Dona gelisah. Dia bolak-balik menatap layar ponselnya, membaca ulang pesan dari Milka.
"Gue punya sesuatu yang harus lo tahu tentang Reynaldi. Ketemu gue di taman belakang habis pulang."
Dona menggigit bibir. Ada apa lagi, sih? Reynaldi emang badboy, tapi bukan tipe yang sembarangan nyari masalah. Kadang nyebelin, kadang ngeselin... tapi, jujur aja, ada sesuatu di dirinya yang bikin Dona penasaran.
Di sudut kelas, Reynaldi duduk santai. Kakinya selonjor di bawah meja, tangan bersilang di d**a. Aska dan Anton, dua sahabatnya, ngobrol sambil sesekali ketawa.
"Aska, lo liat tadi pas Doni ketemu Rey? Muka dia pucet kayak ketahuan nyolong!" Anton ngakak.
Aska ikut ketawa. "Iya, parah! Tapi, Rey, lo yakin gak bakal dipanggil BP gara-gara bentak dia tadi?"
Reynaldi cuma ngangkat bahu. "Biarin. Gue males lihat dia sok jago. Apalagi kalau udah nyenggol orang yang gak bersalah."
Anton melirik Aska, lalu keduanya saling senyum penuh arti.
"Dona, kan?" Aska nyeletuk.
Reynaldi langsung menatap tajam. "Udah, jangan sotoy."
Tapi dalam hatinya, dia tahu Aska ada benarnya. Dona itu beda. Dia gak kayak cewek lain yang takut atau kagum berlebihan sama cowok badboy. Dia berani, dan itu yang bikin Reynaldi gak bisa berhenti mikirin dia.
Rahasia Milka
Begitu bel pulang berbunyi, Dona langsung nyari Milka di taman belakang. Milka udah nunggu, duduk di bangku kayu sambil melipat tangan di d**a. Wajahnya serius.
"Ada apa, Mil?" tanya Dona.
Milka menarik napas panjang. "Lo harus hati-hati sama Reynaldi."
Dona mengernyit. "Maksud lo?"
Milka menatapnya tajam. "Dia bukan cuma anak berandalan biasa. Lo tau bokapnya siapa, kan?"
Dona mengangguk pelan. Dia pernah dengar gosip kalau bokap Reynaldi itu pengusaha gede yang terkenal keras. Ibunya? Katanya udah lama ninggalin mereka.
"Jangan bilang ini ada hubungannya sama bokapnya?" tebak Dona.
Milka menghela napas. "Gue takut Rey kena pengaruh buruk. Lo tau, kan? Kadang orang gak sadar kalau mereka jadi kayak orang tua mereka sendiri."
Dona diem. Rey emang keras, tapi dia gak pernah kasar sama cewek. Dia lebih ke tipe yang pasang tembok tinggi, seolah gak butuh siapa-siapa.
"Tapi dia gak kayak gitu," ucap Dona lirih.
Milka menatapnya lama sebelum berkata, "Gue cuma gak mau lo terluka, Don."
Bentrok di Parkiran
Saat mereka keluar dari taman belakang, pemandangan di parkiran bikin Dona makin bingung. Aska dan Anton lagi ngobrol sama... Doni?
"Liat siapa yang datang," kata Doni dengan senyum sinis.
"Aska, Anton, lo ngapain ngobrol sama dia?" tanya Dona.
Anton mengangkat bahu. "Tenang, Dona. Kita cuma dengerin dia ngomong."
"Tapi Rey yang nyuruh kita ketemu dia," sambung Aska.
Dona makin gak ngerti. "Rey? Kenapa?"
Belum sempat mereka jawab, suara motor meraung. Reynaldi datang dengan ekspresi dingin. Dia turun dari motor, berjalan santai ke arah mereka.
"Doni," panggilnya pelan tapi tajam. "Gue udah bilang, jangan nyenggol Dona lagi."
Doni terkekeh. "Santai, Rey. Gue cuma ngobrol."
Reynaldi gak nanggepin. Dia malah melirik Aska dan Anton.
"Kalian serius ngobrol sama dia?" tanyanya.
Aska kelihatan ragu. "Kita gak kerja sama, Rey. Cuma dengerin doang."
Doni menyeringai. "Kenapa, Rey? Takut rahasia lo kebongkar?"
Dona menatap Reynaldi curiga. "Rahasia apa?"
Rey diem sejenak sebelum akhirnya ngomong, "Doni ini anak buah bokap gue."
Dona terbelalak. "Apa?!"
Doni tertawa kecil. "Akhirnya lo ngomong juga."
Reynaldi melirik Dona. "Bokap gue... bisnisnya gak bersih, Don. Dan Doni salah satu orangnya."
Dona merasa kepalanya berputar. Dia menatap Doni, lalu kembali ke Reynaldi.
"Lo ikut di dalamnya?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Reynaldi menghela napas. "Gue berusaha keluar. Tapi susah."
Dona gak tau harus ngomong apa. Dia tahu Reynaldi bukan orang jahat, tapi kenyataan ini terlalu berat buat dicerna.
Milka menarik tangannya pelan. "Don, lo yakin mau terlibat?"
Dona menatap Reynaldi. Cowok itu tetap berdiri di depannya, kelihatan kuat, tapi ada luka di matanya.
"Apa lo bener-bener mau lepas dari semua ini?" tanya Dona akhirnya.
Reynaldi menatapnya dalam. "Kalau lo ada di sisi gue, mungkin gue punya alasan buat nyoba lebih keras."
Dona menarik napas. Hatinya ribut. Dia gak mau gegabah, tapi dia juga gak mau ninggalin Reynaldi sendirian.
"Jangan sampai lo nyesel ngomong gitu," kata Dona akhirnya.
Reynaldi tersenyum kecil. "Gue gak akan nyesel."
Dona masih berdiri di tempatnya, mencerna semua yang baru saja dia dengar. Angin sore bertiup pelan, tapi rasanya kepala dia penuh badai.
"Jadi... lo sebenernya gak pengen ada di dunia bokap lo, kan?" tanyanya lagi, memastikan.
Reynaldi mengangguk pelan. "Gue gak pernah pengen. Tapi susah buat lepas."
Doni menyeringai, memasukkan tangannya ke saku celana. "Gue udah bilang ke lo, Rey. Lo gak akan bisa kabur dari dunia ini."
Reynaldi mendengus kesal. "Dan gue udah bilang ke lo, Don. Gue bukan lo."
Doni tertawa kecil, lalu melirik Dona. "Cewek ini bikin lo berubah, ya?"
Dona mendelik. "Apaan sih lo?"
"Ya iyalah, sejak Rey mulai deket sama lo, dia jadi aneh," lanjut Doni. "Biasanya dia gak banyak mikir buat hajar orang yang ngelawan dia. Tapi sekarang? Malah kayak lagi nyari alasan buat jadi orang baik."
"Asal lo tau aja," kata Dona ketus, "gue gak pernah maksa dia buat berubah. Kalau dia berubah, itu keputusan dia sendiri."
Reynaldi tersenyum tipis mendengar itu. Dona memang gak pernah nuntut apa pun dari dia. Cewek itu selalu ngomong apa adanya, dan mungkin itu yang bikin dia makin gak bisa jauh.
"Aska, Anton," panggil Reynaldi tiba-tiba, menoleh ke dua sahabatnya. "Gue harap kalian gak dengerin omong kosong Doni."
Aska menghela napas. "Lo tau kita selalu dukung lo, Rey. Tapi kita juga gak bisa pura-pura gak tau apa yang terjadi."
Anton mengangguk. "Kalau lo beneran mau keluar dari bayangan bokap lo, kita bakal bantu. Tapi lo juga harus serius."
Reynaldi mengangguk mantap. "Gue serius."
Doni tertawa lagi, tapi kali ini terdengar lebih sinis. "Oke, kita lihat aja. Tapi ingat, Rey. Sekali lo udah masuk ke dunia ini, lo gak bisa keluar semudah itu."
Setelah itu, Doni pergi, meninggalkan mereka dalam diam. Dona masih bisa merasakan ketegangan di udara.
"Rey," panggilnya pelan.
Reynaldi menoleh. "Apa?"
"Lo beneran yakin bisa keluar dari semua ini?"
Reynaldi menatapnya dalam, lalu tersenyum tipis. "Gue gak tau. Tapi gue bakal nyoba."
Dona menghela napas. "Oke. Kalau gitu, gue bakal ada di sini buat liat lo nyoba."
Reynaldi terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, "Makasih."
Dona tersenyum kecil. "Jangan bikin gue nyesel udah percaya sama lo."
Reynaldi menatapnya dengan mata yang lebih lembut dari biasanya. "Gue gak akan."
Dan untuk pertama kalinya, Dona merasa kalau mungkin, hanya mungkin... Reynaldi bukan sekadar badboy berandal di sekolah. Mungkin dia adalah seseorang yang sedang berusaha mencari jalan keluar dari kegelapan.
Dan kalau itu benar, Dona ingin ada di sana untuk menyaksikannya.
suasana di sekolah terasa sedikit berbeda. Reynaldi gak banyak bicara, tapi Dona bisa lihat kalau dia sedang berusaha. Setidaknya, dia gak lagi berurusan sama Doni dan orang-orang bokapnya.
Tapi masalahnya, dunia lama Reynaldi gak semudah itu mau melepaskannya.
Hari itu, saat Dona lagi duduk di kantin sama Milka, Aska tiba-tiba datang dengan wajah panik.
"Dona! Lo liat Rey gak?"
Dona mengerutkan dahi. "Belum. Kenapa?"
"Dia tadi dijemput sama orang gak dikenal di depan sekolah," kata Aska dengan suara tegang. "Kayaknya anak buah bokapnya."
Jantung Dona langsung berdetak kencang. "Serius? Lo yakin?"
Aska mengangguk cepat. "Gue sama Anton lihat sendiri. Mereka bawa mobil hitam, terus maksa Rey masuk."
Tanpa pikir panjang, Dona langsung bangkit. "Kita harus cari tau dia di mana."
Milka menarik tangannya. "Dona, lo yakin mau ikut campur sejauh ini?"
Dona menatap Milka dengan yakin. "Rey bilang dia mau berubah. Kalau dia beneran mau keluar dari semua ini, dia butuh seseorang di sisinya."
Milka menghela napas, lalu mengangguk. "Oke. Terus kita harus ngapain sekarang?"
Anton datang dengan napas ngos-ngosan. "Gue tau di mana Rey."
Tanpa buang waktu, mereka pergi ke sebuah gudang tua di pinggiran kota, tempat yang sering dipakai buat urusan bisnis bokap Reynaldi.
Dona merasa tangannya dingin waktu mereka ngendap-ngendap di belakang gudang. Dari celah pintu, dia bisa lihat Reynaldi berdiri di tengah ruangan, berhadapan dengan seorang pria tinggi berjas hitam—bokapnya.
"Kamu pikir bisa lari dari ini semua, Rey?" suara pria itu terdengar tajam.
Reynaldi berdiri tegap. "Gue gak mau ikut cara lo, Pak. Gue mau hidup gue sendiri."
Tamparan keras mendarat di pipinya. Dona terkejut dan hampir maju, tapi Anton menahan lengannya.
"Jangan gegabah," bisiknya.
Tapi Dona gak bisa diam aja. Dengan napas tertahan, dia mendorong pintu dan masuk. "Rey!"
Bokap Reynaldi menatapnya tajam. "Siapa kamu?"
"Dona," jawabnya dengan suara bergetar, tapi matanya tetap menatap tajam. "Gue gak peduli lo siapa, tapi lo gak punya hak buat maksa Rey ngelakuin sesuatu yang dia gak mau."
Reynaldi menatap Dona dengan mata penuh kejutan.
Bokapnya hanya tertawa kecil. "Kamu pikir anak ini bisa hidup tanpa saya?"
"Dia bisa," jawab Dona mantap. "Dan dia gak sendirian."
Suasana hening beberapa saat sebelum pria itu akhirnya mendesah panjang. "Baiklah. Kalau itu maumu, Rey. Tapi ingat, kamu bukan siapa-siapa tanpa saya."
Setelah itu, dia melangkah pergi.
Begitu mobilnya menjauh, Reynaldi langsung menarik napas panjang. Matanya masih menyimpan ketegangan, tapi ada sedikit kelegaan di sana.
Dona melangkah mendekat. "Lo gak apa-apa?"
Reynaldi tersenyum kecil. "Gue gak tau. Tapi yang jelas, gue bebas sekarang."
Dona menghela napas lega. "Bagus."
Reynaldi menatapnya lama. "Dona..."
"Hm?"
"Tadi lo beneran berani masuk dan lawan bokap gue gitu aja?"
Dona mengangkat bahu. "Gue gak bisa diem aja."
Reynaldi menatapnya sebentar, lalu tiba-tiba tertawa kecil. "Gue makin suka sama lo."
Dona tersenyum, kali ini tanpa ragu. "Ya udah, jangan bikin gue nyesel, Rey."
Reynaldi mengangguk mantap. "Gue gak akan."
Dan untuk pertama kalinya, Reynaldi benar-benar percaya kalau dia bisa punya kehidupan yang berbeda. Bukan cuma sebagai badboy di sekolah, tapi sebagai seseorang yang akhirnya bisa memilih jalannya sendiri.
Dan entah kenapa, Dona percaya.