Hari berganti, waktu Madie untuk bisa kembali ke kehidupan yang dia pilih sudah habis. Masa tujuh hari yang diberikan oleh Cristine sudah melampaui batasnya. Dia terjebak dan tak bisa kembali. Dengan begitu banyak alasan dia akhirnya diizinkan tinggal di rumah Harry. Namun, konsekuensi harus ditemui oleh pria itu. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Dia harus menerima, kalau rumahnya akan dijaga oleh para pengawal Eddy selama dua puluh empat jam. Dia bak sedang diawasi secara ketat. Padahal, mereka berada di sana untuk keponakannya. Bahkan, hanya untuk bersantai di balkon saja dia menjadi malas. Dilihat oleh begitu banyak mata yang sedang mengawasi rumahnya.
“Paman,” panggil gadis itu. Dia terlihat lebih segar dari biasanya. Sepertinya karena dia memakai riasan tipis di wajahnya. Rambut palsunya juga sudah ia kenakan. Senyum di bibir gadis itu merekah. Menunjukkan pada sang Paman bahwa dia mempunyai sebuah rencana.
“Entah kenapa aku merasa cemas melihatmu tersenyum seperti itu. Merinding aku!” balas Harry sambil memegangi belakang lehernya.
“Jadi, ada apa?” lanjutnya.
Madia tampak antusias. Dia mendekat dan menarik tubuh Harry. Dia tahu, ia tak bisa sembarangan bicara di rumah itu. Entah ada di sebelah mana saja alat penyadap itu diletakkan. Jadi, dia harus ekstra hati-hati dengan setiap perkataan yang akan keluar dari mulutnya.
“Paman aku punya rencana, aku harus pergi dari sini karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan di sini. Aku sudah berpasrah dengan keputusan Ronald. Percuma kalau terus memaksa.”
“Aku hanya ingin bilang, kalau aku akan pergi. Dan kau jangan mencariku! Aku ingin hidupku tenang. Tanpa ada gangguan lagi. Biar Kakek tidak bisa menemukan aku. Jadi, kau juga tidak boleh mencariku. Agar mereka tidak bisa melacak keberadaanku. Bagaimana Paman? Kau setuju dengan keputusan ini?” ungkapnya. Dia berbisik dengan suara pelan. Lalu, ia pun menarik diri. Dia menunjuk pada tempat tidur yang biasanya di tempati oleh sang Paman.
“Ada apa?” tanya Harry biasa. Tapi, disambut dengan reaksi tidak biasa dari Madie. Gadis itu cepat-cepat menutup mulut Pamannya.
“Jangan keras-keras, bisa jadi ada penyadap di sana!” balasnya dengan mulut yang terbuka tapi tanpa ada suara.
Harry menganggukkan kepalanya. Dia menarik gadis itu untuk keluar dari sana. Membawanya ke ruangan lain di rumah itu. Mereka masih berbicara dengan berbisik. Masih dengan cara melangkah perlahan ke sana dan ke sini. Suara langkah itu diharapkan bisa menyamarkan obrolan mereka. Setelah Madie mengatakan semua hal yang ia rencanakan. Harry pun setuju. Dia menyetujui hal itu. Walau dengan berat hati sebenarnya. Karena, syarat tak boleh mencari adalah hal yang sangat sulit untuk dituruti. Tapi, kalau dia tidak mengikuti apa yang Madie ucapkan. Keselamatan Madie yang akan menjadi taruhannya. Jadi, dia harus merelakan itu sekarang.
“Aku akan mengantarkanmu ke rumah itu sekarang. Kau sungguh siap?” Harry memastikan. Koper milik Madie sudah tertata rapi. Gadis itu mengangguk mantap. Ia menyeret kopernya dan melangkah menuju pintu depan.
Sesuai dugaan, pergerakan di pintu depan akan selaras dengan pergerakan para penjaga yang sedang berada di sana. Mereka dengan sigap bersiap di posisi. Mereka bahkan tampak lebih siap berlari daripada para atlet yang berada di lapangan.
Madie memutar bola matanya kesal. Entah kesalahan macam apa yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Sampai dia harus dijaga sedemikian ketat. Bukan seperti seorang putri. Tapi lebih seperti tawanan yang tak boleh lari.
“Kami akan ke rumah Elaine. Tak perlu memasang wajah garang seperti itu!” ucap Harry mencoba mencairkan suasana. Para pengawal itu tentu merasa curiga. Tapi, mau bagaimana lagi kalau memang itu kenyataannya. Mereka pun mengekor. Sudah seperti iring-iringan kepala negara saja. Bahkan ini lebih heboh menurut gadis itu.
Sepanjang jalan dia bisa melihat. Bahwa orang-orang yang sedang memerhatikan mobil-mobil mereka. Berbisik, menunjuk, seakan mereka juga ingin tahu ada apa yang sedang terjadi. Sampai ada begitu banyak mobil yang melintas di sekitar mereka. Gadis itu mencoba tenang. Rencananya bagus. Dia harus berhasil. Kalau rencana itu tidak berhasil. Dia tidak akan bisa mendapatkan kesempatan lagi. Karena dia tahu. Sang kakek akan sangat murka padanya. Mungkin, pernikahan itu akan dia laksanakan dalam waktu dekat. Sebagai cara terakhir untuk menahan cucunya agar tetap tinggal.
Jalanan semakin dikenal oleh ingatannya. Gang-gang yang dekat dengan rumahnya. Pagar-pagar tinggi milik para tetangga. Juga hijaunya rumput milik mereka yang dirawat dengan sempurna. Ada gonggongan anjing yang mendadak menyambut. Ah, itu adalah milik Tuan Frans. Mungkin, anjing itu merasa curiga melihat begitu banyak mobil lewat di depan rumah majikannya dalam ritme cepat. Gadis itu tersenyum. Membayangkan bagaimana jika anjing itu terlepas dari pagar yang terbuka sedikit. Lalu mengejar mobil-mobil yang mengiring dirinya. Pasti akan seru. Begitu pikirnya. Sayang sekali, hal itu tak terjadi. Anjing milik Tuan Frans seakan sudah terlatih untuk tidak sembarangan mengejar orang yang lewat. Dia hanya berisik dengan gonggongannya saja. Tanpa ada sedikit gerakan yang menunjukkan dia akan keluar dan mengejar mereka.
Mobil Pamannya sudah masuk ke dalam halaman. Disusul dengan beberapa mobil lainnya. Sementara itu, para pengawal bergerak cepat dan keluar dari mobil. Bersiap membuat pagar agar tak ada yang bisa kabur dari sana.
“Berlebihan sekali kalian!” gumam Madie menatap tidak suka pada mereka.
“Sudah, ayo turun!” ajak Harry. Tak dipedulikan oleh keduanya. Mereka langsung saja masuk ke dalam rumah. Sesuai dengan rencana. Harry pun bertahan di sana.
“Singkirkan wanita itu dari rumah ini. Kalau tidak, aku yang akan pergi!” ucapan Madie terdengar begitu kesal. Di sana, dia melihat wanita itu dengan santainya berpakaian tipis dan sedang merebahkan dirinya di depan televisi. Suaranya sengaja dikeraskan. Agar para pengawal itu mendengarnya. Tanpa ada komando lagi, mereka bergegas melakukan hal yang Madie ucapkan. Sentara Antoni tampak gelagapan dan mencoba mencegah hal itu terjadi.
“Hei, apa yang sedang kalian lakukan?” bentaknya. Mencoba menarik lengan perempuan simpanannya itu. Si wanita merengek, menunjukkan wajah memelas. Tapi, cengkeraman tangan para pengawal itu begitu kuat. Sehingga usaha yang pria itu lakukan hanya menyisakan kesia-siaan saja.
Senyum tipis menghias di wajah Madie. Satu rencana berhasil dia lakukan. Begitu melihat si wanita dimasukkan dengan paksa ke dalam mobil. Mau tidak mau Antoni harus menyusulnya. Karena dia tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padanya. Sebab rencana yang mereka siapkan masih belum selesai dengan sempurna. Kalau sampai dia kehilangan wanita itu. Maka rencana busuknya itu bisa saja tidak bisa terwujud.
Rumah itu akhirnya lengang. Hanya ada Madie dan Harry di sana. Tentu dengan beberapa asisten rumah tangga yang masih setia. Amanda bersiap mendekat dan membawakan koper milik Madie.
Bukan Madie namanya, kalau dia tidak melakukan hal yang di luar nalar. Belum beberapa jam dia berada di sana. Bunyi ketukan di pintu utama mulai terdengar. Kiriman pizza, minuman, dan segala macam makanan datang. Bersamaan dengan itu. Beberapa anak muda seusianya juga datang. Mereka adalah teman-teman Madie. Sengaja dia undang ke rumah tersebut agar rencananya bisa berjalan dengan lancar. Amanda dan beberapa asisten lainnya mulai kewalahan dengan segala macam kiriman makanan yang datang. Dia siapkan dengan baik rencana itu.
Laporan itu akhirnya sampai di telinga Eddy. Pria setengah baya yang masih terlihat sehat itu berdiri dari kursi kerjanya.
“Apa?” ucapnya tidak percaya dengan laporan yang dia terima. Selalu saja cucunya itu mempunyai kejutan yang bisa membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Kalau seperti itu terus, bisa-bisa dia menyusul anak kesayangannya ke alam kubur dalam waktu dekat.
“Maafkan kami Tuan, sungguh kami tidak tahu dengan hal ini.” Suara pengawalnya begitu lirih. Rasa takut tentu menyelimuti dirinya. Bahkan bukan hanya dia, tapi temannya yang lain pun merasakan hal yang sama.
“Baiklah, pantau dengan teliti. Pastikan semua aman. Dan gadis itu tidak pergi ke mana-mana! Pekerjaanku sedang banyak, aku tidak bisa datang ke sana sekarang. Dan soal wanita itu dan ayahnya. Biarkan saja. Jangan pedulikan mereka! Fokus pada cucuku saja!” perintah sudah dikeluarkan. Saatnya melakukan perintah itu dengan baik. Sebelum ada nyawa yang akan terancam.
“Baik Tuan.”
Madie melihat sekilas ke luar rumah. Para pengawal itu berdiri di dekat jendela, pintu, dan segala macam tempat yang bisa dijadikan tempat pelarian. Gadis itu tersenyum tipis.
“Belum saatnya!” ucapnya pelan. Kemudian dia berjalan menuju kerumunan teman-temannya. Menikmati pesta yang mungkin menjadi pesta terakhir dia di sana. Para muda-mudi itu menikmati acara. Sementara Harry hanya duduk dan memerhatikan saja. Bukan cocktail, bukan juga beer, atau bahkan wine. Dia hanya memegang gelas jus jeruk di tangan. Dia harus tetap dengan kesadaran penuh. Agar rencana itu bisa terjadi sesuai dengan yang sudah direncanakan.