Harry kelabakan, dia tak bisa menemukan di mana keberadaan keponakannya. Dia sudah menyuruh semua anak buahnya untuk mencari. Tapi nihil. Dia juga dilarang melibatkan polisi. Tidak bisa membuat brosur orang hilang. Karena bisa dibuktikan dengan jelas bahwa keponakannya itu pergi dari rumah. Bukan hilang, bukan diculik. Dia pergi atas kemauannya sendiri. Meninggalkan dunia yang menyesakkan bagi dirinya. Pria itu paham betul, bahwa Madie tahu apa yang dia mau. Gadis itu tidak akan bertindak, jika dia masih merasa aman. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, maka hanya menunggu yang bisa dia lakukan.
Sekarang, semuanya semakin kabur. Penyelidikan yang dia lakukan masih belum menemukan petunjuk baru. Sementara Madie yang menjadi partner penyelidikannya masih tidak memberikan kabar selanjutnya. Dia merasa kosong. Lantaran tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Antoni! Kita harus bicara!” ajaknya. Pria tampan itu menyelonong masuk ke ruangan Antoni. Menggebrak meja dengan kuat. Kemudian dia menatapnya dengan tajam.
“Baiklah, kita akan bicara di sini? Atau di luar? Tapi, kalau kau akan membicarakan tentang Madie. Lebih baik tidak. Aku tidak tahu dia di mana. Dan dia pergi atas kemauan dia sendiri. Lalu, kenapa kau sibuk mencarinya? Kalau dia memang ingin pulang. Dia pasti pulang sendiri. Dia sudah besar. Sudah tahu jalan pulang ke mana.” Pria berbadan besar yang secara biologis adalah ayah dari gadis yang kabur itu bicara dengan santainya. Seolah dia tidak merasa cemas sama sekali. Tak menunjukkan rasa khawatir, atau kehilangan. Tidak akan ada seorang Ayah yang sesantai itu saat anaknya tidak bisa ditemukan di mana pun.
Mendengar hal itu. Harry terdiam. Dia hanya diam mendengarkan semua hal yang diucapkan oleh si pria tidak tahu diri itu. Dia tunggu, hingga pria itu selesai dengan ucapannya. Lalu, setelahnya. Harry maju. Dia mendekat ke arah pria itu duduk. Ia tarik dengan kuat kerah kemeja pria tersebut. Hingga pria itu sedikit kehilangan keseimbangannya saat duduk.
“Apa ini Harry?” ucapnya terkejut. Ia sama sekali tidak menduga kalau saudara iparnya itu akan bersikap sekasar itu padanya.
“Kau bilang Madie akan pulang sendiri? Ya tentu aku tahu itu!” ucapnya. Dia semakin mencengkeram kerah kemeja Antoni. Membuat pria itu sulit bernapas.
“Yang ingin aku biarkan sekarang bukan di mana Madie, atau kapan dia akan pulang. Tapi, kenapa dia sampai pergi dari rumah? Kenapa? Apa yang sudah kau lakukan padanya?” urat-urat di tangan Harry terbentuk sempurna. Matanya melotot, lehernya tegang. Dia masih menahan semua kemarahannya sekarang. Tapi, kalau orang itu mengatakan hal yang tidak menyenangkan. Maka, hal lain yang akan terjadi selanjutnya.
“Aku tidak melakukan apa pun padanya!” balas Antoni. Dia mendorong tubuh Herry sekuat tenaga. Dua pria dengan badan besar itu saling dorong. Yang satu mempertahankan keselamatannya. Sementara yang satu lagi sangat ingin melenyapkan pria yang tidak berperasaan yang sedang ada di hadapannya. Hingga akhirnya keduanya terpental. Harry mundur beberapa langkah. Sementara Antoni terjatuh dari kursi kerjanya.
Harry bangkit, dia berjalan pelan menghampiri Antoni. Pria yang terjatuh dari kursinya itu merasa tidak aman. Dua bergerak mundur dengan perlahan. Tapi sayangnya, di belakangnya hanya ada tembok. Membuat dia tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindari serangan dari iparnya itu. Harry berjongkok. Dia menatap suami sepupunya itu dengan tatapan sinis dan cukup menyeramkan.
“Oh ya? Aku tidak bisa memercayai ucapanmu. Aku tahu betul, kau mengancam gadis itu. Kau pasti berniat menyingkirkan dia setelah kau berhasil membunuh Elaine bukan? Satu-satunya hal yang kau pedulikan hanyalah kekuasaan dan yang pamanku miliki! Sangkal sebisa yang kau bisa. Tapi, aku sudah mempunyai banyak bukti untuk bisa menyeretmu ke pengadilan nanti!” ancamnya. Dia adalah seorang pengacara. Sangat paham bagaimana caranya mengajukan tuntutan dan bukti apa saja yang harus dia serahkan.
“Apa maksudmu? Aku tidak membunuh Elaine! Dia istriku! Untuk apa aku melakukan itu?” pria itu masih membela diri. Mencoba meyakinkan sang ipar bahwa dirinya tidak bersalah. Tapi, Harry bukan orang awam yang tidak tahu apa-apa. Tentu dia tidak akan percaya dengan ucapan pria berengsek seperti Antoni.
“Oh ya? Kau tidak mungkin membunuhnya? Tapi, kau berselingkuh selama bertahun-tahun. Sampai punya anak pula. Bukankah ini adalah bukti paling kuat kau adalah dalangnya. Agar kau bisa menguasai kekayaan Elaine. Karena, kalau kalian bercerai, kau tidak akan mungkin mendapatkan semua kekayaan yang di miliki Elaine!” kali ini, Harry mengatakannya dengan tenang. Dengan ucapan tajamnya dia menguak kebenaran.
“Aku memang berselingkuh. Tapi, aku tidak membunuhnya!” elaknya. Pria itu mencoba berdiri. Tapi, dihalangi oleh Harry. Dia ditendang dengan kuat olehnya. Hingga dia sedikit tersungkur. Karena tendangannya itu. Gelas yang ada di meja kerja Antoni bahkan terjatuh ke lantai. Suara nyaring yang ditimbulkan membuat banyak telinga yang mendengar. Hingga akhirnya menyita perhatian mereka. Kasak-kusuk, bisik-bisik, juga curi-curi pandang dilakukan oleh para pegawai yang mendengar suara pecahan tersebut.
“Elak sebanyak yang kau bisa. Setelah aku mengumpulkan semua buktinya. Bersiaplah untuk mendekam di penjara!” ancam Harry. Pria tampan itu tentu tidak sedang bercanda. Atau hanya sekedar mengucapkan ancaman kosong belaka. Semua ucapan sang pengacara tentu mempunyai dasar hukum yang jelas. Dia tidak akan bertindak tanpa memegang bukti yang kuat.
Pengacara tampan itu sudah selesai urusannya dengan Antoni. Kini dia bisa memastikan, bahwa iparnya itu memang tidak tahu keberadaan Madie. Percuma, mendesaknya seperti apa juga tidak akan menghasilkan apa-apa.
Harry keluar dari sana. Kini, dia harus kembali pada rutinitasnya. Bertemu dengan banyak klien dan menyelesaikan masalah hukum mereka. Ia harus bisa berpikir tenang. Dan percaya, bahwa keponakannya akan segera menghubungi dirinya.
***
Gadis itu sudah bangun sejak tadi. Ia sudah rapi. Dia mempunyai beberapa rencana hari ini. Termasuk untuk menghubungi pamannya. Dia sudah menghilang selama tiga hari. Dan ini adalah saat yang tepat untuk menghubunginya. Walau perasaannya masih diliputi kesal karena ternyata sang kakek masih diam dan tak mengabarkan kepergiannya. Ia harus tetap bergerak dan melanjutkan hidup.
“Nyonya, apakah aku bisa meminjam ponsel milikmu?” tanya Madie saat dia mendapati Cristine sedang duduk santai.
“Tidak! Aku tidak mau! Kau bisa meminjam ponsel milik orang lain. Tidak denganku!” balasnya ketus. Wanita tua itu menutup koran yang dia pegang. Lalu berdiri dan berjalan menuju dapur. Sudah saatnya dia berangkat berjualan. Sebelum hari semakin terik dan membuat dia semakin kepayahan.
Madie mendengus kesal. Tapi, mau bagaimana lagi? Kalau tidak dipinjamkan. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Memaksa? Bisa diusir dia nanti dari rumah itu. Lebih baik mengalah dan keluar dari sana lebih dulu daripada si nenek itu.
Gadis itu berjalan asal. Dia hanya ingin berkeliling santai sambil menikmati suasana. Dia juga ingin mencari pekerjaan. Menjadi pelayan cafe juga tidak masalah baginya. Dan hal yang paling penting sekarang adalah dia harus menemukan orang yang bersedia meminjamkan ponsel padanya.
Gadis itu menoleh ke sana dan ke sini. Menerka beberapa orang yang dia temui. Apakah mereka akan mau meminjamkan ponsel mereka atau tidak. Dia pandangi orang-orang itu satu per satu. Memetakan ekspresi dan sifat yang mungkin mereka miliki. Termasuk bagaimana respons mereka saat nantinya dia akan meminta tolong pada mereka.
Hingga dia menemukan seorang wanita dengan anak laki-laki yang sedang duduk di sampingnya. Rupanya, mereka sedang beristirahat. Di dekat kakinya ada dua kantong keresek besar berisi belanjaan. Madie memilihnya. Berharap dia akan mendapatkan bantuan dari wanita tersebut.
“Permisi,” sapanya ramah.
Hal itu membuat ibu dan anak yang sedang duduk di sana langsung menatap ke arahnya.
“Ya, ada apa?” balas wanita itu dengan tersenyum.
“Em, begini nyonya, ponselku mati. Bisakah aku meminjam ponsel milikmu untuk menelepon?” ucapnya langsung meminta pertolongan. Tak ada kata basa-basi lagi. Langsung gas saja dia berkata.
“Ah, begitu. Ya tentu, tunggu sebentar,” balas wanita itu. Satu tangannya merogoh saku celana. Kemudian mengeluarkan ponsel dan memberikannya pada Madie.
“Terima kasih banyak, aku akan mengganti biaya telepon ini!” ucap Madie dengan raut gembira. Segera dia menekan nomor pamannya. Sebelum dia memencet tombol panggil. Dia cek lagi nomornya. Benar, itu adalah nomor si paman. Kemudian ia masukkan kode, sehingga nomor ponsel milik nyonya itu tidak akan tertera di layar ponsel pamannya.
“Sama-sama, tak perlu mengganti. Santai saja,” balas wanita itu dengan penuh senyum.
Madie permisi, lalu dia segera menunggu telepon itu terhubung.
“Halo Paman!” sapanya saat telepon itu akhirnya diangkat oleh sang paman.
“Madie? Kamu di mana?” Harry bisa langsung mengenali suara keponakannya.
“Tenanglah Paman, aku baik-baik saja. Aku mengabari Paman agar tak cemas. Aku tidak akan pulang. Jadi, tidak usah repot-repot mencari aku!” jelasnya. Dia mengatakan secara jelas dan lantang, bahwa ia tak akan pulang.
“Tapi, Mad! Kakekmu marah besar. Dia bahkan menyeret aku dari tempat tidur, saat dia tahu kamu tidak ada di vila itu! Kau di mana? Katakan sekarang!” oceh Harry panjang lebar. Dia harus bisa memaksa keponakannya untuk segera pulang.
“Paman, please. Aku tidak akan pulang. Jadi, biarkan aku tetap hidup dengan caraku. Jangan mencari aku. Aku akan menghubungi Paman kalau aku ada waktu. Untuk kelanjutan penyelidikan, aku serahkan semuanya pada Paman.” Madie masih bersikukuh untuk tidak mau pulang. Atau mengatakan di mana posisi dia sekarang. Dia masih teguh pendirian kalau tak ingin pulang.
“Mad, kau tidak memikirkan bagaimana pusingnya aku diteror oleh kakekmu?”
“Maaf Paman, aku harus segera mengembalikan ponsel ini. Karena aku meminjamnya. Kalau pun Paman melacak di mana aku menelepon sekarang. Paman tetap tak akan menemukan aku! Jadi, lebih baik tak usah mencariku.” tutup Madie.
Gadis itu segera menutup telepon. Ia mengambil napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan. Dia harus segera mengembalikan ponsel tersebut. Tak enak, sudah meminjam malah lama meneleponnya.
“Maaf, lama,” ucapnya. Dia menyelipkan selembar uang pada anak dari wanita itu.
“Belikan barang yang kamu suka. Terima kasih bantuannya, Nyonya,” sambungnya.
“Terima kasih banyak!” teriak wanita itu saat dia melihat lembaran uang itu sebesar seratus dolar. Madie menoleh dan menganggukkan kepalanya.
Satu urusannya sudah selesai. Kini, dia harus mencari warung internet untuk mengirimkan email pada Ronald. Hal ini penting. Dia harus tahu, ada urusan apa antara Pria itu dan mendiang Ibunya.
Gadis itu duduk paling pojok. Mengetikkan sebuah pesan yang cukup singkat pada email klinik Ronald. Bukan mengatur jadwal kontrol. Tapi, dia meminta alamat email dari sang dokter. Cukup lama dia menunggu. Tapi belum ada balasan. Tak ada pilihan. Dia harus segera kembali ke rumah sewanya itu. Sebelum ada orang yang mengenali dirinya.
Gadis itu menyempatkan membeli beberapa bahan makanan di supermarket. Kemudian dia juga mampir membeli jualan Nyonya Cristine.
“Dua,” ucapnya. Disodorkannya uang itu pda si wanita.
“Dari mana kamu?” Cristine bertanya. Tapi kedua tangannya cekatan membungkus pesanan Madie.
“Hanya berjalan-jalan santai, setelah ini aku akan pulang. Ah ya, lemari pendingin itu bisa aku gunakan juga kan? Aku harus menyimpan banyak bahan makanan agar tak terlalu sering keluar rumah.” Dia berceloteh, meminta izin menggunakan lemari pendingin agar bahan makanan yang sudah dibelinya bisa selamat dari kebusukan.
“Ya, gunakan saja. Bukannya kau berkata akan mencari kerja? Kenapa malah berkeliaran dan bergegas pulang?” sindir si wanita tua. Dia memberikan bungkusan makanan pada Madie.
Gadis itu merengut. Apa yang diucapkan oleh Cristine memang benar. Hari ini dia tak mencari kerja. Hanya berkeliling asal setelah menghubungi Harry dan juga Ronald.
“Besok aku akan mencari kerja. Kalau Anda mempunyai rekomendasi pekerjaan. Tolong sampaikan padaku!” balasnya. Ia segera berbalik dan hendak melangkah pergi. Tapi terhenti, karena cegahan dadi Cristine.
“Kau bisa bekerja denganku. Sewa kamar gratis, dapat makan, dan sisa bayarannya akan berupa uang. Bagaimana? Aku tak membutuhkan ijazah atau gelarmu. Cukup kau mau berjualan di sini bersama denganku.” Sebuah tawaran pekerjaan yang sangat tidak terduga. Madie adalah seorang model. Bintang iklan, dan bahkan sesekali muncul di layar lebar. Tapi, dia diajak berjualan corndog?
“Hah? Baiklah, aku akan memikirkannya, terima kasih atas tawaran Anda.” Madie melanjutkan langkahnya yang terhenti. Sepanjang perjalanan pulang itu dia terus berpikir. Pekerjaan apa yang bisa dia lakukan sekarang. Tentu bukan menjadi model seperti sebelumnya. Dunia fashion terlalu sempit. Kalau dia kembali ke dunia itu. Wajahnya akan terpampang di mana-mana. Lalu kemudian kakeknya bisa menemukan dia dengan mudah. Apalagi Harry pamannya sudah mengatakan dengan jelas. Bahwa Eddy terus mencari keberadaannya. Ditambah lagi sang Ayah. Antoni juga tak akan diam saja. Pria itu pasti juga sedang mencari keberadaannya.
Kalau bekerja di cafe pun harus menyertakan CV dan bukti. Lalu, identitasnya akan diketahui atasan. Bisa saja ada koneksi antara tempat kerja dan keluarganya. Semua itu memenuhi pikirannya. Hal yang paki g mungkin bisa dia lakukan dan tetap aman adalah menerima pekerjaan dari si nenek itu. Tak perlu surat lamaran. Tak perlu identitas. Dia bisa mendapatkan kamar gratis, makan gratis, dan sisa gajinya juga akan diberikan secara langsung. Hanya itu tawaran kerja paling menarik yang bisa membuat dirinya aman dari pencarian. Walau risikonya dia harus bertemu banyak orang setiap harinya.