Suasana pagi yang cerah itu menyambut gadis yang baru saja membuka mata. Dia keluar dari salah satu ruangan dengan mengendap. Dia melihat ke sana-sini. Memastikan aman dan tidak ada yang melihatnya. Dia sudah terpikir untuk berpamitan pada Ronald. Tidak penting baginya. sekarang, dia harus segera mencari taksi dan pergi dari sana secepat mungkin. Ia tak ingin dipecat dari pekerjaannya. Apalagi, di hari kedua dia bekerja. Tidak boleh!
Buru-buru dia berlari ke arah jalan besar. Berharap akan ada taksi sepagi itu di sana. Dia harus segera berangkat, agar bisa datang sebelum Cristine berangkat.
“Pak, bisa lebih cepat lagi? saya bisa terlambat ini!” pintanya pada sang sopir.
“Maaf Nona, tapi, ini sudah sangat cepat. Dan tempatnya memang jauh. Mana mungkin bisa ke sana dalam waktu sepuluh menit saja!” balas si sopir.
Gadis itu memang paham betul bahwa tempat dia berada sekarang membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Dia melorotkan tubuhnya di kursi belakang. Dia sudah berpasarah, apa pun yang terjadi nanti. Dia akan menerimanya. Tentu, dia terlambat. Jarak yang jauh itu tidak memungkinkan untuk ditempuh dalam waktu singkat. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. kenapa dia tidak bangun lebih pagi. Seharusnya dia bisa. Tapi, dia memang sudah terbiasa dibangunkan. Dilayani, dan juga disediakan segala kebutuhannya. Mana pernah dia memikirkan harus bangun jam berapa esok hari. Dia bersumpah dalam hati, kalau Cristine tidak mempermasalahkan keterlambatannya hari ini. Dia tidak akan tidur di luar lagi. Dia akan mencarai cara bagaimana bisa bertemu orang tanpa harus pergi di malam hari.
Dalam persimpangan di dekat rumah Cristine. Dia sempat melihat ada sebuah mobil yang berjalan ke arah berbeda dengan dia. Mobil yang sama dengan yang kapan hari dia melihatnya. Mocil cucunya Cristine.
“Ah, dia datang untuk mengambil tongkat golfnya,” gumamnya.
Taksi berhenti. Setelah memberikan beberapa lembar uang. Segera dia turun dan berlari menuju rumah.
“Hai John! Selamat pagi!” sapanya dengan posisi masih berlari.
Kaki jenjangnya membantu dia untuk bergerak lebih cepat. Dia berjalan lurus ke depan tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Hingga akhirnya dia sampai di depan pintu. Langsung mendorongnya dan bergegas naik ke lantai dua untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung mandi dan membersihkan diri. Dia harus segera menyusul Cristine berjualan. Mana tempatnya masih harus berjalan lagi. Belum melakukannya saja, dia sudah bisa membayangkan bagaimana rasa lelah yang akan menghampirinya nanti.
Dia mengambil pakaian yang asal. Memilih untuk tidak merias wajahnya. Toh nanti dia akan menggunakan masker dan tidak ada orang yang akan melihat wajah polosnya. Ia kenakan sepatuu dan langsung keluar dari kamarnya. Sebuah topi juga dia kenakan. Kakinya mulai menuruni anak tangga dengan cepat. Hingga terdengar suara ribut dari lantai atas. Tapi, karena Madie merasa di rumah tidak ada orang. Dia sebodo amat dengan hal itu dan langsung saja turun.
“Hai Nek selamat pagi!” sapanya pada Cristine. Tapi, dia tetap melanjutkan langkahnya. Berlari menuju gerbang untuk segera bisa sampai di tempat dia harus bekerja.
“Hai, John!” sapanya lagi.
“Nona, kau mau kemana?” teriak John pada Madie yang baru saja melewatinya.
“Aku harus bekerja. Aku sudah terlambat untuk ikut Nenek berjualan!” balasnya dengan berteriak juga. Dia merasa aneh dengan pertanyaan John. Kenapa dia masih bertanya dirinya akan pergi kemana. Sementara dia tahu dengan benar. Kalau gadis itu bekerja dengan Cristine.
“Tapi, Nyonya sedang tidak berjualan hari ini!” teriak John lagi.
Tapi, gadis itu tidak bisa mendengarnya. Dia terlalu fokus berlari ke tempat kemarin. Jadi, dia hanya menolah dan melambaikan tangan pada John karena dia berpikir kalau John memberikan dia semangat. Di pikirannya, dia harus segera sampai dan meminta maaf atas keterlambatan dirinya. Agar dia bisa dimaafkan dan tidak dipecat detik itu juga.
Setelah cukup jauh berlari. Madie memperlahan langkahnya. Dia merasa ada yang aneh dengan suasana pagi di rumah itu.
“Tunggu, sepertinya ada yang terlewat.” Gadis dengan rambut pendek itu akhirnya berhenti dan mengingat kejadian sebelum dia keluar dari rumah. Ada seseorang yang dia sapa di dalam rumah itu. Padahal, seharusnya rumah itu kosong.
“Ah, sial!” gadis itu menepuk keningnya sendiri dan segera berbalik badan. Dia baru ingat. Kalau tadi dia sempat menyapa Cristine di dalam rumah sebelum dia berlari keluar. Kenapa dia bisa seceroboh itu. Sampai tidak sadar kalau Cristine masih belum berangkat berjualan. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Terlalu gegabah dan ceroboh.
“Mungkin, karena ini juga paman sering mengeluh akan diriku!” gumamnya dengan langkah lari yang sudah mulai lambat karena kecapekan.
Saat akhirnya dia sampai di dengan Gerbang. Dia bisa melihat John sedang menahan tawanya. Gaddis itu meliriknya dengan tajam. Dengan napas yang terengah-engah, dia masiih belum bisa mengomel pada John. Dia masih mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Barulah dia menegakkan badan dan menghadap pada John untuk bersiap mengomelinya.
“Kenapa kau tidak bilang kalau nenek masih ada di dalam rumah?” tanya dia dengan sedikit frustrasi. Sudah berlari jauh sampai berkeringat dan ternyata orang yang dia kejar malah ada di rumah.
John akhirnya kelepasan tertawa. Hingga membuat Madie semakin merasa kesal.
“Aku sudah mengatakannya tadi. Tapi, kau malah melambaikan tangan padaku dan terus berlari. Bukannya berbalik badan dan kembali ke sini!” jawabnya. Pria itu memang melakukan apa yang dia ucapkan. Dia jujur sudah mencoba mencegah madie. Tapi, gadis itu sendiri yang tidak mendengarkan.
“Hah? Benarkah? Ah sial sekali aku.” Dia mengasihani dirinya sendiri. Sudah buru-buru pulang, berlari sampai berkeringat, tapi semuanya sia-sia.
“Nyonya masih ada di dalam. Tadi, cucu Nyonya juga datang bersama dengan kekasihnya. Aku kira, Nyonya sengaja tidak berjualan karena akan ada tamu yang datang. Apa kamu tidak dihubungi olehnya?” telisik John. Pria itu rupanya begitu penasaran dengan apa yang sudah dialami Madie. Dia cukup prihatin, tapi juga ikut menertawakan nasib gadis yang malang itu.
“Aku yang bodoh memang. Aku tidak meninggalkan nomorku padanya.” Madie merasa semakin terpuruk. Dan John semakin terkikik dibuatnya. Sebuah lirikan tajam akhirnya menghentikan tawa John.
“Maaf Nona, lebih baik anda segera masuk dan beristirahat. Sepertinya, anda cukup kelelahan,” ucap John mencoba membujuk Madie agar tidak marah padanya. Dia tahu, gadis itu cukup punya kekuatan untuk mengomeli dirinya. Walau tubuhnya sudah lemas, tapi bibirnya pasti masih menyimpan cadangan energi dalam porsi besar.
“Kamu lolos hari ini John. Tapi tidak esok hari!” ucap Madie. Gadis itu berjalan pelan menuju rumah Cristine. Kini, dia bisa melihat pintu itu telah terbuka. Dan seorang wanita tengah berada di tengah-tengahnya. Melihat ke arah gadis yang sedang berjalan menuju aarahnya.
Dia melambaikan tangan. Berharap Cristine tidak marah apdanya karena sudah datang terlambat. Walau waniat itu tidak pergi bekerja karena ada tamu. Tetap saja dia salah karena tidak menghubungi Cristine terlebih dahulu. Dia juga sudah berganti nomor.
Dengan perasaan gugup, gadis itu mencoba tersenyum dan sedikit membungkukkan badan badannya.
“Pagi, Nek!” ucapnya.
“Kau berkeringat, habis olahraga?” pertanyaan Cristine terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Madie. Gadis itu menundukkan kepalanya. Merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya.
“Aku kira, Nenek tadi sudah berangkat,” jawabnya lirih. Sambil memainkan kakinya. Dia masih belum berani menatap wajah Cristine.
Cristine terkekeh mendengarnya, “Kau tadi bahkan sudah menyapaku. Tapi, kau malah berlari karena mengira akuk sudah berada di tempat berualan? Apa yang sedang kau pikirkan?” wanita tua itu menggelengkan kepalanya. Lalau berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara gadis itu mengekorinya dan ikut masuk juga.
Madie menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar merasa malu karena sudah begitu tidak fokus. Hingga membuat dirinya lelah dan kesal sendiri.
“Maaf, aku datang terlambat untuk bekerja. Aku ketiduran dan terlambat bangun.” Gadis itu memberikan alasan pada Cristine. Masih dengan posisi yang sama.Mengekor di belakang Cristine.
“Tidak perlu meminta maaf. Aku juga lupa mengabari, kalau hari ini aku akan berkebun. Jadi, aku memilih libur.” Wanita tua itu ringan sekali bicaranya. Padahal, Madie sudah bersusah payah untuk datang tepat waktu. Tapi, wanita itu malah mengaku lupa memberi tahu kalau akan berkebun dan memilih libur hari ini.
“Sungguh? Ah, aku bisa lega sekarang. Jadi, aku tidak dipecat bukan?” Madie ingin kepastian. Dia masih ingin bekerja agar kamar dan makanannya tetap gratis.
“Tentu saja! kau sudah sarapan?” alih Cristine. Dia mengangkat piring berisi kentang dan ayam goreng.
“Apakah Nenek belum sarapan? Tadi, aku dengar kalau cucu nenek datang bersama dengan kekasihnya. Aku kira, nenek sudah sarapan dengan mereka. tapi, piring itu bahkan terlihat sangat utuh dan belum tersentuh!” ucap gadis itu. Lalu, saat dia sadar sudah lancang berbicara. Dia menutup mulutnya.
“Maaf, aku sudah terlalu banyak bicara!” lanjutnya.
“Tak apa! mereka datang hanya untuk mengambil barang. Lalu segera pergi karena pekerjaan. meeka sibuk. Jadi, kita sarapan sekarang?” tawar Cristine. Tentu gadis itu langsung mengangguk setuju. Karena dia memang sudah lapar. Dia kehilangan banyak energi karena berlari. Dan yang paling penting makanan enak itu gratis.
Tak bbanyak obrolan selama mereka sarapan. Untuk sarapan kali ini. Madie memaksa membersihkan piring-piring kotor.
“Aku akan belajar mulai sekarang. Jangan melarangku! Katakan saja kalau kurang bersih atau aku salah cara. Agar aku tahu bagaimana cara mencuci piring dengan bersih.” Dia bersikeras. Cristine pun melepaskan piringnya. Memberikan gadis itu kesempatan untuk melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
“Oke! Kalau kamu memang mau melakukannya. Mulai sekarang, ini menjadi tugasmu!” Cristine memberikan persetujuan padanya. gadis itu langsung tersenyum kegirangan karena sudah didukung seperti itu.
“Apa begini? Seperti ini?” gadis itu terus bertanya. Saat mengusap piring dengan spons yang penuh busa. Lalu membilasnya perlahan, hingga semua busa itu lenyap.
“Ya, kerja bagus. Kau banyak belajar dari asisten rumah tanggamu sepertinya. Cukup perhatikan genggaman tanganmu saat memegang piring atau gelasnya. Pastikan itu kuat dan tidak akan jatuh.” Cristine memuji, tapi Madie merasa itu seperti sebuah sindiran halus yang diselingi dengan sedikit pujian. Tapi, memang benar yang dikatakan oleh wanita itu. Selama ini, dia memang hanya menajdi pengamat tanpa melakukannya sendiri.
“Terima kasih banyak. Aku akan berusaha agar semuanya tidak jatuh atau pecah.” Madie yang bersemangat. Padahal, beberapa menit yang lalu dia merasa sudah seperti orang yang tidak punya semangat karena kecerobohannya.
“Apa kamu sudah mengeluarkan semua barang milik cucuku?”
“Aku sudah mengeluarkan semuanya. Kenapa Nek? Apa dia bilang masih ada yang kurang?” tanya gadis itu penasaran. Karena sebelumnya dia mengira sudah mengeluarkan semua barang yang bukan miliknya ke depan kamar sebelah kiri.
“Tidak, aku hanya ingin memastikan saja. kau bisa beristirahat sekarang. Sepertinya, kakimu cukup kuat juga ya? Apa jangan-jangan kamu atlit lari?” lagi dan lagi Cristine bercanda.
“Nek, aku tidak sekuat itu. Sungguh! Ini hanya karena kepepet saja! Ya, seperti itulah keadaannya. Aku tidak ingin terlambat, jadi aku harus berlari. Aku bahkan lupa harus berolahraga karena terlalu banyak masalah akhir-akhir ini.” madie kelepasan bicara tentang masalahnya.
“Masalah?”
“Tidak ada Nek. Aku baik-baik saja! Aku akan ke kamar sekarang. Terima kasih sarapannya!” pamitnya. Dia harus segera menghindar. Agar mulutnya tidak kelepasan bicara lagi. Agar tidak ada rahasia yang akan terungkap. Karena apa yang dia alami harus dia simpan sendiri. Identitasnya tidak boleh terungkap. Dia harus tetap berada dalam persembunyian. Tidak boleh ada satu orang pun yang boleh tahu siapa dia dan bagaimana latar belakang kelaurganya. Masih banyak hal yang harus dia urus dalam persembunyian itu.
Setelah menutup pintu kamar. Gadis itu merebahkan diri. Lalu memikirkan setiap perkataan Ronald semalam. Terlalu banyak kecurigaan, tapi buktinya masih sedikit. Beberapa alasan dan cerita yang dibagikan oleh Ronald padanya cukup masuk akal. Tentang Ibunya juga tentang penyakitnya. Semuanya. Gadis itu memutuskan bahwa dia harus kembali bertemu dengan Ronald lagi. Agar semua benang itu bisa terhubung dengan sesuai kenyataan dan bukti yang ada. Ia memandang pada foto-foto yang dia pampang di dinding kamar. Masih mencari cara apa yang harus dia lakukan agar semuanya menjadi jelas dan transparan.