Mendengar pujian itu. Tentu saja senyum Madie terkembang dengan sempurna. Tak hanya dia yang mendengar pujian itu. Kakeknya, juga kedua orang tua pria itu mendengarnya dengan jelas. Para pengawal yang terus mengikuti mereka pun juga mendengarnya.
Memang hanya satu kata yang diucapkan. Tapi cara bicara yang terdengar begitu terbuai membuat semua telinga menerima pujian itu. Karena pujian itu juga. Mereka langsung menatap pada keduanya secara bergantian. Tapi, karena masing-masing tetap diam. Apa lagi Madie terlihat malu-malu karena pujian tersebut. Eddy pun mencoba memecahkan suasana.
“Tentu cantik, dia seperti mendiang Ibunya.” Eddy menimpali pujian tersebut.
“Ah, Ibu lebih cantik dariku Kek,” balas Madie dengan menundukkan kepalanya.
“Baiklah, kita langsung saja. Sudah waktunya makan,” ajak Leo pada mereka semua. Mereka setuju dan berjalan menuju meja yang sudah dipesan.
Meja itu besar, tertata begitu rapi. Dua orang pelayanan berdiri di sisi meja. Menunggu dengan sabar sampai pemilik meja duduk di tempatnya. Dengan lembut dan sangat jantan Alex menarik kursi untuk Madie. Sikap lembutnya itu sedikit membuat gadis tersebut salah tingkah.
“Terima kasih,” ucapnya.
Setelah mereka semua duduk, sajian pembuka disajikan. Sajian salad yang digulung dengan daun selada lalu diiris dalam beberapa potong disajikan di depan mereka. Kemudian makanan utama pun disajikan setelahnya. Menu yang telah dipilih oleh keluarga Leo adalah steik. Daging pilihan yang dipanggang dengan sempurna. Masih berair dan sedikit merah. Disajikan dengan potongan sayur juga saus yang sangat lezat.
“Makan yang ini saja,” ucap Alex pada Madie. Dia memberikan steik yang sudah ia iris kecil-kecil pada gadis tersebut.
“Terima kasih,” jawabnya singkat. Ia sama sekali tidak tahun harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Ketiga orang dewasa yang sedang ada di dekat mereka kembali melirik pada keduanya. Saling tersenyum dan menganggukkan kepala. Merasa rencana mereka sudah menemukan titik hasil yang cukup baik dalam langkah awalnya.
“Madie? Aku dengar, kau sedang belajar bisnis ya?” Stevie membuka obrolan. Pertanyaan itu membuat Madie menghentikan makannya. Dia meletakkan sendok dan garpunya.
Gadis itu melirik pada kakeknya sekilas. Dia merasa topik itu pasti berasal dari kakeknya. Padahal, dia belum melakukan apa-apa.
“Iya Tante, tapi, masih tahap awal sekali. Benar kan, Kek?” gadis itu mencolek lengan kakeknya. Meminta bantuan untuk menjawabnya.
“Ya, dia masih belajar. Karena mau bagaimanapun, hanya dia yang cocok untuk posisi itu. Jadi, bagaimana Alex? Kau bisa membantunya belajar bisnis?” Eddy malah membuat hal itu semakin runyam dengan menawarkan hal itu pada Alex. Kalau hal itu sampai terjadi. Dia semakin sulit untuk kabur dari sana.
“Oh tentu saja, tentu aku bisa. Tenang saja, aku akan mengajari dia dari awal sampai dia lihai nantinya!” tantangan itu disambut dengan antusias oleh Alex. Sama sekali tidak ada niat dia untuk menolaknya. Mendapatkan kesempatan dekat dengan seorang perempuan secantik Madie. Tentu tidak ada yang akan menolak. Apa lagi Alex tahu siapa gadis itu. Juga seberapa banyak kekayaan yang dia miliki.
“Kakek, tidak perlu merepotkan orang lain.” Madie masih mencoba mencari celah untuk bisa lolos.
“Dia bukan orang lain, kakek berencana menjodohkan kalian!” jawaban Eddy membuat Madie langsung tersedak. Hanya dia yang belum mengetahui hal itu. Hingga responsnya cukup membuat dia malu sendiri. Walau awalnya dia memang telah menebak hal itu. Tapi, dia tidak menyangka bahwa hal itu akan disampaikan secara gamblang pada dirinya saat acara makan seperti itu.
Melihat Madie tersedak, Alex langsung mendekat dan memberikan dia air minum padanya.
“Minum dulu, pelan-pelan!” ucapnya penuh perhatian.
“Terima kasih,” jawabnya. Dia meneguk minuman itu beberapa kali. Lalu mengelap mulutnya dengan sapu tangannya.
“Saya permisi sebentar,” pamitnya. Dia langsung berdiri dan melangkah pergi dari meja tersebut. Gadis itu berjalan menuju toilet. Dia harus menenangkan diri di sana. Dia harus mengatur cara untuk bisa terbebas dari penjara yang sedang coba dibangun oleh kakeknya.
“Aku akan menyusulnya!” sahut Alex pada mereka. Para orang tua hanya tertawa melihat tingkah mereka. Menurut mereka. Rencana perjodohan itu sungguh sempurna. Terlebih saat mereka melihat respons keduanya yang sangat manis itu.
Di dalam toilet, Madie mencuci tangannya. Ia membasuh wajahnya agar merasa lebih segar. Dia berdiri sambil memandangi wajahnya di pantulan cermin. Masih ada bekas air di wajahnya.
“Bagaimana ini?” gumamnya. Dia terdiam lagi. Memikirkan cara apa yang bisa dia lakukan untuk menghindar. Dia hanya mendapatkan waktu tujuh hari dari Cristine. Ini sudah empat hari berlalu. Hanya tersisa tiga hari. Dia masih belum mendapatkan informasi lanjutan dari Ronald. Pamannya juga melakukan penyelidikan yang sama. Kalau dia harus terjebak dalam hubungan perjodohan itu. Bagaimana dia bisa kembali ke rumah Cristine dan menjalani kehidupannya secara berbeda seperti yang dia inginkan?
Gadis itu mengambil tisu dari dalam tasnya. Mengelap wajahnya hingga tak ada sisa air di sana. Dia meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa dia pasti akan menemukan cara untuk menghindar dari semua itu nanti.
“Baiklah Mad! Tenangkan dirimu. Dia memang tampan, tapi tujuanmu kembali ke rumah bukan untuk dijodohkan! Jadi, fokus!” ucapnya pada diri sendiri. Dan saat dia keluar dari toilet. Dia cukup terkejut melihat Alex juga ada di sana.
“Kau ingin ke toilet? Tapi, ini toilet perempuan,” ucap Madie asal. Karena tidak tahu harus berkata apa.
Hal itu dibalas dengan kekehan tawa oleh si Alex.
“Tidak, aku sedang menunggu kamu. Bagaimana? Apa ada sesuatu?” balasnya. Dia seperti menangkap sesuatu dari ekspresi wajah Madie yang cukup banyak berubah dari sebelumnya.
“Menunggu aku?”
“Ya, sepertinya, kita bisa berbicara tanpa para orang tua? Bagaimana menurutmu?” lanjutnya. Dia menawarkan diri untuk tidak langsung kembali pada meja mereka sebelumnya.
“Ah, tentu saja. Ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Madie langsung pada inti. Dia tidak ingin terlalu banyak basa-basi. Nanti, dia malah teralihkan lagi fokusnya.
“Ke sini sebentar!” ajaknya. Dia mengajak gadis itu ke arah luar ruangan. Tempat di mana lebih santai dari meja tempat mereka makan sebelumnya.
“Aku ingin kenal lebih dekat denganmu. Terlepas ini adalah perjodohan dari mereka. Tapi sungguh, aku sangat tertarik denganmu!” pujinya. Dia memberikan senyuman paling manis yang dia miliki pada Madie.
Kalau saja Madie dalam kondisi seperti awal mereka bertemu. Gadis itu pasti akan tersenyum malu karena sedang berada di samping kakeknya. Tapi, sekarang berbeda. Mereka hanya berdua. Jadi, ini adalah waktu yang tepat untuk bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan.
“Sungguh? Padaku? Mendengarmu berkata seperti itu membuatku penasaran. Apakah kamu tahu siapa aku?” balasnya. Gadis itu duduk dan menatap langsung pada kedua mata Alex. Membuat pria itu sedikit gugup dan menarik diri. Lalu melihat ke arah lain. Ditembak dengan pertanyaan dan tatapan seperti itu. Tentu membuat siapa saja yang ada di posisinya akan merasa gugup.
“Kau adalah Madie Anderson, cucu dari Tuan Anderson. Siapa yang tidak mengenalmu? Tentu semua orang mengenalmu,” balasnya. Mencoba memuji. Tapi, jawaban yang dia berikan mengecewakan Madie. Setelah mendengar jawaban darinya. Gadis itu langsung hilang rasa sukanya. Wajah tampan tak menjamin semua pria bisa dipercaya ucapannya.
“Kau! Kau tidak mengenalku. Tapi merasa tertarik padaku? Aku curiga, jangan-jangan kau tertarik pada harta kakekku!” tukasnya. Sengaja dia mengatakan itu untuk melihat apa reaksinya.
“Aku tidak mengenalmu? Jangan bicarakan soal harta. Kita sama-sama tahu kalau itu ada pada keluarga kita.” Dia mencoba memberitahu Madie. Bahwa dia memang tertarik padanya. Bukan harta kakeknya. Responsnya memang tak terlalu mengkhawatirkan. Tapi, kenyataan bahwa pria itu tidak mengetahui bahwa dia adalah seorang bintang. Membuat dia merasa aneh. Ada di mana pria itu selama ini?
“Kalau kau hanya tahu aku cucu dari Eddy Anderson. Berarti kau tidak tahu siapa aku. Jadi, aku rasa percakapan kita cukup sampai di sini saja!” balasnya. Gadis itu mengambil sebuah tisu, lalu melipatnya. Diambilnya bolpoin yang ada di dalam tas miliknya. Lalu, dia menuliskan sebuah nama.
“Madie Brown.” Diberikannya tulisan itu padanya.
“Kalau ingin tahu siapa aku, cari dengan nama itu. Walau sekarang aku jadi tak terlalu suka. Tapi, itu adalah namaku. Permisi!” lanjutnya. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Alex di sana sendirian.
Pria itu membacanya, “Madie Brown?”. Keningnya berkerut setelah menyadari bahwa dia telah salah menyebutkan nama gadis itu. Dia mengira, keluarga Anderson akan selalu mengenakan nama belakang keluarganya.
“Sial!” umpatnya. Dia telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya dia mencari tahu siapa gadis itu sebelum pertemuan. Sehingga dia bisa melakukan rencananya dengan sempurna.
“Mad! Tunggu!” dia mencoba mengejar. Tapi, beberapa menit yang lalu. Gadis itu sudah berpamitan pada mereka bertiga. Mengatakan bahwa ada urusan mendadak dengan Pamannya. Harry, selalu saja dia yang dijadikan alasan.
“Maaf Kek, aku harus segera pergi, Paman menungguku. Katanya, ada masalah dengan gadis pengganti itu,” bisiknya pada Eddy. Pria tua itu cukup terkejut mendengarnya.
“Om, Tante, maaf sekali, ada urusan mendesak yang harus saya selesaikan. Pemotretan tidak berjalan dengan lancar. Saya harus mengecek secara langsung. Dan sebenarnya, itulah pekerjaan saya. Om dan Tante tahu itu bukan?” Pamitnya. Tapi, karena sudah kesal dengan kepura-puraan si Alex tadi. Dia jadi ingin membuat kedua orang tuanya juga merasakan kekesalan yang sama dengannya.
“Ah, kalian tidak tahu? Pantas saja Alex juga terkejut saat mendengar nama panjangku tadi. Sekali lagi maaf, saya harus pergi karena ada masalah yang sangat mendesak. Aku harap, kalian menikmati makan siang ini. Selamat tinggal!” ujarnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia membalas kekecewaan itu secara kontan.
“Jangan ikuti aku!” ucapnya pada pengawal.
“Mad, tunggu!” panggilnya. Gadis itu tidak mendengarnya sama sekali. Dia terus melangkah pergi dari sana tanpa mendengsr panggilan dari mereka. Saat itulah Alex tiba di meja mereka. Dan mendapati suasananya sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
“Kejar dia! Pastikan dia tetap aman!” Perintahnya sang pengawal.
“Baik Tuan!” sahut pengawalnya.
“Maafkan aku, gadis itu masih tidak bisa menerima kematian Ibunya. Emosinya masih labil. Aku harap kalian tidak tersinggung atas kejadian ini. Kita bisa atur pertemuan kedua nanti. Aku harus segera menyusulnya. Makan siang ini sungguh lezat, Terima kasih.” Eddy harus bersikap tenang dan memberikan sedikit alasan untuk kebaikan dia dan Madie. Gadis itu membuat dia marah kali ini. Dia tidak akan tinggal diam atas perbuatannya yang cukup tidak sopan itu.
Dengan langkah cepat pengawal itu berlari dan mencegah Madie yang akan naik ke dalam taksi. Sesuai perintah dari Eddy. Dia mencoba membawanya masuk ke dalam mobil. Tapi Madie terus memberontak. Membuat tugas dari pengawal itu jadi sedikit terhambat.
“Lepaskan! Atau aku akan berteriak!” ancamnya.
“Maaf Nona, ini perintah Tuan besar!” balasnya tak mengalah.
“Aku benar-benar akan berteriak sekarang!” ancamnya lagi. Masih berusaha untuk menggertak si pengawal. Tapi, tetap tidak bisa.
“Teriak saja! Masukkan dia ke dalam mobil!” suara Eddy membungkam dirinya. Kini, gadis itu harus pasrah mendengarkan segala macam omelan dari kakeknya.
Gadis itu pada akhirnya masuk sendiri ke dalam mobil. Ditariknya sebuah napas panjang. Lalu dia hembuskan perlahan. Dia harus bersiap untuk mendengar banyak makian hari ini.
“Kalau kakek ingin marah. Nanti saja di rumah! Boleh?” tawarnya.
“Kau masih bisa bercanda seperti itu setelah membuat Kakek malu di hadapan Tuan Leo? Kau ini terlalu liar seperti Ibumu!” bentaknya. Tak ada harapan. Dia harus mulai mendengarkan omelan kakeknya dari detik itu juga.
“Tapi, pria itu tidak tahu siapa aku kek. Dia hanya tahu siapa kakek. Bagaimana mungkin aku tidak kesal dengan hal itu.” Dia masih mencoba membela diri. Mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat mereka berdua sedang berbicara tanpa mereka.
“Karena itu, jadilah pebisnis. Dan buat mereka semua tahu siapa kamu! Kau malah memilih bidang apalah itu!” timpal kakeknya tak mau kalah.
“Kek! Serius? Kakek membela dia karena dia tidak mengenalku? Ayolah kek, siapa yang akan hidup dengan orang yang tidak mengenali pasangannya sendiri? Dia bahkan tidak tahu siapa namaku. Madie Anderson katanya. Aku adalah bintang ternama, namaku ada di mana-mana. Tapi, dia tidak tahu? Dia tidak tahu, atau tidak mau tahu? Ataukah dia tidak berada di bumi dalam waktu yang lama? Sampai dia tidak mengenal bintang terkenal seperti aku?” gadis itu terus membantah. Dia tidak suka disepelekan. Dia susah bekerja dengan sekuat tenaga untuk membesarkan namanya. Untuk bisa mencapai segala cita-cita yang ia inginkan. Tapi, hal itu malah disepelekan. Sungguh sakit hatinya.
“Mad, jaga bicaramu. Dia pria baik. Dari keluarga baik dan terpandang. Tentu dia tidak tahu siapa kamu. Dia fokus bekerja dengan baik selama ini. Mana pernah dia melihat majalah atau acara televisi yang kau bintangi itu!” Eddy masih tidak mau disalahkan atas pilihannya. Karena dia merasa Alex adalah pria paling cocok untuknya.
“Manusia macam apa yang tidak melihat televisi? Robot apa zombi?” sinisnya. Gadis itu tentu sakit hati mendengar segala ocehan kakeknya.
“Cukup! Kau sudah bersalah hari ini. Kau harus meminta maaf pada mereka secara langsung. Kakek akan menjadwalkan pertemuan kedua kalian nanti! Jangan mencoba untuk menolak! Ini perintah! Atau aku akan mengambil semua fasilitas yang kau miliki sekarang!” ancamnya.
“Fasilitas yang mana? Aku bahkan mempunyai uang sendiri dari kerja kerasku!” gadis itu hanya menggumamkannya. Dia merasa lelah saja berdebat dan tak ada ujungnya. Dia tahu, kakeknya juga mendengar. Tapi, pria itu juga memilih untuk diam. Tapi, saling diam itu tidak berlangsung lama. Eddy mulai mencecarnya dengan berbagai macam hal. Membuat Madie tak bisa sabar dan kembali membantah hal-hal yang Eddy ucapkan padanya.
Pertengkaran mereka terus berlanjut. Masih seputar perjodohan, perkerjaan, kehormatan dan segala macam yang berhubungan dengan hal tersebut. Si pengawal hanya bisa diam dan fokus pada jalanan. Walau sesekali dia melirik ke arah spion untuk melihat pada mereka. Jangan ditanya bagaimana kondisi telinganya. Sudah pasti merasa bising dan tidak sanggup untuk terus berada di dalam mobil yang sama dengan keduanya. Tapi, apa yang bisa dia lakukan selain tetap berada di posisinya? Tidak ada. Karena itu adalah bagian dari pekerjaannya.