“Paman, aku ingin ke tempat Ibu,” ucap gadis itu lirih. Dia menundukkan kepalanya. Ada getir yang dia rasakan dalam relung jiwanya. Dia merasa ada sesuatu yang kembali teriris. Rasa rindu itu terasa begitu menyiksa. Sebuah perasaan yang tak mampu tersampaikan pada orang yang dicinta. Hanya akan menjadi sebuah luka tanpa suara.
“Baiklah,” balas Harry dengan santainya. Pria itu membelokkan kemudi mobilnya. Mengarahkan pada sebuah tempat peristirahatan akhir. Tempat di mana sepupunya berada.
Sebelum itu, mereka berhenti pada sebuah toko bunga. Gadis yang sedari tadi tampak muram itu memilih beberapa bunga untuk dirangkaikan. Bunga-buna indah kesukaan sangat mendiang ibunya. Gadis itu tersenyum tipis. Teringat akan masa lalu. Saat di mana sang Ibu mengajaknya memilih bunga dan menjelaskan nama serta artinya. Beberapa masih lekat dalam ingatannya. Tapi, lainnya bahkan sudah terkikis dan kadaluarsa. Dia pada akhirnya menyadari hal itu. Bahwa dirinya telah sedikit mempunyai jarak dengan sang Ibu. Kesibukan yang selalu menyelimuti dirinya. Sementara sang Ibu selalu saja mencari perhatian dari ayahnya. Tanpa sadar, jarak itu tercipta. Hingga kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan dalam kehidupannya. Tangannya mendadak mengepal. Saat ia merasakan perih yang ada di dalam hatinya kian menyiksa.
“Ini Nona,” sang perangkai bunga memberikan pesanannya. Gadis itu tersenyum penuh arti. Air yang menumpuk di ujung matanya menetes perlahan.
“Terima kasih!” jawabnya. Sambil memberikan sebuah kartu pada wanita tersebut.
Tak lama, mereka pun kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang terhampar warna hijau di sekelilingnya. Jaraknya tak jauh dari tempat mereka membeli bunga tersebut. Gadis yang memegangi bunga itu menciumi rangkaian itu. Ia menahan air mata dengan sekuat tenaga. Dengan sekuat yang dia bisa. Hingga akhirnya mereka pun sampai dan melangkahkan kaki untuk menyusuri jalanan tersebut.
Dengan langkah pelan, juga hati yang bergetar dengan hebatnya. Gadis itu mencoba untuk terus melangkah dengan tegak. Tak ingin terlihat lemah di depan Ibunya. Dia harus selalu kuat dan juga tetap cantik. Ibunya akan marah kalau dia mudah menangis. Tapi, apa yang terjadi di sana tak bisa dia kendalikan. Saat kaki mereka akhirnya berhenti melangkah. Berdiri tepat di depan sebuah persemayaman indah dan megah. Nama yang terukir di sana masih menyisakan luka. Masih memberikan perih yang sama. Padahal, sudah berlalu cukup lama.
Madie meletakkan bunga yang dia bawa. Dia bersimpuh. Kemudian air matanya luruh dan tak tertahankan lagi. Semua hal yang sempurna dalam hidupnya telah kacau semenjak ketiadaan sang Ibu. Layaknya sebuah orbit yang mendadak penyok di beberapa sisi. Membuat planet yang mengorbit padanya jadi tak teratur lagi putarannya. Gadis itu menunduk, bahunya bergetar hebat. Seiring dengan rasa pilu yang dia rasakan. Tak banyak kata yang terucap. Dia lebih banyak diam dan menangis. Dalam hati, dia menyesali semuanya.
“Seandainya hari itu aku berada di sampingmu. Seandainya hari itu aku selalu di dekatmu. Seandainya, aku bisa membantu menjambak wanita itu. Mungkin, kau tidak akan terbaring di sini Ibu. Aku ... Berharap kau tetap bahagia di sana. Maaf, aku masih belum bisa mengungkap semua kebenaran atas kematian yang menimpa dirimu. Aku akan terus berusaha. Agar kau bisa mendapatkan keadilan. Akan aku buktikan, siapa saja yang terlibat dalam kematianmu itu.” Kepalan tangan madie semakin mengeras. Gadis itu mencengkeram pinggiran tempat sang ibu dimakamkan. Hingga membuat kuku panjangnya melawan kerasnya batuan yang dijadikan tempat istirahat ibunya itu. Kuku-kuku lentik itu pun kalah. Hingga akhirnya patah. Dan sampai mengeluarkan darah.
“Mad!” sang paman menarik tangan Madie. Dia bisa melihat darah segar mulai menetes dengan perlahan di sela kuku gadis tersebut. Kemudian dia menatap penuh penyesalan pada gadis itu.
“Kita pulang sekarang!” lanjutnya. Dia menarik Madie dengan paksa. Tanpa ada perlawanan darinya. Gadis itu menurut saja dengan tindakan yang dilakukan oleh pamannya.
Di saat yang bersamaan. Tanpa mereka duga. Ada deretan manusia dengan pakaian hitam sedang berjalan ke arah mereka. Membuat Harry menghentikan langkahnya. Saat gadis itu menaikkan pandangannya. Barulah dia mengerti, kenapa sang paman berhenti.
“Bagaimana ini Paman?” lirihnya.
“Tenang saja, aku akan mengurus mereka. Untuk sekarang, berjalanlah memutar. Segera masuk ke dalam mobil!” pria itu memberikan kunci mobil pada keponakannya. Dia sudah mengira hal itu akan terjadi. Tapi, tidak secepat yang dia kira. Pamannya, Eddy, ternyata sudah mendengar kabar kalau Madie dibawa olehnya keluar dari rumah. Mau tidak mau, dia harus menghadapi beberapa orang pengawal itu. Dia tahu, dia tidak akan bisa menang dengan mudah. Tubuh mereka jauh lebih besar darinya. Tubuh mereka bahkan lebih tinggi darinya. Pekerjaan sebagai pengacara juga menyita waktunya dalam berolahraga. Kekuatannya pasti sudah banyak menurun jika harus diuji dalam waktu seperti ini.
“Paman kau serius? Mereka lebih banyak jumlahnya!” madie masih merasa sangsi. Dia tidak ingin pamannya terluka atau kenapa-kenapa karena sudah membantu dirinya.
“Tenang saja, aku masih ingat jurus-jurus dalam menghadapi lawan. Kau bisa segera masuk ke dalam mobil. Kalau dalam sepuluh menit aku tidak kembali. Segera pergi dengan mobilnya!” perintahnya. Suaranya terdengar meyakinkan. Tapi, dalam hati dia bahkan ragu pada dirinya sendiri.
“Baiklah Paman!” balas gadis itu. Dia dengan perasaan ragu masih sesekali melihat ke arah pamannya yang harus menghadapi banyak pengawal itu.
Beberapa pengawal hendak mengejar, tapi Harry mencegahnya.
“Jangan kejar dia! Suruhan siapa kalian hah?” teriaknya membuat dua orang yang hendak mengejar madie mengurungkan niatnya.
“Jika kalian utusan Antoni, sebaiknya kalian pergi! Tapi, kalau kalian utusan Eddy, sebaiknya kalian kembali ke dalam mobil! Aku sedang tidak ingin berkelahi. Kalian bisa kalah nanti!” ucapnya menyombongkan diri. Padahal, itu hanyalah gertakan yang bisa dia lakukan untuk mengulur waktu. Agar keponakannya bisa selamat sampai di mobil.
“Bukan urusanmu kami utusan siapa. Kami diperintahkan untuk membawa Nona kembali ke rumahnya!” jawab salah satu dari mereka. Dari kacamata Harry, dia bisa melihat bahwa pria itu adalah pimpinan mereka.
Harry melihat ke arah madie, gadis itu masih belum sampai di mobil. Jadi, dia masih harus mengulur waktu. Dengan sedikit gerakan kecil. Pria itu sok akan melawan mereka. Tapi, mereka terlihat mundur. Membuat Harry bertanya-tanya, kenapa? Apa mereka memang tidak diberi perintah untuk melawan dirinya?
“Kalian harus tahu, aku adalah seorang pengacara yang bisa menuntut kalian jika aku terluka. Karena penghalangan ini pun, aku bisa menuntut kalian. Aku adalah pengacara andal. Bagaimana? Masih mau menghalangiku pergi dengan keponakanku sendiri?” gertaknya lagi. Di saat itu, dia bisa melihat gerakan ragu dari mereka. Dan dia lahirnya tahu. Kalau mereka memang takut kalau dia akan melayangkan gugatan pada mereka. Dan ia pun sadar, para pengawal itu pasti suruhan Antoni. Anak buah Eddy tak akan bergeming hanya karena gertakan seperti itu. Mereka bahkan rela mati untuk melakukan semua perintah dari atasannya. Karena mereka tahu dengan pasti. Kalau perintah itu tidak berhasil dilakukan. Maka, nyawa mereka sendiri yang akan menjadi taruhannya. Lebih baik melawan dan diberi gugatan. Daripada dipastikan nyawanya yang akan melayang.
“Katakan pada Antoni! Kami pergi ke rumahku! Tidak perlu cemas! Aku akan mengantarkan dia pulang kalau dia sudah mau!” lanjutnya.
“Kalian juga bisa katakan padanya, kalau kalian sudah berusaha melawan. Tapi kami berhasil kabur. Ingat, jangan menambah laporan itu dengan kalimat lain!” tambahnya. Kini, Harry bisa berjalan dengan santainya menerobos mereka semua. Ternyata mudah, pikirnya. Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dan menyusul keponakannya tanpa melawan.
Madie yang melihat itu bahkan terbengong-bengong. Bagaimana bisa? Pikirnya. Bisa-bisa pria-pria berbadan besar itu memberikan jalan pada sang paman tanpa melawan sedikit pun.
“Bagaimana mungkin?” ucap Madie. Saat mendapati pamannya masuk dan duduk di sampingnya.
“Jalankan mobilnya! Sebelum mereka berubah pikiran! Cepat!” perintah pamannya. Gadis itu menurut dan langsung melakukan kendaraan itu dengan kencangnya.
Pria-pria yang ada di pemakaman itu pun berlari mengejar. Masuk ke dalam mobil mereka dan membuntuti mobil yang dinaikinya mengarah ke mana. Dan saat akhirnya mereka tahu mobil mereka dibuntuti. Mau tidak mau, mereka harus mengarahkan mobil itu ke arah rumah Harry.
“Paman, mereka mengikuti!” ucap Madie cemas.
“Santai saja! Arahkan ke rumah, dan mereka akan pergi dengan sendirinya nanti!” balas Harry dengan santainya. Karena dia tahu, gertakan membuat mereka takut. Maka, mereka juga harus memberikan bukti pada atasannya. Kalau Madie memang berada di rumah pamannya.
“Bagaimana Paman bisa begitu yakin?”
“Mereka suruhan ayahmu. Bukan suruhan kakekmu. Kau tahu perbedaannya bukan?”
Gadis itu mengangguk. Dia pun patuh untuk mengarahkan kemudi mobil itu menuju rumah sang Paman. Dan benar saja. Saat mereka akhirnya sampai di rumah Harry. Perlahan satu per satu mobil mereka pergi.