Dona nggak bisa tidur semalaman. Pikirannya nggak berhenti berputar, antara Aska, Reynaldi, dan kejadian tiga tahun lalu yang seolah nggak ada habisnya. Dia bingung, kesel, dan sedikit takut. Kenapa semuanya jadi rumit gini? Aska, sahabat yang selalu dia anggap satu frekuensi, ternyata punya rahasia besar. Dan Reynaldi? Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan cowok itu, sesuatu yang nggak bisa dia jelasin dengan kata-kata.
Dona berbaring sejenak, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. “Gue harus gimana sih?” pikirnya dalam hati. Rasanya cuma ada satu jalan, dan itu cuma bisa lewat kebenaran.
Akhirnya dia memutuskan buat tidur meskipun susah. Dengan napas berat, Dona menarik selimut dan menutup matanya, berharap bisa tidur, tapi nggak bisa. Pikirannya masih penuh.
Keesokan paginya, suasana di sekolah terasa sedikit beda. Seperti ada beban di udara. Begitu masuk kelas, Dona langsung ngelihat Aska duduk di pojokan, diam, nggak seperti biasanya. Anton juga nggak banyak ngomong. Dan Reynaldi? Dia tetap kelihatan santai, tapi ada sesuatu di matanya yang nggak bisa bikin Dona tenang.
"Lo oke, Dona?" Milka yang duduk di sampingnya nanya sambil neken-neken bahu Dona.
Dona cuma angguk pelan. "Iya, gue cuma mikirin banyak hal."
Milka kayaknya udah paham kalau itu soal Aska. "Lo mau ngomong sama Aska? Udah saatnya lo tahu semua."
Dona mikir sejenak. “Iya, mungkin gue harus ngobrol sama dia."
"Lo pasti bisa." Milka ngasih semangat sambil senyum.
Saat istirahat, Dona mutusin buat cari waktu yang tepat buat ngobrol sama Aska. Walaupun agak berat, dia tahu ini harus dilakukan. Milka ngikutin Dona, dan mereka berdua menuju aula belakang yang biasanya sepi.
Pas masuk, Dona ngeliat Aska duduk sendirian. Ada keraguan di matanya, tapi dia nggak bisa nunda lagi.
"Lo nggak marah, kan?" tanya Dona sambil duduk di depan Aska.
Aska cuma geleng pelan, matanya nggak langsung nengok ke Dona. "Gue nggak bisa jawab itu, Dona."
Dona ngelipet tangannya, nahan emosi. "Lo harus jawab, Aska. Gue cuma pengen tahu kenapa lo nggak cerita soal kejadian itu. Kenapa lo simpen semuanya?"
Aska ngeluarin napas panjang, kayak lagi nyari kata-kata. "Gue nggak bisa ngebikin lo ikut terjebak sama masalah ini."
"Apa lo kira gue bakal takut sama masalah lo?" Dona nanya, mencoba buat tetap tenang.
Aska ngeliat Dona dengan tatapan kosong. "Ini bukan masalah yang gampang dijelasin. Lo bakal benci gue kalau tahu semuanya."
Dona langsung nunjuk ke dirinya sendiri. "Gue nggak bakal benci lo, Aska. Gue cuma butuh penjelasan."
Aska akhirnya ngelirik Dona. "Dulu, gue, Anton, sama Reynaldi temenan. Tapi ada sesuatu yang bikin semuanya jadi berubah."
Dona semakin tertarik. "Apa yang terjadi?"
Aska matanya mulai kosong, kayak inget sesuatu yang nggak enak. "Ada kecelakaan. Seorang siswa jatuh dari lantai dua gudang belakang sekolah ini. Itu adik gue."
Dona terkejut banget. "Adik lo?"
Aska cuma angguk pelan, suaranya mulai goyah. "Iya, dia jatuh. Gue, Anton, sama Reynaldi ada di sana waktu itu. Tapi..."
"Jadi ini bukan kecelakaan biasa, kan?" Dona nanya, makin ngerasa ada yang nggak beres.
"Aska, lo harus cerita lebih jelas. Jangan setengah-setengah."
Aska menunduk, kayak mikir lagi buat ngomong apa. "Ada yang sengaja dorong dia, Dona. Gue nggak tahu siapa, tapi gue bisa ngerasain itu. Dan sejak saat itu, semuanya jadi berubah."
Dona ngerasa nggak percaya. "Lo serius? Siapa yang bisa bikin hal gitu?"
"Aska, gue nggak bisa terus-terusan diam. Lo harus cerita lebih banyak."
Aska akhirnya angkat kepala. "Gue nggak mau lo ikut terlibat dalam masalah Reynaldi."
Dona makin bingung. "Lo takut gue ikut campur? Kenapa? Apa hubungannya Reynaldi?"
Aska ngeluarin napas berat. "Ini lebih rumit dari yang lo kira. Reynaldi dan Anton udah jauh sejak kejadian itu. Gue… gue nggak bisa jelasin semuanya."
Dona cemas. "Lo nggak bisa terus sembunyiin ini dari gue, Aska. Gue nggak bisa terima kalau sahabat gue ngerahasiain sesuatu kayak gini."
Di tempat yang berbeda, Reynaldi sedang duduk sendirian di ruang aula, ngeliatin jendela dengan pandangan kosong. Dia tahu kalau semuanya bakal terbuka, tapi dia nggak peduli. Semua ini adalah bagian dari rencananya.
"Lo pikir lo bisa nyembunyiin semuanya, Aska?" Reynaldi berkata pelan, hanya pada dirinya sendiri.
Dia tau, pada waktunya, Dona bakal tahu juga. Dan pada saat itu, dia siap.
Setelah perbincangan dengan Aska, Dona merasa seolah beban di pundaknya sedikit lebih ringan. Tapi, itu nggak berarti semuanya jadi lebih jelas. Malahan, justru sekarang dia merasa lebih bingung. Aska bilang dia nggak bisa cerita lebih banyak, tapi apa yang udah diungkapkan udah cukup bikin Dona mikir keras. Apa benar Reynaldi terlibat dalam kecelakaan itu? Dan kenapa Aska bisa menyembunyikan semuanya selama ini?
Di sisi lain, Dona nggak bisa terus-terusan bertanya tanpa bukti yang jelas. Apa yang Aska bilang bisa jadi cuma sebagian dari kenyataan. Seperti kata Milka, dia harus cari tahu sendiri.
Malam itu, setelah pulang sekolah, Dona nggak langsung pulang ke rumah. Dia mutusin buat jalan-jalan ke taman dekat sekolah. Suasananya sepi, cuma ada beberapa orang yang lagi lari-lari sore. Dona duduk di bangku taman, melemparkan pandangannya ke langit yang mulai gelap.
"Semuanya jadi kacau," pikirnya. "Kenapa harus jadi begini?"
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ternyata ada pesan dari Milka.
Mil, gimana? Lo udah ngomong sama Aska?
Dona balas dengan cepat. Iya, udah. Tapi makin bingung. Aska bilang soal kecelakaan itu, tentang adik dia yang jatuh. Katanya ada yang dorong. Gue nggak tahu siapa yang harus dipercaya sekarang.
Beberapa detik kemudian, Milka balas. Gue paham. Tapi, lo harus coba ngomong sama Reynaldi juga. Mungkin dia tahu lebih banyak.
Dona terdiam sejenak, memikirkan pesan Milka. Reynaldi? Apa dia benar-benar bisa diandalkan buat kasih penjelasan? Selama ini dia cuma ngeliat Reynaldi sebagai cowok yang suka main-main, tapi siapa tahu, kan?
Dengan perasaan campur aduk, Dona akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang Milka bilang. Dia harus bicara sama Reynaldi. Kalau bisa, dia pengen cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, meskipun rasanya nggak mudah.
Esoknya, Dona nekat mendekati Reynaldi di sekolah. Dia ngelihat Reynaldi lagi berdiri sendirian di luar kantin, melamun. Dona berdiri di depan Reynaldi, nggak tahu harus mulai dari mana.
"Reynaldi," panggil Dona.
Reynaldi menoleh, kaget melihat Dona. "Dona? Ada apa?"
Dona menatapnya tajam. "Lo tahu kan soal kecelakaan itu? Lo tahu siapa yang dorong adik Aska?"
Reynaldi terdiam sejenak, ekspresinya berubah serius. "Kenapa lo tanya itu?"
Dona menahan napas. "Gue cuma pengen tahu kebenarannya. Aska nggak bisa cerita lebih banyak, dan gue rasa lo tahu sesuatu."
Reynaldi tersenyum miris. "Gue tahu, tapi gue nggak bisa cerita, Dona."
Dona merasa ada sesuatu yang nggak beres. "Kenapa? Apa lo takut?"
Reynaldi menghela napas. "Lo nggak akan ngerti kalau gue ceritain semuanya."
Dona ngerasa frustrasi. Tapi dia nggak mau berhenti. "Jangan tutup-tutupin, Reynaldi. Gue butuh jawaban."
Reynaldi menatap Dona dalam-dalam. "Gue harap lo siap sama konsekuensinya."
Dona merinding. Apa yang bakal dia temuin dari Reynaldi?
Dona merasa jantungnya berdegup lebih cepat saat Reynaldi mengucapkan kalimat itu. “Lo siap dengan konsekuensinya?” Apa maksudnya? Ada apa lagi di balik semua ini?
“Apa maksud lo?” tanya Dona dengan suara yang agak tercekat.
Reynaldi tampak ragu sejenak, lalu dia memutar badannya, menjauh beberapa langkah dari Dona. Dona menatapnya bingung, nggak tahu harus gimana. Suasana sekitar seolah-olah berhenti bergerak, cuma ada dia dan Reynaldi di tengah kebingungannya.
“Ada banyak hal yang lo nggak tahu, Dona,” Reynaldi akhirnya mulai bicara. "Tentang Aska, tentang gue, dan semuanya yang terjadi. Gue nggak bisa ngasih tau lo semuanya sekarang."
Dona semakin bingung, tapi dia nggak mau menyerah begitu aja. “Tapi gue berhak tahu, Reynaldi! Aska sahabat gue, lo juga temen gue. Lo nggak bisa sembunyiin semuanya.”
Reynaldi berhenti dan menatap Dona dengan tatapan kosong, seperti dia sedang merenung. “Lo yakin lo siap dengan semuanya, Dona? Kadang, kebenaran itu nggak sesederhana yang kita kira. Kalau lo tahu, semuanya bakal berubah.”
Dona merasa seperti ada tembok besar yang menghalangi mereka. “Kenapa sih semuanya harus rumit banget? Gue cuma mau tahu yang sebenarnya.”
Reynaldi menghela napas, matanya tertunduk. “Gue nggak mau lo terjebak dalam masalah ini. Lo masih bisa pergi, lo nggak perlu tahu ini semua.”
Tapi Dona nggak mau mundur. “Gue udah ada di sini, Reynaldi. Gue harus tahu.”
Reynaldi akhirnya menatapnya dengan tatapan yang berbeda. “Oke, gue ceritain. Tapi lo harus siap dengan apa yang bakal lo denger.”
Dona cuma ngangguk, meskipun dia merasa ada ketegangan di udara. Ini bukan lagi tentang persahabatan biasa, ini lebih dari itu. Reynaldi menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai bercerita.
“Itu bukan kecelakaan biasa, Dona. Gue nggak tahu siapa yang melakukannya, tapi ada yang dorong adik Aska dari lantai dua. Dan gue… gue ada di sana waktu itu. Tapi gue nggak bisa lakukan apa-apa. Gue cuma ngeliat.”
Dona terdiam. “Lo… lo nggak bisa berbuat apa-apa?”
Reynaldi menggelengkan kepala. “Gue nggak bisa, Dona. Gue nggak mau cerita lebih banyak karena gue nggak mau lo semakin terlibat. Tapi kalau lo tahu, semuanya bakal berubah.”
Suasana hening sejenak, lalu Dona akhirnya membuka mulut. “Tapi gue nggak bisa tinggal diam. Ini bukan cuma tentang Aska atau lo, ini tentang gue juga.”
Reynaldi menatapnya lama. “Lo harus siap, Dona. Kebenaran itu kadang lebih pahit daripada yang kita bayangkan.”
Dengan langkah berat, Dona mengangguk pelan. “Gue siap.”
Dan dengan itu, bab baru dimulai.