Madie terus memikirkan ucapan Cristine. Tentang tawarannya untuk bekerja menjual corndog dengannya. Madie menimbang banyak hal. Nilai plus dan minusnya. Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk menrimanya saja. Karena tawaran yang diberikan oleh Cristine tentu cukup menggiurkan. Untuk saat ini, Madie memang tidak terlalu membutuhkan uang. Karena dia menyimpan banyak lembaran dolar di tas miliknya. Ia juga tidak akan mengikuti gaya hidupnya yang lama. Dia sudah bertekad untuk menjadi sederhana. Karenanya, dia berani mengambil tawaran pekerjaan dari Cristine. Tempat tinggal dia dapat. Makan juga dia dapat. Bahkan masih ada sisa uang gaji kata Cristine untuknya nanti. Menurutnya, hal itu sudah lebih dari cukup untuk hidupnya yang sekarang.
Karena dia tidak perlu melakukan perawatan ke salon. Tidak juga membeli tas mewah untuk menunjang penampilannya. Tidak juga membutuhkan makanan mahal. Karena makanan yang membuat dia kenyang adalah pilihan bagus untuk didapatkan. Ini adalah jalan yang dia pilih. Agar terhindar dari kecurigaan. Agar sang kakek, atau bahkan ayahnya bisa ia kelabui dengan penampilannya yang sederhana itu.
Dia berada di kamarnya. Setelah seharian dia menyelesaikan urusannya. Kini, dia menempelkan beberapa foto di dinding kamar. Ada Eddy di sana. Foto Antoni pun ada. Termasuk Lucas, dan juga Eliza selingkuhan sang Ayah. Lucas dan Eliza tak bisa dia temukan. Sementara Eddy dan Antoni adalah dua orang paling dicurigai akan kemaian Ibunya. Tak lupa, dia juga meletakkan foto-foto asisten rumah tangga yang ada di rumah lamanya. Lili dan juga Amanda. dia memandangi rentetan foto yang dia pajang. Lalu mulai berpikir alasan apa yang bisa menjadi motif pembunuhan.
Dia mulai menulis, selingkuhan, harta, dan kekuasaan. Di bawah foto antoni. Sementara di bawah foto Eddy, dia juga menulis sesuatu. Kekuasaan, harta, harga diri. untuk dua foto lagi, dia masih belum bisa menemukan apa motif paling mungkin untuk kedua asisten rumah tangganya itu. Dan sebuah foto lagi dia tempelkan di bagian tengah. Ronald. Seorang pria yang sangat mencurigakan bagi Madie. Pria itu bisa saja memberikan obat dengan dosis tinggi pada sang Ibu. Hingga dia berhalusinasi dan akhirnya bunuh diri. Tapi, gadis ini masih belum menemukan motifnya. Untuk apa Ronald sampai harus membunuh Ibunya? Sementara dia adalah teman sekaligus sebagai dokter pribadinya. Tidak ada celah untuk menuduh Ronald dalam titik ini. Tapi, pria itu harus tetap ia selidiki.
Rambutnya sudah pendek. Tapi, tetap saja merasa gerah. Akhhirnya dia mencoba mengikatnya hingga ke atas. Tapi malah awut-awutan. Karena hal itu bisa memberikan dia sedikit rasa nyaman. Maka, tetap dia lakukan. Saat itu hening. Dia sedang memikirkan banyak hal. Mendadak terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Dia merasa aneh. Ini belum saatnya Cristine pulang kerja. Lalu, siapa yang datang? Pikirannya kacau.
“Apa suruhan Kakek mengatahui aku ada di sini? Atau suruhan Ayah?” gadis itu bersembunyi di balik pintu. Dia melihat ke sana dan ke sini mencari barang. Barang apa yang bisa dia gunakan sebagai senjata untuk menyerang. Dia sanat syok, padahal dia mengira sudah berada di tempat yang aman. Tapi, ternyata dia malah ditemukan dalam kurun waktu yang cukup singkat.
Dia melihat ada sebuah tongkat golf yang ada di sudut ruangan. Dia segera berlari untuk mengambilnya. Dipegangnya dengan erat gagang tongkat golf tersebut. Dalam hati, dia terus berdoa agar orang suruhan itu segera pergi dari sana. Tapi, doa itu sama sekali tidak terkabul. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan kamar yang dia tempati. Knop pintunya mencoba dibuka dari luar. Tapi tidak bisa. Ia sudah menguncinya tadi. Lalu. Mendadak kembali hening. Langkah kaki itu menjauh dari tempat dia bersembunyi. Gadis itu sempat tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Apa iya doaku terkabul?” gumamnya. Dia menutup mulut tidak percaya. Tapi, memang benar itu adanya. Lankah kaki itu kian samar dan tidak lagi terdengar. Dia akhirnya bisa bernapas lega. Tapi, kemudian hal itu membuat dia berpikir. Kalau itu memang suruhan orang tua atau kakeknya. Tentu orang itu tidak akan pergi begitu saja saat mendapati kamar yang tidak bisa dbibuka. Mereka pasti akan menggedor, atau bahkan mendobrak pintu itu hingga mereka bisa menemukan keberadaan Madie. Tapi, hal itu tidak terjadi.
“Ah, biarlah, siapa pun itu tadi aku tidak peduli. Pokoknya sekarang aku sudah aman.” Dia berbicara sendiri. Membesarkan hatinya yang sebelumnya merasa ciut. Merasa takut keberadaannya akan ditemukan oleh orang-orang itu.
Sekarang, gadis itu melorot. Duduk di lantai membelakangi pintu. Mengumpulkan sisa energinya. Agar dia bisa kembali kuat untuk melanjutkan pemikiran-pemikiran berat sebelumnya. Karena masalah kematian ibunya, bukanlah sebuah masalah yang sederhana.
Saat dia larut dalam pikianya sendiri. Dia mendengar ada suara mobil yang cukup kencang di luar. Cepat-cepat dia melongok ke arah luar jendela. Memerhatikan mobil yang baru saja keluar dari halaman rumah tersebut. Dia sama sekali tidak mengenalinya. Ia rasa, tak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Dia berpikir bahwa orang itu bisa saja bukan suruhan dari keluarganya. Lalu, siapa?
Karena dia merasa penasaran dengan orang tersebut. Dia begegas turun. Di bawah ada kemanan yang selalu berjaga. Dan pastinya orang itu tidak akan bisa terlewat dari pandangannya. Ya, dia harus segera turun untuk memastikan. Bahwa tempat persembunyiannya itu aman.
Langkah kakinya cepat menuruni anak-anak tangga. Napasnya tidak teratur saat ia sampai di depan pos keamanan. Dia membungkuk, mencoba mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
“Ada apa Nona? Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?” keamanan itu langsung keluar dari posnya saat ia melihat Madie berada di depannya.
“Siapa yang baru saja masuk ke dalam rumah?” tanya dia dengan napasnya yang tidak teratur.
“Yang baru saja masuk? Ah, itu adalah cucu Nyonya Cristine. Dia tinggal tepat di sebelah kamar Anda.” John menjawab pertanyaannya tanpa ragu. Tidak ada gurat kebohongan di wajahnya. Madie bisa melihat itu. Bahwa petugas keamanan itu berkata jujur padanya.
“Cucu? Cucu Nenek Cristine?” tanya Madie lagi. dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Nenek itu punya cucu? Dia kira, orang yang tinggal di kamar sebelah kiri depan itu adalah tempat di mana cucunya tinggal. Dia mengataknnya seolah itu adalah orang asing.
“Maaf? Nenek?” John membuat Madie sadar. Kalau dirinya telah salah memanggil Cristine dengan sebutan Nenek.
“Ah, maksudku Nyonya Cristine. Tapi, kenapa orang tadi berusaha masuk ke dalam kamarku? Bukan ke dalam kamarnya sendiri?” tentu ini adalah sebuah prtanyaan yang wajib dia ajukan. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang mungkin saja bisa terjadi di kemudian hari.
“Sepertinya, Tuan ingin mengambil sesuatu di dalam kamar Nona. Dia terlihat kesal tadi karena kamarnya tidak bisa terbuka.” Jawaban dari John membuat Madie semakin tenang dan merasa aman. Sudah bisa dia pastikan sekarang. Kalau orang yang tadi mencoba membuka kamarnya buukan orang yang sedang mencari keberadaannya.
“Baillah, terima kasih banyak atas informasinya. Aku akan kembalike kamar. Dan ... kalau orang tadi kembali. Tolong Bapak saja yang ke kamar. Aku tidak bisa mempercayainya. Please.” Gadis itu memohon pada John. Dan pria itu mengiyakannya.
“Baik Nona. Akan saya ingat sesuai dengan permintaan Anda.”
“terima kasih!” balas Madie.
***
Di sisi lain. Xander marah-marah pada Cristine di telepon.
“Nek, kenapa kamar di sebelah kanan itu dikunci? Aku tidak bisa mengambil barangku yang ada di dalam!” ocehnya. Bukannya menyapa, dia langsung mengomel pada Neneknya.
“Ada yang menempatinya. Kenapa tidak kau ketuk saja pintunya? Dia pasti akan membukakannya.” Balasan Cristine membuat Xander mengernyit.
“Ada yang menempati? Siapa? Kenapa tidak bilang dulu padaku sih Nek? Kan aku bisa mengeluarkan sisa barangku yang ada di dalam kamar itu dulu, sebelum tempat itu digunakan oleh orang lain.” Xander masih merasa kesal. Karena da tidak bisa pergi ke tempat golf dengan tongkat kesayangannya. Itu adalah tongkat keberuntungan yang selalu mencetak skor tinggi untuknya.
“Kau bisa melakukan itu nanti. Gunakan saja uangmu untuk membeli yang baru. Bukannya pekerjaanmu di perusahaan besar itu memberikan kamu banyak uang? Sampai kau lupa pulang!” sindir Cristine. Wanita tua itu memang masih merasa kesal dengan keputusan Xander yang memilih untuk tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat dia bekerja.
“Nenek, ayolah. Kita sudah pernah membahasnya. Aku akan pulang satu kali setiap bulannya. Aku tidak akan melupakan Nenek. Tenang saja!” balas Xander. Mencoba membujuk Neneknya agr tidak marah lagi padanya. karena kalau Neneknya sudah marah. Maka akan susah untuk membujuknya.
“Pergilah! Aku sibuk! Kau bisa mengeluarkan barang itu saat kau pulang. Gadis itu tidak selalu ada di kamar. Kau bisa menghubungi Nenek terlebih dahulu!” jawab Cristine.
“Gadis? Jadi yang tinggal di sebelahku adalah seorang gadis? Apa dia tidak bisa mendapatkan tempat lain yang lebih baik daripada di rumah Nenek? Pasti dia orang miskin,” tebak xander. Pria itu mengoceh panjang. Padahal, dia belum melihat sosok gadis yang disebutkan oleh neneknya.
“Jangan banyak bicara! Rumahku bahkan lebih bagus daripada hotel-hotel di sekitar! Dasar anak nakal!” tutup Cristine. Dia langsung mematikan sambungan telepon tersebut. walau dia tidak bertanya siapa dan dari mana asal Madie. Dia bisa menebak, kalau gadis itu bukan dari keluarga miskin. Dia sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang gadis miskin sama sekali. Hampir sama dengan cucunya. Sikap dingin dan sok kuasa itu. Membuat Cristine bergidik ngeri. Dia baru saja tersadar. Kalau dia hidup bersama dengan dua orang yang bersikap dingin.
“Yah, dimatikan.” Xander bergumam. Tidak ada pilihan lain. Dia memang harus membeli tongkat baru sekarang. Dia hanya bisa berharap tongkat yang akan dia beli akan lebih memberikan dia keberutungan dibandingkan dengan tongkat golf yang sebelumnya.