Dona masih kepikiran ucapan Aska kemarin.
"Jangan dekat-dekat sama Reynaldi."
Kenapa Aska sampai memperingatkannya seperti itu? Memangnya apa yang dia tahu soal Reynaldi?
Dari dulu, Dona nggak pernah suka ikut campur urusan orang lain. Tapi kali ini beda. Dia merasa harus tahu alasan di balik semua ini.
Saat bel istirahat berbunyi, Dona buru-buru keluar kelas buat cari Aska. Dia menemukannya di kantin, duduk sendirian sambil menatap gelas es teh di depannya.
"Aska, kita perlu bicara," kata Dona tanpa basa-basi.
Aska mendongak. Wajahnya datar, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang aneh.
"Oke," jawabnya. "Di mana?"
"Aula belakang."
Aska nggak banyak protes dan langsung bangkit. Mereka berdua jalan ke aula yang sepi. Begitu sampai, Dona langsung to the point.
"Kemarin kamu bilang aku harus menjauh dari Reynaldi. Kenapa?"
Aska diam sebentar, lalu menghela napas. "Dona, kamu nggak ngerti siapa Reynaldi sebenarnya."
"Kalau gitu, kasih tahu aku."
Aska tampak ragu. Dia menggigit bibirnya, seperti menimbang-nimbang sesuatu.
"Aska?"
Dia menatap mata Dona dalam-dalam. "Kamu tahu kenapa Anton selalu kelihatan nggak nyaman kalau ada Reynaldi?"
Dona mengernyit. "Kenapa?"
"Sebenarnya, dulu aku, Anton, dan Reynaldi berteman."
Dona nggak nyangka. Setahu dia, Anton nggak pernah terlihat akrab sama Reynaldi.
"Aska, apa yang terjadi?"
Aska menarik napas, mau ngomong, tapi tiba-tiba…
BRUK!
Pintu aula terbuka.
Dona dan Aska langsung menoleh. Reynaldi berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar, tapi matanya tajam.
"Ngomongin aku ya?" katanya santai.
Aska langsung tegang. Dona bisa merasakan atmosfer di ruangan berubah jadi lebih berat.
"Aska bilang aku harus menjauh dari kamu," kata Dona, berusaha tetap tenang. "Tapi dia nggak mau bilang alasannya."
Reynaldi mendengus kecil. "Tentu aja dia nggak mau."
Aska mengepalkan tangan. "Rey, jangan mulai."
"Jangan mulai apa?" balas Reynaldi. "Jangan mulai ngomong yang sebenarnya?"
Dona menatap mereka berdua. "Aku mau tahu semuanya."
Aska menggeleng. "Dona, percayalah. Ini bukan urusanmu."
"Terlambat," kata Reynaldi datar. "Dia udah terlanjur tahu sebagian."
Aska menatap Reynaldi dengan tajam, tapi cowok itu malah tersenyum tipis.
"Aska," kata Reynaldi pelan. "Kenapa nggak kamu sendiri aja yang kasih tahu?"
Aska diem. Tangannya mengepal makin kuat.
"Aska?" Dona mencoba menekan.
Akhirnya, Aska buka suara.
"Tiga tahun lalu… ada kejadian di sekolah ini," katanya lirih.
Dona menahan napas.
Reynaldi menyela, suaranya dingin. "Dan Aska ada di sana waktu itu."
Dona makin bingung. "Maksudnya?"
Aska mengalihkan pandangan. "Ada seseorang yang… jatuh dari lantai dua gudang kosong di belakang sekolah."
Dona terkejut. Dia tahu tempat itu. Sekarang gudang itu udah ditutup karena dianggap berbahaya.
"Siapa yang jatuh?"
Aska diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
"Adikku."
Dona membelalak. "Apa?"
Aska mengangguk. "Saat itu aku, Anton, dan Reynaldi ada di sana."
Dona mulai merasa nggak enak. "Kejadiannya gimana?"
Aska menelan ludah. "Aku dan Anton ada di dekatnya sebelum dia jatuh."
Dona makin merinding. "Jadi kalian—"
"Aku nggak dorong dia!" potong Aska cepat. "Itu kecelakaan!"
"Tapi kalian merahasiakannya," kata Reynaldi dingin.
Aska tertunduk.
Dona merasa lemas. Jadi selama ini, Aska menyembunyikan hal sebesar ini darinya?
"Aska, jadi… kamu nutupin ini selama tiga tahun?"
Aska menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku nggak punya pilihan."
Reynaldi tertawa kecil, tapi nadanya lebih terdengar seperti ejekan. "Kamu selalu punya pilihan, Aska."
Aska mengepalkan tangan. "Kalau aku jujur, aku bakal dikeluarin dari sekolah!"
"Tapi seseorang hampir mati!" bentak Reynaldi.
Dona nggak tahu harus berkata apa. Dia melihat dua orang yang sama-sama punya cerita versi mereka sendiri.
Dia melangkah mundur. "Aku… aku butuh waktu buat mikirin ini semua."
Aska buru-buru berkata, "Dona, aku mohon. Jangan jauhi aku."
Dona menggigit bibirnya. "Aku nggak tahu harus gimana sekarang."
Dia berbalik, meninggalkan mereka berdua.
Saat berjalan di lorong sekolah, Dona sadar…
Nggak ada yang benar-benar seperti kelihatannya.
Dan mungkin, Reynaldi nggak seburuk yang orang-orang bilang.
Tapi kalau gitu… siapa yang sebenarnya harus dia percayai?
Dona berjalan cepat menyusuri koridor sekolah. Napasnya masih sedikit tersengal, pikirannya penuh dengan apa yang baru saja ia dengar. Aska, sahabatnya, telah menyembunyikan sesuatu sebesar ini selama tiga tahun?
Dia masih belum bisa percaya.
Udara siang itu terasa lebih panas dari biasanya, atau mungkin itu cuma perasaannya saja. Dona berhenti di depan kelasnya, mencoba mengatur napas sebelum masuk. Tapi sebelum ia sempat melangkah, seseorang memanggilnya.
"Dona!"
Dona menoleh. Milka berdiri di depan pintu kelas dengan ekspresi penasaran.
"Kemana aja? Aku nyariin kamu tadi," kata Milka, mendekat.
Dona menggaruk kepalanya, mencari alasan. "Tadi ngobrol sama Aska di aula."
Milka menaikkan alis. "Ngobrol atau berantem?"
Dona menghela napas. "Milka, otak aku lagi penuh. Jangan ditambahin, ya."
Milka menyipitkan mata, jelas makin penasaran. "Berarti ada sesuatu, kan?"
Dona nggak langsung menjawab. Dia menimbang-nimbang, apakah harus cerita atau tidak. Tapi melihat tatapan Milka yang penuh selidik, dia akhirnya menyerah.
"Kita ke taman belakang, yuk," kata Dona akhirnya.
Milka mengangguk cepat. "Oke! Aku suka gosip eksklusif begini."
Di taman belakang sekolah, Dona akhirnya menceritakan semuanya. Mulai dari peringatan Aska soal Reynaldi, sampai fakta tentang kejadian tiga tahun lalu.
Milka mendengarkan dengan serius, sesekali mengerutkan dahi. Setelah Dona selesai bercerita, Milka terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Wow."
"Itu doang komentarmu?" tanya Dona frustasi.
Milka mengangkat bahu. "Aku masih memproses semuanya. Tapi serius, Dona… aku nggak nyangka Aska punya rahasia segede itu."
"Aku juga nggak," gumam Dona.
Milka berpikir sejenak, lalu menatap Dona. "Dan sekarang kamu jadi bingung, kan? Mau percaya sama siapa?"
Dona mengangguk pelan.
Milka menatapnya dengan penuh arti. "Aku nggak mau nge-judge siapa yang salah di sini, tapi yang jelas, Aska udah menyembunyikan sesuatu dari kamu. Itu berarti dia takut sesuatu terjadi kalau kamu tahu."
Dona menghela napas berat. "Dan itu yang bikin aku makin pusing."
Milka menyandarkan tubuhnya ke bangku taman. "Terus, kamu mau gimana?"
Dona menggeleng. "Aku belum tahu."
Milka menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Dona, kamu selalu pakai logika buat mutusin sesuatu. Tapi kali ini, coba ikuti kata hati kamu. Siapa yang lebih bisa kamu percaya?"
Dona terdiam. Ia tahu Milka ada benarnya.
Tapi masalahnya, hatinya sendiri pun masih bingung.
Di tempat lain, Reynaldi bersandar di dinding dekat lapangan basket, menatap ke kejauhan dengan mata penuh pikiran.
"Aska… lo pikir lo bisa terus ngumpetin ini?" gumamnya pelan.
Lalu, dengan senyum tipis, dia berjalan menjauh.
Dona masih duduk di bangku taman bersama Milka. Angin sore berhembus pelan, tapi pikirannya masih terasa berat.
"Kalau aku jadi kamu," kata Milka tiba-tiba, "aku bakal pura-pura nggak tahu apa-apa dulu. Sampai nemu bukti yang jelas."
Dona menoleh. "Maksudmu?"
Milka mengangkat bahu. "Gini, Dona. Kamu baru denger cerita dari satu sisi. Mungkin Reynaldi kelihatan kayak tahu semuanya, tapi siapa yang jamin dia jujur? Bisa aja dia cuma mau bikin kamu ragu sama Aska."
Dona terdiam. Itu ada benarnya.
"Aska memang salah karena nutupin ini dari kamu," lanjut Milka. "Tapi, kita juga nggak tahu seberapa parah keterlibatan dia dalam kejadian itu. Jangan langsung nge-judge sebelum kamu tahu semuanya."
Dona menarik napas panjang. Dia pengen banget marah sama Aska, tapi di sisi lain, dia juga tahu kalau sahabatnya itu bukan orang jahat.
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana," kata Dona akhirnya.
Milka tersenyum kecil. "Pelan-pelan aja. Lagian, kalau lo nyari kebenaran, pasti bakal kebuka sendiri jalannya."
Dona mengangguk. "Iya, aku bakal cari tahu semuanya."
Sementara itu, di lorong sekolah yang sepi, Aska duduk di anak tangga dekat ruang guru. Kepalanya tertunduk, pikirannya kacau.
Dia nggak nyangka kalau akhirnya Dona tahu. Dan sekarang, dia takut.
"Aska."
Suara itu membuatnya mendongak. Anton berdiri di depannya, ekspresinya penuh kekhawatiran.
"Dona udah tahu?" tanya Anton pelan.
Aska mengangguk lemah. "Iya."
Anton mengumpat pelan. "Reynaldi?"
"Lagi-lagi dia," jawab Aska.
Anton duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. "Gue selalu tahu hari ini bakal datang."
Aska mendengus pelan. "Iya, gue juga."
Anton menoleh ke sahabatnya. "Jadi, sekarang gimana?"
Aska menghela napas panjang. "Gue nggak tahu. Dona marah sama gue. Gue nggak bisa nyalahin dia."
Anton terdiam, lalu menepuk bahu Aska. "Dona mungkin kecewa, tapi dia bukan orang yang gampang mutusin sesuatu tanpa bukti jelas. Masih ada kesempatan buat lo jelasin semuanya."
Aska tersenyum miris. "Semoga aja."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Tak ada yang berkata-kata, tapi di dalam hati mereka, ada ketakutan yang sama.
Ketakutan kalau rahasia itu akhirnya bakal benar-benar terbongkar.
Di sisi lain sekolah, Reynaldi duduk sendirian di bangku belakang kelas yang kosong. Jari-jarinya memainkan pena, matanya menatap ke luar jendela.
Dia tahu kalau Dona nggak akan diam begitu saja.
Dia tahu kalau cewek itu akan mulai mencari jawaban.
Dan dia nggak sabar menunggu apa yang bakal terjadi selanjutnya.