Malam telah tiba. Andra sengaja berlama-lama di dalam kamar Farrel untuk menghindari suaminya. Dia takut sekarang, takut jika Arsen melakukan apa yang tadi ia bicarakan saat makan siang. Andra menemani putranya hingga terlelap.
"Dia ini." gumam Arsen saat menemukan Andra di kamar sang putra. Arsen mendekat ke arah ranjang dimana keduanya tertidur. Sungguh ini pemandangan yang indah. Putranya dan istrinya.
"Istri?" Arsen menggumam kecil sambil tertawa pelan. Dia mengangkat Andra dengan hati-hati lalu memindahkannya ke dalam kamarnya. Arsen menyelimuti Andra hingga sebatas d**a, lalu dia kembali ke kamar sang putra untuk menaikan pagar di tepi ranjang agar Farrel tidak terjatuh. Mencium kening Farrel dan mengusap kepalanya.
"Aku yakin kau itu memang putraku!" gumam Arsen pelan.
Arsen kembali ke dalam kamarnya, dia berbaring di sisi Andra, tidur dengan posisi miring, menatap wajah Andra yang terlihat lelah. Mengusapnya dengan pelan.
Arsen segera memejamkan matanya, dia tidak ingin terburu-buru dengan istrinya, Andra belum terbiasa dengan kehadirannya.
Pagi menjelang, Andra terbangun dari tidurnya dan merasakan sesuatu yang berat di perutnya. Lehernya terasa hangat seperti hembusan nafas seseorang.
Dia menoleh ke arah kiri dan terkejut melihat seseorang disana.
"Aaakkhh...!!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Andra menendang Arsen dengan kakinya hingga suaminya terguling ke lantai.
"Aawww!!!" Arsen memekik di bawah, dia segera bangkit sambil mengelus pinggangnya yang sakit.
"Kau..."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andra sambil membungkus dirinya dengan selimut. "Kenapa aku ada disini?" Andra merasa bingung kerena ia yakin semalam ia tidur di kamar Farrel.
"Hei, mana ku tahu, aku sedang tidur dan kau tiba-tiba menendangku?" tukas Arsen.
"Tidak! Semalam aku tidur di kamar Farrel!" Andra masih bingung, Arsen tertawa dalam hatinya dia merasa lucu dengan wajah istrinya yang bingung.
"Lalu kenapa kau ada disini kalau semalam tidur di kamar Farrel? Apa kau tidur sambil berjalan?" ejek Arsen.
"Tidak pernah! Setidak pernah tidur sambil berjalan sebelumnya!"
"Tapi kenapa di rumahku bisa seperti itu? Apa mungkin hantu di rumah ini menyukaimu dan merasukimu agar dia punya kesempatan merayuku?"
"Rumahmu ada hantunya?" Andra semakin takut dia beringsut merapat ke arah Arsen yang duduk di tepi ranjang. Menatap takut ke segala arah masih dengan selimut di seluruh tubuhnya. Arsen benar-benar ingin tertawa sekarang, tapi ia tahan sekuat tenaga.
"Sudah cepat bangun, sana mandi lalu siapkan sarapan!" titah Arsen.
"Tapi kan sudah ada asisten yang memasak disini!" protes Andra.
"Kau ini istriku, mulai hari ini kau yang memasak untuk aku." Arsen menatap tajam Andra hingga Andra mengkerut, berharap ia berubah menjadi kurcaci. Andra tidak biasa di tatap seperti itu oleh laki-laki. Dadanya berdetak dengan cepat dua kali lipat.
Mereka saling menatap. Arsen terus melihat bibir Andra yang terasa manis. Dia mendekatkan dirinya dan melumat bibir Andra.
Andra terkesiap, dia hampir saja terjengkang karena terkejut. Andra menahan dirinya dengan kedua tangannya agar tidak jatuh. kepalanya ditahan oleh Arsen, kali ini saat Arsen menggigit bibir bawahnya Andra mengingat apa yang Arsen katakan padanya kemarin. Dia membuka mulutnya, seketika itu juga membuat Arsen tersenyum. dan segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Andra. Andra terkejut dengan apa yang di lakukan Arsen, membelit, menggigit lidahnya. Suara decapan terdengar jelas di telinga Andra. Andra merasa malu tapi anehnya dia menyukai apa yang Arsen perbuat padanya.
Arsen memasukkan tangannya ke dalam baju Andra. Andra semakin terkejut, dia merasa ingin meledak saat perlahan Arsen meremas dadanya dan memilin ujung dadanya dengan jari.
Andra memukuli d**a Arsen, dia merasa kehabisan nafas. Dadanya sesak. Ciuman Arsen semakin memburu, membuat Andra mendorong d**a suaminya.
Arsen menjauhkan wajahnya membuat Andra menarik nafas dalam-dalam.
Ciuman Arsen turun ke lehernya, mencecap tulang selangkanya dan semakin ke bawah, menciptakan warna merah di beberapa tempat di lehernya. Andra meremas seprai dengan kedua tangannya ia merasa takut, tapi tidak bisa menghindar. Malah ia membusungkan dadanya, dan terkadang melengkungkan tubuhnya ke belakang, saat Arsen mulai merambah ke dadanya dengan permainan mulutnya. Entah sejak kapan kancing baju piyamanya terlepas.
"Aah..." Andra menutup mulutnya seketika saat tak sadar suara itu yang ia keluarkan.
Arsen tersenyum menang. Dia mendorong tubuh istrinya hingga terlentang, Arsen segera naik ke atas tubuh istrinya yang tak melawan. Dengan segera ia membuka semua pakaianannya tanpa melepaskan bibirnya dari ujung d**a sang istri.
Arsen menatap tubuh polos istrinya. Indah, dan menggairahkan. Kulit putih, halus, mulus, terpampang indah memanjakan matanya.
Andra merasa malu, ia menutupi inti tubuhnya dan dadanya dengan kedua tangan.
"Jangan di tutupi." Arsen berkata lembut, entah kenapa membuat Andra menurut saat Arsen menyingkirkan kedua tangannya dari sana. Arsen menelan ludahnya dengan susah payah. Ia membungkuk membuka kedua paha Andra lebar-lebar, menatap sesuatu yang membuat miliknya menegang tegak lurus siap untuk menghantam milik Andra.
Andra mendesis dan mendesah tidak bisa menahan laju bibirnya saat Arsen memanjakan miliknya dengan lidahnya. Menjilatinya seperti eskrim, menggelitik miliknya hingga Andra menggelinjang nikmat, menggigit sesuatu yang mencuat disana.
"Aahh Ar-sen...berhenti..." baru kali ini Andra menyebut namanya membuat Arsen semakin bersemangat membuat istrinya tak berdaya. Andra menggelinjang nikmat. Dia merasakan sesuatu di perutnya,perasaan seperti ingin meledak.
"Arsen berhenti..." Andra menjangkau kepala Arsen ingin menjauhkannya. "Aku mau...ke toilet." desah Andra tapi tak dihiraukan oleh Arsen. Arsen malah memasukkan satu jarinya ke dalam inti milik Andra dan menarik ulur dengan tempo pelan hingga cepat.
"Aahhh..." Andra memekik merasakan sesuatu yang terasa keluar dari area bawahnya.
"Kamu sudah enakan?" Andra mengangguk, Arsen lagi-lagi memainkan lidahnya disana, menyedot semua cairan yang keluar dari inti Andra.
Dia bangun. Lalu merayap di atas tubuh polos istrinya.
"Ini tidak akan sakit. Jadilah milikku selamanya!" ucap Arsen lalu tanpa aba-aba lagi dia melesakkan miliknya ke dalam inti milik Andra.
Andra memekik merasakan sakit pada miliknya, dia meneteskan air matanya. Meski tidak sesakit saat Arsen melakukannya dulu, tapi ini terasa sakit.
Arsen menatap iba pada Andra, dia berhenti sebentar, miliknya belum sepenuhnya masuk. Dia mencium Andra dengan lembut mencoba mengalihkan rasa sakit Andra. Andra terbuai dengan ciuman suaminya, dia meringis sakit saat Arsen mulai bergerak di atasnya.
"Apa ini sakit?" tanya Arsen lembut.
Andra hanya mengangguk, dia memalingkan wajahnya ke samping, merasa malu. Menggigit biburnya sendiri dan memejamkan mata saat rasa sakit itu datang kembali.
Arsen tahu kalau Andra merasa kesakitan tapi dia sudah tidak bisa mundur lagi, dia perlahan bergerak hingga akhirnya miliknya berhasil masuk semua ke dalam sana. Andra mulai menikmati tempo permainan suaminya, tidak ada lagi rasa sakit tapi dia mulai menikmati rasa lain di dalam dirinya, rasa ingin meledak, rasa membuncah, dan rasa bahagia bersatu disana. Suara-suara desahan terdengar jelas dari mulut keduanya. Peluh membasahi tubuh mereka. Hingga akhirnya keduanya mencapai pelepasan bersamaan.
"Trimakasih istriku. Mulai sekarang kau akan menjadi milikku selamanya." ujar Arsen mencium kening Andra. Membuat perasaan Andra menjadi bahagia.