Silih berganti para pembeli tentu membuat Cristine tersenyum lebar. Sementara Madie, dia selalu merasa was-was. Perasaan takut itu terus saja menghampiri. Takut kalau ada orang yang mengenalinya. Atau ada yang ternyata diam-diam mengawasinya dari salah satu sudut jalanan yang panjang itu. Keresahan itu coba dia tutupi dengan baik. Mencoba tetap ramah dan terlihat ceria pada semua pembeli yang datang. Namun, sepertinya Cristina lebih peka dan lebih bisa merasa. Wanita tua itu memandangnya dengan mata yang sudah menyisakan keriput di ujung-ujungnya.
“Kalau capek, duduk saja.” Dia berkata sambil mengusap lembut rambut gadis tersebut.
“Tidak Nek, aku kan bekerja di sini. Aku tidak apa-apa. Aku bisa kok!” jawabnya bersemangat. Wajahnya memang tertutup sempurna oleh topi dan masker yang dia kenakan. Rambutnya juga sudah berbeda warna dan lebih pendek dari rambut yang dikenal oleh orang di sekitarnya dulu. Namun, tetap saja. Perasaan itu masih terus menghantui. Perasaan yang wajar dirasakan oleh seseorang yang kabur dari pengawasan.
“Baiklah, sebentar lagi kita selesai. Kita bisa pulang. Bereskan saja barang-barangnya!” Cristine memberi perintah, gadis itu mengangguk setuju. Dia tersenyum di balik maskernya. Merasa lega, akhirnya pekerjaan hari itu selesai juga. Meskipun rutinitas itu akan dia lakukan lagi dan lagi. Tapi setidaknya, dia akan berusaha lebih baik lagi.
Tangan lembutnya membereskan beberapa barang. Ia tutup tempat adonan yang sudah tersisa sedikit. Kemudian merapikan tusukan-tusukan sosis, keju, dan lain sebagainya. Ia juga membantu mengemas gerobak hingga benar-benar rapi dan siap untuk didorong menuju rumah. Banyak orang menerka, kalau Cristine hanyalah menyewa di sana. Karena, memang hal itu yang diucapkan oleh dia ke semua tetangga. Dia selalu berkata, bahwa cucunyalah yang membiayai semua keperluannya di sana. Tak ada yang curiga. Mereka merasa sangat hormat dan menghargai setiap pekerjaannya. Padahal, dia adalah pemilik rumah itu. Dia mengurus, membiayai, dan bahkan menggaji setiap orang yang bekerja di sana. Termasuk Madie yang sekarang sudah terlibat dalam rumah tersebut.
Di rumah besar itu, Madie bahkan merasa seperti berasa di rumah sendiri. Walau tanpa asisten pribadi. Dia bisa melenggang bebas ke mana saja. Makanan tersedia sesuai dengan kesepakatan mereka. Kadang, keduanya duduk bersama dan menikmati acara malam. Layaknya Nenek dan cucu secara wajar.
Mereka berdua telah sampai di rumah. Keduanya langsung melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Madie yang memang sudah memutuskan untuk menemui Ronald bergegas menyelesaikan semuanya dalam waktu cepat. Agar tak terlalu malam ia harus kembali ke sana. Kota B tempat dia tinggal sekarang, cukup jauh dari Kota C tempat Ronald membuka praktiknya. Apalagi kalau ke kota A tempat asalnya. Tempatnya jauh, dan cukup memakan waktu untuk ke sana.
Kaki jenjangnya menuruni anak tangga dengan cepat. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru, dengan jaket hitam. Celana panjang lengkap dengan sepatu putih yang ada di kakinya.
“Nek, aku ada keperluan. Aku akan keluar, dan sepertinya akan sampai larut malam. Boleh?” Gadis itu meminta izin dengan hati-hati, takut kalau tidak diizinkan. Karena saking merasa seperti berasa di rumah. Dia sampai lupa, kalau dia menyewa dan bahkan bekerja pada Cristine. Izin itu seharusnya tak ia minta. Ia bisa saja keluar dan masuk kalau memang dia ingin. Tapi, entah kenapa. Perasaannya mengajak untuk bersikap ramah dan meminta dengan baik izin tersebut.
“Kamu? Meminta izin dariku?” Cristine tak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama dia hidup bersama sang cucu. Hampir tidak pernah dia mendengar hal semacam itu. Sang cucu akan datang dan pergi sesuka hatinya. Semakin dewasa bahkan ia sangat jarang datang untuk sekedar menjenguknya.
“Ya, apa tidak boleh?” Madie mengangguk. Tapi, dia jadi sedikit bingung dibuatnya.
“Pergilah, kalau sudah terlalu malam untuk pulang. Jangan pulang, carilah penginapan di dekat tempat kamu ada urusan. Bahaya, kau perempuan, pulang besok pagi saja saat matahari sudah terang.” Christine mengizinkan. Dia juga memberikan saran agar dia bisa tetap merasa aman dalam perjalanannya.
Gadis itu mengangguk patuh.
“Aku pergi dulu,” pamitnya. Dia tersenyum. Dalam hati, dia sangat ingin memeluk Cristine. Tapi, ia urungkan. Dia merasa tak seharusnya bersikap sejauh itu.
“Hati-hati!” balas Cristine. Wanita itu merasa rumah yang dia tempati semakin hangat setelah ada Madie di sana. Banyak hal yang bisa dia kembali rasakan. Sikapnya, ucapannya, dan banyak hal lainnya. Kini, dia seperti merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Dalam hatinya, dia tahu, gadis itu hanya akan singgah sebentar di sana. Gadis dengan wajah dan postur seperti itu tentu bukan anak orang biasa. Dia bisa pergi kapan saja dari sana. Setelah semua masalah yang dia hadapi selesai nantinya.
Madie melambaikan tangan. Lalu dia cepat-cepat berlari. Menuju jalan besar agar segera menemukan taksi untuk mengantarkannya ke tempat Ronald. Sebuah taksi datang, dia menyetop dan langsung masuk ke dalamnya.
“Kota C, nanti aku akan arahkan tempatnya,” ucapnya.
Sopir taksi menurut saja. Langsung dijalankan mobil tersebut melaju dengan lembut. Sampai tidak terasa kalau sedang mengebut. Perjalanan berlalu dengan cepat. Gadis itu akhirnya turun dan bergegas masuk. Sebelumnya, dia sudah mengirimkan pesan dengan nomor baru saat di tengah perjalanan tadi. Dia sengaja mengganti nomor agar tak ada orang yang bisa melacak keberadaannya.
Ketukan di pintu ruang praktik itu mengisi suasana yang hening di sana. Sudah bukan jam praktik sang dokter. Suasana sepi, hanya ada sebuah mobil yang masih terparkir di sana. Gadis itu menebak mungkin itu milik Ronald yang memang sudah membuat janji dengan dirinya.
“Masuk!”
Madie membuka pintu perlahan. Sengaja dia tidak menutup pintu. Agar dia bisa segera kabur dari sana kalau ada hal yang tidak menyenangkan terjadi.
“Kenapa tidak kau tutup?” Ronald merasa risi.
“Aku akan menutupnya kalau sudah pergi dari sini.” Gadis itu membalas dengan sinis. Dia duduk tanpa diminta. Dan langsung menatap serius pada Ronald.
“Jadi, bagaimana? Apa sudah kau siapkan semuanya?” madie membuka obrolan mereka. Sebuah obrolan panjang tenang segala macam rencana.
***
Xander bekerja sampai harus lembur. Dia mengerjakan banyak tugas atas perintah atasannya. Dokumen-dokumen itu cukup banyak. Pria itu tahu dan paham. Kalau beberapa berkas yang dia kerjakan tentu bukan asli. Bukan yang bisa menjadikan sesuatu bisa diakui secara hukum. Tapi, dia tak perlu memikirkan hal itu. Dia cukup melakukan sesuai perintah tanpa banyak bertanya. Dia cukup bekerja pada porsinya. Tak berani memberikan pertanyaan pada sang atasan. Karena dia tahu, sekali saja dia salah bertanya. Bisa hilang semu posisinya.
“Bagaimana? Sudah kau selesaikan?” atasannya bertanya. Pria yang duduk di kubik tempat dia bekerja menoleh dengan sebuah anggukan.
“Iya Pak, semuanya selesai.” Dia menyerahkan berkas-berkas tersebut.
“Syukurlah sudah selesai, aku pusing mendengar ocehan Tuan Antoni sepanjang hari. Ah, terima kasih banyak! Aku akan segera mempromosikan dirimu padanya. Tunggu saja!” balas David. Dia menepuk pundak Xander dan langsung melenggang pergi dari sana.
Walau pekerjaan yang diberikan oleh David sudah selesai. Tapi, dia masih belum bisa pulang. Karena masih ada hal yang harus dia selesaikan. Tapi, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Mengatakan kalau pertemuan itu akan diundur. Wajah Xander sedikit berubah kesal. Namun, dia juga cukup senang. Karena bisa segera pulang. Tidur di kasur yang empuk di dalam apartemennya.
Pria itu cepat-cepat pulang. Perutnya sudah cukup keroncongan. Dia memesan beberapa makanan sebelum ia sampai di apartemennya. Di dalam lift dia terus memandangi ponsel miliknya. Berbalas pesan dengan sang kekasih. Mengajaknya untuk datang bergabung malam itu. Senyumnya merekah, saat sebuah balasan masuk dan mengiyakan ajakannya. Malam ini, dia bisa melepaskan penat dengan sentuhan lembut dari sang kekasih.
Dia sedang berada di bawah guyuran air shower. Setiap tetesnya memberikan rasa bebas dalam dirinya. Ia merasa seperti plong. Setelah pekerjaan yang sangat banyak itu dia selesaikan. Kini, dia bisa merasakan tenang dan bisa beristirahat dengan baik. Bisa sabun dia gosokkan ke seluruh tubuhnya. Sajian kotak-kotak di perutnya tentu memberikan ia sebuah kepercayaan diri yang tinggi. Dia merasa tampan, merasa layak mendapatkan apa yang sekarang dia miliki. Seorang kekasih yang cantik dan baik. Suara bel membuyarkan lamunannya. Cepat-cepat ia mengambil handuk dan menutup bagian bawah tubuhnya. Dia tahu, pasti itu adalah pengantar makanan. Karena kalau sang kekasih yang datang. Gadis itu tidak perlu menekan bel saat datang. Ia sudah tahu dan sangat hafal berapa sandi apartemen milik aria tersebut.
Xander membuka pintu. Rambutnya masih basah dan dia acak sedikit agar terlihat lebih rapi dan mengembang. Bersamaan dengan itu. Seorang perempuan pengantar makanan itu terperangah. Melihat sebuah tubuh sempurna yang berdiri di depannya. Tatapannya terkunci pada Xander. Setiap lekuk tubuh pria itu menyita perhatiannya. Wajah tampan, tubuh tinggi, dengan perut yang menyajikan kotak-kotak seksi sebagai pelengkap yang sempurna. Pria itu tidak ada cacat. Begitu gumamnya dalam hati.
“Helo! Bisa segera berikan makanannya aku sudah sangat lapar,” ucap Xander. Pria itu tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan pada si pengantar makanan. Ucapannya membuat lamunan perempuan itu buyar.
“Ah, maaf Tuan. Ini pesanan Anda. Silakan tanda tangani penerimaannya,” balasnya.
Tak banyak bicara. Xander langsung melakukannya. Namun, mendadak dia mendekatkan wajahnya pada perempuan itu. Hingga membuat pengirim makanan itu salah tingkah dan langsung menutup kedua matanya rapat.
“Jangan menatap pelanggan seperti itu. Nanti kau bisa jatuh cinta!” bisik Xander padanya. Pria itu bahkan sengaja mengembuskan napas tepat di telinga perempuan tersebut. Sehingga membuatnya menjadi merasakan sebuah gairah yang besar.
“Sayang!” sebuah suara yang cukup keras menyapa. Seorang gadis dengan penampilan menarik dan anggun menerobos masuk ke dalam pelukan Xander. Ia ingin menunjukkan pada perempuan itu. Kalau pria yang sedang dipandangi olehnya adalah milik dia secara utuh.
“Hai, selamat datang. Ayo!” ajak Xander. Gadis itu mengangguk setuju. Dia bergelayut pada Xander. Lalu menoleh ke arah pintu. Dia tunjukkan jari tengah ke arah perempuan yang memandangi kekasihnya dengan tatapan penuh rasa itu. Lalu, ia mendorong pintu dengan kakinya.
Malam ini, mereka akan menikmati malam indah bersama. Makanan di tangan Xander diambil oleh kekasihnya. Di tata di atas meja di depan televisi besar.
“Kau masih mengenakan handuk tapi menemui pengantar makanan. Sengaja? Agar dia bisa melihat tubuh milikku itu?” kekasihnya mulai mengomel. Tapi Xander hanya tertawa.
“Aku baru selesai mandi, masih untung aku pakai handuk!” balasnya. Xander menarik kekasihnya. Hingga gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
“Ih, kamu ini nakal ya!” pekik sang kekasih. Gadis itu melompat ke arah Xander. Sebuah tangkapan sempurna bagi pria tersebut. Ciuman itu lembut, tapi perlahan-lahan berubah menjadi sebuah ciuman yang menggairahkan. Sentuhan demi sentuhan mereka saling berikan. Xander membawanya ke atas tempat tidur. Dan semua adegan itu berlanjut di sana. Pria itu bahkan lupa. Kalau ia sedang merasa lapar. Karena rasa laparnya yang lain lebih bergejolak dalam dirinya. Hingga ia melupakan beberapa bungkus makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Lenguhan, desahan, dan sentuhan hangat itu menghiasi malam mereka. Keduanya berada di bawah selimut setelah pertempuran cinta itu selesai. Dengan pundak yang sama-sama terbuka. Keduanya tertawa pelan. Saat mendengar suara perut yang berbunyi tepat setelah semua kenikmatan itu terjadi.
“Ayo makan!”