Hari demi hari berlalu. Tak ada pembahasan tentang pekerjaan. Atau hanya sekedar tanya tentang apa yang sudah ia alami di rumahnya. Cristine hanya berlaku biasa. Menyiapkan makan, lalu berangkat bekerja. Tak sekalipun dia mengajak untuk bekerja. Pikirnya, kalau gadis itu memang ingin kembali bekerja bersama dengan dirinya. Gadis itu pasti akan menawarkan diri padanya. Tidak perlu banyak bicara. Sebab ia tahu, bagaimana biasanya gadis itu bersikap. Dia sengaja memberikan ruang dan waktu untuk gadis itu sendiri. Merenungi segala hal yang telah dia alami. Dia sengaja, tak mengusiknya sedikit pun. Dia ingin menjadi tempat bersandar gadis itu, jika ia memang menginginkannya.
Seperti pagi ini, gadis itu masih tak banyak bicara. Dia melahap sarapannya dengan diam. Dengan segala emosi yang ada di wajahnya. Tak bisa terbaca secara jelas oleh si wanita tua. Di piringnya tersisa satu potong roti saja. Setelah ini, ia akan beranjak dan berangkat bekerja. Ragu-ragu, dia menyuap roti itu ke dalam mulutnya. Dengan ekor mata yang masih memerhatikan gadis itu tentunya. Ia harus kembali menghela napas kecewa. Karena gadis itu masih saja diam dan tak banyak bicara seperti sebelumnya.
Wanita tua itu bangkit, membawa piring kosongnya ke arah wastafel. Ia buka kran air dan basahlah kedua tangannya. Saat dia berbalik, hal yang tidak pernah ia sangka terjadi. Gadis itu berdiri di depannya. Dengan mata berkaca-kaca. Di tangannya ada piring kosong yang juga akan ia letakkan di tempat pencucian.
“Nek, apa aku masih boleh bekerja? Aku tahu, aku sudah melanggar janji, tapi ... Bolehlah aku ....”
“Baiklah, baiklah, ayo letakkan itu! Berbahaya jika kau memegangnya dengan tangan yang gemetar seperti itu.” Cristine menjawab dengan suara yang begitu tenang. Bisa meneduhkan setiap hati yang merasa kepanasan. Suara wibawa dan begitu lembut keluar dengan sangat istimewa. Sentuhan lembutnya tentu tak pernah tertinggal. Belaian halus pada rambut si gadis memberikan kenyamanan lebih dalam hatinya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Menikmati sentuhan yang memang sudah dia rindukan sejak lama.
Kemudian, dia meletakkan piring itu sesuai dengan perintah sang Nenek. Sebuah pelukan hangat mendarat. Memberikan rasa nyaman dan aman yang begitu besar.
“Siap-siap sana!” perintahnya.
Gadis dengan mata yang masih berkaca-kaca itu menyunggingkan senyumnya. Dia menatap hangat, lalu mengangguk pelan. Kaki kecilnya melangkah dengan pasti menuju anak-anak tangga yang harus dia naiki untuk pergi ke kamarnya. Dia sangat bersemangat. Bergegas pergi agar tak membuat mereka terlambat untuk pergi bekerja.
Di luar dugaan, seorang pria tampan baru saja memasuki halaman rumah itu dengan mobil mewahnya. Deru mobilnya halus. Saat pintu terbuka, pria dengan kemeja putih dan celana biru kehitaman keluar dari sana. Kaca mata hitam yang ia kenalan begitu kontras dengan kulit putih di wajahnya. Ada rambut halus yang membentuk bekas keabu-abuan di sisi kanan dan kiri wajahnya. Bekas cukuran yang rapi dan sempurna. Menambah rasa percaya diri si pria tampan itu. Dia melipat kacamata dan meletakkannya di tengah-tengah belahan kemejanya. Langkahnya pasti, semakin dekat dengan pintu utama rumah sang Nenek.
Tapi, pandangannya teralihkan. Saat dia akhirnya menyadari, bahwa ada pergerakan di lantai atas. Tempat di seberang kamarnya.
“Siapa?” pria itu bergumam pelan. Langkah kakinya pun terhenti, dan kedua manik matanya terpaku pada sosok yang ada di kamar tersebut. Dari siluet yang dia lihat, sosok itu sama sekali berbeda dengan postur neneknya. Kemudian dia teringat akan sesuatu. Kalau ada seseorang yang memang menyewa kamar tersebut.
“Ah, bagaimana bisa aku mudah lupa seperti ini?” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Ia kembali melangkah mendekat ke arah pintu. Bersamaan dengan gerakan Cristine yang menarik pintu. Dorongan dari pria itu pada pintu membuat keduanya saling terekspose. Keduanya saling menatap.
“Ada apa kamu ke sini? Tumben sekali?” ucap Cristine spontan. Melihat cucunya mendadak ada di depan pintu.
“Memangnya kenapa Nek? Biasanya, aku juga datang ke sini!” balasnya cuek. Dia ngeloyor masuk. Lalu duduk di sofa. Kepalanya dia sandarkan dan matanya ia pejamkan.
“Biasanya kalau enggak ada perlu, enggak ke sini. Jadi, ada perlu apa lagi kamu ke sini?” balasan dari Neneknya tak kalah ketus. Wanita itu ikut duduk, tapi berada di seberang sang cucu.
“Aku sedang ambil cuti Nek, ah pekerjaan di kantor tidak selesai-selesai. Aku lelah!” pria itu kini merebahkan dirinya.
“Nek, aku siap!” suara gadis itu mengejutkan si pria. Dia tidak pernah mengira kalau yang menyewa kamar itu adalah seorang gadis. Tapi, kenapa dia ikut memanggil Neneknya dengan panggilan nenek? Suara panggilan itu membuat si pria terkesiap. Langsung terduduk dan mencari ke sumber suara. Manik matanya menangkap sosok cantik dengan rambut pendek. Tubuhnya begitu sempurna, bak model papan atas yang selalu seliweran foto-fotonya di layar laptopnya.
“Siapa dia? Kenapa dia memanggilmu Nenek juga? Wah, apa karena aku jarang pulang ke sini? Jadi, Nenek seenaknya mengambil orang sebagai cucu?” ucapan tak masuk akal itu keluar dari bibir Xander yang memang susah menyaring kalimat.
Madie menatapnya dengan tak suka. Pria itu memang tampan. Tapi mulutnya yang culas itu sangat mengurangi nilai yang ada pada dirinya. Bagaimana bisa ada seorang pria yang mulutnya terlalu lemes seperti itu pikirnya. Gadis itu tak menggubris ucapan Xander. Dia hanya terus melangkahkan kaki untuk turun dan mendekat ke arah Cristine.
“Diam kamu! Memangnya kenapa kalau aku punya cucu lagi? Kau saja sudah seperti orang asing denganku. Memangnya kau sering datang berkunjung? Memangnya kau pernah menelepon menanyakan kabarku? Paling-paling kau hanya datang kalau ada keperluan saja. Iya kan?” Cristine menyahut. Dia menoleh sebentar pada Madie. Lalu, kembali menatap tajam pada Xander yang cukup terkejut mendengar ocehan Neneknya.
“Dia sudah aku anggap sebagai cucu, lalu kamu mau apa? Protes? Enggak akan berpengaruh!” tukasnya memperjelas kalimat yang dia ucapkan sebelumnya. Bahwa tidak akan ada hal yang berbeda di sana. Semua akan tetap sama. Walau Xander memprotes keputusannya.
“Tapi, Nek! Mana bisa seperti itu?” pria itu masih tak mau menerima.
“Kau tenang saja! Aku tidak akan mengambil harta Nenek! Aku di sini kerja dan menemani dia!” sahut Madie dengan tak kalah ketus. Dia berdiri di belakang Cristine. Meletakkan tangan di pundak wanita tua tersebut. Sambutan hangat diterimanya. Sentuhan Cristine pada tangannya memberikan dia kekuatan lebih.
“Cih! Kau sungguh hanya akan melakukan itu?” gumam pria tersebut. Mana bisa dia mempercayai seseorang yang baru saja dia temui. Cantik sih, tapi kalau ikut-ikutan menjadi cucu dari Neneknya. Bisa gawat!
“Kita tidak usah berangkat, istirahat dulu deh di rumah. Moodku seketika jelek setelah kejadian ini. Aku ingin kalian akur! Jadi Xander, kau harus menjaga sikapmu!” tegasnya. Cristine berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Sambil memijit pelipisnya buang mulai terasa nyeri. Ia sengaja meninggalkan kedua pemuda itu di sana. Agar mereka saling mengenal satu sama lain.
Sayangnya, keduanya hanya saling diam. Sesekali mencuri pandang. Dalam hati mereka masing-masing memang menaruh rasa kagum pada rupa yang begitu menawan. Tapi, keduanya juga merasakan rasa waspada. Xander sebagai cucu asli tentu tak ingin ada orang lain yang mengusik hidupnya. Sementara Madie sebagai orang baru yang merasakan cinta tulus seorang Nenek tak ingin kehilangan rasa itu lagi. Karena, ia juga sudah memutuskan untuk menjadi Clara. Bukan lagi Madie.
“Siapa kamu?” tanya Xander. Sebuah pertanyaan yang membuat Madie merasa sedikit terkejut. Karena saat itu, keduanya saling diam cukup lama.
“Clara!” jawabnya. Singkat, padat, dan jelas. Tak ada penjelasan lain. Tak ada kalimat yang menunjukkan tentang siapa dirinya. Dia hanya menyebutkan sebuah nama dan selesai sampai di sana.
“Clara? Dari mana asalmu?” lanjutnya. Dengan kening yang berkerut, Xander mengamati gadis itu lagi. Dia memerhatikan, bahwa gadis yang ada di depannya ini tidak mungkin dari kalangan biasa. Kulit mulusnya, wajah terawatnya, bahkan tentang postur tubuh dan cara bicaranya cukup menunjukkan bahwa dia terpelajar.
“Dari sinilah, dari mana lagi?” balas Madie acuh. Dia malas, dan sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan itu. Tapi, dia terpaksa harus tetap di sana. Agar Cristine tetap menyayanginya.
Gerakan bola mata memutar pun akhirnya ditunjukkan oleh Xander.
“Kau pasti sudah tahu namaku, nenek sudah menyebutkannya tadi. Aku Xander, aku harap kita akrab. Karena, aku tak mau Nenek marah-marah terus padaku,” sahutnya. Dengan senyum tipis yang ia paksakan.
Madie baru saja akan membuka mulut. Tapi, pria itu mendadak berdiri dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Karena ponselnya berdering dengan nyaring. Segera dia berdiri dan melangkah pergi. Telepon itu harus segera dijawab. Sebuah telepon yang sangat penting.