Gadis yang merasa kesal karena sudah berencana dijodohkan oleh sang kakek itu turun sari mobil tanpa mengucapkan apa-apa. Dia bahkan membanting pintu. Menunjukkan berapa hatinya sedang merasa sakit dan kecewa. Terlebih, apa yang terjadi di sana lebih membuat dia merasa marah. Dikenal hanya sebagai cucu dari seorang Eddy Anderson. Sama sekali tidak menyenangkan baginya. Dia memiliki karier yang bagus. Dia bekerja dan juga bisa mandiri. Tapi, malah disepelekan hanya karena tidak satu profesi dengan kakeknya.
“Mad, tunggu! Kakek belum selesai bicara!” cegahnya. Pria itu mengejar sang cucu. Tapi, gadis itu tak bergeming. Terus melangkah masuk. Hingga membuat pria itu semakin merasa diabaikan dan emosinya memuncak.
“Kalau kamu tidak bisa diatur sama seperti Ibumu, lalu, pada siapa perusahaan ini akan diwariskan? Jangan bersikap semaumu. Hidup yang kamu jalani selama ini adalah untuk perusahaan. Kalau kakek sudah terlalu lunak padamu selama ini. Maka, mulai sekarang kamu harus melakukan semua yang kakek ucapkan. Tak ada bantahan!” tukasnya dengan tegas.
Gadis itu menghentikan langkahnya. Mengembuskan napas panjang, lalu membalikkan badannya perlahan.
“Ah, jadi hidupku hanya untuk itu semua? Karena Ibu tidak ada, dan tidak bisa diatur. Maka kakek berusaha mengatur hidupku? Hidup yang sangat indah! Terima kasih banyak atas penjelasannya!” balas gadis itu ketus. Dia berdiri tegak, menatap sang kakek dengan sorot mata yang tajam. Lalu, dia melangkahkan kakinya lagi. Menuju kamarnya di lantai atas.
“Aku belum selesai bicara!” sergahnya. Eddy mengucapkannya dengan sangat lantang. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang sedang membelakanginya itu.
Tapi, gadis itu tak menghiraukannya. Dia terus melangkah naik dan mengabaikan ucapan dari kakeknya. Dia sudah muak dengan semua ocehan darinya. Segala peraturan yang terus mengekang dirinya. Dia bosan dengan semua itu.
“Jangan menjadi bodoh seperti Ibumu! Jatuh cinta pada pria miskin dan tak punya apa-apa. Terlebih, dia tukang main perempuan! Aku mempersiapkan jodoh yang baik untukmu. Alex dari keluarga baik, pendidikan dan latar belakangnya bagus. Dia tampan, apa lagi yang kurang dari pria itu?” Kata-kata itu akhirnya terlontar dari mulut Eddy. Setelah mengucapkan itu, dia menyesalinya. Karena sudah kelepasan dan sangat kelewatan.
Gadis itu berhenti melangkah. Dia membalikkan badannya. Telinganya terasa panas, mendengar ucapan kakeknya yang terlalu tajam bak belati yang siap menghunjam hati sampai bagian paling dalam. Gadis itu menuruni kembali semua anak tangga yang sudah dia naiki. Dengan langkah pelan, sorot matanya itu tetap mengarah pada sang kakek yang juga menatapnya penuh penyesalan.
“Jadi, pria miskin bukan orang yang bisa kakek terima? Lalu, kenapa tetap membiarkan dia masuk dan menjadi menantu? Bahkan sampai punya cucu?” gadis itu mengungkit. Menggali alasan apa yang membuat sang kakek menerima Ayahnya sebagai menantu.
“Apakah mereka melakukan hubungan dan hamil di luar nikah? Aku rasa tidak, karena aku tahu betul kapan aku dilahirkan. Itu bahkan berjarak dua tahun dari awal pernikahan mereka.” Ia meneruskan ucapannya. Eddy hanya bisa diam dan menunggu sampai gadis itu selesai bicara dan menuruni semua anak tangga.
“Kalau bukan karena itu, kenapa pria miskin ini bisa jadi menantu kakek? Apa yang dia miliki? Sampai kakek mengiyakan pernikahan mereka?” Suaranya sungguh dibuat-buat. Madie benar-benar merasa kesal dengan sikap kakeknya hari ini. Dia memutari sang kakek. Lalu berhenti tepat di hadapannya.
“Karena otaknya bukan? Pria miskin itu mempunyai otak yang bagus, sehingga dia bisa membantu kakek dalam perusahaan. Benar bukan?” tebaknya. Menatap mata Eddy dengan telisik yang cukup mengusik. Hingga membuat pria itu mengalihkan pandangannya.
“Tidak perlu membahas masa lalu!” ucapnya pelan. Ia masih tidak berani menatap pada cucunya yang sedang diselimuti amarah.
“Kenapa Kek? Kenapa tidak boleh membahasnya? Bukannya tadi kakek yang memulai obrolan ini? Kalau pada akhirnya pria itu ternyata memang hanya punya otak, tapi tak punya hati. Hingga dia tega berkhianat seperti itu. Dia tidak jauh berbeda dari kakek! Uang, perusahaan, kehormatan, dan kekuasaan. Cinta? Nomor sekian!” balas gadis itu. Dia mengungkapkan semua kekesalannya. Termasuk pada Antoni yang sudah menorehkan luka cukup dalam padanya.
“Cukup Mad!” balas Eddy. Dia sungguh tak bisa berkata-kata lagi. Dia mengangkat tangan, meminta gadis itu untuk berhenti bicara lagi.
“Tidak! Belum selesai Kek! Menurut kakek Alex orang baik. Dari segi apa? Pendidikan dan keluarganya? Apakah itu menjamin dia tidak akan berbuat hal yang sama seperti menantu kakek?” lanjutnya lagi. Dia masih belum puas dengan semua ucapannya. Rasanya, dia ingin memaki dan mencaci jika dia sanggup mengungkapkannya.
“Ayah, ada perlu apa sampai ke rumah?” sahutan dari luar membuat keduanya menatap pada sumber suara. Pria itu datang dengan seorang perempuan. Perempuan yang cukup dikenal oleh kedua orang yang ada di dalam rumah.
“Hai, Tante apa kabar? Aku dengar, Anda jarang datang ke kantor, aku kira Anda sakit. Tapi, setelah melihat Anda di sini, aku rasa tebakanku salah,” balas gadis itu. Tapi, bukan pada ucapan Ayahnya. Dia menyapa seorang perempuan yang datang bersama dengan Ayahnya. Seorang pengacara pribadi Antoni. Mengurus segala hal tentang pria itu.
“Ah, ya, aku baik, hanya ada banyak pekerjaan saja di luar kantor.” Dia membalas dengan senyuman.
Antoni sudah mulai curiga, kalau ternyata Madie mengetahui sesuatu akan dirinya dan pengacara itu.
“Ayah, bagaimana kalau kita makan siang sama-sama?” ajak Antoni dengan ramah. Lebih tepatnya bersikap untuk ramah.
“Tidak perlu Ayah, kami sudah makan! Kau bisa makan siang dengan dia!” Gadis itu menyahut lagi. Membuat Eddy merasa tidak sanggup lai berada di sana.
“Ya, aku dan Madie sudah makan siang. Kalian makan saja berdua!” balas Eddy. Pria itu hendak pergi. Madie pun baru saja membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya. Tapi, sebuah celetukan membuat fokus mereka tersita lagi.
“Maaf Tuan, saya ingin menyampaikan kabar. Bahwa saya hamil, Anak dari Antoni!” Suara perempuan itu mengisi rumah. Suasana hening itu bagaikan ada petir yang menyambar dengan dahsyatnya. Eddy dan Madie kembali menatap mereka. Tatapan tidak menyangka, tatapan tidak percaya.
“Karin! Jaga bicaramu! Kita sudah membahas ini sebelumnya!” Antoni kelabakan. Dia sudah diskakmat dan tak bisa berkutik lagi.
“Apa? Membahas untuk mengaborsi anak kita? Tidak akan! Kau harus bertanggungjawab! Mad, kau akan mempunyai adik. Dan Anda Tuan, akan mendapatkan cucu lagi,” sahut perempuan itu dengan sangat percaya diri. Dia tidak mau kalah. Dia tidak akan mau mengalah atas hak yang bisa dia dapatkan. Dia tidak akan mundur hanya karena sebuah rayuan akan dibelikan sebuah mobil baru. Tidak! Dia ingin yang lebih dari sekedar mobil! Kekayaan yang dimiliki keluarga Anderson melebihi dari semua ekspektasinya.
Madie dan Eddy terbengong-bengong dibuatnya. Kabar itu mendadak hadir di tengah mereka. Sementara liang kubur Eliane saja masih belum genap satu bulan. Antoni memang sangat keterlaluan. Dia mempunyai hubungan dengan dua orang perempuan di belakang Elaine.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Antoni.
“Kau urus dia! Kalau sampai hal ini didengar oleh orang lain. Bukan hanya dia, tapi kau juga akan aku lenyapkan!” ancam Eddy. Pria itu sudah tidak bisa menahan amarahnya.
“Tuan, cucu Anda ini laki-laki! Bagaimana Anda setega itu?” sahut Karin. Dia sungguh tidak menyangka respons Eddy akan seperti itu padanya. Dia sudah memberikan perintah, hanya menunggu waktu untuk kehancuran dirinya.
“Ayah, kita tidak bisa melakukannya. Dia mengetahui banyak rahasia perusahaan kita!” Kali ini Antoni berbisik pelan pada Eddy. Agar pria itu tahu, perempuan yang ada di sampingnya itu bukan perempuan sembarangan yang bisa disingkirkan begitu saja.
Eddy meliriknya, jika Antoni mengatakan hal itu. Berarti perempuan itu memang mengetahui sesuatu akan perusahaan mereka.
“Lalu, apa rencanamu?”
“Kita bicarakan ini baik-baik. Aku akan membuat dia menggugurkannya, kalau dia tidak mau. Terpaksa, aku yang akan melakukannya sendiri. Ayah, aku tahu aku bersalah pada Elaine dan keluarga ini. Tapi, tolong sekali ini saja. Berikan aku kesempatan memperbaiki semua masalah yang ada. Aku akan membuat dia tinggal di sini. Agar bisa menjaga Madie juga.” Dia mengutarakan rencananya. Dia sungguh gugup, tapi dia tetap harus berusaha untuk melancarkan rencananya. Tanpa Karin, dia tidak akan bisa mengubah banyak dokumen lain. Karenanya, dia harus tetap hidup dan membantunya menyelesaikan segala urusannya.
Eddy menoleh pada Madie, gadis itu memalingkan wajah saat mata mereka berserobok. “Baiklah, ingat! Jangan sampai kabar ini keluar! Jangan sampai perempuan itu keluar dari rumah ini! Aku sungguh laki-laki busuk! Kalau saja kau tak mempunyai otak itu. Aku sudah membuangmu sejak lama!” balas Eddy. Dia memberikan izinnya. Dia memberikan keluangan pada Antoni untuk membereskan masalahnya. Terlebih, untuk menjaga Madie agar tetap berada di rumah. Itu hal paling utama bagi dirinya.
“Mad, dia akan tinggal di sini! Bersama denganmu! Jadi, jangan harap kau bisa keluar kapan saja tanpa izin dari Kakek!” Eddy memberikan perintahnya.
Gadis itu tertawa mengejek, “Ah, jadi begini sifat kakek yang sebenarnya? Membiarkan perempuan jalang ini menginjakkan kakinya di rumah ini? Aku sungguh sangat berharap otak Ayah akan meledak! Agar tidak ada lagi benda berharga yang ada pada dirimu!” ia mengucapkan semuanya dengan nada yang ditekan.
“Dan kau, jangan harap bisa masuk ke kamar utama! Kalau kau masih ingin bisa melihat matahari esok hari. Jangan sekali-sekali berani masuk ke kamar utama! Aku bisa melakukan kekejaman yang sama seperti kakekku! Bagimu tidak akan pernah menjadi adikku! Karena dia tidak akan pernah terlahir di dunia ini!” gadis itu menunjuk tepat di depan wajah Karin. Ucapannya yang menusuk membuat perempuan itu sangat emosi. Tapi, dia cukup bisa menahan untuk tidak membuat masalah semakin runyam hari ini. Dia berkata dalam hati, untuk menerima saja semua perkataannya hari ini. Karena di sana juga masih ada Eddy yang melihat dan mendengar segala hal yang terjadi.
Madie melirik Ayahnya. Tatapan jijik itu menyorot wajahnya. Lalu, gadis itu tersenyum tipis.
“Kau dengar ucapannya! Turuti dia! Aku akan pulang sekarang! Dan ingat satu hal, anak itu bukan cucuku! Anakku, Elaine hanya mempunyai satu putri! Anak dari pria ini, tidak dihitung sebagai cucuku! Jangan terlalu bermimpi!” balas Eddy. Dia memastikan ucapan cucunya untuk dipatuhi. Dia sudah berbuat banyak kesalahan. Karenanya, dia harus memberikan sebuah ketegasan pada mereka agar tidak terlalu keterlaluan karena sudah diberi kesempatan.
Madie kembali ke kamarnya. Perasaannya kacau. Dia menangis sambil berlari menaiki anak tangga. Gadis itu sungguh merasa sesak. Mendapatkan sebuah kenyataan ternyata sang Ayah tidak hanya bermain dengan satu wanita. Tapi, dia malah mempunyai dua orang wanita simpanan. Gadis itu berpikir, jangan-jangan ada wanita simpanan lainnya. Pria semuanya sama saja! Pria tidak ada yang bisa dipercaya. Dia tidak akan pernah jatuh cinta! Dia cukup hidup sendiri dan mencintai dirinya sendiri! Hal itu dia putuskan dalam keadaan emosi. Lalu membanting pintu kamar dengan kerasnya. Amanda yang sedari tadi berada di belakangnya terhenti. Karena pintu sudah ditutup dan tak ada perintah dari Nona mudanya.
Sementara itu, di bawah sana. Karin dan Antoni merasa menang. Mereka bisa menguasai rumah itu bersama sekarang.
“Kau dengar ucapan Madie, dia sungguh akan melakukannya. Jadi, jangan mencoba melawan gadis itu. Kau tidak ingin kehilangan anak ini bukan?” bisik Antoni mesra. Pria itu sungguh mempunyai banyak muka. Wajahnya bisa berubah dalam hitungan detik saja.
“Ya, tentu saja. Perlahan-lahan semua ini akan menjadi milik kita. Aku sudah memberikan berkas pada notaris. Surat palsu itu akan segera diterbitkan!” balas Karin penuh percaya diri. Dia merasa semua itu mudah dia raih. Tanpa dia tahu. Pria yang sedang berada di sampingnya hanya membutuhkan dia untuk mengurus segala keperluannya saja. Tidak lebih dari itu.
“Kau memang yang terbaik!” balas Antoni sambil berbisik. Keduanya saling tersenyum, lalu menatap, dan saling mendekatkan diri masing-masing. Ciuman itu mendarat sempurna. Hingga membuat suasana semakin hangat dan menimbulkan hasrat. Digendongnya perempuan itu, kemudian dia melangkahkan kaki menuju salah satu kamar yang ada di rumah itu. Satu per satu pakaian telah tanggal. Dan hasrat itu semakin memikat. Membuat keduanya hanyut dalam buaian keringat.