Gadis itu dipeluk erat oleh sang kakek. Dia masih harus bersikap sopan dengan membalas pelukannya. Walau raut wajahnya menunjukkan hal yang berbeda. Tapi, dia harus menyajikan senyum pada sang kakek agar rencananya bisa berjalan dengan lancar.
“Mad, harusnya kau turun! Bukan kakekmu yang sampai harus menyusul kamu ke kamar seperti ini!” ucap Antoni dengan nada tidak suka.
Gadis itu memutar bola matanya kesal. Dia sangat hafal gelagat ayahnya. Si penjilat. Batinnya.
“Tak apa, aku hanya tidak sabar untuk segera bertemu dengan dia.” Jawaban Eddy membungkam mulut Antoni. Dia tidak mempunyai alasan untuk membahas hal itu lebih panjang lagi. Dia hanya bisa diam dan memandangi mereka berdua yang sedang berpelukan.
“Aku juga kangen sama kakek!” jawabnya. Sengaja dia melirik sang ayah dengan tatapan yang sama tajamnya. Baginya, seorang penghianat seperti ayahnya seharusnya tidak ada lagi di muka bumi ini. Dia adalah alasan paling mendasar apa yang terjadi pada Ibunya.
“Ayo kita turun!” ajaknya. Eddy berkata banyak hal. Gadis itu membahasnya dengan antusias.
“Lalu, bagaimana dengan janjimu pada kakek? Kau akan segera belajar berbisnis?” pertanyaan itu terlontar saat mereka tepat baru saja duduk di ruang makan. Hari memang sudah terlewat sore untuk makan siang. Dan terlalu awal untuk makan malam. Tapi, kalau sudah diberikan perintah oleh sang Tuan. Para asisten rumah tangga itu hanya bisa menurut saja.
Gadis dengan rambut palsu itu melirik ayahnya sebelum menjawab pertanyaan dari sang kakek. Dia terlupa akan hal ini. Hal yang ingin sekali dia hindari. Tapi sekarang, dia malah terjebak. Semacam ingin mengambil anak biaya langsung dari dalam kandangnya. Tentu harus berani melawan sang induk buaya. Saat itu, Antoni pun sedang melirik ke arahnya. Pria itu penasaran apa yang akan dijawab oleh anaknya itu. Dengan tatapan penuh rasa penasaran dia terus memerhatikan sang anak.
“Kakek, aku baru saja tiba di rumah. Dan kakek sudah membahas tentang hal ini? Kakek ingin aku benar-benar kabur dari rumah ya?” ucapnya manja. Dia menarik-narik lengan Eddy. Bersikap seperti anak kecil yang tidak ingin dipaksa melakukan sesuatu. Mendengar itu, Eddy tertawa. Dia mengelus rambut Madie. Sementara gadis itu merasa takut rambut palsunya akan tergeser.
“Baikah-baiklah, maafkan kakek, kalau kau sudah cukup beristirahat. Katakan, kapan kau siap belajar. Maka kakek akan segera siapkan semua yang kamu butuhkan!” ucapnya sambil tersenyum. Dalam hatinya, dia tentu tidak ingin kehilangan sang pewaris. Untuk masa sekarang, dia harus lebih hati-hati lagi. Dia tidak ingin cucunya mendadak hilang dan tak bisa dihubungi lagi.
“Terima kasih banyak atas pengertian kakek! Aku sayang kakek!” jawabnya riang. Gadis itu kembali melirik Antoni yang tampak gugup karena fokus Eddy hanya pada cucunya.
“Kau sudah besar, bersikaplah yang sopan!” sahut Antoni. Pria itu hanya ingin didengar. Walau tak dituruti, tak apa. Dia hanya ingin membuat mereka berdua sadar. Bahwa masih ada dirinya di rumah itu. Dan dia masih mempunyai hak untuk berada di posisinya.
“Biarkan saja, kalau tidak padaku. Akan bermanja pada siapa dia? Ibunya sudah tiada. Padamu? Yang sudah punya selingkuhan dan anak haram?” jawaban dari Eddy sungguh mengejutkannya. Dia sama sekali tidak menduga, mertuanya akan mengungkit hal tersebut tanpa rasa ragu. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ucapan Eddy langsung membungkam mulutnya. Hal itu membuat madie tersenyum puas. Ya, ayahnya memang pantas mendapatkan perlakuan semacam itu. Dia tidak seharusnya terlalu percaya diri akan posisinya. Karena sudah melakukan pengkhianatan besar pada keluarganya sendiri.
“Kenapa diam Ayah? Haruskah aku bermanja padamu? Apakah kamu masih menyayangi aku? Bukankah anak laki-laki adalah anak yang sangat kau inginkan? Ah, aku jadi iri padanya. Tapi, rasanya tak perlu. Betul kan kakek? Aku tidak perlu merasa iri pada siapa pun kan?” gadis itu memang sudah besar. Tapi dia sengaja menunjukkan rasa manja itu di depan sang ayah. Agar pria itu melihat dan memerhatikan. Apa tanggapan dari Eddy tentang hal yang diucapkan oleh dirinya.
“Tentu tidak! Untuk apa kau merasa iri pada orang lain yang tidak punya apa-apa. Semua yang ada di sini milikmu, semua yang kakek miliki milikmu!” balasnya. Dia lagi-lagi mengusap kepala Madie. Hal yang membuat gadis itu merasa takut kalau dia ketahuan berbohong.
Gadis itu tersenyum puas mendengar ucapan Kakeknya. Dia melirik lagi pada Antoni. Menunjukkan padanya, bahwa dia tidak ada artinya di dalam rumah itu. Dia tidak memiliki kedudukan, atau posisi yang aman. Eddy bisa saja menendang dia kapan saja kalau ia merasa sudah tidak membutuhkan pria tersebut.
“Ah, kita makan saja dulu. Nanti keburu dingin!” alih Antoni. Hanya hal itu yang bisa dia ucapkan saat ini. Dia harus memikirkan cara lain untuk tetap bisa berada di posisinya. Dia harus bersikap tenang hari ini. Kalau dia gegabah mengambil langkah. Bukan tidak mungkin, dia akan segera tersingkir dari posisinya sekarang.
“Ya, tentu, aku sudah sangat lapar!” balas Madie. Perasaannya senang. Karena dia sudah sangat puas melihat ekspresi frustrasi sang ayah. Pria yang tergila-gila akan harta itu memang harus disentil agar tahu diri sedikit.
“Aku dengar, Madie sudah pulang?” sebuah suara mengejutkan mereka. Suara pria yang selama ini selalu membantu Madie itu terdengar kesal sekali. Gadis itu lupa. Gadis itu lupa mengabari pamannya.
“Astaga, aku lupa memberitahu paman!” ucapnya dalam hati.
Mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Di sana, ada seorang pria dengan kemeja yang sudah tidak rapi lagi. Dia terlihat lelah dan kurang tidur.
“Apa yang sudah terjadi padamu paman?” batin Madie. Dia memandangi pamannya dari atas hingga ke bawah. Tidak seperti paman yang biasa dia lihat dengan tampan dan rupawannya.
“Hai Paman!” sapanya. Mencoba mencairkan suasana. Perasaannya sudah tidak tenang. Karena dia tahu. Sang paman pasti akan marah besar padanya.
“Hai Mas! Aku harap kau bersenang-senang atas liburanmu!” balasnya. Dia menatap tajam pada Madie. Gadis itu mengangguk pelan.
“Ayo makan Harry! Ambilkan piring untuknya!” perintah Eddy. Seorang asisten bergerak cepat sesuai dengan apa yang sudah dia perintahkan. Meletakkan piring itu di samping tempat duduk Madie. Pria itu menyeret kursi dengan kasar. Lalu duduk di sana sambil menajamkan pandangannya pada keponakannya. Hal itu bahkan membuat gadis tersebut kelabakan dan hanya bisa menelan ludah saja.
“Aku sudah lama tidak makan enak seperti ini. Kasusku banyak sekali Paman. Terima kasih atas pengertiannya!” ucap Harry berbasa-basi. Dalam hati, dia ingin menunjukkan pada keponakannya itu. Bahwa penyelidikan yang sedang dia lakukan masih belum menemui titik terang. Setelah hari dia memberikan semua tugas itu pada pamannya. Lalu, sekarang dia muncul secara mendadak di rumah tanpa memberi satu patah kata pun padanya. Kalau saja tidak ada Eddy di sana. Dia sudah membuat gadis itu meminta maaf dan menjelaskan semua hal yang sudah terjadi selama dia pergi dari vila di tepi pantai itu.
“Ah, kau bisa saja. Ayo makan!” balas Eddy.
Mereka menikmati santap sore itu bersama-sama. Dalam kepala keempat orang tersebut memikirkan hal masing-masing. Eddy memikirkan cara bagaimana membuat cucu satu-satunya menurut dan melakukan semua perintahnya. Sementara Antoni sedang memikirkan cara bagaimana dia bisa bertahan di sana. Mempertahankan posisi dan jabatannya. Juga tentang alih nama atas beberapa aset mendiang istrinya. Di sisi lain, Harry pusing memikirkan banyak praduga dan bukti yang harus dia matangkan. Agar semuanya bisa semakin jelas. Dan Madie, ingin menggali semua hal yang belum dia ketahui. Seperti rencananya dengan Ronald.
Tak banyak obrolan. Eddy pun segera pulang setelah memastikan kondisi cucunya baik-baik saja. Dia pun sudah memberi perintah untuk semakin ketat mengawasi gadis itu pada semua anak buahnya. Antoni pun sama saja. Setelah Eddy pulang, sudah tak ada hal lagi yang menurutnya perlu dia bicarakan dengan anaknya. Terlebih ada Harry yang terus saja menempel pada gadis itu. Seakan dia berkata pada Antoni lewat tatapan matanya untuk tidak dekat-dekat dengan Madie.
Mereka berdua sedang duduk di balkon kamar. Dengan jus jeruk dingin dan beberapa potong melon di piring.
“Kau sebenarnya kemana sih?” Harry sungguh penasaran. Dan ingin sekali menjitak kepala gadis yang membuat dia selalu dalam masalah itu.
“Tenanglah Paman, aku berada di tempat aman. Paman tidak perlu khawatir, aku sudah memastikan kalau tidak ada yang mengenali aku di sana.” Madie menjawab dengan santainya.
“Lalu, kenapa kamu kembali ke sini? Setelah kau berkata aku yang harus mengurus semuanya di sini?” desaknya. Dia harus tahu apa rencana gadis itu. Agar dia bisa mengimbanginya.
“Aku harus menemukan beberapa informasi. Dan informasi itu hanya bisa aku dapatkan kalau aku kembali ke sini. Apa orang itu masih sayang ke sini setiap satu bulan sekali?”
“Siapa? Pengacara ayahmu itu?” tebak Harry.
Gadis itu mengangguk. Mengambil sepotong melon dan memakannya.
“Paman, aku harus tahu beberapa hal. Apakah paman pernah dengar tentang perusahaan mana saja yang pernah diputus sepihak oleh kakek? Atau siapa-siapa teman Ibu yang sering dia temui? Termasuk musuh-musuh ayahku juga. Aku butuh semua itu untuk bisa menggali bukti lebih banyak,” ucapnya tenang. Dia mengatakan itu sekaan mengatakan kapan bisa bertemu lagi. Sementara Harry yang mendengar itu langsung terkejut. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu dalam penyelidikan ini. Bagaimana gadis yang hanya tahu dilayani bisa memikirkan hal itu?
“Aku akan cari tahu dan memberikan informasinya padamu. Tapi, katakan padaku. Dari siapa kau mendengar hal ini? Sejak kapan kau memedulikan tentang mereka? Atau ada orang lain yang sedang berada di pihakmu sekarang? Katakan! Siapa dia?” desaknya. Harry harus mendengar semuanya. Dia harus tahu segala hal untuk bisa melindungi keponakannya. Dia tidak boleh lengah sedikit pun. Semua hal harus berada dalam genggamannya.
“Paman tenang saja. Aku bisa jaga diri. Paman akan tahu semua pada waktunya nanti. Dan ya, sebenarnya aku butuh beberapa rambut palsu. Bisa tolong bawakan?” gadis itu berdiri dan masuk ke dalam kamar. Diikuti oleh pamannya. Kemudian dia buka rambut yang ia kenakan.
“Seperti ini!” ucapnya santai.
“Kau benar-benar selalu mempunyai hal baru untuk bisa menyiksaku! Kau berpura-pura liburan pada kakekmu? Pintar sekali. Tapi ingat, kakekmu juga tidak bodoh. Kau pasti dalam pengawasan ketat kali ini. Jangan harap kau bisa kabur-kaburan lagi!” jawab Harry dengan kesanya. Dia pernah diseret tengah malam dari rumahnya karena Eddy mengetahui bahwa cucunya itu tidak bisa dihubungi dan tidak ada di vila. Tapi, gadis itu dengan santainya meminta untuk dibelikan rambut palsu padanya.
“Ayolah Paman, pada siapa lagi aku bisa meminta tolong? Ayah? Kakek? Mereka hanya memikirkan uang, kekuasaan, dan jalannya perusahaan. Dia bahkan menanyakan kapan aku bisa belajar bisnis. Padahal dia baru melihatku kembali ke sini.” Gadis itu benar-benar kesal. Tapi, mau bagaimana lagi. Memang seperti itu keadaannya.
“Baiklah, jangan merengek. Kau bisa atasi itu sendiri nanti. Aku tidak mau tahu! Dan satu hal lagi! Kau harus mengatakan segala hal padaku! Kalau kau sampai kabur lagi. Aku akan mencarimu sampai ujung dunia. Jadi, jangan macam-macam!” ancam Harry. Dia memperingatkan keponakannya untuk menjaga sikapnya. Selama dia bisa mengontrol itu akan lebih baik. Tapi, kalau gadis itu berulah lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa nanti.
“Terima kasih, Paman!” dia memeluk Harry dengan erat. Lalu buru-buru memakai rambut palsunya lagi. Merapikannya agar tetap berada di tempatnya. Agar tak bergeser jika kembali diusap-usap oleh orang lain.
“Ah ya, aku punya kabar tentang Ronald. Aku dengar dia adalah mantan pacar ibumu. Jadi, berhati-hatilah dengan dia. Aku akan pergi sekarang!” Harry memeluk gadis itu. Madie membalas pelukannya, gadis itu cukup terkejut mendengar sebuah kenyataan yang baru saja pamannya sampaikan.
“Benarkah? Jadi mereka benar-benar mempunyai hubungan?” tanya Madie masih tidak percaya. Berharap apa uang dia dengar itu adalah sebuah kebohongan pamannya.
“Tenang, mereka hanya masa lalu. Ibumu terlalu cinta pada Antoni. Mana mungkin dia berselingkuh dengan kadar cinta seperti itu. Jangan ragukan ibumu, tetap fokus pada rencana. Oke? Istirahatlah!” Harry keluar dari kamar Madie.
Gadis itu masih tidak percaya. Kalau dia sudah berada sedekat itu dengan orang terdekat ibunya. Pantas saja, pria itu terlihat sangat tidak Terima dengan kematian ibunya. Pria itu juga sedih. Dan bahkan siap melakukan apa saja untuk melakukan penyelidikan dengannya. Kini, dia tahu. Ada sebuah alasan yang sangat mendasar pada pria itu untuk bisa menguak kematian ibunya.