Dua hari setelah pernikahan, Arsen mengajak Andra pulang ke rumahnya. Meskipun enggan Andra menurut, apalagi sang ibu yang terus bicara jika istri harus menurut pada suami, suami harus menjadi panutan, surga istri ada pada suaminya.
"Kita sudah sampai." mobil yang menjemput Arsen, dan Andra berhenti di sebuah rumah berukuran lumayan besar. Cukup asri dengan taman kecil di kanan kirinya.
"Ayo turun!" ajak Arsen, membuka pintu, dan keluar dari dalam mobil. Lalu kembali menunduk memasukkan separuh tubuhnya ke dalam mobil saat Andra tidak kunjung keluar.
"Kau tidak mau turun?" tanya Arsen.
"Tentu saja aku mau. Kau tidak lihat Farrel tidur di pangkuanku? Bisa tolong angkat dia? kakiku kesemutan!" ujar Andra.
Arsen segera mengambil Farrel yang tertidur dengan hati-hati lalu keluar dari dalam mobil. Andra beribgsut sedikit, kakinya pegal dan terasa seperti kesetrum saat di gerakan.
"Pergilah duluan, aku menyusul." ucap Andra.
"Kau tidak akan kabur kan?" tanya Arsen.
"Kabur atau tidak terserah aku!" jawab Andra asal.
"Aku menunggu!" keukeuh Arsen menunggu di luar mobil.
"Masuk saja kasihan Farrel kepanasan!" Andra mulai kesal mau tidak mau dia keluar dari dalam mobil dan mengikuti Arsen karena pria itu tidak beranjak sebelum Andra bergerak.
Andra mengikuti langkah Arsen masuk ke dalam rumah, dia terpukau dengan semua yang ada di sana.
"Orang kaya, bahkan lukisan anak tk di pajang disini." gumam Andra saat melihat lukisan abstrak salah satu pelukis terkenal tergantung disana.
Arsen berjalan terus ke lantai atas, Andra tetap mengikuti. Dia membuka salah satu pintu kamar, di dalamnya sudah ada serba serbi untuk anak laki-laki. Mulai dari tepat tidur berbentuk McQueen, hiasan dinding bergambar mobil, serta mainan anak laki-laki yang mungkin Farrel suka.
"Ini kamar untuk Farrel." ucap Arsen sambil membaringkan Farrel di atas tempat tidurnya. Meskipun Andra cukup terpukau tapi dia bersikap seperti biasa, dia tidak ingin terlihat mengagumi ruangan itu oleh Arsen.
"Dan kamar kita." Arsen menarik tangan Andra keluar dari kamar Farrel lalu berhenti di kamar sebelahnya membuka pintu kayu berwarna coklat. "Ini. Apa kau suka?" tanya Arsen. Ruangan yang luas dengan ranjang besar, Jendela juga besar. Cukup simpel sebagaimana biasanya kamar laki-laki.
"Lebih baik kau berikan kamar pembantu saja untukku. Aku tidak mau satu kamar denganmu!" Andra menarik tangannya dari tangan Arsen.
Arsen menggeram tidak suka. Baru kali ini ada wanita yang menolaknya, padahal selama ini dia lah yang selalu menolak para wanita.
Arsen kembali mencekal tangan Andra dan menariknya ke dalam kamar, Andra berontak, tapi tidak bisa melepaskan diri dari Arsen. Arsen terlalu kuat untuk wanita kecil seukuran dirinya.
"Lepaskan, hei lepaskan aku!" teriak Andra. Arsen menarik tangan Andra dan menghempaskannya di atas ranjang king size empuknya.
"Dari kemarin aku sudah bersabar dengan tingkahmu!" Arsen berseru dengan gigi bergemeletuk. Andra benar-benar menguji kesabarannya. Hanya di hadapan ibu dan adiknya saja dia baik pada Arsen.
Arsen menarik tangan Andra ke atas kepalanya, dia mengunci Andra hingga tak bisa bergerak.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Andra merasa takut.
"Mengambil hakku!" senyum menyeringai Arsen membuat Andra ketakutan. Arsen mendekatkan dirinya, dia menatap mata Andra sekilas Andra terhanyut dengan sorot mata itu tapi kemudian tersadar saat sorot mata itu sama seperti dua tahun yang lalu. Dia kembali berontak namun terhenti saat Arsen memagut bibirnya dengan pelan. Memasukkan lidahnya ke dalam mulut Andra yang masih tertutup. Arsen menutup matanya dia mencoba untuk menguasai bibir ranum yang beberapa hari ini selalu di rindukannya. Tidak ada sambutan dari Andra.
"s**t!! Balas aku!!" teriak Arsen, suaranya menggelegar di dalam ruangan itu membuat Andra ketakutan.
"A..aku.. tidak bisa!" ucap Andra.
"Kenapa tidak bisa? Kau tidak bisa karena tidak dengan kekasihmu?" geram Arsen. Andra memalingkan wajahnya ke samping. Wajahnya merah.
"Aku tidak pernah berciuman." ucap Andra membuat Arsen tertawa. Dia tertawa senang karena tandanya hanya dirinya yang pernah menjamah bibir dan tubuh Andra, tapi tawa itu terdengar seperti ejekan di telinga Andra.
"Ejek aku sepuasmu!" Andra mendorong tubuh Arsen ke samping lalu bangkit, tapi segera di tahan Arsen yang kembali menariknya lagi hingga Andra kembali jatuh terduduk di atas kasur. Arsen menarik Andra ke dalam pelukannya, dia mengelus kepala Andra dengan pelan sambil tertawa, membuat perasaan Andra berdesir. Dia tidak pernah di perlakuan seperti ini oleh laki-laki.
"Kau tidak pernah berciuman? Jadi aku yang pertama?" Arsen terlampau bahagia dia menciumi kepala Andra beberapa kali. Andra senang tapi juga risih karena tubuh mereka menempel.
"Akan aku ajarkan!" ucap Arsen lalu memutar tubuhnya dan memagut bibir Andra dengan lembut. Arsen menggigit kecil bibir bawah Andra, membuat Andra mengaduh dan menjauhkan dirinya.
"Kenapa kau menggigitku?" teriak Andra sambil memegang bibirnya yang terasa sakit.
Arsen tertawa, dia merasa lucu dengan istri kecilnya. Andra sangat polos!
"Karena kau tidak membuka mulutmu!" Andra merasa malu, Arsen masih terus saja menertawakannya. "Kalau berciuman itu buka mulutmu, lalu ikuti saja apa yang aku lakukan!" ucap Arsen lembut.
Arsen kembali mendekatkan dirinya. Tapi tangan Andra menahan d**a Arsen. Entahlah, dia suka di cium Arsen, dia juga suka di perhatikan seperti itu, tapi Andra masih merasa kesal dengan Arsen.
"Aku lapar." cicit Andra. Arsen menghembuskan nafas kesal.
"Ayo, kita makan dulu kalau begitu." Arsen merapikan rambut Andra yang berantakan lalu berdiri.
Keduanya makan bersama karena hari juga sudah siang dan memang sudah waktunya makan siang.
"Makanlah. Nanti kita akan lanjutkan!" Arsen dengan cepat menghabiskan makanannya. Sedangkan Andra menelan ludahnya sendiri. Dia merasa belum siap untuk hal lain yang akan di lakukan Arsen padanya.