Setelah mengecek CCTV ternyata tidak ada rekaman yang mencurigakan. Semuanya aman. Tak ada tanda-tanda pergerakan dari dalam ruangan. Tapi, Ronald bukan orang bodoh yang akan percaya begitu saja dengan apa yang dia lihat. Barang digital tentu akan mudah dimanipulasi. Dia sudah menebak. Kalau video itu pasti sudah ada yang merusaknya.
“Sial!” Dia mengumpat kasar. Merasa telah kecolongan. Dan kini, dia harus lebih hati-hati lagi untuk menjalani kesehariannya. Karena dia sadar, ada orang lain yang tahu akan apa yang sudah dia lakukan. Eliza tidak mungkin kabur sendiri. Pasti ada orang luar yang datang dan membantunya.
Dengan perasaan kesal, dia membanting segala benda yang ada di ruangan tersebut.
“Cepat panggil tim paling baik yang bisa memperbaiki video ini. Aku tidak mau tahu. Lakukan secepatnya!” perintahnya. Dengan gurat kemarahan yang terpampang nyata. Pria itu keluar dari ruangan dengan segala amarah yang membumbung dalam hatinya.
Tidak ada jalan lain, selain menutup tempat itu untuk sementara. Dan dia harus menjauh dari sana untuk waktu yang lama. Pikirnya, akan ada kejadian lagi dalam waktu dekat. Jika dia masih berada di sana. Maka, dia bisa terkena masalah juga.
Bagaimanapun caranya, dia harus bersih. Tak boleh ada catatan buruk tentang dirinya. Dia harus bisa memperoleh banyak dukungan untuk sebuah proyek yang sudah lama dia idamkan. Kalau sampai gagal, tidak ada hal yang bisa membuat dia untuk tetap bertahan.
Dengan langkah panjang. Dia segera berjalan menuju mobilnya. Dia mengirimkan pesan pada bawahannya untuk selalu waspada. Agar tidak kecolongan lagi. Pria itu meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Karena dia sudah merasa tidak aman berada di sana. Sebelum semua kebenarannya terbongkar. Dia harus tetap menjaga jarak aman.
***
Gadis itu sedikit risi dengan rambut palsunya. Rasa gatal itu cukup membuat dia kepayahan. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau tidak melakukan itu. Dia tidak akan bisa berakting dengan sempurna nanti. Dia memilih turun dari taksi. Lalu berjalan kaki sedikit jauh. Lalu, mencegat lagi taksi yang baru. Dia tidak ingin gerakannya terlacak. Dia tentu tidak mau posisi persembunyiannya terbongkar. Karena itu, dia terus berganti taksi. Hingga akhirnya sampai di depan rumah keluarganya.
“Aku tidak menyangka, Anda adalah Nona muda dari keluarga Anderson?” si sopir taksi berbicara sok akrab. Tapi, madie membalasnya dengan acuh.
“Tidak perlu banyak bicara. Ini uangnya!” balasnya tanpa memandang wajah sopir tersebut.
Gadis itu turun dengan langkah anggun. Membawa beberapa barangnya. Di depan rumah, sudah banyak mata menunggunya. Memandang pada setiap gerakan kecilnya. Dia berjalan mendekat, tanpa komando amanda datang padanya untuk mengambil barang bawaan yang sebenarnya tidak seberapa berat.
“Nona, akhirnya anda pulang!” pekik Amanda. Gadis itu tentu merasa sangat bahagia, karena sosok majikannya sudah kembali ke rumah itu. Dia merasa lega, ternyata majikannya itu hanya pergi berlibur. Bukan mendapatkan hal buruk seperti ibunya. Atau kabur dari rumah seperti yang sudah dibicarakan oleh banyak orang di sekitarnya.
“Manda, aku ingin kamarku dibersihkan dan dikosongkan!” perintahnya.
“Dikosongkan?” Amanda mengernyit tidak mengerti. Sementara itu, rekan kerjanya yang lain membungkuk pada Madie saat gadis itu melewati mereka.
“Jangan banyak bertanya, lakukan saja!” perintahnya lagi. Gadis itu segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu. Madie langsung merebahkan dirinya.
“Nona, barang apa saja yang harus saya keluarkan?” dia mencoba mendapatkan petunjuk lebih rinci lagi. Karena pikirnya terlalu banyak barang yang harus dikeluarkan.
“Ah, nanti saja, kau bisa keluar sekarang!” perintahnya. Madie mendadak berubah pikiran. Dia yang awalnya ingin kamarnya dikosongkan malah menyuruh asistennya untuk keluar. Karena rasa gatal yang dia rasakan di rambutnya semakin terasa menyusahkan. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak ingin kecolongan. Jika saja kamar itu telah dipasang kamera pengawas. Bisa ketahuan nanti kalau dia telah berbohong pada kakeknya.
Setelah berada di dalam kamar mandi. Dia segera membuka rambut palsunya. Menggaruk bagian yang gatal secara langsung memang sangat melegakan. Rasanya seperti terbebas dari sebuah kurungan. Dia gantung rambut palsunya agar tidak kusut. Kemudian dia juga memilih untuk segera mandi saja. Baru setelah itu dia akan mengosongkan kamar. Karena dia harus mencari posisi kamera tersembunyi yang mungkin saja sudah dipasang oleh sang kakek, atau oleh sang ayah.
Dalam guyuran air shower dia masih berkutat dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Termasuk saat nanti dia harus bertemu dengan sang kakek. Dia harus bersikap biasa dan tak peduli. Agar tidak dicurigai oleh kakeknya.
Di luar kamarnya, Antoni mengetuk pintu. Amanda sudah menjelaskan. Kalau Nona mudanya sedang mandi dan tidak bisa diganggu.
“Maaf Tuan, Nona sedang mandi. Nanti, saya akan memberi tahu Anda kalau Nona sudah selesai dengan semua hal yang dia butuhkan,” ucapnya sopan. Tentu dia tidak ingin berada diposisi sulit hanya karena mengizinkan Antoni masuk ke kamar Madie. Walau dia adalah ayah kandungnya. Tetap saja, gadis itu mempunyai hak atas kamarnya sendiri.
“Baiklah, katakan padanya untuk segera turun. Kakeknya sedang dalam perjalanan ke sini, jadi pastikan dia turun. Atau kamu akan saya pecat!” ancamnya. Amanda hanya mengangguk patuh. Antoni memilih untuk mengakah dan langsung turun. Dia harus menjamu sang mertua agar tidak kehilangan perhatian darinya.
Sebenarnya, Amanda tak merasa takut akan ancaman itu. Karena dia sudah diberitahu oleh Madie berkali-kali. Kalau dia berurusan dengan dirinya secara langsung. Apa pun yang terjadi, jika bukan perintah darinya. Maka bukan sesuatu hal yang perlu dipikirkan. Madie telah menjamin bahwa tidak ada orang lain yang bisa memecat Amanda selain dirinya sendiri.
Amanda mencoba mengetik pintu kamar Madie. Gadis itu baru saja keluar kamar dengan handuk yang masih berada di kepalanya.
“Ada apa lagi, Man?” balas Madie dari dalam kamar.
“Maaf Nona, Tuan Antoni berkata kalau Tuan besar akan segera tiba. Anda diminta untuk turun dan ikut menyambutnya!” balas Amanda dari balik pintu. Dia masih tidak diizinkan masuk ke dalam kamar sang majikan. Jadi dia hanya bisa berbicara dari tempatnya berdiri sekarang.
“Mereka semakin menyebalkan saja. Bukannya aku yang harus disambut di sini? Huh, katakan saja aku akan turun kalau sudah selesai. Aku tidak suka terburu-buru!” balasnya. Madie tidak bisa melepas handuk itu di dalam kamar terbuka. Dia harus mengeringkan rambutnya di dalam kamar mandi. Agar kemungkinan buruk terekam kamera bisa dia hindari. Hal itu membuat dia membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebodo amat kakeknya sudah tiba atau belum. Dia harus bisa menjaga dirinya sendiri sekarang. Karenanya, dia harus ekstra hati-hati dalam segala hal mulai sekarang.
Sementara itu, Amanda ragu. Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu pada Tuannya. Walau dia memang tidak akan di pecat oleh mereka. Tapi, dia merasa tidak enak hati. Mencoba memikirkan kaya-kata yang pantas dan sopan dalam sepanjang langkah menuju tempat Antoni berada.
“Maaf Tuan, Nona bilang, kalau dia membutuhkan waktu ekstra. Dia akan turun jika sudah selesai.” Dia tak mungkin mengatakan soal kekesalan madie pada mereka. Tentang siapa yang seharusnya disambut dan betapa menyebalkannya sang ayah.
“Astaga, gadis itu bertindak sesuka hatinya lagi. Baiklah-baiklah, kau bisa pergi!” balas Antoni tak mah ambil pusing. Dia kembali fokus pada ponsel yang ada di genggamannya. Ada orang yang sedang dia hubungi secara intens akhir-akhir ini. Tak ada satu orang pun yang tahu tentang masalah tersebut.
Eddy tiba, seperti biasa sambutan dari para karyawan yang ada di sana cukup memuakkan bagi Madie. Gadis itu melihat dari jendela kamarnya. Melihat mereka membungkuk dan memberi hormat pada seorang pria tua yang hanya fokus pada kekayaan dan kekuasaan membuat dia merasa muak. Menurutnya, tidak perlu melakukan hal seperti itu. Rambut palsunya sudah dia pasang dengan baik. Tapi, dia masih tidak ingin turun menemui mereka. Sayangnya, tanpa dia duga. Pria tua itu malah menuju kamarnya. Berjalan menaiki anak-anak tangga. Lalu berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Ia mengetuknya pelan.
“Mad, kau baik-baik saja?” panggilnya.
Gadis yang sedang tiduran di tempat tidurnya gelagapan dan bergegas merapikan diri. Memastikan posisi rambutnya aman dan tidak terlihat aneh. Barulah dia berjalan dan menuju pintu untuk segera membukanya.
“Hai, Kek, aku baik. Bagaimana dengan kakek?” balasnya sambil bergelayut di lengan kakeknya.
“Tidak ada yang baik selama kau tidak ada di rumah! Kenapa kamu tidak bilang jika ingin liburan?” balasan sang kakek di luar dugaannya. Dia tidak mengira akan mendengsr balasan seperti itu. Dia belum menyiapkan balasan yang sesuai untuk pernyataan yang menurutnya sedikit berlebihan itu.
“Ah, kakek bisa saja. Aku hanya tidak ingin membuat kakek kerepotan. Aku ingin menyendiri dan menghabiskan banyak waktu untuk memenangkan pikiran. Kakek tahu, kehilangan Ibu terlalu sulit untukku.” Dia mengarang alasan lagi. Agar tidak dicurigai.
“Kau tidak tahu seberapa cemasnya kakek saat tahu kau tidak adai vila? Sementara semua barangmu juga masih ada di sana. Kau hilang berhari-hari. Siapa yang tidak cemas dengan hal itu?” Eddy memprotesnya. Mencoba mengutarakan akan kecemasannya.
Madie tersenyum, dalam hati dia berkata. Kau sungguh cemas padaku? Atau cemas pada harta yang mungkin akan jatuh pada tangan menantu yang tidak kau sukai itu?