Sesuai dengan rencana. Sang kakek pun datang ke sana. Kondisi rumah sudah tidak bisa diharapkan lagi. Semuanya kacau. Terlalu banyak orang di dalam sana. Hanya dengan melihat seberapa banyak kendaraan yang sedang terparkir di halaman rumah saja. Eddy mengusap wajahnya kesal. Cucunya itu, selalu saja membuat sesuatu yang mampu mendidihkan darahnya. Termasuk acara pesta konyol yang sedang berlangsung di rumah tersebut sekarang.
“Di mana Harry?” tanya dia dengan risau. Perasaan pria itu tentu sedang tidak karuan sekarang. Dia bisa tahu, kalau ada hal yang tidak beres di dalam sana.
“Kami akan mencarinya Tuan!” balas Sang bawahan. Mereka bergegas masuk. Derap langkahnya tak terdengar oleh hingar-bingar musik yang sedang bergema di dalam sana. Membuat suara keras milik mereka diabaikan. Lantas, Sang pimpinan bergerak maju. Mendekat ke arah Sang DJ yang sedang asyik bergoyang dan memimpin lagu. Dilepaskannya secara paksa setiap kabel-kabel yang menghubung entah ke mana saja. Hingga akhirnya membuat musik itu berhenti.
Semua terenyak. Melihat ke satu sisi secara serentak. Para manusia dengan kesadaran yang hampir tak ada itu mengumpat dan memaki.
“Diam kalian semua! Bubar!” teriaknya.
“Mad, bagaimana ini? Kenapa sudah diakhiri?” balas salah seorang di tengah kerumunan dengan berteriak. Mendengar itu, seluruh peserta pesta saling menoleh ke sana dan ke sini. Mencari sosok bernama Madie yang telah mengundang mereka datang. Sosok yang menjanjikan mereka akan berpesta hingga esok hari. Tapi, ini baru beberapa jam dan mereka sudah diminta bubar.
“Mad?”
“Madie tidak ada!”
“Di mana dia?”
“Bagaimana bisa?”
“Tadi dia bersama denganku!”
Dan lebih banyak lagi celetukan di tengah hamparan manusia itu. Semakin membuat jengah para pengawal. Akhirnya, mereka mendorong orang-orang itu secara paksa. Sementara beberapa pengawal yang lain memeriksa setiap kamar. Mencari di mana keberadaan Madie dan juga Harry. Mereka adalah dalamnya. Dan harus segera ditemukan.
Satu per satu kamar mereka buka. Kosong. Rapi. Seakan tak tersentuh sama sekali. Lalu beranjak ke kamar di lantai dua. Di salah satu kamar tersebut. Mereka akhirnya menemukan Harry. Sedang terbaring di atas tempat tidur. Dan tidak sadarkan diri. Di dekatnya, ditemukan ada sebuah gelas berisi anggur. Mereka mengernyit. Merasa aneh, tapi apa yang mereka lihat adalah sebuah fakta. Bahwa Harry sedang tidak sadarkan diri. Dibangunkan pun susah. Mereka tahu, ini adalah pengaruh dari obat tidur. Mereka membopongnya, membawa ke lantai bawah untuk diantarkan pada Sang atasan.
Eddy masuk ke dalam rumah setelah semua manusia itu pergi dari sana. Celengan kepalanya pelan. Rasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat di dalam sana. Kacau, berantakan, kotor, dan sangat tidak dia sukai. Dia duduk di sofa yang tentunya sudah dibersihkan oleh para pengawalnya. Bersamaan dengan itu, para pengawal yang bertugas mencari Harry pun turun. Harry berada di salah satu pundak mereka. Dengan posisi tidak biasa.
“Kenapa dia?” tanya Eddy dengan suara beratnya.
“Dia tidak sadarkan diri Tuan. Rupanya, dia telah diberikan obat tidur oleh seseorang.” Pengawalnya itu menjawab sesuai apa yang dia lihat. Bukan karena ia ingin memihak pada Harry. Tapi, itulah kenyataan yang ada.
“Lalu, di mana Madie?” sambungnya.
“Maaf Tuan, kami tidak bisa menemukan dia di mana pun.” Pria itu langsung menundukkan kepalanya. Ia tahu, jawaban yang dia berikan adalah jawaban yang paling tidak disukai oleh atasannya. Dia bisa saja dihukum hanya karena hal itu. Walau bukan kesalahan darinya. Tapi tetap saja. Orang yang sedang dia hadapi adalah Eddy. Orang yang terkenal dengan sikap semena-menanya.
“Apa saja yang kalian kerjakan sejak tadi? Bagaimana bisa dia kabur lagi? Kalian tidak becus menjaga seorang anak gadis?” Eddy berdiri dari duduknya. Emosinya memuncak. Dia menendang kaki para pengawalnya dengan acak. Pria setengah baya itu meluapkan emosi pada mereka secara langsung. Bukan nanti, bukan esok hari. Tapi, detik itu juga. Beberapa pengawal mengaduh lirih. Tentu sakit. Bagian tulang kering terantuk sedikit saja nyerinya minta ampun. Apalagi ditendang secara sengaja dengan sangat keras seperti itu. Tapi, mereka hanya meringis menahan sakit. Kepala tertunduk, sama sekali tak berani menatap pada Sang atasan. Lebih baik kaki yang sakit bagi mereka. Daripada nyawa yang melayang.
Eddy kembali duduk, keringatnya bercucuran. Sudah cukup lama dia tidak berolahraga, dan hal itu membuat dia sedikit kepayahan setelah menendang para pengawalnya itu.
“Bangunkan dia!” perintahnya.
Salah satu dari mereka hendak mengatakan kondisi Harry. Tapi, diurungkannya. Suasana hati tuannya tentu sedang tidak baik. Kalau dia tambah dengan kenyataan bahwa dosis yang mungkin sudah masuk ke dalam tubuh Harry saat itu. Bisa jadi, dia akan jadi mayat hanya dalam hitungan detik.
“Baik Tuan!” jawabnya. Mereka mencoba membuka mata Harry dengan menendangnya. Lalu menyiramnya dengan air. Tapi, bukannya sadar. Pria itu hanya membuka matanya sekilas. Lalu kembali ke posisi semula.
“Cukup! Bawa dia ke rumah!” sebuah perintah telah terucap. Eddy telah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kalau Harry telah dicekoki obat tidur cukup banyak oleh cucunya. Pria itu tentu tidak mungkin meminum obat itu sendiri. Dia tidak bodoh untuk melakukan itu. Karena dia cukup mengenal pamannya. Sekali ada kesalahan, maka tidak akan ada ampun. Apalagi, itu terkait dengan Madie. Cucunya satu-satunya.
“Rupanya cucuku sudah merencanakan ini. Gadis itu sungguh sedang menguji kesabaranku!” gumamnya.
“Dia sepertinya ingin berperang denganku. Baiklah, jika dengan kelembutan tidak bisa menurut. Maka jangan memprotes jika aku menggunakan kekerasan padamu!” dia berbicara sendiri. Soroti matanya menatap pada sebuah foto yang sedang terpajang di dinding ruangan. Foto seorang gadis cantik dengan balutan gaun putih dan anggun.
“Siapa asisten Madie?” teriaknya.
Di ujung sana, Amanda langsung gemetar. Tapi, dia tetap harus menunjukkan dirinya kepada sang atasan. Pria itu tentu sangat berkuasa dan mampu melakukan apa saja. Gadis itu berjalan pelan, mendekat ke arah Eddy dengan kepala yang masih ia tundukkan.
“Saya, Tuan,” jawabnya lirih. Dengan jantung yang terus berdetak dengan kencangnya. Dia sama sekali tidak berani menatap pria itu. Dia tak mempunyai kekuatan untuk mendongakkan kepalanya pada Sang atasan.
“Siapa namamu?” suara berat itu membuat Amanda bergidik ngeri.
“Amanda.” Dia membalas dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Kau tidak ada kaitannya dengan kaburnya cucuku bukan?” pertanyaan itu sungguh mencekiknya. Bagaimana mungkin dia tidak terlibat dalam hal itu. Meskipun dia hanya melakukan perintah dari Madie. Meskipun majikannya itu tidak menjelaskan rencana itu padanya. Tapi, dia bisa tahu dan cukup mengerti akan apa yang akan terjadi. Namun, jika dia menjawab dengan jujur apa yang dia ketahui. Maka, keselamatannya akan terancam.
“Tidak Tuan, saya hanya melakukan sesuai perintah Nona muda. Saya tidak tahu menahu akan hal ini Tuan. Mohon maafkan saya, seharusnya saya lebih berhati-hati lagi dalam mengikuti perintah darinya,” jawab Amanda dengan kata-kata yang ditata. Dia tidak ingin memberikan jawaban yang salah. Dia harus tetap terlihat patuh dan menurut.
“Ah, baiklah, aku tahu bagaimana cucuku. Dia pasti akan memaki kau jika tidak menurut. Mulai sekarang, pastikan kalau kau akan terus melaporkan setiap hal yang berhubungan dengan cucuku! Kalau dia menghubungi ke sini, atau menelepon kau, cepat laporkan padaku!” perintahnya. Dengan perasaan yang masih tidak menentu. Eddy memilih berbalik pergi. Dia harus menyadarkan Harry dan mulai menginterogasinya. Tapi dia terlupa. Ada sesuatu yang terasa kurang di sana. Namun dia merasa lega. Dia berhenti melangkah. Lalu, kembali berbalik badan saat menyadari apa yang tidak ada di sana.
“Ke mana Antoni?” tanya pria itu pada Amanda lagi.
“Maafkan saya Tuan, tadi Nona Madie meminta untuk mengusir perempuan yang bersama dengan Tuan Antoni. Dan hal itu membuat mereka bertengkar. Entah pergi ke mana mereka sekarang. Pengawal Anda lebih tahu akan hal ini Tuan. Maaf jika saya lancang mengucapkannya.” Gadis itu sungguh sangat berhati-hati.
Eddy tersenyum tipis. Ada kelegaan di hatinya dia mendengar hal itu. Cucunya mewarisi sifatnya. Dia sudah mulai menunjukkan kalau dia berkuasa. Hanya saja, gadis itu harus dipoles di beberapa sisi agar semakin sempurna.
“Baguslah. Jangan biarkan mereka kembali masuk ke dalam rumah ini. Ini perintah!” balas Eddy.
Pria itu melanjutkan langkahnya. Keluar rumah dan bersiap untuk pulang menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan dia terdiam. Berpikir keras, Kira-kira ke mana gadis itu pergi saat ini. Tempat-tempat yang mungkin saja menjadi tempat pelarian muncul dalam pikirannya. Tapi, dia sendiri juga yang menepisnya. Merasa tidak mungkin cucunya akan berada di tempat itu. Hilangnya Madie adalah sebuah rencana yang memang sudah gadis itu putuskan. Tentu cucunya tidak akan berada di tempat-tempat yang bisa dilacak dengan cepat. Gadis itu sudah dewasa. Dan cukup mengenal Sang kakek yang begitu berkuasa. Tidak akan mudah menemukan tempat untuk bersembunyi darinya. Tapi, gadis itu tetap saja melakukannya.
Kepala Eddy terasa semakin berdenyut. Saat dia mendapati ponselnya bergetar dan ada nama Alex di layarnya. Itu adalah sebuah telepon yang cukup memuakkan dalam kondisinya yang sedang dilanda kebingungan besar seperti ini. Bagaimana dia akan menjelaskan tentang keadaan cucunya yang kembali tidak bisa ditemukan pada Sang calon besan? Mau diletakkan di mana wajahnya? Dia tentu masih sangat mempunyai gengsi yang tinggi. Dia tidak akan merendah. Dia tidak akan mengalah. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk mengabaikan saja panggilan itu. Dia memilih untuk fokus pada pencarian Madie sekarang. Urusan perjodohan itu bisa dia undur lagi dengan jam tangan mewah seperti sebelumnya. Membungkam mulut Alex tidaklah susah. Begitu pikirnya.