“Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?” Harry berkacak pinggang. Menatap pada gadis yang masih menundukkan kepalanya itu.
“Kau bahkan sudah tahu bagaimana sifat kakekmu, tapi kau malah iya-iya saja disuruh tinggal di sana.” Dia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Kau bahkan tidak bisa berkutik saat dia membawa perempuan lain ke rumah itu? Bagaimana bisa Mad? Apa yang ada di pikiranmu? Jangan sok tenang dan sok kuat seperti itu!” Lanjutnya lagi.
Madie menatap Harry sekilas. Menunjukkan padanya, kalau dia sedang menunggu pria itu selesai dengan ucapannya. Saat akhirnya Harry duduk, dia pun akhirnya membuka suara.
“Aku tak punya pilihan! Selain menuruti saja ucapan kakek, karena aku masih belum selesai dengan misiku. Rasanya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ayahku. Apakah mata-mata paman tidak melaporkan apa-apa?” gadis itu kembali menatapnya serius. Ini adalah pembicaraan yang harus dibahas dengan segera. Waktu yang dia miliki terlalu mepet. Dia bisa dipecat oleh Cristine kalau dia tidak segera kembali ke rumah itu.
“Hal mencurigakan apa? Aku tak mendapatkan kabar apa-apa selain kabar kau akan dijodohkan.” Jawaban dari Harry membuat gadis itu tercenung. Menanyakan pada dirinya sendiri. Apakah hal yang dia rasakan itu salah.
“Ah, begitu. Lupakan saja kalau begitu, jadi bagaimana langkah kita selanjutnya paman?” gadis itu belik bertanya. Kepala sudah terlalu pusing memikirkan rencana untuk keluar dari segala macam masalah yang ada.
“Tunggu di sini, aku akan segera kembali!” ucapnya tanpa memberikan jawaban yang pasti pada Madie.
“Baiklah,” balas madie sekenanya. Dia menurut saja. Membiarkan pamannya pergi entah ke mana. Kini, dia berada di dalam rumah sendirian. Banyak hal yang berputar di kepalanya. Terlalu banyak, bahkan sampai menimbulkan rasa nyeri yang mendadak datang.
Hal itu membuat dia memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa. Dia juga tidak tahu, sang paman akan kembali berapa jam lagi. Lebih baik, dia memanfaatkan waktu dengan tidur sekarang. Sebelum ada gangguan yang mungkin saja bisa datang.
Di lain tempat, Ronald masih disibukkan dengan berbagai hal. Penyelidikan yang sudah mereka lakukan harus segera diselesaikan. Agar keadilan bagi sangat pujaan bisa segera diberikan. Sayangnya, penyelidikan itu tidak berlangsung sesuai rencana. Beberapa rute yang ia telusuri malah menemukan jalan buntu. Seakan tidak ada hal yang bisa dikeruk lagi. Tidak ada fakta yang bisa dikuak lagi.
Pria itu menggebrak mejanya. Rasa frustrasi itu muncul lagi. Dia mengacak rambutnya sendiri. Hari semakin gelap. Tapi, bukti-bukti yang dia kantongi masih jauh dari kata sempurna. Musuh yang dia hadapi sepertinya terlalu kuat dan teliti. Hingga bisa menghapus rangkaian bukti yang masih belum bisa ditemukan.
“Elaine, apa yang harus aku lakukan? Kenapa begitu sulit untuk menemukan bukti pembunuhan dirimu?” dia berbicara sendiri. Sorot matanya menatap pada sebuah foto wanita cantik yang sedang tersenyum di meja kerjanya. Bulir air mata menetes, menyiratkan rasa kecewa dan sakit yang dia rasakan begitu dalam.
“Bagaimana caraku menjelaskan pada anakmu nanti? Kalau bukti ini malah tidak bisa membuktikan kalau kau dibunuh? Ini hanyalah sampah. Bukti perebutan harta. Bukan tentang nyawa yang dihilangkan dengan sengaja.” Suaranya semakin rendah. Rasa penyesalan itu benar-benar terukir di wajahnya. Dia yang memberikan celah, dia yang memberikan harapan, dia yang menunjukkan jalan pada gadis itu. Tapi, tak bisa menemukan hasilnya. Semua usaha itu sia-sia. Kini, dia harus bisa menerima kenyataan bahwa semua bukti itu harus ditahan entah sampai berapa lama. Hingga ada jalan yang menuntun pada bukti yang kuat untuk menunjukkan pembunuhan itu benar adanya. Kini, dia harus menjelaskan pada sang gadis bahwa semua itu masih membutuhkan waktu yang lebih lama. Dan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini.
Perlahan pria itu merapikan meja kerjanya. Dia telah menyiapkan kotak-kotak untuk memisah setiap berkas yang ada. Dengan teliti dia menyimpannya hingga rapi. Begitu runtut dari setiap tanggal dan kejadian yang pernah terjadi. Kotak itu ia beri nomor seri. Lalu dia angkut menuju sebuah ruangan yang sangat rahasia. Di dalam sana. Semua bukti itu akhirnya ditempatkan. Diasingkan dari kehidupannya. Dijauhkan dari setiap orang yang bisa saja berbuat jahat padanya. Dia harus mengubur keinginannya sekarang. Dia harus bisa merelakan tentang kematian tidak wajar yang Elaine alami. Dia harus memberikan sebuah kenyataan pahit pada sang gadis. Bahwa semua usaha mereka harus diakhiri sampai di sini.
Pintu ruangan itu telah ia tutup dengan rapat. Dengan kepala yang menunduk, dia mengambil ponsel lalu menghubungi si gadis. Dia harus segera mengatakan semua hal yang telah dia temukan. Lalu setelahnya, dia pun akan segera menghilang.
“Halo, bagaimana apakah sudah kau temukan buktinya?” suara semringah di seberang telepon itu membuat Ronald menggigit bibir bawahnya. Karena kenyataan yang akan dia sampaikan adalah kebalikan dari kabar yang sudah ditunggu-tunggu oleh gadis itu.
“Mad, kau di mana sekarang?” balasnya. Tak langsung menanggapi soal pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh gadis tersebut.
“Aku di rumah Paman, ada apa? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Ah, apakah masih belum ditemukan? Waktuku di sini tidak banyak. Kakekku bisa menyeretku kapan saja dari sini!” gadis itu merengek. Menjelaskan situasi yang dia alami. Ya, posisinya sekarang semakin sulit. Mau kabur bagaimana kalau dinding saja bisa melaporkan kegiatannya pada sang kakek. Terlalu banyak mata yang mengawasi dirinya. Hingga untuk bernapas saja susah.
“Dengarkan aku, aku harus pergi ke suatu tempat. Dan aku harus mengatakan semua ini dengan berat hati. Aku tidak bisa membantumu menyelesaikan penyelidikan ini. Aku sarankan kamu untuk berhenti di sini. Mereka terlalu kuat untuk kamu hadapi sendiri. Mad, aku tahu kau akan marah padaku. Tapi, ini adalah sebuah kenyataan yang juga mengiris hatiku. Aku tidak bisa membantumu lagi. Maafkan aku!” jelasnya. Sebuah penjelasan yang sama sekali tidak jelas.
“Hah? Bagaimana mungkin? Kau akan pergi? Halo, halo?”
Ronald telah menutup sambungannya. Dia tidak bisa terlalu lama membahas hal itu. Dia harus segera mengemas semua barang miliknya. Dia hanya bisa berbisik lirih.
“Maafkan aku Mad. Aku harap kau cukup dewasa untuk mengetahui sebuah fakta bahwa semua ini masih jauh dari ujung yang kita inginkan.”
Pria itu mengantongi ponselnya. Keputusannya sudah bulat. Dia bahkan sudah mengurus surat pengunduran dirinya. Klinik akan ditutup dan dia akan pergi untuk waktu yang lama. Entah apakah dia akan kembali atau tidak. Dia sendiri masih belum memutuskannya.
Di rumah Harry, Madie mengamuk. Dia mengumpat kesal dan membanting beberapa barang yang ada di dekatnya. Membuat Harry yang sedari tadi memerhatikan dia melotot dan bergerak menghampiri.
“Kau ini kenapa?” teriaknya.
“Paman, aku harus menemui Ronald. Harus! Aku akan pergi sekarang!” putusnya. Dia yang sedang berada dalam kondisi tidak tenang begitu terburu-buru. Tapi, Harry mencegahnya. Genggaman tangannya begitu kuat. Hingga mampu mencegah gadis itu untuk bergerak dan bertindak gegabah.
“Ada apa? Katakan dengan jelas! Ada apa? Jangan melakukan hal bodoh! Kau ingin diseret kembali ke rumah itu lagi oleh kakekmu hah?” balasnya. Harry tak bisa membiarkan gadis itu kembali tersiksa. Maka, dia harus mengorek semua informasi agar dia bisa memberikan masukan padanya.
“Ronald akan pergi paman. Dia pergi, dia berkata tidak bisa membantu penyelidikan lagi, aku harus menemuinya. Aku harus mendengarkan penjelasan darinya, tidak bisa seperti ini!” raungnya. Derai air matanya menetes. Pikiran gadis itu semakin kacau saja. Dan dia tidak bisa bersikap dengan tenang seperti biasanya.
“Ronald? Pergi?” Harry mengusap wajahnya kasar. Hal ini jauh dari perkiraannya. Dan jika hal seperti itu sampai terjadi. Maka, bisa dia simpulkan bahwa penyelidikan ini memang harus dihentikan untuk saat ini. Orang yang sangat teliti seperti Ronald tidak mungkin menyerah begitu saja. Kalau dia sampai melakukannya. Berarti ada sesuatu yang mengancam keselamatan dirinya.
“Tenanglah Mad, jika dia berkata begitu. Maka kita tunggu saja. Kita lupakan saja dia. Dia benar, mungkin ini jalan terbaik untuk saat ini. Agar kau bisa fokus dengan diri kamu sendiri.”
“Kau sendiri tahu, bagaimana kakek dan ayahmu. Pertarungan ini harus diselesaikan satu per satu. Kita tidak punya banyak prajurit sekarang. Jadi, kita harus fokus pada satu perang dulu. Dan menyelesaikannya, barulah nanti kita bisa melanjutkan pada perang yang lain.”
Kata-kata yang terucap dari bibir Harry membuat madie terdiam. Dalam benaknya dia berpikir. Apa iya seperti itu? Apa iya dia harus merelakan semua bukti yang sudah terkumpul dan membiarkan semuanya begitu saja? Tubuh gadis itu melorot ke lantai. Dia terlalu lemas dan tak berdaya sekarang. Semuanya kacau!