Gadis dengan rambut palsu itu melepaskan rambutnya dengan kasar. Dia menutup jendela, dan segala hal yang bisa mengeksposenya. Segera dia merebahkan diri di tempat tidur. Kejadian hari ini terlalu membuat dia kesal dan sangat jengkel. Setelah kakeknya mencoba menjodohkan dirinya dengan seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal. Eh, sang Ayah datang dengan seorang perempuan baru lagi. Mana perempuan itu mengatakan kalau dirinya sedang hamil sekarang. Ditambah sang kakek bukannya marah. Tapi malah mengizinkan mereka tinggal di tempat yang sama dengan dirinya. Bagaimana dia bisa betah berada di sana? Jika semua aspek tak ada yang mendukungnya. Jika semua faktor yang seharusnya bisa menjaga dia untuk tetap berada di rumah itu malah membuat dia semakin tidak betah untuk berlama-lama di sana.
“Ibu! Seharusnya kau tidak pergi begitu cepat! Bagaimana aku harus menghadapi mereka semua sekarang? Apakah aku harus pergi menyusulmu?” gadis itu berbicara sendiri. Matanya menatap nyalang. Tampak kosong dengan melihat ke arah langit-langit kamar. Netranya berkaca-kaca. Keduanya mulai memerah. Dengan tumpukan air yang mulai penuh berada di ujungnya. Memaksa untuk segera diloloskan dan meluncur dari keduanya.
Gadis itu membalikkan badan. Membenamkan wajahnya pada tempat tidur. Dia sungguh merasa seperti tidak berarti di rumah itu. Merasa sendirian, dan tak bisa melakukan apa pun karena otoritas kakeknya. Berada di rumah besar dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya tidak menjamin kebahagiaan akan menyapa. Kini, dia malah merasa keadaan di rumah ini lebih buruk daripada saat ibunya masih ada. Walau wanita itu sering melakukan hal-hal yang membuat heboh seluruh rumah. Tapi, kondisi rumah masih bisa diatasi. Masih terkontrol dan tidak kacau seperti sekarang. Jika Ibunya masih ada. Ayahnya tidak akan berani membawa selingkuhannya ke rumah ini. Apalagi sampai tidur dan menginap di sini. Dia sangat merindukan sosok Ibunya. Walau mereka memang tidak sering bersama. Tapi, keberadaannya selalu memberikan ketenangan dalam jiwa gadis tersebut. Setidaknya, kasih sayang yang diberikan oleh wanita itu nyata dan tak dibuat-buat. Kasih sayang yang tulus dari seorang Ibu.
“Ibu, haruskah aku menyusul keberadaanmu?” gadis itu kembali bergumam. Air matanya sudah tumpah. Pipinya basah. Ingusnya mulai menetes dan membuat suaranya semakin parau. Rasanya, dia sangat ingin untuk pergi dari rumah itu. Sayangnya, dia masih mempunyai beberapa urusan lain untuk diselesaikan. Juga karena penjagaan yang semakin ketat membuat dia tidak bisa kabur dari sana begitu saja.
Ponselnya berdering. Dia sebenarnya malas untuk melihat siapa yang sedang meneleponnya. Tapi, karena itu adalah ponsel khusus untuk berhubungan dengan pamannya. Mau tidak mau dia harus teta mengangkatnya. Siapa tahu itu adalah kabar penting dari pamannya.
“Ya, Paman? Apa ada kabar baru lagi?” sapanya tak semangat. Nada bicara itu langsung membuat Harry paham kondisi keponakannya itu.
“Mad, kau mau aku datang ke sana? Bagaimana kalau kau tidur di rumahku saja?” tawarnya. Dia sudah mendengar kabar terbaru yang terjadi di rumah itu. Karenanya, pria itu segera mengecek kondisi keponakannya.
“Tidak perlu paman, aku akan tidur di sini untuk hari ini. Aku terlalu malas untuk bertemu dengan mereka lagi. Aku hanya akan berada di dalam kamar. Sampai mereka pergi esok hari.” Ucapannya terdengar malas. Suara paraunya juga masih bisa didengar oleh Harry walau sedikit terdistorsi.
“Aku sudah mendengar semuanya. Kau bisa memintaku untuk datang ke sana. Atau kau bisa datang ke sini. Tapi, kalau kamu memang mempunyai rencana sendiri. Lakukan saja. Aku akan terus mendukungmu!” pria itu memberikan dukungannya. Memang hal itu yang diinginkan oleh Madie. Dia butuh seseorang yang bisa membuat dia merasa aman dan nyaman jika berada di dekatnya.
“Baik Paman, tapi tidak hari ini. Aku terlalu lelah untuk bepergian lagi. Aku akan berdiam diri di kamar dan memikirkan jalan agar aku bisa melewati semua ini. Kau tidak perlu cemas paman. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Gadis itu mencoba meyakinkan pamannya. Bahwa dia bisa menjaga diri dengan baik di sana.
“Oke, aku akan ingat itu. Baiklah, lakukan sesuai apa yang kamu mau. Sebagai informasi tambahan, aku dengar Paman berusaha menjodohkanmu dengan anak koleganya. Aku harap, kau tidak terkejut saat mendengar ini.” Lanjut Harry. Tanpa dia tahu. Kalau Madie sudah mengalami hal itu. Bukan lagi hanya mendengarnya saja.
“Paman, tumben kau mendapatkan informasi yang telat? Hal itu bahkan sudah terjadi. Bukan lagi akan terjadi. Tapi sudah aku alami. Baru saja aku kembali dari pertemuan memuakkan itu. Ditambah ada penghuni asing yang diizinkan tidur di rumah ini. Aku sungguh tidak bisa menahan semua ini lagi paman!” balas Madie dengan suara yang semakin lirih. Dia merasa seharusnya kakeknya tidak mengizinkan perempuan itu tinggal di sana.
“Tenanglah, istirahatlah, besok pagi aku akan menjemputmu! Oke?” balas Harry. Pria itu memberikan sebuah rencana. Entah mereka akan pergi ke mana. Pokoknya, mereka harus pergi dari sana terlebih dahulu.
“Baiklah Paman, aku akan mematikan teleponnya.” Madie segera kembali merebahkan diri di tempat tidur. Dia merasa seharusnya dia menuruti saja ucapan Harry yang memintanya untuk tinggal di rumahnya. Kalau berada di sana, setidaknya dua bisa merasa lebih tenang dan aman. Tapi, sudah terlanjur. Telepon sudah ditutup. Dia harus memejamkan mata sekarang. Kalau tidak ingin kemalaman bangun dari tidur siangnya.
***
Di sisi lain, Eddy harus mengurus masalah yang sudah ditimbulkan oleh cucunya. Dia meminta maaf pada keluarga Leo dan mencoba membujuk mereka agar perjodohan itu tetap bisa dilalukan. Pria itu, mengirimkan beberapa hadiah yang dia pilih secara mendadak. Agar keluarga Leo bisa memaafkan tingkah cucunya itu.
“Selamat malam Tuan Leo, saya ingin meminta maaf dengan setulus hatiku,” sapanya saat telepon iti telah terhubung.
Di seberang telepon, ada Leo yang baru saja menerima sebuah jam tangan mewah di tangannya. Senyum di wajahnya tak bisa dia sembunyikan. Dia tentu senang, mendapatkan perlakuan khusus seperti itu.
“Aku bisa mengerti itu Tuan, cucu Anda terlalu muda untuk bisa mengerti tujuan perjodohan ini. Di usia mereka, yang terpikir pasti soal cinta. Jangan terlalu diambil pusing. Kami pasti akan menunggu kabar yang akan Anda sampaikan nanti. Harapanku cukup besar dalam perjodohan ini.” Dia membalas dengan sok bijak. Sok mengedepankan kepentingan orang lain. Padahal, dia sudah merasa melayang karena jam tangan mahal itu sudah berada di tangannya.
“Syukurlah Anda bisa mengerti, aku akan mencoba membicarakan hal ini dengannya. Untuk pertemuan selanjutnya, aku akan memberi kabar padamu secepatnya,” sahut Eddy dengan perasaan lega. Dia telah memilih calon menantu untuk cucunya. Dia tidak bisa melepaskan kesempatan itu begitu saja. Pria dengan latar belakang keluarga seperti Alex tentu sangat jarang bisa didapatkan. Jika dia tidak mengambil langkah itu. Maka, bisa jadi ia tidak akan mendapatkan hal serupa di masa mendatang.
“Ya, tentu saja, aku juga akan lebih perhatian atas gadis itu. Dia berkata benar, kalau tidak saling mengenal. Mana bisa saling mencintai. Kita biarkan saja mereka berdua saling mengenal terlebih dahulu. Bagaimana menurutmu?” pria itu sungguh luar biasa dalam memainkan kata-kata.
“Ya, tentu saja. Apa pun yang terbaik untuk mereka. Terima kasih banyak, semoga kau menyukai hadiahnya.” Eddy memberikan tanggapannya. Setuju dengan apa yang Leo katakan. Memberi tentang waktu pada kedua pemuda itu untuk saling mengenal sepertinya ide yang cukup bagus.
“Tentu aku suka, indah sekali.” Dia memuji.
“Senang mendengarnya, selat malam.”
“Selamat malam.”