Permasalahan yang sedang dihadapi oleh Eddy tidak main-main. Kabar menghilangnya Madie sudah mulai muncul. Entah siapa yang memulai gosip itu. Hingga kasak-kusuk terjadi dan semakin sering terdengar oleh telinganya sendiri.
“Panggil Antoni. Suruh dia segera ke sini!” ucapnya pada sang sekretaris dari sambungan telepon yang ada di atas mejanya.
“Baik, Tuan!” balas sekretarisnya. Perempuan itu segera berdiri dan berjalan menuju ruangan Antoni. Perintah dari Eddy harus segera dilakukan. Sepemnting apa pun dokumen yang sedang dia urus harus segera dia tinggalkan. Daripada dia akan bertemu dengan malaikat maut versi lite nantinya.
Ia mengetuk pintu ruangan Antoni.
“Masuk!” sahut pria yang ada di dalam. Kemudian ia memberanikan diri membuka pintu.
“Maaf sudah mengganggu pekerjaan Anda Tuan. Tuan Eddy meminta Anda untuk segera datang ke ruangannya.” Ia menjelaskan kepentingannya.
“Sekarang!” imbuhnya.
Pria yang sedang sibuk dengan berkas yang ada di hadapannya itu berhenti. Lalu melepaskan kacamata dan segera berdiri. Ia tak boleh kehilangan kepercayaan sang mertua. Walau kondisi rumah sedang tidak baik-baik saja. Dia harus tetap bisa menempel padanya. Agar apa yang dia miliki sekarang. Masih terus akan menjadi miliknya.
“Baiklah, aku akan segera ke sana. Kau bisa pergi!” jawabnya. Perempuan itu segera berlalu pergi. Sementara Antoni masih sibuk merapikan diri. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di dekat pintu. Kerah dan dasinya masih rapi.
Pria itu melangkah pergi menuju tempat Eddy berada. Dia harus bergegas. Membuat Eddy menunggu lama adalah hal yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun. Kalau mereka masih ingin memegang apa yang mereka miliki sekarang.
Dia membuka pintu sedikit, sehingga ada celah untuk dia bisa melongok dan melihat masuk.
“Ayah?” sapanya.
“Ya, masuklah! Ada yang mau aku bicarakan!” sahut Eddy. Dia melambai pada Antoni.
Menantunya itu segera menutup pintu ruangan. Saat dia melihat Eddy memberikan kode untuk menutup tirai, ia segera memencet tombol agar tirai itu tertutup. Dan tidak ada siapa pun yang bisa melihat mereka berdua di dalam ruanga tersebut. Dia duduk di depan mertuanya. Menunggu dengan santai sambil menerka. Apa yang akan dia bicarakan dengannya di dalam sana.
“Aku yakin kau sudah mendengarnya. Bagaimana menurutmu?” ucap Eddy mengawali pembicaraan mereka.
Sementara Antoni merasa sedikit bingung. Ke arah mana pembicaraan ini menuju. Sementara terlalu banyak hal yang ada di pikirannya sekarang. Tapi, kalau dia malah balik bertanya tentang masalah apa yang sedang mereka bahas. Maka, kemarahan Eddy adalah satu-satunya hal yang akan dia dapatkan nantinya. Pria itu mengatur napas. Kemudian berpikir, dengan kalimat apa dia bisa mendapatkan petunjuk pembicaraan tersebut tanpa harus terlihat dia tidak tahu.
“Apa pun yang Ayah putuskan. Aku akan mendukungnya.” Pada akhirnya, dia menemukan sebuah jawaban teraman yang bisa dia sampaikan.
“Ya, tentu. Aku rasa, sepertinya aku harus membuat sebuah keputusan untuk hal ini dalam waktu dekat. Madie masih belum terlacak. Sementara gosip dia kabur dari rumah sudah semakin santer. Sebenarnya, apa kau sungguh tidak tahu dia sedang berada di mana?” Eddy berkata panjang lebar. Mengungkapkan betapa pusingnya dia menghadapi sang cucu. Cucu satu-satunya. Seorang perempuan yang sangat susah diatur.
Saat itu,akhirnya Antoni tahu. Pembicaraan mereka adalahtentang Madie. Juga tentang kabar bahwa dia kabur dari rumah.
“Sungguh Ayah, aku tidak tahu dia berada di mana. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah berlibur terlalu lama. Apa kita sampaikan saja pada mereka bahwa Madie masih berada di luar negeri? Masih melanjutkan liburan dan ingin menetap di sana untuk waktu yang cukup lama?” sarannya. Sebenarnya, hal itu adalah saran paling masuk akal yang bisa dilakukan agar saham perusahaan mereka tetap aman. Tapi, mau sampai kapan hal bohong it terus disajikan pada publik?
“Menurutmu, mereka bisa dibungkam dengan cara itu? Aku sungguh malas mendengar pertanyaan dari beberapa media. Menanyakan kabar model yang mereka cintai itu!” Eddy memijit pelipisnya pelan. Mencoba menghilangkan rasa nyeri yang mendadak datang.
“Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya. Tapi, untuk saat ini. Itu adalah satu-satunya jalan keluar terbaik yang bisa kita lakukan.”
“Ya, kau bisa memabyangkan betapa pusingnya aku saat wawancara hal lain tapi malah merembet pada kabar Madie. Cepat selesaikan masalah ini! Aku tidak ingin hal-hal seperti ini terulang lagi.” dia memberikan perintah. Keputusannya sudah diambil. Saatnya kembali fokus dengan pekerjaan lain yang sudah menunggu untuk diselesaikan.
“Tentu Ayah, aku akan membuat kabar ini serapi mungkin. Agar tidak ada yang curiga dengan hal itu. Saya permisi!” balasnya. Antoni segera keluar dari ruangan tersebut. Pikirannya penuh sekarang. Orang-orang yang dia suruh untuk mencarai keberadaan Madie tak kunjung memberikan hasil. Kalau Eddy sampai berkata seperti tadi. Itu tandanya, dia pun sama saja. Dia pun belum menemukan keberadaan Madie. Di mana gadis itu berada sekarang?
Antoni memastikan tidak ada yang bisa mendnegarnya. Segera dia menelepon seseorang.
“Buat seolah-olah gadis itu sedang liburan. Retas saja media sosialnya! Jangan sampai ketahuan! Ini perintah Tuan besar!” pria itu langsung menutupnya. Seperti biasa. Dia tak butuh jawaban. Dia hanya perlu memberikan perintah dan menunggu hasilnya.
“Untuk sementara, sebaiknya kamu tidak pulang dulu. Kalau tidak, bisa saja nyawamu akan terancam! Tetaplah bersembunyi di tempat yang kau inginkan!” dua bergumam. Kedua netranya menyorot pada sosok gadis yang ada di tengah-tengah dia dan Elaine. Sebuah foto keluarga yang ada di meja kerjanya.
Lalu, kenangan tentang Eliza mendadak bangkit. Dia ingat, setiap kali selingkuhannya itu masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu selalu menutup foto keluarga itu. Kadang dengan kalender, kadang dengan berkas, bahkan dia meletakkannya langsung ke meja. Lalu, dimulailah hubungan mereka. tapi, sekarang wanita itu telah menghilang entah ke mana. Begitu juga dengan anaknya. Dia merasa bingung dan cemas di satu sisi. Tapi, di sisi yang lain dia juga merasa lega. Karena kabar perselingkuhan itu tidak terungkap di media. Dan dia masih berada di posisinya yang begitu nyaman sekarang.
Tak butuh waktu lama. Sebuah laporan masuk ke ponselnya. Ponsel itu bergetar. Dan isi pesannya langsung memberikan senyum semringah di wajah Antoni. Pria itu segera mengecek hasil suruhannya. Postingan di i********: milik putrinya telah diperbaruhi. Sebuah foto di tepi pantai. Dengan sebuah catatan besar. Miami.
Pria itu tentu puas dengan apa yang dia lihat. Ternyata mudah membuat berita palsu. Dia akan bertahan melakukan itu dalam beberapa minggu ke depan. Dia cukup terkejut, saat melihat sebuah unggahan yang baru saja berada di profil sang anak langsung diserbu oleh banyak komentar. Berisi pertanyaan dan segala macam pujian.
“Apa bagusnya menjadi seornag perempuan? Mereka lemah!” gumam Antoni. Ia sudah puas mellihat. Sudah saatnya dia kembali fokus dengan urusannya. Dia harus bisa mengamankan aset sebelum dia akan diusir dari sana. Sayangnya, kendala demi kendala terus saja menghalaunya. Hal terakhir yang dia temukan adalah semua harta itu kini telah berubah nama. Atas nama anaknya, Madie Brown. Karena hal itu pula. Dia merasa aman kalau madie tidak kunjung kembali. karena dia mempunyai banyak waktu untuk bisa mengatur dan mengubah beberapa nama itu menjadi namanya.
Di tempat lain. Harry langsung terbelalak, saat ponselnya bergetar memberikan sebuah notifikasi. Sebuah foto telah diunggah di laman instagra, sang keponakan. Dia merasa heran. Bagaimana bisa gadis itu berada di Miami dalam waktu singkat? Padahal, saat terakhir gadis itu menghubunginya. Dia merasa sangat yakin bahwa gadis itu masih berada di wilayah yang sama dengannya.
“Oh, Mad? Sunguh kau berada di sana?” gumam harry. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di sana. Kemudian, dia memeriksa sesuatu. Ternyata tidak berada di tempat yang sama. Dia bisa memastikan, bahwa foto itu palsu. Tapi, siapa yang melakukan itu?
Bukan hanya Harry. Madie menerima notifikasi bahwa akunnya tidak bisa diakses. Lalu, saat dia masuk dengan akun lain. Dia mendapati ada unggahan di laman instagramnya. Sebuah unggahan amatir menurutnya. Tak akan ada yang tahu kalau yang mengunggahnya bukan dia. tapi, yang penitng bukan itu. Para penggemarnya percaya, bahwa itu dirinya. Tidak mungkin orang lain. Dia bisa menebak ulah siapa itu. Tapi, dia tidak boleh gegabah. Sekali dia masuk ke dalam akun tersebut. Dia bisa saja dilacak keberadaannya. Dia harus sangat hati-hati sekarang. Rupanya, kakek dan ayahnya sudah bergerak kian cepat. Dan mereka juga masih kekeh dengan cara mereka. Menutupi kebenaran atas kaburnya dirinya.
“Kalau begitu, mereka telah mengizinkan aku untuk berada di luar rumah lebih lama. Baiklah, selesaikan bisnis kalian!” gumam gadis itu. Bukannya merasa kecewa. Dia sudah merasakan itu di awal dan tak perlu lagi meratapinya. Kini, dia bisa semakin bebas melakukan apa pun. Karena sebuah pengumuman keberadaannya sudah dipbulikasi.
***
“Siapa namamu?” Cristine bertanya pada Madie yang sedang berdiri di hadapannya. Ini sama sekali tidak seperti wawancara kerja yang pernah dia lakukan sebelumnya.
“Mad-,” gadis itu terdiam sejenak. Apakah dia harus mengatakan namanya yang sesungguhnya? Atau dia berikan saja nama lain?
“Kenapa diam? Kau lupa siapa nama kamu? Habis kepentok kepalamu?” Cristine mengernyit. Memerhatikan ekspresi si gadis yang terlihat sedang berpikir keras.
“Katakan saja siapa namamu, mau itu nama palsu atau asli. Aku tidak akan pernah tahu. Aku juga tidak pernah ingin tahu!” lanjutnya. Dia menegaskan pada Madie. Memberitahu kepadanya, bahwa dia bukan siapa-siapa bagi Cristine. Itu cukup melegakan baginya.
“Madie.” Dia menjwab jujur. Tapi hanya nama singkat saja. Dia tidak memberitahu nama keluarganya.
“Baiklah, aku akan memanggilmu clara. Nama itu mengingatkan aku akan seseorang yang tidak ingin aku ingat sama sekali. Boleh bukan?” balas Cristine.
“Kalau kau akan memanggilku dengan nama lain, kenapa kau malah bertanya? Menyebalkan!” batin Medie. Mana berani dia mengucapkannya secara langsung. Bisa diusir dia nanti.
“Baik Nyonya,” balasnya tak banyak bicara.
“Kau bisa memanggilku Nenek! Aku rasa itu akan baik bagi hubungan kita saat berjualan bersama. Bukan begitu?” dia bahkan menawarkan diri untuk dipanggil Nenek. Padahal, kapan hari saat dia kelepasan memanggil dengan sebutan itu. Sang penjaga rumah menatap gadis itu dengan serius. Hingga membuat dia kicep dan tidak lagi berani menyebut Cristine dengan kata Nenek.
“Maksudnya? Kenapa? Aku bahkan dipelototi oleh keamanan rumah waktu kelepasan memangil dengan sebutan itu.” Gadis itu menceritakan pengalamannya. Malah dibalas dengan suara tawa terbahak-bahak oleh wanita tua tersebut.
“Dia tidak gila bukan?” batinnya. Madie masih menatap bingung pada Cristine. Wanita itu masih saja tertawa. Padahal, menurutnya tidak ada hal lucu sama sekali dalam percakapan mereka berdua.
“Nenek dan cucunya yang cantik berjualan, bukankah itu sebuah imej yang baik? Sudahlah, jangan pikirkan John. Biarkan saja dia. Kalau dia memelototi kamu lagi, balas saja! Mata kamu bahkan lebih besar darinya!” wanita itu bahkan menggerakkan dua jari ke arah matanya sendiri sambil melihat ke arah madie.
“Ah, baiklah. Aku akan melakukannya.” Ternyata wanita itu tak jauh beda dengan kakek ataupun ayahnya. Dia memikirkan uang dalam segala hal. Bahkan sampai terpikir membuat imej mereka adalah seorang Nenek dan cucu untuk berjualan. Dia terlalu sering nonton drama apa bagaimana? Begitu pikir madie.
“Kau bisa memanggilku Nenek dari sekarang. Ah ya, kapan hari ada yang mencoba masuk ke dalam kamarmu. Bisa tolong kau letakkan barang-barang aneh yang ada di dalam kamar itu di luar? Pemiliknya akan datang. Daripada dia mengganggu kamu, jadi lebih baik kau singkirkan saja semua barang itu dari dalam kamar yang kamu tempati.” Dia memberikan sebuah permintaan yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.
“Ah, cucu Nenek itu?”
“Ya, tolong kau singkirkan saja. Dia mengomel dan membuat telingaku panas. Sampai memprotes harus melapor padanya kalau ada yang akan menempati kamar lain. Dia pikir dia siapa. Pulang saja jarang. Mau mengatur urusan rumah.”
Madie yang mendengar itu mengedipkan matanya beberapa kali. Dia baru kali ini melihat seorang Nenek yang sedang mengomel. Dia sudah lama tidak melihat hal semacam ini. neneknya sudah tiada sejak dia masih kecil. Itu adalah waktu yang sangat lama. Lalu, dia harus terjebak dalam perebutan kekuasaan sang kakek. Dulu, saat masih ada Neneknya. Dia bisa bermanja dan meluapkan semuanya. Kemudian dia akan mendapatkan pembelaan darinya. Eddy tidak akan bisa menolak ucapan sang istri. Karenanya, madie sangat terpukul saat kematian Neneknya. Tidak ada lagi tempat dia bisa mendapatkan pembelaan seperti darinya. Dari ibunya pun tidak. Sebab kakeknya sudah menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak menyukai sang anak atas pilihannya. Menikahi seorang laki-laki miskin dan tidak mempunyai apa-apa. kecuali otaknya yang cukup mampu untuk mengimbangi diriya. Hanya atas dasar itu, Eddy menerima pernikahan mereka. Bukan hal asing bagi Madie. Dia memang sudah dituntut untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Kenapa kau masih berdiri di sini?” Cristine merasa aneh kaena gadis itu menatapnya dengan pandangan haru. Sebuah pandangan yang belum pernah dia dapatkan dari cucunya sendiri.
“Aku teringat akan nenekku. Baiklah, aku akan mengeluarkan semua barang yang bukan milikku. Aku permisi!” balasnya. Gadis itu bergegas naik ke kamarnya. Dia menyesali ucapannya. Seharusnya, dia tidak perlu bercerita tentang neneknya.