Mereka berdua hanya mengenakan pakaian tipis. Duduk di depan meja dan melahap semua makanan yang sebelumnya telah dipesan. Sambil menonton acara televisi malam itu.
“Sayang, aku berencana akan ke rumah Nenek besok. Apa kamu mau ikut?” ajaknya. Dia menatap pada sang kekasih. Mencoba melembutkan hatinya. Karena, gadis itu selalu saja tidak mau setiap kali diajak ke sana.
“Kau tahu sendiri, bagaimana respons Nenekmu setiap kali aku ikut ke sana denganmu. Malas ah!” balasnya. Gadis itu semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Xander. Jawaban yang lagi-lagi sama.
“Ayolah, tidak akan lama. Aku hanya butuh mengambil tongkat golf saja. Bisa jadi, dia tidak ada di rumah juga. Biasanya kan, Nenek jualan,” bujuk Xander. Pria itu masih mencoba peruntungan dengan merayu kekasihnya lagi.
“Oh ya? Benarkah? Kau hanya akan mengambil tongkat itu dan keluar dari sana?” Bela mencoba memastikan kebenarannya. Kalau memang rencananya hanya seperti itu. Dia akan mau. Karena dia tidak perlu bertemu dengan nenek kekasihnya itu.
“Ya, tentu saja. Tidak perlu khawatir akan Nenek. Dia pasti sudah berangkat berjualan. Dia berangkat sangat pagi sekali!” pastinya. Dia menunjukkan sebuah alasan yang akhirnya disetujui oleh kekasihnya.
“Baiklah, aku akan ikut. Ayo tidur. Aku mengantuk!” balasnya. Gadis itu berdiri dan mulai melangkah ke tempat tidur. Ia harus segera tidur. Karena matanya sudah semakin berat dan susah untuk dikondisikan.
“Oke, ayo tidur.” Xander memastikan televisi dan menyusulnya ke tempat tidur. Keduanya saling memeluk. Tidur dalam dekap hangat orang yang paling terkasih. Berada dalam posisi itu sungguh menyenangkan. Merasa aman dan nyaman pada satu kesempatan.
Sinar mentari menerobos masuk lewat celah korden yang tidak ditutup secara sempurna. Sinar itu menerpa wajah cantik yang masih tertidur dengan pulasnya. Sementara Xander merasa risi akan hal itu dan langsung membuka mata. Dia tak akan tenang setiap kali diterpa sinar matahari seperti itu. Dia tidak ingin dalam keadaan menutup mata. Dia harus memastikan posisinya di mana dan bagaimana kondisinya. Pagi ini saja, karena lupa menutup korden dengan rapat. Dia sampai terengah-engah karena mengingat masa lalu. Dia bersyukur dalam hati karena dia berada di apartemennya. Bersama dengan kekasihnya yang masih terlelap di sampingnya.
Pria dengan tubuh seksi itu segera bangkit. Turun dari sana dan mengambil segelas air minum. Dia harus menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mandi. Setelah merasa lebih tenang. Dia akhirnya masuk dan mulai membersihkan diri. Seperti biasa, dia tidak akan terlalu lama. Karena masih banyak urusan yang harus dia kerjakan. Hari ini, dia sudah meminta izin untuk datang lebih siang. Karena sebuah keperluan. Izin itu bisa dia dapat dengan mudah. Karena sehari sebelumnya, dia telah menyelesaikan tugas dengan baik.
“Sayang, ayo bangun. Kita harus segera berangkat. Aku sudah selesai,” panggilnya. Tapi tidak ada respons dari kekasihnya itu. Bela masih terlelap sambil menutupkan selimut ke wajahnya.
Pria itu sudah mengenakan kemeja dan celana, kalau harus mendekat dan membangunkan sang kekasih. Bisa gawat. Karena bisa saja kekasihnya itu bukannya bangun. Tapi malah menarik dirinya kembali ke tempat tidur. Jadinya, dia hanya bisa memanggil-manggilnya saja. Sayangnya, Bela masih bertahan dalam posisinya. Sehingga membuat Xander tidak mempunyai pilihan lagi selain mendekat, agar dia segera bangun.
“Sayang,” panggilnya lembut. Dia tarik selimut itu. Gadis itu masih di sana dengan posisi yang sudah berubah. Tadi, sebelum dia turun dari tempat tidur. Dia yakin kalau posisi kepala gadis itu masih ada di bantal. Entah bagaimana jadinya, kepalanya sekarang hampir terjatuh dari tempat tidur di sisi lainnya. Karena saat ia membuka selimut. Yang pria itu lihat adalah kaki dari sang kekasih.
“Bela, ayolah cepat bangun! Aku juga masih harus bekerja. Katanya kau bersedia ikut ke rumah Nenek. Ayolah, perjalanan panjang kalau sendirian sungguh tak enak.” Dia meminta. Bisa dibilang sedikit memohon juga. Agar dia tidak sendirian dalam perjalanan itu.
“Hmm, masih ngantuk!” balas Bela. Gadis itu malah meraih selimut lagi. Menutup kepalanya lagi.
“Kau tidak akan bangun? Kau tidak mau menemani aku ke rumah nenek? Ah, kau jahat sekali,” aktingnya. Pria itu sungguh bisa berpura-pura sedih. Dengan nada bicara rendah dan ya begitulah. Hingga gadis itu akhirnya terbangun karena mengira kekasihnya hampir menangis.
“Baiklah aku bangun, jangan merengek. Aku tak suka mendengarnya. Dan ingat, itu sama sekali tidak cocok dengan tubuh besarmu itu!” balas Bela. Gadis itu mengalah dan turun dari tempat tidur. Dengan mata yang masih cukup susah untuk dibuka. Tapi, gadis itu akhirnya masuk ke dalam kamar mandi juga.
Pakaian putih dengan celana senada dia pilih untuk ia kenakan. Rambutnya ia gerai. Riasan tipis di wajahnya memberikan sentuhan sempurna. Gadis itu duduk di samping kursi kemudi. Xander tersenyum puas melihatnya. Gadis itu cantik, dan dia bahkan mau menemani dirinya pergi ke rumah sang Nenek.
Perjalanan panjang itu tidak terlalu terasa jika ada temannya. Mereka mengobrol banyak. Jadi lebih intens dari kencan-kencan mereka sebelumnya. Sesekali mereka juga bernyanyi mengikuti lagu-lagu yang diputar di radio mobil mereka. Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah. Seperti biasa, John membukakan pintu gerbang untuk mereka. Xander membuka kaca mobilnya. Pria itu melambai pada John dengan santainya.
Lalu, saat keduanya turun dari mobil. Sebuah kenyataan harus mereka terima. Xander dan Bela sama-sama melihat. Kalau gerobak Neneknya masih ada di halaman rumah tersebut. Berada di tempat penyimpanannya. Padahal menurut perhitungannya. Gerobak itu seharusnya sudah tidak adai sana. Seharusnya, Neneknya sudah berangkat bekerja. Xander berlari menuju tempat John berada.
“Apakah Nenek masih ada di rumah? Apa dia belum berangkat? Tidak biasanya jam segini dia masih ada di rumah,” tanya Xander dengan perasaan cemas.
“Nyonya tidak pergi bekerja hari ini. Sepertinya, dia tahu kalau Anda akan datang,” balas John. Dia hanya berkata asal. Sebagai pemanis saja. Agar terlihat akrab dengan Tuannya.
“Mana mungkin dia menungguku datang.” Xander bergumam. Pria itu akhirnya mengangguk dengan senyum tipisnya. Kemudian dia kembali ke tempat Bela berdiri.
“Nenekmu ada di rumah. Kau menjebakku ya?” ucap Gadis itu tidak terima. Bukannya tidak mau atau tidak sopan. Tapi, Nenek kekasihnya selalu menyudutkan dia dengan berbagai macam tuduhan. Dia terlalu malas mendengar ceramah dan ocehan. Ini hidupnya dan dia berhak melakukan apa yang dia mau. Begitu pikirnya.
“Sungguh aku tidak tahu kalau Nenek tidak pergi bekerja hari ini. Sayang, aku tidak menjebakmu. Percaya padaku,” pintanya. Dia menjelaskan sesuai dengan kenyataan yang ada. Dia memang tidak berencana seperti itu.
“Aku akan tetap berada di dalam mobil saja!” gadis itu merajuk.
“Baiklah, kamu tunggu saja di mobil. Aku akan segera kembali.” Xander mengiyakan permintaan gadis itu. Tapi, saat bela mulai bergerak untuk masuk kembali ke dalam mobil.
“Xander? Itu kau?” suara itu menyapa mereka. Sudah terlambat untuk masuk kembali ke dalam mobil. Sudah terlambat untuk menyelamatkan diri dari ocehannya. Bela telah tertangkap oleh Cristine sedang berada di sana dengan cucunya. Dengan sangat terpaksa. Akhirnya dia harus ikut masuk dan mempersiapkan diri untuk mendengarkan banyak ocehan dari nenek kekasihnya.
“Maaf, ayo masuk!” ajaknya. Gadis itu menurut dan mengangguk. Dengan perasaan tidak enak dan wajah yang masam.
“Iya, Nek! Aku akan mengambil tongkat keberuntunganku!” balas Xander keras. Dia melambaikan tangan dan menyajikan senyum pada Neneknya. Dia melangkah sambil menggandeng tangan Bela.
“Hai, Nek, apa kabar?” sapa Bela berusaha terlihat ramah. Dia tersenyum dan menyalaminya. Tapi, tanggapan Cristine hanya tersenyum sekilas.
“Seperti yang kau lihat. Baik!” balasnya. Wanita itu langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.
“Tahan, sebentar saja!” bisik Xander padanya. Gadis itu mengangguk setuju. Toh dia juga tidak akan lama berada di sana.
“Aku sempat mengira kau datang bersama dengan gadis lain,” celetuk Cristine. Wanita itu sungguh sangat paham apa yang harus dia lakukan jika berada di depan orang yang tidak dia sukai.
“Mana mungkin aku begitu Nek. Ah ya, aku akan ke atas. Setelah itu, aku akan kembali pulang untuk bekerja. Maaf tidak bisa berada di sini lebih lama.” Xander langsung menaiki anak tangga. Dia menoleh sebentar pada Bela yang ada di bawah. Dia berbicara dengan gerakan tangan. Tahan sebentar saja. Begitu katanya. Gadis itu mengangguk setuju.
Xander cepat-cepat menuju kamarnya. Dan betapa terkejutnya dia. Saat melihat ada banyak barang yang berada di depan kamarnya.
“Nek, kenapa semua barangku dikeluarkan?” teriaknya.
“Karena kamar itu ada yang menempati!” balas Cristine acuh. Memang kenyataannya begitu kok. Mau bagaimana lagi.
“Tapi tidak semua baju dan barangku diletakkan di luar kamar seperti ini!” protesnya lagi. Dia merasa frustrasi. Sangat penasaran siapa yang menempati kamar itu. Rupanya siapapun yang ada di kamar itu sangat teliti. Semua barang miliknya sudah dikeluarkan.
“Ambil dan bereskan! Gampang kan! Jangan banyak protes. Kau datang bersama seseorang untuk membantumu mengemas itu semua bukan?” balas Cristine. Wanita itu memandang pada Bela. Melihat itu, Bela pun berdiri dan melangkah menuju tempat Xander berada. Itu lebih baik, daripada harus berhadapan sendirian dengan Nenek kekasihnya di sana. Lebih menyeramkan dan menyesakkan.
Xander dan Bela akhirnya mengalah. Kalau masih harus berdebat lagi dengan neneknya. Barang-barang itu tidak akan segera selesai dia masukkan ke dalam kamarnya.
“Ayo, bawa tongkat itu dan pergi dari sini. Please!” pinta Bela. Dia memang sudah tidak tahan dipandangi dan diacuhkan seperti itu.
“Baiklah, ayo!” ajaknya. Tingkat keberuntungannya sudah dia bawa. Dia juga harus menjaga perasaan kekasihnya.
“Nek kami balik dulu. Tapi, Nek, ke mana orang yang menempati kamar itu? Dia tidak pulang? Benar kan dugaanku, dia bukan gadis baik!” ucap Xander. Ia mendapatkan sebuah jeweran di telinganya. Membuat Bela mundur selangkah agar tidak mendapatkan hal yang sama.
“Jangan ngawur kalau bicara. Dia gadis baik! Bahkan dia lebih baik daripada kekasihmu itu!” balas Cristine tidak terima. Dia lebih membela Madie daripada kekasih cucunya sendiri. Wanita tua itu sungguh menaruh rasa tidak suka padanya.
“Nenek, jangan berkata begitu! Dia gadis baik!” bela Xander.
“Kalau kau tidak suka ada yang menghina kekasihmu. Kenapa kau malah menghina orang lain yang bahkan tidak kamu tahu? Pulang sana! Aku tidak butuh ocehanmu di sini!” suruhnya. Bukan mengusir, karena pada awalnya Xander memang sudah berpamitan. Wanita itu langsung membalikkan badan. Saat Bela akan berpamitan padanya.
“Sudah, jangan dipikirkan. Ayo kita pulang!” ajaknya. Gadis itu menghela napas panjang. Kalau bukan nenek kekasihnya. Dia pasti sudah membalas ucapan tidak menyenangkan itu pada wanita tersebut.
“Kalau dia bukan Nenekmu, aku pasti membalasnya!” ucap Bela dengan kesal. Dia masuk ke dalam mobil dengan perasan yang tidak karuan. Xander paham, dia harus segera pergi dari sana. Sebelum semuanya semakin kacau nantinya.
Xander tak banyak bicara lagi. Dia langsung menjalankan mobil dengan perlahan dan keluar dari halaman rumah Nneneknya. Ia mengklalson sekali untuk menyapa John. Lalu melambai dan keluar dari gerbang rumah tersebut. Pada akhirnya. Dia bisa merasa lega karena tak harus berada di sana dalam waktu yang lama. Bisa-bisa Bela akan membunuhnya kalau hal itu sampai terjadi. Kekasihnya itu sungguh tidak bisa sabar setiap kali menghadapi neneknya. Entah kenapa. Mereka seperti minyak dan air yang tak akan pernah dapat disatukan.
Sementara itu, di sisi lain. Madie baru membuka mata. Dia merasa tubuhnya teramat lelah setelah malam panjang bersama dengan Ronald. Terlalu banyak hal yang mereka bicarakan. Hingga lupa waktu dan harus tidur di salah satu ruangan di tempat praktik tersebut. Dia menguap, meregangkan tubuhnya dengan suara khas bangun tidurnya. Hari ini, seharusnya menjadi hari kedua dia bekerja. Tapi, malah berada di tempat yang jauh seperti ini. Tentu dia akan terlambat. Buru-buru dia mengecek ponsel. Dan dia baru sadar. Kalau dia belum memberikan nomor ponselnya pada Cristine.
"Ah, sial!"