Cepat-cepat Harry meraih tubuh Madie. Sayangnya, gadis itu sudah terlanjur luruh. Seakan semua kekuatannya telah hilang. Semua yang dia harapkan hancur. Semua rencana yang ingin dia capai melebur. Dia tak mempunyai satu sumber tenaga untuk tetap bisa bertahan sekarang. Semuanya terlampau kacau. Dan dia tak bisa merapikan semuanya kembali.
“Bagaimana ini Paman? Haruskah aku berhenti?” ucapnya lirih. Air matanya berderai dengan derasnya. Masih di posisi yang sama. Duduk di lantai dengan tubuh yang lemas tak bertenaga.
“Tenanglah, kita akan atur pelan-pelan. Jangan gegabah. Jangan memikirkan hal yang terlalu rumit sekarang. Kita runut dari yang termudah. Antoni, Eddy, lalu kita bisa fokus dengan penyelidikan lagi. Kau tidak ingin melanjutkan pertunangan itu bukan?” Harry mencoba menunjukkan jalan keluar padanya. Bahwa ada beberapa hal yang bisa mereka selesaikan terlebih dahulu.
“Tapi Paman, bagaimana mungkin aku bisa rela atas semuanya? Segala bukti penyelidikan katanya tak berguna. Lalu, bagaimana aku bisa mendapatkan keadilan untuk Ibu?” lagi, dia meraung. Berteriak dan tak bisa mengendalikan dirinya.
“Mad, tenanglah! Ayo ke kamar sekarang!” ajaknya. Dengan segala usaha yang susah payah. Harry menggendong gadis itu masuk ke dalam kamar. Dia memosisikan gadis itu agar terbaring di ranjang. Agar ia merasa lebih nyaman. Dengan harapan gadis itu akan segera tertidur. Harry keluar kamar dengan wajah kusut. Pakaiannya sudah tidak rapi sejak tadi. Sejak adanya pengawal yang mencoba mengikuti. Lalu, sekarang ditambah lagi dengan masalah ini. Bukan hanya pakaiannya saja yang kusut. Otaknya pun juga ikut kusut.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Hal semacam itu luput dari perhitungannya. Memang seharusnya dari awal dia tidak usah percaya pada orang lain. Maka, hal seperti ini bisa dia hindari. Kini, semuanya sudah terlanjur basah. Sudah terlanjur kusut. Sudah terlanjur berantakan. Selain sabar, rasanya tak ada cara lain yang bisa membuat tenang. Terlebih Madie, gadis itu sudah terlalu percaya. Lantas, mendapatkan kabar seperti ini. Maka, rasa kecewa itu tak bisa dipungkiri lagi. Dia pasti merasa hancur. Merasa bersalah dan bertanggungjawab akan hal itu. Padahal, dia adalah korban yang terlalu percaya. Kalau sudah begini, mau diapakan lagi?
Pria itu memilih duduk di sofa. Mengirimkan pesan pada beberapa kontak di ponselnya. Dia harus segera bertindak. Melacak Ronald adalah hal utama sekarang. Dia harus mendengarnya secara langsung. Apa dasar yang dia ambil hingga bisa memberikan sebuah keputusan seperti itu. Sebuah keputusan yang sangat tidak masuk akal baginya. Kalau dia memang akan kabur pada akhirnya. Kenapa dia memberikan janji-janji pada mereka? Seharusnya, dari awal dia tidak percaya. Ah, semuanya terlalu kacau!
Dunia memang tempat segala masalah muncul. Tempat segala resah, kesah, dan bahkan gundah berkeliaran. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dihadapi. Terlalu banyak kejutan yang tidak menyenangkan. Kalau saja setiap orang bisa memilih dengan baik. Mungkin, segala macam permasalahan yang ada bisa dihindari. Sayangnya, tak semua orang bisa dan mampu melewatinya. Terlebih, saat kepercayaan yang disentuh. Saat kepercayaan yang dihancurkan. Semuanya akan tampak begitu kacau dan tak bisa dikondisikan.
Lalu, bagaimana dengan kepercayaan itu pada akhirnya? Tentu saja akan berada dalam lapisan hati paling dalam. Ia memilih berdiam di sana. Tak ingin kembali muncul ke permukaan. Dia sama sekali tidak ingin kembali. Karena rasa sakitnya yang terlampau dalam. Dia akan memilih bersikap dingin. Tak akan ada rasa percaya yang akan muncul dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa dalam satu tahun, dua tahun, atau bahkan tak keluar sama sekali dalam waktu yang sangat lama. Dan itu, adalah sebuah konsekuensi yang memang harus terjadi.
Madie di dalam kamar tak juga terlelap. Pikirannya tak bisa tenang. Rasa sakitnya, rasa kecewanya, dan rasa sedihnya. Semuanya berkumpul, membuat buliran air mata itu tak henti-hentinya menetes. Terus membasahi kedua pipinya. Gadis itu terus terisak. Bahunya bergetar hebat. Suaranya terdengar begitu pilu. Benar-benar teramat sedih dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia terlah menaruh harapan yang begitu besar. Berharap kalau kematian ibunya bisa dikuak dan ditunjukkan segala kejanggalannya. Lalu memberikan hukuman pada semua orang yang terlibat. Tapi sayangnya, semua itu hanya ada dalam kepalanya saja. Segala hal indah itu bak mimpi belaka. Dia tak mampu mewujudkannya secara nyata.
Padahal, dia merasa semua langkahnya telah menyusuri jalan yang benar. Telah menapaki jalan yang memang seharusnya. Tapi ternyata, semesta masih belum memberikan dia dukungan. Semua rencana itu mendadak berhenti. Seakan jalan yang dia tempuh selama ini mendadak dihadang oleh tembok besar dan tinggi. Begitu besar dan tak sanggup dia lewati. Rintangan kali ini terlampau jauh dari kekuatan dan kekuasaannya. Dia tak bisa menghindar kali ini. Dia dipaksa harus berhenti. Atau memutar arah. Lalu kembali memilih jalan yang bisa dilewati. Sayangnya, semua itu memerlukan waktu yang lebih lama lagi. Dan tak ada pilihan lain untuknya. Pilihannya hanya berhenti, atau memutar balik dan kembali merencanakannya dari awal. Hanya dua hal itu yang bisa dia pilih.
Merobohkan rintangannya? Sama saja bohong. Terlalu sulit, dengan segala alat pun akan tetap sulit. Terlalu besar dan kokoh. Palu sebesar apa pun akan mental jika digunakan. Mobil pengeruk? Mungkin saja bisa, tapi belum tentu akan menghadirkan hasil yang memuaskan. Semuanya tak bisa lagi dia raba dengan baik. Keputusannya kali ini harus benar-benar matang dan harus dia pikirkan baik-baik. Dia tak ingin kecewa lagi.
Khayalannya memunculkan sang Ibu duduk di dekatnya. Dia merasa ada sentuhan lembut yang mengusap kepalanya. Membuat dia memejamkan mata. Di posisi itu. Dia mencurahkan segala hal. Dia berkata bahwa dia rindu.
“Ibu, aku rindu. Bagaimana kabarmu?”
“Bu, maafkan aku, aku tak bisa menguak fakta dalam waktu dekat. Bisakah kau menunggu sedikit lebih lama lagi?”
Gadis itu kembali terisak. Ia usap air matanya. Lalu kembali bercerita.
“Aku tak suka dijodohkan, kalau bisa aku ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai. Sayangnya, apa yang terjadi padamu membuat aku tak lagi percaya cinta. Bagaimana bisa, seorang pria bisa mengkhianati berkali-kali seperti itu. Apakah cinta hanya dirasakan oleh para wanita saja? Apakah hanya para wanita yang harus berkorban demi cinta?” dia mengutarakan semuanya. Kali ini, suaranya lebih tenang. Lebih lembut dan tak lagi ada suara isakan.
“Aku harus bagaimana sekarang Bu? Haruskah aku berhenti dari semua ini? Haruskah aku pergi dari semua ini? Apakah aku bisa menghadapi semua ini?”
Masih tak ada sahutan, dia hanya merasakan belaian tanpa ada kata-kata yang menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan. Hingga dia merasa lelah dengan semuanya. Ia menikmatinya. Sentuhan lembut itu. Hingga mengantarkannya dalam rasa tenang yang begitu melegakan. Pada akhirnya, dia pun terlelap.