Cristine merasa kosong. Hari-harinya kembali terasa sepi. Beberapa hari yang lalu. Dia merasakan rumah itu lebih hidup. Ada orang yang bisa dia ajak berbincang. Tapi, gadis itu sudah pergi lagi. Waktu satu minggu yang dia berikan terasa begitu lama. Dia sama sekali tidak menduga akan merasa rindu pada seorang gadis yang baru ditemuinya dalam beberapa hari saja. Tanpa saling tahu bagaimana latar belakang masing-masing. Cristine sudah menyayanginya seperti cucu sendiri.
Wanita tua itu tak lagi bersemangat bekerja seperti sebelumnya. Dia bahkan libur hari ini. Karena dia terus saja memikirkan Madie. Di mana dia sekarang? Bagaimana kabarnya? Kapan dia pulang? Apakah dia sehat? Dan segala macam pertanyaan lainnya. Dia juga merasa kesal dengan beberapa tetangga kerjanya. Mereka terlalu ingin tahu dan terus bertanya.
“Di mana cucumu yang cantik itu?”
“Kenapa dia tidak ikut bekerja lagi?”
“Apa dia sakit?”
“Apa gadis itu juga meninggalkan kamu seperti cucu laki-laki mu?”
Dan wanita itu tidak suka mendengar segala macam pertanyaan itu. Sehingga dia memutuskan untuk libur selama Madie belum kembali. Kalender yang ada di dinding rumahnya ia lingkari. Ini hari keempat gadis itu pergi. Masih tersisa tiga hari lagi. Dan betapa membosankan hari-harinya kini. Karena harus berada di rumah dan tak melakukan apa-apa selain berkebun.
“Bosan sekali rasanya. Ke mana gadis itu pergi? Dia sungguh pulang atau jangan-jangan hanya memberi alasan?” dia bergumam sendiri. Sekop yang ada di tangannya sampai terjatuh dari genggamannya. Membuat dia tersadar dan memilih untuk duduk di pinggiran taman.
“Nyonya! Nyonya!” John berlari ke arahnya. Dia menggenggam sebuah koran di tangan kanannya. Lalu, dia berhenti tepat di depan Cristine. Disodorkannya koran tersebut.
“Ada apa?” Cristine mengernyit. Mengambil koran yang ada di tangan John.
“Ditemukan seorang perempuan meninggal! Bukan gadis yang tinggal di sini kan Nyonya?” ucapnya. Dia menunjuk pada sebuah headline berita.
“Ditemukan mayat seorang perempuan.”
Judul itu membuat Cristine terbelalak. Dia langsung membaca kabar tersebut dengan perasaan yang tidak tenang. Gadis itu pergi. Dan sekarang ada kabar seperti itu di koran. Lalu, pertanyaan dari John. Semua itu membuat dia semakin kepikiran.
“Seorang perempuan berambut pendek. Dengan tas ransel di dekat tubuhnya. Wajahnya tidak bisa dikenali karena bengkak. Waktu kematian sekitar empat hari yang lalu. Tidak mungkin!” ucap Cristine mencoba menenangkan dirinya.
“Nyonya, rambut gadis itu pendek. Dan dia pergi menggunakan tas ransel. Bagaimana ini?” sahut John. Pria yang menjaga keamanan di rumahnya itu sungguh tak menunjukkan keberanian sama sekali pada titik itu. Dia terlihat takut dan cemas.
“John, tenanglah!”
“Mana mungkin aku bisa tenang kalau aku mengenal mayat siapa itu. Apa kita hubungi saja polisi untuk memastikan identitasnya?” John terburu-buru.
“Diam kau! Jangan berkata yang bukan-bukan! Gadis itu pulang ke rumahnya! Dia tidak mungkin bunuh diri seperti itu. Kembali ke pos kamu!” perintahnya.
Pria itu menunduk dan menurut. Dia berjalan kembali ke arah pos jaga. Respons sang Nyonya memang bisa diterima. Tapi, dua sudah terlanjur merasa cemas akan kabar tersebut.
Dia sok tenang dia depan John. Padahal dalam hati dia merasakan rasa cemas dan khawatir akan gadis itu. Dia meyakinkan dirinya sendiri.
“Itu bukan dia. Perempuan itu bukan dia. Clara pasti akan pulang.” Wanita itu terus mengulang kalimatnya berkali-kali dalam hati. Menegarkan dirinya sendiri. Agar tetap tenang dan tidak terbawa suasana.
Kemudian dia memilih untuk masuk saja ke dalam rumah. Sebelum pikirannya semakin kacau. Dia harus minum dan menangkan diri. Dia ingin menghubunginya. Tapi, untuk apa? Gadis itu sudah mengatakan akan mengurus masalahnya di rumah. Kalau dia menghubunginya dalam waktu ini. Takutnya, dia akan mengganggu penyelesaian masalah yang sedang gadis itu lakukan di sana. Ia juga telah memberikan waktu selama satu minggu. Masih ada sisa tiga hari. Jika di hari ketujuh gadis itu masih belum menghubunginya. Dia akan menunggu sampai hari ke delapan. Hari di mana seharusnya dia sudah kembali ke rumah itu.
***
Ronald yang mendapatkan pesan berisi nama-nama tersebut langsung bergerak cepat. Dia berselancar dengan laptop kesayangannya. Mencari tahu siapa, di mana tinggalnya, apa pekerjaannya, dan segala latar belakang dari setiap nama yang telah dia terima. Pria itu telah mengumpulkan semua hal. Lalu, mengeliminasi beberapa kemungkinan yang tidak perlu. Mencoret nama-nama yang menurutnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian Elaine.
Hingga akhirnya tersisa beberapa nama. Dengan alasan paling kuat dan motif paling berbahaya yang bisa dia temukan. Pria itu baru menyadari. Kalau ternyata, lebih banyak hal yang belum dia ketahui tentang wanita tersebut. Dia mengira sudah mengenalnya secara dalam. Tapi ternyata tidak. Dia benar-benar masih sangat sedikit mengenalnya.
“Elaine, aku akan mencari kebenaran atas kematianmu!” gumamnya. Dia sudah bertekad melakukan apa saja untuk mengungkap kebenarannya. Begitu juga soal anak Elaine satu-satunya. Dia merasa wajib melindungi gadis itu. Ancaman paling besar ada di dekatnya. Tidak boleh ada yang terlalu dekat dengan gadis itu. Tidak boleh percaya pada siapa pun yang terlihat baik. Karena wajah dan hati seseorang sama sekali tidak ada hubungannya.
Pria itu masih terus mencari. Ditemani dengan secangkir kopi yang entah sudah berapa kali dia isi lagi. Makanan kecil, biskuit, jeruk, dan beberapa camilan lain menemaninya sepanjang hari dalam penyelidikan itu. Sebenarnya, ia cukup terkejut saat mendapatkan nama-nama itu hanya dalam beberapa hari saja. Gadis yang selama ini dia kira hanya tahu manja. Ternyata bisa dia andalkan juga.
Sementara itu, di tempat lain. Xander kembali disibukkan dengan segala macam tugas dari sang atasan. Lagi dan lagi dia diminta melakukan banyak hal. Kepalanya terlalu pusing untuk menerima semua pekerjaan itu. Tapi, kau tidak mau dia harus tetap melakukannya. Menjalankan perintah atasan dengan sebaik yang dia bisa.
Beberapa hal lain membuat dia menjadi penasaran. Kenapa atasannya membuat banyak dokumen atas peralihan nama seperti itu. Tapi, hanya sebatas rasa penasaran saja untuknya. Karena dia tentu tidak berani untuk menanyakannya secara langsung.
“Sudah selesai?” atasannya beratanya. Memastikan pekerjaannya sudah diselesaikan dengan baik.
“Belum, pengacara Tuan Antoni dan tim notaris yang sudah saya hubungi belum memberikan informasi lebih lanjut. Mungkin, butuh beberapa hari lagi,” balasnya.
“Ah kau benar, akhir-akhir ini aku jarang melihat pengacara itu datang ke kantor. Ah, sudahkah, kerjakan sisanya. Dan segera hubungi tim notaris secepatnya!” perintahnya lagi.
“Baik, Pak,” balasnya.
Dia harus dipusingkan lagi atas tugas sampingannya yang belum selesai-selesai juga. Dia harus menghubungi tim yang memang sudah bekerja sama dengan mereka sebelumnya. Memastikan kapan dokumen itu akan diselesaikan.