Seseorang yang sedang berdiri di depan sebuah kaca besar sebagai pembatas antara dirinya dan Eliza. Dia menyaksikan segala penyiksaan itu dengan senyum merekah di wajahnya. Semua itu adalah bentuk balas dendam yang sempurna. Demi seseorang yang telah disakiti olehnya. Kini, dia berdiri di sana. Untuk bisa membalas setiap rasa sakit yang telah ditorehkan oleh si perempuan itu.
Di dalam sana, si perempuan dipaksa memakan makanan mentah. Jangan memikirkan sashimi, atau sajian dari daging mentah dengan saus kuning telur di atasnya. Makanan mentah itu lebih ke makanan busuk. Makanan yang tak layak makan. Hingga mencium baunya saja membuat mual dan bahkan muntah. Melihat si wanita memakannya. Lalu merasa mual dan muntah. Tapi ia terus melakukan hal itu. Walau perutnya sekaan diaduk dengan garpu besar. Dia harus bisa mengesampingkan rasanya. Demi keselamatan sang buah hati tercinta.
Siksaan itu tak berhenti di sana. Ada saat di mana wanita itu dikeluarkan dari ruang kaca. Dipaksa berjalan di atas jalanan di tengah hari tanpa alas kaki. Dengan peluh yang terus menetes deras. Juga bibir yang hampir mengering dengan sempurna. Tapi, tak ada rasa iba. Malah senyum merekah itu semakin lebar disunggingkannya. Di lain waktu, si pemimpin menyuruh untuk membersihkan si wanita. Mengganti pakaiannya, dan meriasnya. Tapi, bukan sebagai bentuk rasa bebas untuknya. Hari di mana dia dibersihkan adalah hari paling buruk yang akan dia jalani.
Dia akan dihadapkan pada pria-pria tidak waras yang akan menyentuh tubuhnya secara paksa. Hal itu, adalah tontonan paling menyenangkan bagi si pemimpin. Dia adalah makhluk paling kejam yang ada di muka bumi ini bagi Eliza. Hanya demi keselamatan sang anak. Dia menerima semua itu. Dia bertahan dari rasa sakitnya hanya demi hal itu. Mau bagaimanapun, dia harus tetap sadar. Dia harus tetap bernapas. Agar anaknya juga tetap bisa menghirup udara dengan bebas.
Sentuhan paksa itu memang menjadi tontonan menarik. Satu per satu dari pria yang menggunakan topeng itu menyentuhnya. Menariknya dengan paksa. Bahkan sampai membuat wanita itu terluka di beberapa bagian tubuhnya. Penolakan yang dia lakukan tak akan menolongnya. Malah membuat semua pria itu semakin tergugah untuk melakukan yang lebih dan lebih kejam lagi.
“Ampun, tolong jangan lakukan itu,” rintihnya. Derai air mata telah membasahi pipinya. Tapi suaranya seakan angin lalu. Tak ada yang mendengar. Tak ada yang peduli. Hal itu bahkan membuat si pemimpin semakin b*******h untuk menyaksikan setiap luka yang diterima oleh si wanita.
“Tuan, ada kabar terbaru!” ucap salah seorang bawahannya.
Si pemimpin menoleh, mendengarkan dengan saksama. Setiap laporan itu membuat dirinya geram. Urat di tangannya terbentuk dengan sempurna. Rahangnya mengeras. Dia merasakan darahnya seakan mendidih.
“Pantau terus, jangan sampai lengah!” balasnya dengan suara berat. Hiburan yang ada di depannya sekarang tak lagi menarik. Dia membalikkan badan, berjalan melangkah keluar dari tempatnya. Suasana hatinya sudah tidak baik. Dia harus segera menenangkan diri. Agar tak terbawa emosi. Dan tetap bisa menjalankan misi sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Ruangan serba putih itu menerimanya dengan tangan terbuka. Ia merebahkan diri untuk menikmati setiap otot yang di relaksasi. Pikirannya mendadak kacau karena laporan yang ia terima. Tapi, dia harus tetap tenang. Karena masih ada hal lain yang harus dia selesaikan.
***
Pesta yang berlangsung di rumahnya semakin meriah. Satu per satu tamu datang. Dengan segala macam hidangan yang juga berangsur-angsur tiba. Segala macam minuman beralkohol juga tersaji di sana. Madie si pentolan acara melipir ke salah satu kamar. Memastikan barangnya siap dibawa.
Hanya dengan satu kode, seorang pria datang. Menghampirinya dan mengambil sebuah tas ransel kecil dari dalam kamar tersebut.
“Cepat ganti pakaianmu!” bisik si pria.
Gadis itu menurut dan melakukan ucapannya. Di tengah hingar-bingar itu. Tentu tidak akan ada satu pasang mata pun yang akan peduli dengan keadaan orang lain. Mereka hanya akan fokus pada kesenangan diri sendiri. Dan ini adalah kesempatan paling sempurna untuk dia segera kabur dari sana. Setelah sebelumnya dia memastikan para pengawal itu telah meneguk alkohol juga. Pengaruh itu akan cukup membuat mereka tidak fokus pada pekerjaannya.
Seseorang dengan pakaian rapi keluar dari kamar tersebut. Dia berjalan tegap, memastikan kalau orang lain akan mengira dia adalah pria. Dan seorang perempuan yang sudah bersiap mengenakan pakaiannya juga berhambur di tengah pesta. Beberapa tamu memang lalu-lalang. Keluar-masuk dari rumah tersebut. Penyamaran itu berhasil. Dia lolos dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Temannya tak banyak bicara. Segera mengeluarkan mobil dari halaman rumah tersebut. Pelan tapi pasti. Gerakannya normal, maka tak akan ada yang curiga dengan siapa yang sedang ada di dalam mobil tersebut.
Saat akhirnya mereka berada di jalanan besar. Barulah gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lolos keluar dari rumah tersebut. Kini, dia benar-benar ingin menghilang dari mereka semua. Menghilang dari segala pantauan yang ada. Menghilang dari segala macam kekangan yang diberikan oleh seluruh keluarganya. Dia ingin hidup dengan caranya sendiri. Dia akan menjalani hari-hati seperti sebelumnya. Walau pada kenyataannya, dia sudah melanggar janji dengan Cristine. Dia sudah tidak mempunyai hak lagi untuk bekerja dengan wanita itu. Dan dia harus membayar sewa secara penuh sekarang.
Tapi, hal itu bukan hal yang terlalu penting untuk dipikirkan. Karena hal paling penting sekarang adalah dia telah bisa keluar dari rumah itu.
“Turunkan aku di stasiun kereta bawah tanah!” pintanya.
“Oke! Sesuai perintah, aku tak akan bertanya. Aku akan menutup mulut. Tapi, uangnya jangan lupa!” balas si pria. Dia tersenyum licik.
“Tentu saja, kau telah melakukan semuanya dengan baik. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana ekspresi Ayah dan Kakekku saat melihat kondisi rumah yang berantakan itu nanti!” si gadis terkekeh. Dia masih bisa tersenyum karena kekonyolan yang sedang dia bayangkan di pikirannya.
“Asal kau tahu, aku bahkan tidak banyak mengenal para tamu itu!” balasnya sambil tertawa.
“Jadi, dari mana kau dapatkan para tamu sebanyak itu?” Madie penasaran.
“Dari teman, sekali kirim pesan, boom! Datang semua!” si pria kembali tertawa.
“Kau hebat, bisa punya teman sebanyak itu. Apakah aku, hanya ada kau dan beberapa orang lain. Itu juga jarang sekali bertemu. Terima kasih banyak sudah membantuku. Ini adalah uang untuk tutup mulut! Dan aku harap, kau segera pergi dari kota ini. Sebelum mereka menyelidiki lebih lanjut siapa-siapa saja yang datang untuk berpesta! Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu, kalau kakekku sampai tahu akan dirimu. Begitu juga dengan si madie palsu! Berikan ini padanya!” gadis itu memberikan dua buah amplop coklat. Sebuah bungkusan khas untuk memasukkan uang yang banyak di dalamnya.
“Tenang saja, aku sudah tahu hal itu. Aku akan berhati-hati. Dan jaga dirimu, kapanpun kau butuh aku. Telepon saja!” balasnya.
“Oke! Sekali lagi, terima kasih!” ucap Madie sungguh-sungguh. Dia harus segera mengejar kereta. Agar tak terlalu lama berada di luar ruangan yang mampu direkam kamera. Dia harus segera bersembunyi. Agar pelariannya bisa berjalan dengan sempurna.
Gadis itu berlari masuk, membeli tiket per stasiun. Dia melakukan dengan teliti. Agar dia bisa bebas setelah ini. Rasa gugup tentu membayangi dirinya. Tapi, dia harus tetap bergegas pergi. Karena dia harus bisa melawan rasa takutnya sendiri. Dia akan kembali ke kehidupan yang dia inginkan. Menjadi orang lain, sepertinya adalah sebuah pilihan paling baik.