Gadis yang sudah melakukan perawatan itu bergegas membayar tagihan. Dia cukup puas dengan sentuhan tangan sang pemotong rambut. Rambutnya tampak sempurna. Sangat cocok dengan wajah dan kulitnya. Dengan menggunakan softlens kini dia bisa berjalan tanpa menggunakan tapi hitam. Dia bisa berjalan santai menikmati udara bebas. Dan dia masih merasa sedikit tenang. Karena masih tidak ada kabar tentang kaburnya dia di koran pagi yang sempat dia baca saat berada di salon tadi. Dia tak memikirkannya lebih jauh lagi. Cukup tak ada berita akan dirinya. Maka dia aman. Pada akhirnya dia sadar. Anggota keluarga Anderson hanyalah aset bagi kakeknya. Kabar kematian diubah. Bahkan dirinya menghilang pun tak ada kabarnya. Kalau dia benar-benar mencintai keluarga. Dia pasti sudah menguak kebenaran atas kematian Elaine anak satu-satunya. Juga menyebarkan kabar kalau cucu yang juga satu-satunya tengah kabur dari rumah. Kini gadis itu tahu benar. Kalau sang Kakek hanya peduli dengan materinya saja. Harga saham di perusahaannya tak boleh menurun. Begitu pikir Madie. Dia merasa lelah menghadapi semua itu. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membuat semuanya jelas. Bahwa dia akan mengasingkan diri dalam waktu yang lama. Entah kapan dia akan berubah pikiran dan kembali pada kakeknya.
Kali ini, dia telah memutuskan apa yang akan dia ambil. Dia berkuasa penuh atas dirinya sendiri. Berdiri di kakinya sendiri. Tanpa nama belakang keluarga yang sangat berkuasa. Gadis itu sedang memilih ponsel biasa. Agar dia bisa menyimpan kenangan miliknya. Lalu, dia sampai di sebuah kawasan pedagang kaki lima. Sepanjang jalan itu dipenuhi oleh penjual makanan, minuman, dan berbagai barang lainnya. Dia berjalan sepanjang jalan itu. Kemudian dia berhenti di penjual corndog. Membeli satu buah dan duduk di sana.
“Kau sepertinya tidak asing. Apa kau sering ke daerah sini?” wanita tua yang berjualan itu bertanya padanya. Rambutnya putih, wajahnya masih terlihat cantik di usia tuanya. Madie langsung menggeleng saat mendengar pertanyaan itu.
“Tidak, aku baru saja tiba di sini. Apakah wajahku familier di sini?” tanya dia. Kali ini dia akhirnya menatap wanita itu. Dan entah kenapa dia merasakan sesuatu. Seakan ada perasaan aneh yang mendadak muncul dalam hatinya. Keduanya saling bertatapan cukup lama. Lalu, suara pembeli lain membuyarkan lamunan mereka.
“Tidak, kau berbeda. Tapi, aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat. Ah sudahlah, lupakan ucapan wanita tua ini!” balasnya sambil terkekeh. Dia menyajikan pesanan Madie. Setelah itu memberikan milik pembeli lain yang datang setelahnya.
Madie hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak menyangka. Kalau ia bisa merasakan sesuatu yang sama dengan orang yang baru saja dia lihat.
“Baiklah, jika itu yang Anda inginkan. Ngomong-ngomong, apakah Anda tinggal di daerah sini?” balasnya. Dia menggigit makanannya hingga lapisan keju mozarella yang ada di dalamnya teregang panjang. Ia mengunyah sambil menunggu jawaban dari wanita yang pantas dia panggil dengan sebutan nenek.
“Ya tentu, aku tinggal di daerah sini. Tak terlalu jauh. Tinggal di pinggiran kota cukup sejuk, aku suka. Apa kau ingin mencari tempat tinggal?” tawarnya. Sebuah kata-kata yang cukup membuat Madie tercengang karena tidak menduganya sama sekali.
“Ya, tentu saja. Kalau Anda mempunyai nomor yang bisa aku hubungi. Pasti akan sangat menyenangkan, dan tentunya sangat membantu orang baru di daerah sini. Seperti yang sedang duduk makan corndog buatanmu yang sangat lezat ini.” Madie menerima tawaran itu dengan senang hati. Dia akhirnya bisa menemukan tempat untuk tidur malam ini.
Wanita itu tersenyum lebar. Ia melayani banyak orang yang datang. Madie bahkan diminta untuk membantu pekerjaannya. Karena dia cukup kewalahan menggoreng dan mengemas makanan tersebut. Setelah suasana cukup luang. Mereka kembali mengobrol. Duduk santai dengan menikmati teh hangat bentuk rasa Terima kasih sang wanita karena Madie sudah membantunya.
“So, bagaimana kalau kau hubungi nomor ini. Hanya ini yang bisa aku berikan sekarang.” Wanita tua itu tersenyum.
“Mrs, Cristine?” Madie membaca nama yang tertera di kartu itu.
Wanita itu mengangguk pelan. Mengiyakannya ucapan Madie.
“Terima kasih banyak atas bantuannya. Aku harus pergi sekarang!” ucapnya. Gadis itu berdiri dan melangkah pergi. Tentu dia tidak akan melupakan bantuan wanita tersebut. Mendapatkan tempat tinggal adalah hal utama yang harus dia lakukan sekarang.
Dia mencari alamat yang tertera di kartu tersebut. Hingga dia menemukan sebuah rumah dengan halaman yang luas di sana. Sayangnya, rumah itu tampak kosong. Sementara dia butuh bertemu untuk bertanya tentang rumah yang bisa dia tinggali selama beberapa bulan di sana. Akhirnya, dia menelepon nomor tersebut.
“Nyonya Cristine?” Sapanya dengan sopan.
“Ya, ada yang bisa dibantu? Dengan siapa ini?” balas seseorang di seberang telepon. Madis mengernyit. Dia merasa mengenal suara tersebut. Seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya.
“Ya, ya, saya butuh tempat tinggal. Ada yang memberikan kartu nama ini pada saya. Bisakah kita bertemu?” balas Madie cepat. Tak ada waktu baginya untuk memikirkan di mana dia mendengar suara itu sebelumnya. Hal yang paling penting sekarang dia harus bisa mendapatkan tempat tinggal.
“Oh ya, tentu saja. Kau bisa ke tempat penjual corndog tadi. Aku ada di sana sekarang!” balas wanita yang ada di seberang telepon.
“Baik nyonya, saya akan segera ke sana.” tutupnya. Gadis itu bergegas kembali ke tempat penjual tadi. Dia harus berjalan cukup jauh. Dengan harapan semoga orang yang dia ingin temui masih berada di sana. Bahkan dia harus sedikit berlari karena takut orang itu akan pergi. Dia cukup bekerja keras, hingga keringat mulai menetes membasahi keningnya. Dia datang ke alamat itu karena ingin menemui si pemilik kartu nama. Tapi, dia malah harus kembali ke pedagang kaki lima yang memberikan kartu nama kepadanya.
Dan saat dia tiba di sana, tak ada siapa-siapa. Kosong, sepi, tak ada orang berdiri atau duduk di depan gerobak penjual nasi corndog tersebut. Wajahnya memelas, merasa sia-sia sudah dia berlari dari sana ke sini. Tapi, orang yang akan dia temui sudah tidak berada di sana. Dia terduduk lemas di sana. Membuat si penjual menjadi terkejut melihat dia duduk di bawah.
“Ada apa ini?” tanya dia penasaran. Dia menghampiri Madie dengan perasaan cemas.
“Apa tadi ada Nyonya Cristine di sini?” tanya Madie. Dia masih mencoba mengatur napas saat mengucapkannya. Sehingga membuat setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar tidak jelas di telinga penjual yang notabene memang sudah berumur itu.
“Nyonya Crisinte! Seharusnya aku datang lebih cepat. Ke mana aku harus mencarinya sekarang?” ucapnya putus asa. Menyebutkan nama seorang wanita yang ada di sebuah kartu nama tadi.
“Ah, kau bisa meneleponnya. Kau punya nomornya!” balas penjual itu.
Madie akhirnya melakukan saran dari wanita itu.
“Ya, kau benar. Aku bisa meneleponnya sekarang. Siapa tahu dia masih belum jauh dari sini.” Dia bergegas mengambil ponsel. Ia masih mencoba mengatur napas dengan mengembuskan napasnya perlahan-lahan.
Tapi, dia cukup terkejut saat mendengar ada dering telepon di dekatnya. Wanita penjual corndog itu mengambil ponsel miliknya.
“Halo, ada yang bisa dibantu?” ucap wanita tua itu. Sama persis dengan apa yang Madie dengar di sambungan teleponnya. Membuat gadis itu tercengang. Mulutnya ternganga, matanya membuat sempurna, dia menatap pada satu titik. Tempat wanita penjual corndog itu sedang berdiri dengan senyuman di wajahnya.
Wanita tua itu melambai ke arahnya. Madie menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ternyata orang yang dia cari sedari tadi ada di hadapannya. Kenapa dia malah pergi dari sana. Lalu kembali lagi ke tempat semula. Wanita itu telah mengerjainya.
“Nyonya Cristine?” ucap Madie pada akhirnya.
“Ya, ada yang bisa kubantu?” balasnya. Wanita itu masih tersenyum lebar. Karena dia melihat wajah kesal Madie.
Gadis itu langsung menutup teleponnya. Dia merasa dipermainkan. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali menjambak rambut wanita tua itu. Tapi, dia tidak ingin ada yang merekam tindakannya. Lalu viral dan kakeknya akan dengan mudah menemukan keberadaannya. Jadi, untuk menghindari itu semua. Dia harus menahan diri. Cara paling mudah yang bisa dia lakukan adalah mengatur napas agar emosinya tidak semakin memuncak.
“Kenapa Anda tersenyum? Apakah ini lucu bagi Anda?” ucap Madie dengan suara yang ditekan. Dia tidak ingin ada orang yang mendengarnya selain wanita bernama Cristine itu.
“Tidak, aku hanya menunjukkan keramahanku saja. Tapi, jujur kamu memang sedikit lucu!” balasnya. Dia meletakkan kembali ponselnya ke saku celana. Lalu melanjutkan menjual dagangannya pada para pembeli yang datang. Madie yang masih kesal hanya bisa berdiri dan diam menunggu semua pembeli pergi.
“Kenapa Anda tidak langsung mengatakannya? Kalau Nyonga Cristine itu adalah Anda sendiri?” ucap Madie setelah pembeli terakhir pergi.
“Kau tidak bertanya siapa namaku. Bukan salahku,” balasnya cuek. Dia terkesan mempermainkan Madie. Tapi, ucapannya juga tidak salah. Madie larut dalam pikirannya sendiri. Tak menyangka orang yang memberikan kartu nama itu adalah orang yang namanya tertera di sana. Apalagi, orang itu hanyalah seorang penjual dagangan kecil di sana.
“Tapi, Anda bisa mengatakannya saat memberikan kartu nama itu!” gadis itu bersikeras bahwa Cristine sedang mempermainkan dirinya. Sementara wanita itu sama sekali tidak berminat untuk berdebat dengannya.
“Jadi, kau masih ingin berdebat? Atau ingin melihat tempat tinggal yang bisa kau sewa?” balas Cristine.
“Dan satu lagi, sebenarnya kau ini tidak menyangka kalau akulah wanita yang namanya tertera di sana. Karena pikiranmu sempit! Karena kau mengira setiap orang sukses tidak mungkin berjualan di pinggir jalan seperti ini. Benar bukan dugaanku?” lanjutnya.
“Kau seharusnya bisa menghargai pekerjaan setiap orang. Dari sini, aku bisa menilai. Kau adalah tuan putri yang kabur dari rumah besarnya!” ocehan Cristine tak berhenti di sana. Dia baru saja akan membuka mulut lagi. Tapi Madie mencegahnya dengan cepat.
“Aku tak ingin membahas hal ini lebih jauh lagi. Aku ingin melihat tempat tinggalnya seperti apa dan berapa harga sewanya!” selanya. Gadis itu pusing mendengarkan ocehan sebanyak itu. Tak di rumah, tak di luar rumah, dia masih harus mendengar ocehan panjang. Dia muak sekali.
“Kita bisa ke sana setelah jam lima!” balas Cristine dengan santainya. Dia mewajibkan Madie menunggu dia selesai berjualan. Kesabaran gadis itu diuji lagi. Tapi, dia memilih diam dan menunggu. Percuma mendebat dan memaksa untuk segera pergi. Wanita sepertinya tidak akan mengubah keputusannya. Daripada dia harus mencari tempat lain. Sangat berisiko untuk terdeteksi oleh kakeknya.
Mereka berdua berjalan menuju tempat yang dimaksudkan. Madie merasa tak asing. Dia sebelumnya melewati jalan itu. Hingga akhirnya dia menemukan rumah dengan halaman yang luas sebelumnya. Dan benar saja, wanita bernama Cristine itu berhenti di depan rumah tersebut. Membuka kunci gerbang, mendorong gerobaknya masuk, lalu melambai pada Madie agar gadis itu mengikuti langkahnya.
“Di sini?” tanya Madie tidak percaya. Lagi dan lagi dia merasa dikerjai habis-habisan oleh wanita tua tersebut.
“Ya di sini, ada banyak kamar di sini. Kau bisa menggunakannya. Ada dapur untuk bersama. Tenang saja, kamar mandi ada di dalam setiap kamar. Kau tidak akan berbagi dengan siapa pun untuk urusan satu itu!” jelas Cristine padanya. Dia melepaskan topi dan outer yang dia kenakan. Lalu melepaskan sepatu. Ada sebuah rak sepatu di samping pintu. Dari apa yang cristine lakukan. Kini terlihat jelas, bahwa wanita itu rapi dan tak suka sesuatu yang berantakan. Madie mengikuti langkahnya. Melepaskan sepatu dan ikut masuk ke dalam rumah bersama dengannya.
“Baiklah, bagaimana dengan biayanya?” balas Madie. Cristine menyebutkan sejumlah uang. Dan disetujui oleh gadis itu dalam waktu singkat. Dia sama sekali tidak menawar. Sama sekali tidak meminta keringanan. Khas tuan putri yang mempunyai segalanya. Cristine cukup tahu hal itu. Karena dia pernah merasakan hal ha yang sama. Perbedaannya, dia meninggalkan semua kenyamanan itu dan hidup sendiri. Bekerja keras agar semua hal bisa dipenuhi. Sementara dia masih belum tahu. Apakah gadis yang sedang berdiri di dalam rumahnya sekarang ini akan mengambil langkah yang sama dengannya. Atau cukup berbeda. Semua itu tak di ketahui.
“Oke, kau bisa menerima kuncinya sekarang. Kau bisa mengecek kamar di atas sendiri bukan? Pilih saja yang kamu mau. Asal jangan yang di sebelah kiri depan. Sudah ada yang menempatinya!” jelas Cristine. Dia memberikan sederet kunci pada Madie. Gadis itu menerima dan menurut saja. Dia melangkah ke atas dan mulai memeriksa kamar-kamar yang ada di sana. Dia naiki anak tangga itu satu per satu. Rumah itu terkesan biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada ornamen khusus yang menggambarkan apa tema rumah tersebut. Benar-benar seperti sebuah rumah biasa. Hanya saja mempunyai banyak kamar. Juga halaman yang luas. Cukup tertutup dan terjaga keamanannya. Gadis itu bisa tinggal dengan nyaman di sana. Dia berpikir kakeknya tidak akan mungkin menemukan dirinya untuk waktu yang cukup lama. Jadi, dia bisa sedikit merasa tenang sekarang.