Langkah setiap manusia pasti berbeda. Ada tujuan yang ingin mereka raih. Ada hal yang ingin mereka capai. Ada banyak jalan dengan berbagai macam liku dan rintangannya. Ada pula tanjakan dan turunannya. Kalau tidak mempersiapkan diri dengan baik. Tak sedikit orang yang akan jatuh dan terpaksa harus berputar balik.
Kehidupan ini, mempunyai misteri yang tak hisap dipungkiri. Apa yang akan terjadi nanti. Tak akan ada yang bisa menerka. Tak ada yang bisa meraba. Atau bahkan tentang masa lalu yang pernah terjadi sebelumnya. Ada beberapa sisi sudut pandang yang berbeda. Maka, mengingat masa lalu pun hanya akan berakhir pada titik yang sama. Sebuah penyesalan akan tiba. Saat akhirnya diri merasa bahwa telah membuat yang lain kecewa. Lalu, mencoba menebus dengan berbagai cara. Sayangnya, ada jalan yang tak selalu bisa menerima alasannya.
Manusia, tidak akan pernah bisa terlepas dari harta. Bagaimana tidak, semua hal membutuhkan itu. Hal yang katanya sesepele tidur, juga membutuhkan harta untuk bisa nyaman. Kasur untuk tidur. Lampu yang menerangi. Jangankan pendingin ruangan, sebatas kipas pun membutuhkan uang agar ia bisa bergerak. Semua kenyamanan itu pasti membutuhkannya. Dan untuk itu pula. Banyak orang yang berlomba mendapatkan semua yang dia inginkan. Kekuasaan, kekayaan, dan berbagai macam model kenyamanan yang ada.
Termasuk Eddy, bekerja untuk keluarganya. Menghidupi mereka, memberikan makanan dan tempat tinggal yang layak. Memberikan keamanan, kenyamanan, juga kehormatan. Siapa yang tidak kenal dengan Eddy Anderson. Pria dengan perusahaan besarnya itu telah menduduki peringkat tiga besar di negaranya menyusul dua perusahaan besar lain dalam pendapatannya. Banyak perusahaan yang menawarkan kerja sama. Banyak yang diterima. Tapi, lebih banyak lagi yang ia tolak. Dan dari sekian banyak orang yang merasa sakit hati dengannya. Bersyukur atas kemalangan yang baru saja menimpa dirinya. Kematian sang anak tunggalnya.
Di luar sana. Banyak orang membicarakan hal itu. Merasa bersyukur dan bahkan menyumpahi keruntuhan keluarga tersebut. Otoritas Eddy yang begitu kuat memang tak bisa dipungkiri. Sampai sejauh itu, dia berjuang sendiri. Dibantu oleh menantunya sendiri. Tapi, dia tidak puas dengan hal itu. Dia tidak pernah ingin kekayaannya akan jatuh pada orang yang bukan darah dagingnya. Karenanya, dia bersikeras untuk menarik Madie terjun dalam bisnis yang sudah dia tekuni sejak lama. Tapi, gadis dengan segala macam kebebasannya selalu memberikan penolakan, alasan, dan bahkan kebohongan padanya. Agar gadis itu bisa mengulur waktu terus-menerus. Menghindari sebuah tanggung jawab besar yang pada akhirnya memang harus dia terima.
Atas ucapan Madie. Harry mencari orang-orang tersebut. Orang-orang yang sakit hati akan penolakan Eddy. Termasuk segala caci dan hinaan yang pernah ia katakan pada mereka. Pria itu berbaur dengan mudahnya. Mendapatkan beberapa nama perusahaan dan para pemiliknya.
“Jadi, bagaimana menurutmu?” orang itu bertanya pada Harry.
Pria yang sedang duduk dengan gelas kopi di tangannya menganggukkan kepala.
“Tentu saja aku setuju, kalau kau merasa ini adalah rencana yang akan sukses nantinya. Aku akan bergabung. Untuk apa bergabung dengan perusahaan orang itu. Kalau saja kau tidak menceritakan bagaimana sikapnya padamu. Pasti aku sudah dia hina-hina sekarang.” Cara bicaranya terdengar sangat meyakinkan. Kalau saja Madie melihat bagaimana sang paman berakting. Dia pasti sudah menyarankannya untuk berhenti menjadi pengacara. Menjadi aktor akan lebih banyak untungnya.
“Aku akan segera memberikan kabar selanjutnya. Sarah pasti akan suka mendengar kabar ini. Aku akan bersiap. Kau bisa nikmati kopimu. Aku harus bertemu dia secepatnya!” Thomas menjabat tangan Harry.
Pria itu mengangguk saja dan membiarkannya pergi.
“Tentu, silakan, kau bisa menghubungiku secepatnya setelah kesepakatan dengan Sarah sudah selesai. Kopiku hanya tinggal seteguk, tak perlu mengkhawatirkan aku!” balasnya.
Dia masih terus melihat pada Thomas yang sedang berjalan menjauh dari tempatnya duduk. Saat pria itu sudah jauh dari jangkauan penglihatannya. Barulah dia melonggarkan dasinya. Meneguk habis sisa kopinya. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia sama sekali tidak menyangka. Pamannya itu telah berbuat banyak hal pada orang lain di sekitar mereka. Tak hanya dia, Antoni pun melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Hanya orang-orang yang bisa membuat kantongnya tebal, yang akan dia rekomendasikan pada sang mertua. Hampir tidak ada kesan baik dari orang-orang yang dia dekati dalam beberapa hari ini. Semuanya buruk dan cukup mencengangkan baginya.
Ponselnya berdering. Dia bisa menebak, dari siapa telepon itu berasal. Ya, siapa lagi kalau bukan keponakannya. Dia terus mendesak pamannya untuk segera memberikan daftar nama. Harry memutar bola matanya saat tebakannya itu benar. Dia mengambil napas panjang sebelum dia mengangkat telepon tersebut.
“Ya, ada apa?” sahutnya.
“Bagaimana Paman? Apakah sudah ada kabar? Aku tidak bisa berada di rumah lebih lama lagi. Aku harus segera pergi, sebelum kakek memaksaku untuk belajar bisnis dan segala macam tentang perusahaan itu!” cerocosnya. Dia bisanya menyuruh saja. Lalu mengomel dan menagih hasilnya.
“Santai, aku akan kirimkan nama-nama itu ke ponselmu. Ah, jangan ponselmu. Berikan nomor lain. Dan jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku!” peringatnya. Dia sudah sekali kecolongan, dan dia tidak ingin hal itu sampai terulang lagi. Dia memang sudah meletakkan beberapa pelacak pada barang gadis itu. Setidaknya, dia sudah mengambil langkah awal untuk mengawasi keponakannya lebih ketat lagi.
“Sungguh? Paman sudah mendapatkan semuanya? Baiklah, aku akan memberikan nomor baruku. Tunggu sebentar, nah itu sudah masuk. Tolong jangan disimpan. Aku sudah memberikan peringatan pada paman untuk tidak menyimpannya!” gadis itu benar-benar waspada sekarang. Segala hal dia lakukan dengan sangat hati-hati.
“Aku akan membeli ponsel baru, dan menyimpan nomormu di sana. Tenanglah! Paman akan selalu membantumu!” pria itu mencoba menenangkan keponakannya.
“Dan satu hal lagi, kenapa kau sangat buru-buru sekali? Ke mana kau akan pergi lagi nanti?” selidiknya. Harry mulai mencium gelagat keponakannya akan berulah lagi.
“Tidak ke mana-mana Paman, aku pasti memberitahu Paman kapan dan ke mana aku akan pergi! Tolong kirimkan nama-nama itu sekarang!” gadis itu memohon, atau lebih tepatnya sedikit memaksa dengan nada suara yang memohon.
“Baiklah, tunggu sebentar. Nama-nama ini, bisa sebagai acuan mencari bukti lebih banyak. Dan ya, pengacara Ayahmu tak pernah datang lagi semenjak hari kematian Ibumu. Kau bisa menanyakan hal itu padanya. Kalau aku mencari tahu tentang perempuan itu juga. Pasti ayahmu akan curiga.” Dia menjelaskan posisinya. Kalau dia tidak bisa membantunya pada satu hal tersebut. Karena satu dan lain hal.
“Terima kasih banyak Paman!” jawabnya dengan riang. Seperti biasa. Langsung ditutupnya telepon tersebut. Tanpa menunggu balasan dari sang Paman.
“Anak ini!” geramnya. Tapi percuma saja dia merasa marah atau kesal. Gadis itu tetap keponakan yang harus dia lindungi. Karena tak ada lagi tempat yang bisa tuju selain dirinya.
***
Madie bergegas mengirimkan nama-nama tersebut pada Ronald. Sesuai rencana. Dia sudah berhasil mengumpulkan nama-nama itu. Kini, dia hanya perlu menunggu hasil yang akan diberikan oleh Ronald nantinya. Juga tentang rahasia yang katanya akan ia beri tahu saat waktunya tiba.
Tak ada balasan dari Ronald. Tapi, gadis itu tidak ambil pusing. Dia kembali fokus dengan rencana pelarian dirinya lagi. Tapi, kini dia terjebak berada di kantor. Sang kakek terus memaksanya untuk ikut. Dia tidak punya pilihan selain menurut. Karena, dia cukup ngeri kalau harus menghadapi ancaman kakeknya yang pernah dikatakan pada dirinya.
Gadis itu baru saja selesai membersihkan riasannya. Dia harus buru-buru kembali ke kantor sang kakek sebelum kakeknya merasa curiga. Setelah memastikan rambut palsunya aman. Dia berjalan perlahan keluar dari toilet.
“Terima kasih,” ucapnya pada seorang pengawal yang dia suruh menunggu di depan toilet. Agar tak ada seorang pun yang masuk ke sana selama dia mengenakan toilet tersebut. Di depan toilet ternyata ada beberapa gadis yang menunggu untuk masuk. Tak dipedulikannya mereka. Madie berjalan kembali ke ruangan kakeknya. Pengawal itu membalas dengan anggukan kepala. Lalu kembali mengekor pada Madie. Dia memang ditugaskan oleh Eddy untuk terus mengawasinya.
“Kakek, bolehkah aku pulang? Aku sangat lelah!” rengeknya. Apa lagi yang bisa dilakukan gadis itu selain merengek pada kakeknya? Tak ada. Hanya itu senjata satu-satunya yang dia miliki.
“Kita belum bertemu dengan Alex, masa sudah mau pulang?” Eddy menaikkan kacamatanya. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk bisa mencegah cucunya itu pulang sebelum ia mengenalkan dirinya pada rekan kerjanya.
“Ayolah Kek! Aku benar-benar mengantuk. Apa kakek tidak melihat mataku yang sudah memerah?” dia membelalakkan matanya. Mendekatkan wajah cantiknya ke arah sang kakek. Hingga membuat pria itu harus memundurkan wajahnya agar tak bertabrakan dengan cucunya tersebut.
“Tidak! Kau harus bertemu dengan Alex dan keluarganya. Ini adalah pertemuan pertama kalian. Jadi, jangan coba-coba merayu untuk meminta pulang!” tolaknya tegas. Madie langsung beringsut mundur. Hilang sudah kesempatannya untuk bisa pergi dari lingkungan yang menyesakkan itu.
Eddy mengecek jam tangannya. Sudah hampir waktunya. Dia berdiri.
“Ayo pergi sekarang!” ucapnya pada Madie yang masih berdiri di dekatnya.
“Kita pulang?” peliknya riang. Gadis itu tersenyum semringah. Tapi senyum itu langsung surut seketika. Saat Eddy menggelengkan kepalanya.
“Lalu, kita akan ke mana Kek?” tanya dia masih di tempatnya. Padahal, Eddy sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
“Bertemu Alex!” jawab Pria itu dengan santainya.
“Tapi, kek!”
“Ayo Nona, kita berangkat!” sahut si pengawal. Pria berbadan besar itu menyentuh lengannya. Dia langsung menepis dengan keras.
“Jangan sentuh aku! Aku bisa berjalan sendiri!” tolaknya ketus. Dia sudah merasa kesal pada kakeknya. Eh pengawal itu malah mencari gara-gara dengannya juga. Semakin kesallah dia.
“Maaf Nona.” Pria itu mengekor pada Madie yang berjalan dengan pelan. Hingga jarak mereka dengan Eddy cukup jauh.
“Nona, sebaiknya Anda mempercepat langkah Anda. Tuan Alex tidak akan suka dengan keterlambatan. Dan Tuan besar tidak akan pernah terlambat dalam setiap janjinya! Jika tidak, maka maafkan saya harus-”
“Tidak perlu bawel! Aku akan berjalan lebih cepat! Dasar cerewet!” balasnya ketus. Sejak tadi Madie sudah menahan diri untuk tidak mengomel. Tapi, mendengar ceramah dari pengawal itu membuat dia merasa harus bertindak. Agar dia tidak disepelekan oleh pengawal kakeknya itu. Mau tidak mau, gadis itu mempercepat langkahnya. Dia bergegas masuk dan duduk di samping kakeknya. Walau dalam hati dia sangat ingin menolak pertemuan itu. Tapi, sudah tidak ada waktu lagi. Sepertinya, sang kakek memang sudah merencanakan semua itu sejak lama. Dan baru bisa dia realisasikan sekarang.
“Kek, kalau ini adalah sebuah perjodohan. Aku tidak akan mau! Aku akan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pendamping hidupku!” bisik Madie pada kakeknya. Karena dia tahu, pertemuan itu pasti adalah langkah awal dari deretan perjodohan yang akan dia hadapi nantinya.
“Kau ingin memilih pasanganmu sendiri? Lalu, salah memilih seperti ibumu? Tidak akan pernah aku biarkan hal yang sama menimpamu!” balasnya dengan bisikan yang serupa.
Madie tak terima. Dia menatap kakeknya dengan tajam. Dengan kening yang berkerut dan rahang yang mengeras. Tangannya mengepal. Dia tahu, Ibunya mungkin memang salah memilih pasangan. Tapi, dia tidak suka disamakan seperti itu.
“Tak perlu memandang kakek dengan tatapan setajam itu. Keputusan kakek akan tetap sama!” lanjut Eddy. Dia kembali fokus pada ipad yang dia pegang. Melihat beberapa berkas yang harus dia tandatangani.
Dengan perasaan kesal, gadis itu turun dari mobil. Mengikuti langkah sang kakek dengan malas. Dia tidak akan bisa kabur. Ada pengawal yang teramat siaga menjaga mereka di sana. Jangankan di restoran itu. Di toilet saja pengawal itu menjaga dengan sangat ketat.
Ada seorang pria tampan, kulitnya putih bersih. Dengan mata biru dan hidung yang mancung. Tatanan rambutnya rapi. Kemeja putih dengan jas abu-abu muda yang dia kenalan menambah nilai plus dalam ketampanannya. Siapa yang tidak akan terpana melihat ketampanan seperti itu? Madie pun terpana. Dia sempat tidak berkedip dalam beberapa detik. Lalu sadar diri kalau hal tersebut tidak sopan. Dia menurunkan pandangan. Lalu melihat ke sekitar. Agar rasa kagumnya tidak sampai diketahui oleh siapa pun yang ada di sana.
“Selamat siang Tuan,” sapa seorang pria lain yang lebih tua pada Eddy. Dia adalah Leo, Ayah dari Alex si pria tampan tersebut.
“Selamat siang, ini adalah cucu saya Madie. Mad, ini Leo Ayah dari Alex. Dan ini Ibunya, Stevie.” Eddy mengenalkan dirinya pada keluarga tersebut. Madie pasrah, dia bersalaman pada mereka sambil tersenyum. Tentu dia tidak ingin kakeknya malu pada pertemuan itu. Dia harus menjaga sikap dan ekspresinya. Agar semuanya bisa berjalan sesuai rencana.
“Cantik!” sebuah pujian meluncur dari bibir Alex. Dia sedari tadi sudah memandangi gadis itu. Mengagumi setiap gerak tubuhnya. Wajah yang rupawan, didukung dengan bentuk tubuh yang ideal. Dan hal yang paling penting dia berasal dari keluarga yang terpandang. Semua sempurna. Seorang wanita yang menurutnya cocok untuk berada di sisinya. Bukan soal cinta. Bagi Alex, jika semuanya sempurna. Dia tidak butuh cinta untuk bisa bersama. Tetapi, sebuah perjanjian yang akan saling menguntungkan pihak keluarga adalah jalan penentu paling utama hubungan mereka.