Madie sebenarnya cukup terpesona dengan wajah yang rupawan itu. Tapi, melihat sikap pria yang cukup menyebalkan tersebut, pesona itu mendadak menyusut, terkikis, lalu menguap entah ke mana. Sesekali gadis itu masih melirik ke arah si pria yang sedang asyik dengan ponselnya. Dari raut wajah si pria, gadis itu bisa memastikan bahwa dia sedang melakukan rayuan. Kata-kata manis yang samar-samar dia dengar membuatnya semakin kesal.
“Sudah berapa wanita yang kau perlakukan seperti itu?” gumamnya pelan. Tentu saja tidak bisa didengar oleh Xander.
Lalu, dia cepat-cepat menutup mulutnya sebelum pria itu mencurigainya. Karena dia telah menyelesaikan urusan tersebut. Kemudian kembali duduk di dekat Madie.
“Aku beritahu, kalau aku adalah cucu satu-satunya. Jangan pernah mencoba untuk memikat hati Nenekku hanya karena aku tidak berasa di sini!” suara ketus dengan tatapan tajam yang diberikan oleh pria itu, menembus netra sang gadis.
“Cih, kau yang tidak bisa memikat hati Nenekku sendiri. Malah menyalahkan aku?” balas Madie dalam hati.
Gadis itu melengos, tak menjawab. Sengaja melakukannya. Karena dia malas berdebat. Biar saja pria itu kesal, pikirnya.
“Kalau kau datang ke sini untuk mengambil harta Nenekku, hal itu tidak akan pernah terjadi! Jangan bermimpi!” lanjut si pria. Senyum miring mengejek itu ditampilkan di wajah tampannya.
Karena kesal terus dituduh, Madie pun akhirnya angkat bicara. Pria itu harus tahu, bahwa dia berada di sana karena bekerja. Tak lebih dari itu. Tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menguasai harta si Nenek. Untuk apa pula? Harta yang dia tinggalkan jauh lebih banyak daripada yang akan dia rebut dari si pria itu.
Ia menghela napas panjang. Lalu, dengan tatapan tajamnya dia menatap si pria. Rak berkedip sama sekali.
“Harta mana yang sedang kau bicarakan? Rumah? Atau ... Gerobak corndog yang ada di sana?” sindir Madie dengan tajamnya. Dia pun tersenyum tipis, tak kalah mengejek seperti yang sebelumnya dilakukan oleh si pria.
Xander diperlakukan seperti itu tentu tidak terima. Mulutnya baru saja akan terbuka, tapi gadis itu menyela. Kembali mengeluarkan kata-kata tajam yang sudah saatnya dia keluarkan.
“Tak perlu merasa kesal, karena dua hal itu adalah harta yang mungkin akan kau warisi. Aku tak perlu itu. Aku tekankan sekali lagi, aku di sini bekerja dengan Nenek! Aku tinggal di sini dan menemaninya. Tak seperti seseorang yang mengaku cucu. Tapi ... Tak pernah terlihat wujudnya!” Madie, menyilangkan kaki. Menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa.
“Dan satu lagi! Aku tidak membutuhkan harta itu, selama Nenek ada di dekatku! Jadi ... Kalau cucu itu ingin dia berada di posisi aman dalam silsilah warisan. Kenapa dia tidak ikut tinggal dan memastikan sendiri dengan kedua netra yang dia miliki?”
Madie mendadak mencondongkan tubuhnya. Mendekat ke arah Xander. Gerakan kecil dari kepalanya yang menoleh ke arah pintu kamar Cristine membuat Xander bertanya-tanya. Apa yang akan gadis itu ucapkan sekarang?
“Dengar! Aku memang tak ada niatan mengambil harta yang kau sebutkan itu. Tapi, kalau Nenek yang berkehendak. Mana mungkin aku menolak? Aku akan berperan sebagai cucu idaman baginya. Tentu tak akan aku tolak permintaannya, kalau dia yang menginginkan harta itu berada padaku!” sangat di luar dugaan. Hal itu sama sekali tak terbesit dalam pikiran Xander. Pria itu sekarang mengernyit. Perasaan kesalnya membara. Tapi, dia tidak bisa langsung membalas ucapan si gadis. Dia sedang menyusun rangkaikan kata dalam pikirannya.
“Rasanya, hanya itu yang perlu aku katakan padamu. Ah, aku lelah. Aku akan ke kamar! Kalau kau akan pulang, jangan lupa menutup pintu dengan rapat!” gadis itu menutup pembicaraan. Ia segera berdiri dan tak lagi menghiraukan ekspresi Xander yang sudah memerah karena marah. Langkah kaki jenjangnya mulai menjauh. Satu per satu anak tangga dia naiki dengan lambat. Sengaja, dia benar-benar sedang ingin bermain hari itu.
“Hey! Dengar ya! Kau bukan siapa-siapa di sini! Dan seterusnya akan tetap seperti itu! Jangan pernah berharap lebih!” suara Xander terdengar berat dan napasnya terengah-engah. Ya, selama ini dia bersikap cuek dan acuh. Datang kalau ada perlu, dan pergi sesukanya. Menelepon kalau ada hal yang ingin ditanyakan, jarang sekali menanyakan kabar dari sang Nenek. Kini, dia akhirnya sadar. Kalau posisinya mulai terancam. Kehadiran seorang gadis di rumah itu tentu akan menghalanginya. Entah besar atau kecil risikonya, tetap saja akan ada penghalang bagi Xander untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sementara itu, madie hanya terus melangkah. Dia tak menggubris ucapan si pria. Bibirnya tersenyum, karena permainannya berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
“Hanya karena kamu ada di sini, bukan berarti kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau! Tentu aku tidak bisa berada di sini setiap hari karena harus bekerja! Aku bekerja di perusahaan besar! Perusahaan keluarga Anderson! Tak seperti kamu yang hanya menjual corndog di tepi jalan! Aku orang yang sibuk, jadi maklum kalau aku jarang pulang!” lanjutan kalimat itu membuat Madie menghentikan langkahnya.
Jantungnya mendadak berdetak semakin kencang saat ia mendengar pria itu adalah seseorang yang bekerja di perusahaan sang kakek. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas agar tetap tampak tenang. Dia tidak boleh terlihat gugup sedikit pun. Satu gerakan gemetar itu tak boleh tertangkap netra Xander. Tak boleh. Dia harus tetap terus melangkah pergi dan mengacuhkannya. Agar apa yang ingin dia tutupi tetap terjaga dengan rapi.
“Kenapa kau berhenti? Terkejut mendengar nama perusahaan tempat aku bekerja?” dia tertawa mengejek. Lalu, dia melanjutkan kalimatnya lagi.
“Orang seperti kamu, tak pernah pantas berada di lingkungan kerja seperti itu!”
Tanpa Xander duga, gadis itu mendadak memutar tubuhnya. Menyajikan senyum yang begitu menawan. Dengan tatapan lembut yang memesona.
“Tentu Tuan, aku hanya orang rendahan. Mana mungkin aku berani bermimpi seperti itu. Wahai Tuan yang terhormat, kalau pekerjaan Anda memang begitu penting. Maka, Anda tak perlu cemas dengan orang seperti aku ini, bukan? Aku tak mungkin bisa meraih hal-hal semacam itu. Jadi, Anda tak perlu merasa khawatir, Tuan. Aku tahu diri, di mana dan sebagai apa diriku ini di dalam rumah ini!” balas Madie dengan tekanan yang sangat mengejutkan bagi Xander. Gadis yang sebelumnya mengancam dirinya akan warisan, kini berubah dan mengatakan tentang kelemahan dan ketidakberdayaannya. Tapi, hal itu ia ucapkan sebagai sindiran keras yang mampu mencengangkan si pria.
“Dengar! Kalau kau begitu cemas dengan posisimu. Tinggal saja di sini! Tapi, kalau pekerjaanmu itu begitu penting bagimu, ya lakukan sesukamu! Aku tak peduli!” lanjut Madie. Dan dia langsung mempercepat langkahnya. Ia harus segera masuk ke dalam kamar. Ia harus segera pergi dari hadapan si pria. Agar dia bisa menenangkan dirinya. Pria itu tidak boleh tahu akan rasa yang sedang mendera hatinya saat ini.
“Hey, mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara!” teriak Xander saat ia melihat gadis itu mempercepat langkahnya. Meninggalkan dia yang masih ingin berdebat di sana. Ia mengusap wajah kasar. Gadis itu sungguh tak bisa ditebak.
“Clara!” teriaknya.
Bukannya mendapati gadis itu kembali menemuinya. Tapi, dia malah mendengar suara pintu terbuka dari kamar Neneknya. Dan wajah wanita setengah baya itu muncul. Langkah cepat yang dilakukan sang Nenek tak bisa dia hindari. Dan sebuah tarikan keras di telinganya membuat dia tersadar. Kalau sedari tadi, sang Nenek terus memperhatikan mereka yang sedang berbicara satu sama lain.
“Aduh, Nek, sakit Nek!” keluhnya. Sambil meringis dan mencoba melepaskan tangan sang Nenek dari telinganya.
“Makanya, jangan sembarangan berteriak! Orang di kompleks sebelah bisa mendengar suaramu! Kau tahu?” Omelnya. Cristine memang tidak suka dengan suara teriakan seperti itu.
“Ampun Nek, maaf Nek!” pintanya. Dengan kedua tangan yang dia gosok-gosokkan satu sama lain.
Dengan gerakan kasar, Cristine melepaskan jewerannya di telinga sang cucu.
“Jangan kau ganggu gadis itu! Malah membahas soal warisan! Hal tidak penting itu tak perlu kau bicarakan dengannya. Dia bahkan bekerja untuk bisa membayar sewa. Tapi mulutmu itu!” Cristine yang gemas hampir saja meremas bibir sang cucu. Kalau saja pria itu tidak menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ada apa kau ke sini? Kalau ada perlu ke kamar, segera ke kamarmu! Lalu pergi dan jangan membuat onar di sini! Kalau kau memang khawatir akan harta, kau bisa tinggal di sini untuk mengamankan semua harta yang kau miliki! Tapi, pekerjaanmu tentu lebih penting bukan?” sindir neneknya.
“Nek, aku akan tinggal di sini. Tapi, tidak sekarang. Pekerjaanmu banyak dan aku harus datang tepat waktu. Kalau libur bekerja, aku akan datang. Seperti hari ini, aku mengambil cuti!” jawabnya. Matanya berbinar, menunjukkan pada sang Nenek, kalau dia melakukan itu karena memang ingin berada di sana bersama dengan Neneknya.
“Ah, jadi kau cuti. Kebetulan sekali, rumput-rumputan di depan sana sudah waktunya dipangkas. Bisa kau bantu untuk membersihkan? Tentu bisa kan? Sedang cuti kan?” Cristine mendapatkan celah untuk menghukum sang cucu.
“Kalau kau tidak mau, tak apa. Aku akan meminta gadis itu yang melakukannya. Clara tentu tak akan menolak!” dia memerhatikan wajah sang cucu. Dia tahu, cucunya merasa malas mengerjakan hal itu. Tapi, setelah mendengar nama Clara disebut. Pria itu berubah, wajahnya memang tampak terpaksa. Tapi, kepalanya mengangguk setuju.
“Baiklah, akan aku lakukan. Nenek tak perlu memanggilnya! Oke?” sahutnya. Ini adalah kesempatan bagus untuknya. Agar dia bisa menunjukkan pada si gadis. Bahwa dia adalah cucu yang baik dan berbakti. Posisinya aman, dan tak akan tersingkir sampai kapanpun juga.