkan celana dalam di antara kakinya dia tidak melepaskan pandangannya dari sana. Betis Andra yang kecil, dan pahanya yang putih bersih, apalagi saat Andra menyingkap bajunya dan menjepitnya dengan dagu hingga terlihat dengan jelas b****g sintal Andra yang serasa menggemaskan jika di dalam remadan tangannya. Akh hanya melilhatnya saja, Arsen sudah merasa sakit di bagian miliknya, linu seperti menggeliat ingin di keluarkan.
's**t!' umpat Arsen dalam hati, dia benar-benar merasa panas sekarang. Arsen kembali memejamkan matanyabsaat Andra berhenti dan kembali menoleh ke arah dirinya. Arsen tidak berani lagi melihat apa yang di lakukan Andra karena dia takut tidak bisa menahan diri jika melihat Andra dengan tanpa celana seprti itu.
Andra kembali mengambil celana panjangnya, dan mengenakannya, setelah selesai dia mendekati Arsen, membungkuk dan menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Arsen, tidak ada teraksi.
"Huft, aku kira dia bangun tadi!" lirih Andra tapi masih terdengar oleh Arsen. Arsen tersenyum sangat tipis hampir tidak terlihat.
Andra mengambil kasur lantai dan menggelarnya di bawah, Farrel tidak ada, dia tidur bersama sang nenek. Andra tidak ingin tidur satu tempat dengan Arsen tanpa Farrel.
Andra mengambil bantai yang ada di belakang Arsen, dia melewati tubuh Arsen untuk mengambil bantal itu hingga Arsen bisa mencium dengan jelas wangi sabun mandi di kulit tangan Andra.
Andra membaringkan tubuhnya, dia menoleh pada Arsen menatap lekat wajah yang persis mirip sekali dengan putranya.
'Seandainya dia bukan ayah Farrel.' gumam Andra dalam hati. 'Cih, menyebalkan!' lalu Andra memiringkan tubuhnya membelakangi Arsen.
Arsen membuka matanya, dia menatap tubuh Andra yang tidur dengan pulas. Jika saja Andra seperti wanita lainnya, mungkin Arsen akan meminta haknya, atau bahkan memaksanya, tapi jika Arsen memaksakan kehendaknya Andra bisa saja semakin marah dan tidak mau di bujuk untuk ke jakarta nanti.
Arsen turun dari atas kasur, dia berlutut do lantai di belakang punggung Andra sedikit membungkuk memperhatikan wajah Andra yang sangat tenang saat tidur.
"Aku janji akan membuatmu bahagia. Meski kau tidak cinta aku sama sekali. Tapi aku percaya waktu akan mengubah perasaanmu padaku. Dan aku akan belajar untuk menyayangimu Diandra." batin Arsen
Arsen mencium pelipis Andra singkat, wangi sampo di rambut Andra membuat tubuh Arsen meremang. Dia segera beranjak dari sana menyingkir sebelum dia tidak bisa menahan dirinya untuk menerkam istrinya.
*
Pagi hari, Andra sudah bangun menatap Arsen yang masih tertidur dengan lelap. Dia segera keluar untuk mandi dan membantu ibunya di belakang. Tak lama Arsen pun terbangun dia menatap sekeliling, Andra sudah tidak ada disana, jendela juga sudah terbuka lebar memperlihatkan suasana yang sudah terang di luar.
"Sudah pagi." Arsen bangun lalu duduk di tepian ranjang dengan kedua kaki yang menggantung.
'Aku tidak pernah tidur senyenyak ini sebelumnya.' Arsen tersenyum. Memang sedari malam kejadian itu Arsen tidak visa tidur dengan nyenyak, tapi setelah menemukan Andra dan menikahinya kemarin, malam tadi tidur Arsen sangatlah nyenyak, ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang.
Pintu terbuka. Andra masuk ke dalam kamar, dia sudah mandi dan berganti dengan baju biasa.
"Cepat bangun, dasar pemalas! Ibu sudah menunggu sedari tadi untuk sarapan." ketus Andra. Arsen masih dengan wajah bantalnya matanya sedikit memerah.
"Tidak kah kau ingin ucapkan selamat pagi untuk suamimu?" tanya Arsen.
Andra menarik selimut dari tubuh Arsen dan melipatnya.
"Selamat pagi? Ini sudah siang, bahkan ayam bangun lebih pagi daripada dirimu!" Arsen tertawa kecil dia harus mulai terbiasa dengan suara Andra mulai dari sekarang.
"Kenapa tertawa, apa kau mulai gila setelah menikah denganku?" Andra memutar bola mata malas, jelas dia tadi melemparkan ejekan pada Arsen dan pria itu hanya tertawa?
"Sudah cepat keluar sana. Ibu sudah menunggu untuk sarapan, jangan biarkan beliau kambuh lagi penyakit lambungnya seperti beberapa hari yang lalu!" Andra mengingatkan.
Arsen berdiri sambil merenggangkan otot tubuhnya, jujur saja tempat tidur Andra sangat keras dan beberapa malam ini dia juga tidur di beralaskan kasur lantai karena ranjang Andra tidak cukup besar menampung dirinya Andra dan Farrel.
"Kemana Farrel?" tanya Arsen.
"Bermain di luar dengan Fatma." Andra membuka lemari dan mengambil handuk lalu melemparkannya dan tepat mendarat di wajah Arsen.
"Bisa tidak sopan sedikit? Bisa kan kalau tidak melempar barang tepat di muka ku?" tanya Arsen.
"Oh, kena muka? Maafkan aku!" Andra mengatupkan kedua tangannya di depan d**a dengan senyum yang di paksakan.
"Apa ibu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu?" tanya Arsen sengit, masih menjaga nada suaranya kini sudah berdiri tepat di depan Andra.
"Kenapa bawa-bawa ibu?" Andra menatap Arsen tidak terima dengan menyebut ibu.
"Oh, ya aku lupa. Kalau kau mungkin bukan anak ibu, karena aku lihat Fatma itu lebih penurut dan jauh lebih baik daripada kau!" tukas Arsen.
"Kalau begitu kenapa tidak nikahi saja dia?" tantang Andra.
Arsen tidak hilang akal. "Karena sayangnya, kau itu ibu dari anakku! Bukan dia. Jadi aku yang akan mengajarkan padamu bagaimana caranya sopan santun pada suami!"
"Suami? Sampai kapan? Sampai kau bosan dan melakukan hal itu lagi pada orang lain dan meninggalkanku lalu menikahi wanita lain?" Andra menjadi emosi. Matanya memerah menahan amarah.
Bukan itu yang Arsen mau. Ini masih pagi dan Andra mengajaknya berperang mulut.
"Sudahlah. Cepat pergi mandi. Ibu sudah menunggu."