Sebuah tempat di tengah hutan itu masih berdiri kokoh. Menjadi saksi berapa kejamnya sebuah pembalasan atas rasa sakit yang pernah dirasakan. Gerbang besar itu terbuka pelan. Setelah sebuah mobil masuk ke dalam halamannya. Pintu itu kembali tertutup. Ini adalah tempat dimana Elaine berbahagia karena melihat perempuan yang merebut suaminya tergeletak tidak berdaya. Dia membalas semua rasa sakit yang dia rasakan dengan berlipat-lipat kali lebih buruk. Seorang pria turun dari mobilnya. Mantel hitam panjang miliknya menyembunyikan sosoknya. Dia berjalan pelan menyusuri lorong. Masuk lebih dalam, berbelok, lalu berhenti di sebuah tempat. Dia membuka ruangan tersebut dan bersiap menyalakan lampu. Sayangnya, saat lampu sudah menyala. Dia harus mendapati sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan. Wanita yang seharusnya masih berada di dalam ruangan kaca itu sudah tak ada di tempatnya. Beserta dengan tali yang mengikatnya.
“Penjaga!” pria itu berteriak dengan kerasnya. Urat-urat di lehernya sampai membentuk gurat sempurna.
Dua orang berbadan besar berlari mendekat ke arahnya.
“Iya Tuan, ada apa?” tanya mereka. Karena tidak biasanya, tuannya itu memanggil dengan suara sekencang itu.
“Lihat!” ia menunjuk pada ruangan yang kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Padahal seharusnya, ada seorang wanita yang sudah tidak berdaya itu di sana.
Kedua penjaga itu pun ikut melotot. Merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Keduanya sama sekali tidak melihat ada orang asing yang masuk ke sana. Semuanya dapat dikontrol dengan baik. Juga tidak mungkin wanita itu bisa kabur dari ruangan tersebut. Seluruh ruangan itu terbuat dari kaca tebal dan bahkan anti peluru. Rasanya, tidak mungkin wanita itu kabur.
“Bagaimana bisa dia menghilang?” penjaga itu malah balik bertanya pada Ronald. Membuat pria itu akhirnya merasa semakin kesal dan menendang kaki penjaga itu dengan kuat. Sampai membuatnya mundur selangkah. Pria itu tak berani memprotes atau membantah. Apalagi mengeluh kesakitan karena tindakan atasannya. Ini adalah murni kesalahannya. Dia ditugaskan sebagai penjaga. Seharusnya bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi, seorang wanita yang sudah disiksa berhari-hari di sana malah menghilang tanpa jejak. Jadi, dia hanya bisa menahan rasa sakit itu sendiri. Menggigit bibir bawahnya agar dia tidak kelepasan bicara. Sementara rekan kerjanya juga menunduk pasrah. Takut akan diperlakukan kasar juga seperti rekannya yang ditendang tepat di depan kedua matanya.
“Cek seluruh CCTV!” perintahnya. Kedua penjaga itu pun bergegas pergi. Mereka berlari secepat yang mereka bisa menuju ruangan kontrol CCTV.
Sementara itu, Ronald merasa janggal dengan hilangnya wanita tersebut. Ia merasa tempat ini akan dan tak akan ada satu pun orang yang tahu keberadaan tempat tersebut. Suami Elaine tidak mungkin tahu tempat ini, begitu pikirnya. Pria itu masih menerka-nerka. Siapa yang bisa dan mampu menculik, atau membebaskan tahanan mereka?
“Harry? Eddy? Antoni?” gumamnya. Dia menyebutkan tiga nama yang paling mungkin bisa melakukan hal tersebut. Entah bagaimana caranya mereka menemukan tempat itu. Hal yang dipikirkan oleh Ronald sekarang adalah mengecek secara pasti. Kapan wanita itu menghilang dari ruangan tersebut.
“Tidak cukup satu orang untuk melakukannya. Pasti, ada kaki tangan pelakunya di sini.” Dia menemukan sebuah praduga yang paling mungkin terjadi. Kini, tugasnya bukan hanya mencari di mana Eliza berada. Tapi, dia juga harus menemukan siapa pengkhianat yang sudah berani mengacaukan rencananya.
Dia kelabakan, tak bisa merasa tenang. Kalau tempat seterpencil itu sampai ada yang tahu. Bisa gawat semuanya. Apa yang dia rencanakan bisa saja diketahui oleh pihak tertentu. Dia harus semakin berhati-hati. Sebab, dia masih belum tahu. Mana yang kawan dan mana yang lawan.
Dia juga semakin resah. Padahal ia berencana menunjukkan tempat ini pada Madie anak Elaine. Tapi, kalau seperti ini kondisinya. Dia tidak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa membahayakan nyawa Madie dengan membawanya ke sana. Dia harus tahu lebih dulu siapa dalang dari hilangnya Eliza.
***
Gadis itu masih berjibaku dengan segala pemikiran dan foto-foto orang yang dia curigai. Dia menempelkan foto-foto baru. Lalu memberikan tanda dan bukti serta alasan terkuat yang dia membantu dia menguak kebenaran.
Kemudian dia mengingat pembicaraannya malam itu dengan Ronald. Banyak nama yang disebutkan oleh pria itu. Nama-nama asing yang sama sekali tidak pernah melintas di pendengarannya.
“Kau seharusnya tahu, siapa saja musuh keluargamu. Mulai dari kakek, ayah, juga Ibumu.” Pria itu memberikan satu kalimat yang cukup mengguncangnya. Mana pernah gadis itu memikirkan hal serumit itu. Selama ini, dia hidup bak putri yang dilayani dari membuka mata hingga mimpi menyapa. Lalu, dia di hadapkan pada sebuah pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya.
“Tapi Pak, mana aku tahu siapa saja musuh mereka? Dan untuk apa semua itu? Bukankah kita akan membahas kematian Ibuku dan mencari siapa pelakunya?” Madie semakin pusing dibuatnya. Dia tak bisa membayangkan atau memikirkan satu pun nama yang mungkin bisa melakukan itu semua.
“Kau harus mencari tahu! Gali lebih dalam lagi. Dan, apa benar kau kabur dari rumah?” pertanyaan itu membuat Madie terdiam. Ia penasaran, bagaimana pria itu tahu kalu dia sekarang tidak berada di rumah tersebut. Gadis itu memandangi Ronald dengan tatapan tajamnya. Dia tampak kebingungan harus menjawab apa.
“Kau tak perlu takut padaku. Aku adalah orang paling setia pada Ibumu. Elaine adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal. Dan kau tak perlu menjawabnya kalau tak mau. Karena pandangan dan mulutmu yang mendadak merapat itu menunjukkan jawabannya dengan jelas. Kalau kau penasaran kenapa aku bisa tahu hal ini. Itu karena pamanmu pernah ke sini dan mengancam kalau kau tak juga kembali,” ucap Ronald dengan santainya. Satu sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum miring. Seperti sedang mengejek.
Sementara Madie jadi semakin waspada. Kalau Harry sampai bertindak seperti itu. Tentu dia bisa ditemukan dengan segera. Dia harus mencari cara, agar Harry tak turut mencari keberadaan dirinya.
“Jadi, aku harus mencari musuh-musuh itu?” Madie langsung mengalihkan pembicaraannya.
“Tentu saja! Itu tugas pertama yang harus kau selesaikan. Baru setelahnya kita bisa mencari jalan dan kemungkinan-kemungkinan yang lain.” Ronald memberi perintah. Dan gadis itu harus mulai melakukannya. Pencarian pada musuh-musuh keluarganya.
Malam itu menjadi panjang. Mereka berdebat, berdiskusi, juga membedah siapa saja yang mungkin menjadi musuh keluarganya. Gadis itu mencari, setiap relasi, setiap keluarga, juga kenalan yang pernah ia kenal sebelumnya. Dia sibuk sekali. Ronald membantunya dengan teliti. Hingga membuat mereka lupa waktu. Sampai Madie harus tidur di salah satu ruangan di tempat itu. Hasilnya, kini dia memegang banyak nama dan juga wajah yang bisa dicurigai.
Di sini, di kamar ini, dia menempelkan foto-foto itu lagi.
“Kenalan Mama saat ada acara fashion di Paris.”
“Teman Ayah yang selalu datang satu bulan sekali.”
“Relasi yang diputus sepihak oleh kakek.”
“Astaga, banyak sekali!”
Ia merasa frustrasi. Ia mengacak rambutnya sendiri. Ia juga berteriak cukup keras karenanya. Semuanya masih terlampau jauh dari jalan keluar. Ia seperti baru saja memasuki gua gelap tanpa cahaya. Hanya dengan bantuan senter kecil yang bisa habis daya kapan saja. Sementara jalan keluarnya masih sangat jauh dan tak teraba.
Gadis itu pusing sendiri. Merasa titik temunya tak juga ia temui. Masih panjang penyelidikan yang harus dia lakukan. Padahal, dia sangat ingin menjauh dari segala hal yang menghubungkannya dengan semua kemewahan itu. Di satu sisi, dia merasa harus kembali. Agar bisa melihat sendiri. Seperti apa suasana di sana. Siapa saja musuh yang bisa dia simpan dalam ingatannya. Dalam hati, dia akhirnya memutuskan untuk bisa dilacak oleh pamannya.
Karena dia harus kembali ke rumah itu. Untuk mencari tahu lebih banyak hal yang terjadi. Gadis ini tersenyum. Dia merasa keputusannya sudah benar. Dia harus mengalah dulu sekarang. Dia harus merendah dulu. Mencoba mengambil hati dari kakeknya lagi. Agar dia tidak dicurigai.
Ide yang mendadak menyapanya bisa dibilang cukup gila. Tapi, itu adalah satu-satunya cara agar dia tetap bisa pulang ke rumah tanpa dicurigai sedikit pun. Juga agar tempat persembunyiannya tidak bisa dilacak oleh keluarganya.
Ia mengemas kembali pakaiannya. Dia tahu, seharusnya masih berada di sana untuk bekerja. Karenanya, dia memutuskan untuk meminta izin pada Cristine agar diizinkan pergi selama beberapa hari ke depan. Semua barang sudah dia siapkan. Tak ada yang terlewat. Dia pun sudah mengunci pintu kamar. Menutup dinding yang dia jadikan papan itu dengan tirai.
“Nenek!” panggilnya dengan langkah kaki cepat. Dia menuruni anak tangga dengan berlari.
“Pelan-pelan, kau bisa jatuh nanti!” teriak Cristine yang melihat Madie turun dengan begitu cepatnya.
“Ada apa?” tanya wanita itu padanya saat gadis itu sudah berada di depannya.
“Nek, aku mau minta maaf sebelumnya. Tapi, aku harus mengurus beberapa masalah di rumahku. Bolehlah aku izin untuk tidak bekerja selama satu minggu?” ucapnya tanpa ragu. Karena dia merasa Cristine akan memberikan izin itu. Dengan wajah memohon dia menatapnya.
“Kau sungguh akan pulang bukan? Atau kau hanya akan pergi ke tempat persembunyian lain?” selidiknya. Cristine menatap Madie dengan dalam. Tanpa berkedip, dia membuat Madie menganggukkan kepalanya.
“Sungguh aku akan pulang Nek. Aku tidak berbohong!” ucapnya sungguh-sungguh. Dia memang tidak menunjukkan tanda-tanda sedang berbohong. Karena itulah Cristine pun memberikan izinnya.
“Baiklah, satu minggu! Atau kau akan di pecat!” jawabnya tegas.
“Baik Nek!” gadis itu langsung berhambur memeluk Cristine dengan perasaan senang.
“Terima kasih! Aku akan kembali minggu depan! Jangan biarkan siapa pun masuk ke kamarku. Aku sudah membayarnya untuk bulan ini.” Dia memberikan permintaan yang terdengar seperti sebuah perintah yang harus dipatuhi oleh Cristine.
“Baiklah, tidak akan ada yang masuk ke dalam kamar. Asal kau setuju membersihkan kamar itu sendiri saat pulang nanti!” balas Cristine. Dia menguji, apakah gadis itu masih akan setuju atau tidak dengannya.
“Tak apa. Akan aku bersihkan sendiri. Aku pergi sekarang!” jawabnya. Dia memeluk Cristine lagi. Lalu dia beranjak pergi. Melambaikan tangan pada wanita tua itu. Akhirnya Cristine sendirian lagi di sana.
“Apa yang ada di dalam kamarmu?” gumam Cristine. Dia tak ambil pusing akan hal itu. Dia hanya sedikit merasa sedih karena harus sendirian lagi selama satu minggu. Kini, dia harus mengalami hari-hari sepi seperti sebelumnya. Padahal, dia ingin sekali tinggal di sana dengan seseorang yang bisa diajaknya berbicara.
“Tak apa, satu minggu tidaklah lama!” dia berbicara sendiri. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
Di sisi lain, Madie yang berjalan dengan ranselnya dicegah oleh John.
“Kamu mau kemana Nona?”
“Bukan urusanmu!” balasnya ketus. Gadis itu masih kesal akan kejadian tadi pagi dengannya. Ia terus melangkah tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Ia terus melangkah hingga ke jalanan besar. Mencegah taksi dan meminta di antarkan ke salah satu tempat wisata. Kenapa dia memilih ke tempat wisata? Karena dia ingin terlihat sedang menikmati liburan. Bukan kabur dari rumah.
Gadis itu sudah merencanakan semuanya di kepala. Pergi ke salon, menata rambut, membeli wig, dan berbagai macam hal yang diperlukan lainnya. Dia menikmati setiap wahana di sana dan berfoto seolah tak ada masalah apa-apa. Dia ingin menunjukkan pada kakeknya, bahwa dia memang liburan. Dan tidak ingin diganggu sama sekali.
Dia langsung menghubungi Eddy. Teleponnya memang tidak langsung diangkat. Tapi, pada akhirnya tersambung juga.
“Halo, Kek. Aku mengalami masalah. Aku baru sadar kalau akun sosial mediaku ada yang meretas. Astaga, seharusnya aku bisa mengunggah banyak foto liburanku. Aku kesal sekali rasanya!” dia mengoceh panjang. Sementara Eddy yang berada di seberang telepon terdiam. Dia sama sekali tidak menduga kalau gadis itu akan menghubunginya dan mengatakan hal seperti itu.
“Madie? Ini kamu Mad?” balas Eddy merasa tak percaya.
“Astaga kakek, ada berapa sih cucumu? Apa kau tidak bisa mengenali suaraku? Aku ingin akun itu kembali! Aku akan menghajar orang yang sudah berbuat seenak jidatnya karena sudah mengambil akunku tanpa izin!” gadis itu berbicara seperti madie yang dikenal oleh kakeknya. Dia harus bersikap kasar, tak sopan dan mementingkan dirinya sendiri. Karena seperti itulah karakter yang terbentuk akan segala fasilitas yang dia dapatkan dari keluarganya.
“Tenang Mad, tenang, itu semua kakek yang lakukan. Kakek tidak ingin ada pembicaraan buruk tentang keluarga kita. Mereka berkata kamu kabur dari rumah. Dan kakek tidak ingin hal itu tersebar. Karenanya, kakek terpaksa melakukannya. Maaf. Oke, akunmu akan kembali seperti semula. Tapi, di mana kamu sekarang?” Eddy mengaku dan langsung memberikan alasan.
“Aku dalam perjalanan pulang! Aku tutup teleponnya sekarang!” ucapnya. Gadis itu langsung menutup tanpa menunggu tanggapan dari Eddy.
Dia mengembuskan napas panjang. Satu masalah teratasi. Dia bisa kembali ke rumah itu tanpa akan diawasi. Dia juga sudah mengumpulkan banyak foto. Tentu editan! Sebagai bukti dia sedang berlibur. Kini, dia bisa melihat dalam jarak dekat. Siapa-siapa saja yang kawan dan yang lawan.