"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Diandra saat Arsen telah meninggalkannya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
"kenapa aku gampang sekali luluh dengan pria itu?" di menaikkan selimut hingga ke dadanya dan memandang pintu kamar mandi tanpa henti.
"Kenapa aku bisa terbuai dengan ciumannya? harusnya aku bisa tahan, bagaimana bisa aku menyerahkan diriku segampang ini?" Diandra memiringkan tubuhnya ke kanan.
Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan Arsen dengan tubuh setengah telanjang hanya di balut handuk sebatas pinggang.
Dia tersenyum melihat Diandra masih di atas ranjang mendekat dan menaikkan satu kakinya ke tepian ranjang. Dia membungkuk dan mengecup kepala Andra membuat Andra melotot tak percaya.
"Kenapa... Apa yang kau lakukan?" Tanya Andra.
"Tidak ada, aku hanya menciptakan suasana baru yang akan aku lakukan setiap hari pada istriku." Arsen dengan kekehan. Andra membalikan dirinya menatap Arsen lamat-lamat.
"Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Arsen melihat raut wajah Andra yang bimbang.
"Jangan melakukan itu, jangan membuat aku jatuh cinta padamu." ucap Andra.
"Memang kenapa?" tanya Arsen mengambil tangan Andra dan menguncinya di atas kepala Andra.
Andra memalingkan pandangannya ke arah lain, "Aku hanya tidak ingin jatuh semakin dalam di dunia mu. Bagaimana jika suatu hari nanti ada seseorang yang membawa putranya padamu dan mengaku anakmu? Bukannya kau juga harus bertanggung jawab?" Andra tidak peduli dengan tatapan Arsen yang terarah padanya.
Tiba-tiba saja Arsen tertawa terbahak, dia melepaskan tangannya dari Andra. Lalu dengan membungkukkan tubuhnya hingga dekat di leher Andra dia berbisik, "Tidak mungkin, percaya atau tidak aku hanya melakukannya denganmu, jadi tidak akan pernah ada Farrel lain di dunia ini!" membuat Andra memerah Wajahnya, bukan karena malu, benar atau tidaknya Andra tidak pernah tahu kan!
Arsen bangkit dari tempat tidur, dia setengah menarik tangan Andra.
"Aku lapar, cepat mandi dan buatkan aku sarapan!" titah Arsen.
"Ada asisten kan! Aku tidak mau! Sana cepat pergi minta saja pada asisten jangan manja!" ucap Andra kesal menarik selimutnya menutupi dadanya.
"Tidak mau. Semenjak aku makan masakan di rumahmu, lidahku sudah berubah rasanya, tidak bisa terima makanan yang di buat orang lain!" rengek Arsen persis anak kecil. Dia menarik narik tangan Andra, menggoyangkannya hingga Andra mau tidak mau bangun.
"Iya-iya. Aku buatkan sarapan. Menyebalkan sekali! Aku ini capek, badanku sakit karena ulahmu!" sungut Andra, dia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dapur. andra sedang berkutat dengan panci dan yang lainnya, dia dengan cekatan memasak. Arsen hanya melihat dari meja makan apa yang di lakukan oleh istrinya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Betapa indahnya dunia ini semenjak ia bertemu dengan Andra lagi, meskipun Arsen yakin jika Andra belum bisa menerima dirinya, tapi apa salahnya jika Arsen terus berusaha untuk meyakinkan Andra.
Arsen duduk di kursi dengan tangan menolang dagunya, persis anak kecil yang sedang menunggu di buatkan sesuatu oleh ibunya.
Andra yang melihat itu jadi merasa aneh sendiri. "Kenapa senyum-senyum? Sudah gila ya?" tanya Andra sambil menyerahkan sepirin nasi goreng pada Arsen.
"ya kau benar, aku sedang shock karena menemukanmu dan melihatmu ada di rumahku sekarang."
Andra memutar bola mata malas. "Kalau begitu akan pergi supaya kau sembuh dan tidak shock lagi." ucap Andra.
"Tidak bisa! Kau harus tetap disini, karena kau adalah obat ku!"
"Gombal!" dengus Andra kesal, tapi dia juga bahagia mendengar perkataan Arsen. jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Aku akan lihat Farrel!" Andra berdiri, namun tangannya di tahan Arsen.
"Temani aku makan. Farrel sudah ada yang mengurusnya." pinta Arsen. Andra kembali duduk di tempatnya dia memperhatikan Arsen makan dengan lahap.
"Kau tidak makan?" tanya Arsen, Andra hanya menggelengkan kepala.
"Nanti saja. Belum lapar."
Arsen menyodorkan satu sendok penuh di dekat mulut Andra. "Buka mulutmu!"
Andra melambaikan kedua tangannya di depan d**a, menolak suapan dari Arsen.
"Tidak perlu! Kau makan saja sendiri."
"Jangan menolak, atau kau mau aku suapi dengan mulutku?" ucap Arsen membuat istrinya menurut membuka mulutnya.
"Jangan jadi pria pemaksa!" tutur Andra. arsen hanya tertawa. Dia sangat suka ekspresi merengut yang ditampilkan istrinya, membuat dia merasa gemas sendiri.
*
Arsen duduk di kursi kebesarannya, di hadapannya sudah menumpuk segudang pekerjaan yang sudah ia tinggalkan selama berhari-hari.
Pintu terbuka, dan menampilkan sosok seorang teman plus asisten pribadi Arsen, Jimmy.
"Wah, aku kira pengantin baru akan datang terlambat!" Jimmy berujar dan mendapatkan sebuah pulpen yang melayang ke arahnya. Segera Jimmy mengelak ke samping hingga pulpen itu menabrak dinding dan jatuh ke lantai.
"Apa sih?! kau ingin cepat liburan di pedalaman?" tanya Arsen dingin.
"Cih, dasar. Harusnya pengantin baru itu sifatnya berubah, ceria, bahagia, hangat, tapi lihat ini. Apa semalam tidak dapat jatah...hahaha." Jimmy tertawa terbahak menertawakan bosnya. Ia berjalan sambil menyerahkan setumpuk lagi pekerjaan untuk di periksa oleh Arsen.
"Silahkan bos. Karna bos cuti terlalu lama, ini hadiah lain yang bos dapatkan dari perusahaan!" canda Jimmy di sertai kekehan. Arsen menyandarkan dirinya dan memijit pangkal hidungnya.
Jimmy tersenyum kecil, ia membuka agendanya. "Hari ini ada pertemuan dengan tuan Malik, pada jam sepuluh. Dan di jam satu siang, dengan tuan Andrew, mengenai kontrak yang sempat anda tinggalkan waktu menyusul nyonya ke Bali. Selebihnya akan di adakan keesokan harinya karena kita harus segera membereskan dokumen ini, kalau bisa selesai hari ini juga." terang Jimmy dengan tenang.
Arsen menegakkan tubuhnya, dia memandang kesal pada asistennya itu.
"Mengurus seperti ini saja tidak bisa? Lalu apa gunanya lulusan universitas terkenal dengan nilai terbaik di Singapura?' ejek Arsen pada Jimmy, memang selama Arsen tidak di kantor Jimmy lah yang memegang kuasa. Jimmy hanya menelan ludahnya kasar. Alasan apapun tidak akan di terima bosnya ini, percuma saja jika dia menjelaskan apakah Arsen percaya.
"Saya mengerjakan apa yang menjadi hak saya. Dan yang itu adalah wewenang bapak. Kecuali dengan keadaan terdesak!" Jimmy tertawa pelan membuat Arsen mendecih tidak suka.
"Lakukan saja seperti yang aku perintahkan. Toh mereka tidak akan keberatan dan tidak akan bisa menolak! Lagipula, orangtuaku, abaikan saja jika memang mereka ingin mengganggu urusanku di kantor. Aku yang memberimu kuasa jika aku tidak ada. Jangan terprovokasi oleh mereka. Mengerti!"
Jimmy menganggukan kepalanya. Salahnya karena terlalu memakai hati dalam pekerjaan. Dan sialnya sampai saat ini dia pernah bisa melawan nyonya besar yangbtelah ikut merawat dirinya.
"Aku tahu kau masih hormat pada mama, tapi kau harus bertangan dingin untuk bisa di segani di dunia bisnis. Kau pun tahu kan?" tanya Arsen yang di jawab anggukan kepala dari Jimmy.
"Lain kali aku tidak akan segan!" ucap Jimmy, membuat Arsen tersenyum senang.
"Mengenai proyek tambang itu, aku mendapatkannya. Kau tinggal menyelesaikan sisanya." Ujar Jimmy.
"Benarkah? Wah hebat, bahkan akupun tidak sempat berfikir orang tua itu akan menyerahkannya!" Arsen tertawa menang. Dia kembali membuka berkas yang ada.
"Nanti siang aku traktir kopi!" ucap Arsen tanpa menoleh pada Jimmy.
"Cih, cuma kopi?"
"Kenapa? Kamu harap aku akan membawakanmu wanita? Kalau kau suka, sayangnya tidak, bukan?" kembali Arsen tertawa, membuat Jimmy merengut tidak suka.
Jimmy kembali ke ruangannya meninggalkan Arsen dengan tumpukan pekerjaan yang menggunung.