Madie bergegas masuk ke dalam kamar. Sesuai dengan perintah Cristine. Gadis itu segera mencari barang yang dimaksud olehnya. Dia buka lemari, mengeluarkan sisa baru yang sebelumnya pernah dia sisihkan di bagian bawah. Dia ambil semuanya dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian dia beralih ke arah laci. Dia buka satu per satu. Tapi menurutnya, tidak ada benda penting yang ada di sana. Hanya gunting kuku, cotton bud, dan sebuah gunting. Menurutnya, tiga benda itu tidak perlu dia keluarkan. Kemudian dia mengedarkan pandangannya. Mencari barang apa yang kiranya cukup penting. Netranya berhenti pada sebuah tongkat golf yang sebelumnya dia pegang sebagai senjata. Jaga-jaga kalau yang sedang berusaha membuka kamarnya waktu itu adalah suruhan keluarganya.
“Apa jangan-jangan ini yang sedang dia cari? Tapi kok aneh, kenapa dia tidak meletakkan barang ini di kamarnya sendiri?” gadis itu memandangi tongkat tersebut sambil bergumam. Dia berjalan menuju tempat tongkat tersebut.
Ia segera meletakkan barang-barang itu di luar kamar. Sesuai dengan permintaan Cristine sebelumnya. Dengan sedikit kepayahan dia meletakkan pakaian-pakaian itu di dekat kamar sebelah kiri. Dia juga meletakkan tongkat golf beserta dengan tempatnya di tempat yang berdekatan. Tugasnya sudah selesai. Tapi, kini dia jadi penasaran. Seperti apa rupa cucu nenek Cristine.
“Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan itu. Enggak penting!” dia kembali bergumam.
Kemudian, dia memutuskan untuk merebahkan dirinya. Karena rasa lelah mendadak menghampiri.
***
Langit cerah menyapa dengan anggunnya. Biru berkelana sepanjang angkasa. Hangat suasana menjadi awal yang sempurna. Untuk memulai hari yang baru saja tiba. Burung berkicau, beterbangan, kemudian hingga di sela jendela yang terbuka. Korden berwarna putih tipis itu tertiup angin, gerakan pelan darinya menunjukkan betapa sempurnanya pagi ini.
Gadis itu masih memandangi langit. Memperhatikan setiap geram burung yang hingga di jendela kamarnya. Dia merasa sudah banyak melewatkan suasana hangat seperti ini. Hidupnya selalu sibuk dari pagi hingga pagi. Bukannya matahari yang memberikan kehangatan. Tapi sebuah benda berbentuk balok yang berdiri di beberapa sudut ruangan. Bukan juga biru langit yang selalu dia pandang. Tapi layar hijau sebagai latar untuk keperluan pekerjaan. Suara burung? Mana pernah dia dengar. Suara yang setiap hari dia dengar adalah suara khas kamera yang baru saja dipencet tombolnya. Serupa, tapi tak sama.
Gadis itu tersenyum dengan lebarnya. Merasakan setiap angin yang menyapa. Dia memejamkan mata sejenak. Membuka telinga lebih lebar lagi. Menyerap semua energi, yang datang untuk dirinya saat ini. Gadis dengan rambut pendek itu berlutut di atas tempat tidurnya. Merentangkan kedua tangannya. Ini adalah pagi paling sempurna yang pernah ada di dalam hidupnya.
Dengan berdendang ringan dia membersihkan tubuhnya. Menyelesaikannya dengan cepat. Sudah bukan saatnya berlama-lama di dalam kamar mandi. Suasana di sana lebih menggoda untuk dinikmati. Gadis itu segera berganti pakaian. Mengambil tas kecil yang sudah ia isi dengan dompet dan ponselnya. Dua benda yang tidak boleh ketinggalan. Riasan tipis di wajahnya begitu menawan. Gadis itu bergegas turun. Ini adalah hari pertama dia bekerja. Sebuah pekerjaan yang sangat-sangat berbeda dengan pekerjaan yang sebelumnya. Banyak hal yang harus dia pelajari agar bisa bekerja dengan baik.
“Kau sudah selesai? Sarapan dulu!” ajak Cristine. Wanita tua itu sudah menyiapkan sarapan. Sepotong roti yang dipanggang hingga meninggalkan bekas sedikit garing dan kecokelatan. Ada sebuah telur mata sapi yang diberi garnis dengan butiran peterseli. Warna hijau itu memberikan sentuhan sejuk di piring yang tersaji dengan manis di atas meja.
“Terima kasih,” jawab Madie. Gadis itu langsung saja duduk menghadap sebuah piring yang memang diletakkan di sisi yang berbeda dengan tempat Cristine duduk.
“Selamat makan!” ucapnya riang. Gadis itu menatap pada Cristine dengan hangat. Duduk berhadapan untuk sarapan. Momen yang sangat jarang bisa dia lakukan di rumahnya sendiri. Sebuah momen yang bahkan tidak bisa dia rekam dalam ingatannya. Kapan, kapan terakhir dia bersama dengan keluarganya duduk untuk sarapan bersama. Hal itu sama sekali tidak dia ingat. Terakhir dia bahkan tidak lagi bernafsu untuk menghabiskan sisa makanannya karena ucapan sang Ayah.
Gadis itu memotong roti dengan pisau secara perlahan. Netranya masih menatap sosok yang sama. Cristine yang sedang lahap memakan sarapannya.
“Hey, ayo dimakan! Hari pertama bekerja harus semangat dong!” ucapan Cristine membuat dia tersenyum. Madie mengangguk.
“Baik Nek!” balasnya. Ah sebutan itu. Sebuah panggilan yang sudah sangat lama tidak dia ucapkan dari bibir manisnya. Sesuai dengan perintah sang Nenek. Madie menghabiskan makanannya dengan cepat. Anehnya, rasa telur mata sapi dan roti panggang itu terasa mirip. Bahkan terlalu mirip hampir sama dengan apa yang biasanya disajikan neneknya sendiri untuk dia.
“Ah ya, aku sudah meletakkan barang-barang itu di dekat kamar sebelah kiri. Nenek tidak perlu cemas cucu Nenek akan mengomel lagi.” Dia memulai obrolan lagi. Setelah sarapan yang ada di piringnya sudah dia habiskan.
“Bagus, aku akan hubungi dia. Agar segera dibereskan. Aku tidak suka melihat barang berantakan.” Cristine menjawab dengan sebuah senyuman manis.
Wanita itu berdiri. Dia bahkan mengambil piring madie untuk dia bawa ke wastafel.
“Biar aku saja Nek,” sela Madie. Tapi Cristine menggeleng dengan cepat.
“Tidak! Kau duduk saja. Habiskan s**u di gelasmu. Kita akan berangkat sebentar lagi.” Wanita itu menolak bantuannya. Dia memang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Bukan karena dia tidak suka kalau ada orang lain yang masuk ke dapurnya. Tapi, karena dalam sudut hatinya dia juga rindu dengan suasananya. Menyiapkan sarapan, lalu membereskannya. Momen yang sudah cukup lama tidak bisa dia nikmati bersama dengan cucunya sendiri. Karena, selalu saja ada alasan yang mengalir dari mulutnya. Masih belum lapar nek. Nanti saja nek. Aku mau mandi dulu nek. Dan masih banyak lagi alasan yang lainnya.
“Baiklah,” madie berpasrah. Gadis itu meneguk sisa s**u di gelasnya. Setelah itu, barulah dia membawanya ke wastafel. Dia merasa tidak enak kalau tidak ikut membantu. Ini bukan rumahnya sendiri. Walau dia menyewa, tetap saja dia harus menunjukkan sikap sopan pada pemiliknya yang sudah berbaik hati memberikan sarapan untuk dia. Dia memang terbiasa dilayani. Mencuci gelas saja tidak pernah dia lakukan. Tapi, di sini dia ingin mencobanya.
“Aku yang akan mencucinya.” Madie bersikeras. Dia bahkan memegangi gelas itu dengan kedua tangannya. Binar di matanya tak mampu membuat Cristine menolak. Wanita itu akhirnya mengangguk setuju. Lalu, dia memberikan tempat di depan wastafel untuk Madie. Ia mengeringkan tangan sambil memandangi gadis itu.
“Kau tidak pernah mencuci gelas ya?” tebaknya. Dan itu memang benar adanya. Madie memang tidak pernah melakukan itu. Gadis itu tersenyum.
“Aku bisa kok! Aku sering melihat Amanda melakukannya.” Dia bersemangat. Merasa pernah melihat dan percaya diri bisa melakukannya. Dia mengambil spons dan memencet botol sabun. Segera dia gosok-gosokkan spons itu ke gelas. Tangannya licin. Gelasnya jatuh. Untungnya tidak pecah. Padahal Cristine hampir saja berteriak karena kejadian itu. Madie meringis, menunjukkan deretan giginya yang putih.
“Maaf!” ucapnya.
Cristine tertawa, dia mengelus d**a sambil menggelengkan kepala.
“Aku tunggu di depan. Keringkan tanganmu!” ucapnya.
Madi mengangguk. Gadis itu cepat-cepat mengeringkan tangannya dengan lap. Lalu bergegas menyusul Cristine yang sudah bersiap di depan rumah. Ini adalah awal baru. Pengalaman baru. Hal baru yang harus dia coba kerjakan. Dengan penuh semangat gadis itu membantu mendorong gerobak milik Cristine. Tulisan corndog di gerobaknya timbul berwarna merah dan kuning. Warna hangat yang bisa menarik banyak mata untuk melihat ke arahnya.
“Nek, aku ingin bertanya,” ucap gadis itu di tengah perjalanan mereka.
“Apa? Kalau kau ingin bertanya apa masih jauh. Rasanya tidak perlu aku jawab. Karena kau tahu di mana aku biasanya berjualan.”
“Kenapa Nenek masih berjualan? Nenek punya rumah besar, cucunya sudah bekerja, Nenek bahkan punya petugas keamanan di rumah tersebut. Hal-hal itu menunjukkan kalau Nenek sama sekali tidak butuh uang dari hasil berjualan. Jadi, kenapa?” pertanyaan itu sungguh sangat ingin dia ketahui jawabannya. Aneh saja baginya melihat kondisi itu.
Cristine terkekeh. Dia berhenti mendorong gerobak. Lalu berdiri sambil menatap Madie.
“Kalau kau seusiaku nanti. Kau akan membutuhkan kegiatan ini. Bukan uangnya. Dan saat itu kau rasakan sendiri. Kau akan mengerti, kenapa aku melakukan semua ini.” Jawaban itu sungguh membuat Madie takjub. Orang yang tidak membutuhkan uang melakukan sebuah pekerjaan yang cukup berat. Kalau orang yang tidak tahu. Mereka melihat Cristine berjuang untuk mencukupi hidupnya. Seorang Nenek berjualan sendirian. Tapi, kalau mereka berada di tempat Madie yang dengan jelas mengetahui siapa Cristine. Tentu pertanyaan itulah yang muncul.
“Jadi, Nenek hanya ingin kegiatannya saja? Bukan uangnya? Kalau begitu, uangnya berikan saja padaku!” sahut Madie asal. Dia tertawa setelah mengatakan itu. Kemudian, keduanya kembali mendorong gerobak menuju tempat di mana Cristine biasanya berjualan.
Keduanya mulai sibuk membuka kedai. Meletakkan kursi-kursi kecil di bagian depan gerobak. Menata hingga semuanya sesuai. Ada atap yang melindungi mereka. Penggorengan sudah dituangkan minyak. Adonan corndog sudah disiapkan. Isian untuk corndog mulai ditusuk oleh mereka ke tusukan. Keju, keju mozarela, coklat blok, sosis, dan bahkan spam. Mereka menata sesuai dengan warna dan jenisnya. Ada sebuah kotak kaca sebagai tempat meletakkan macam isiannya. Persiapan sudah selesai. Menurut Madie, dia pasti bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.
“Kau mau mencoba menggulung adonan?” tawar Cristine. Gadis yang memang sedang sangat bersemangat itu langsung setuju dan menganggukkan kepalanya.
Tangan Madie tentu kaku untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Menggoreng telur saja dia tidak pernah. Hidupnya sempurna. Layaknya seorang putri yang tinggal di kerajaan. Semua hal dilayani. Semua hal ada yang melakukan tanpa diminta. Tangannya sedikit gemetar. Ditunjukkan secara sempurna oleh sosis yang sedang dia pegang. Bergetar cukup cepat.
“Santai saja. Masukkan, lalu gulung perlahan.” Cristine kembali memberikan arahan. Tapi, tangan seorang putri memang tidak bisa dibohongi. Gagal! Sosis itu bukannya tergulung dengan adonan dengan sempurna. Tapi, malah nyemplung ke dalam adonan bersama dengan tusukannya.
Cristine menepuk keningnya.
“Sudah, kita latihan saja di rumah. Kalau kau latihan di sini. Tidak akan ada satu pun corndog yang terjual nantinya.”
“Maaf.”
Sepanjang hari, tugas Madie hanyalah menggoreng saja. Membalikkan sekali. Lalu meniriskannya. Memberi saus dan bumbu. Lalu mengemasnya dengan bungkus yang sudah disiapkan oleh Cristine.