Sudah hampir satu minggu sejak hilangnya gadis itu. Seperti yang sudah ia janjikan pada sang keponakan. Bahwa dia tidak akan mencarinya. Dia tidak akan melakukan hal yang bisa menuntun Eddy mendekat ke arahnya. Dia saat ini terus fokus pada pekerjaannya. Walau hatinya cemas. Walau dirinya rindu. Walau dia tidak bisa bersikap tenang setiap harinya. Dia tetap harus tampak biasa saja.
Terakhir kali, saat dia ditanya-tanyai oleh sang Paman. Dia sudah menunjukkan hal-hal yang seharusnya. Dia memang langsung cemas dan menunjukkan ekspresi menyesal. Lalu menitikkan air mata. Menunjukkan pada sang Paman. Bahwa dirinya memang lalai. Dirinya yang salah, kurang tegas dan segala macam hal dia sampaikan pada Eddy. Kemudian, hal yang dia tunggu-tunggu akhirnya terucap juga dari bibir pamannya.
“Mulai detik ini, jangan pernah ikut campur atas pencarian Madie! Kau urus saja semua pekerjaannya itu! Aku akan melakukan semuanya sendiri!”
Dan setelah mendengar itu. Harry tersenyum tipis. Tujuannya telah tercapai. Walau awalnya dia mencoba untuk merengek dan mencari celah agar sang Paman mengizinkan dia untuk ikut campur. Tapi, tetap saja. Keputusan Eddy tak akan pernah berubah. Pria tua itu begitu tegas memberikan batas. Harry bahkan memuji dirinya sendiri kala itu. Ia merasa sudah bisa menjadi seorang aktor terkenal sekarang. Akting menangis dan meraung yang dia lakukan tampak begitu nyata dan sangat meyakinkan.
Ketegasan Eddy tak berhenti sampai di sana. Dia bahkan sudah mengurus tentang Antoni dan segala hal buruk yang dia lakukan. Wanita yang sebelumnya mengatakan sedang mengandung itu ia tempatkan di salah satu rumah yang cukup jauh dari tempat tinggal mendiang Elaine. Ia hanya mengantisipasi, kalau-kalau gadis itu pulang. Dia tidak harus bertemu dengan orang yang akan membuat hatinya sakit. Penolakan tentu saja dia dapatkan, tapi bukan Eddy namanya kalau tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Antoni bahkan terduduk, bersimpuh, dengan kepala yang menunduk di hadapannya. Pada akhirnya, keduanya menerima keputusan itu. Urusan perusahaan akan tetap berjalan. Tinggal di sana bukanlah hal besar yang harus diributkan. Karena sejauh ini, rencana mereka cukup berjalan dengan baik.
Siang itu, Harry berdiri di dekat dinding kaca di ruangannya. Dia memandangi hamparan kota yang terlukis di sana. Gedung-gedung tampak kecil. Begitu juga dengan mobil dan segala kendaraan yang lalu-lalang di sana. Dia seperti sedang memandangi miniatur di pameran-pameran hunian.
“Mad, kau di mana?” gumamnya pelan. Pria itu memejamkan matanya sebentar. Lalu menyeka bulir air mata yang lolos keluar dari tempatnya.
“Elaine, kau harus melindunginya.” Hatinya begitu terasa berat saat mengucapkan kalimat itu. Tapi, mau bagaimanapun ia akhirnya bisa melakukannya. Melindungi sang keponakan. Walau pada akhirnya membuat dia juga harus merasakan cemas dan lega di saat yang bersamaan. Ia lega, gadis itu bisa keluar dari belenggu yang menjeratnya. Tapi, dia merasa cemas. Karena tak bisa melacak kepergian sang keponakan. Ia tak tahu, di mana gadis itu berada. Sedang melakukan apa, dan bagaimana kabarnya.
Sebuah ketukan pintu membuat dia terseret kembali ke dunia nyata.
“Ya, masuk!” jawabnya.
“Tuan, ini beberapa berkas yang harus Anda tandatangani,” ucap seorang wanita yang baru saja memasuki ruangannya.
“Baiklah, letakkan di sana!” balasnya.
Sebuah anggukan menjadi penutup perbincangan itu. Tak banyak bicara, wanita itu meletakkan berkas tersebut ke meja Harry. Lalu, dia undur diri dan pergi dari ruangan tersebut. Tanpa disuruh, dia sudah paham. Kalau perintah itu keluar dari bibir atasannya. Hal itu menunjukkan kalau sang atasan sedang ingin sendiri. Karenanya, dia harus sadar diri dan cepat-cepat pergi dari ruangannya.
Tak berselang lama, mendadak ponsel miliknya berdering. Dan dia cukup terkejut melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Bagaimana bisa?” pertanyaan itu terucap begitu saja. Pria itu mendapati tangannya sedikit gemetar. Dia mengangkatnya, mendengarkan suara yang ada di seberang telepon itu. Dengan raut wajah yang cukup tegang.
***
Sebuah tempat penyiksaan yang tak pernah sepi dari teriakan. Tempat di mana seorang wanita masih berjuang untuk bertahan hidup. Demi nyawa seorang anak. Dia harus menerima segala perlakuan buruk. Walaupun begitu, ia tetap harus bertahan. Kalau dia menyerah, akan ada nyawa lain yang melayang karenanya.
Seorang pimpinan masih setia datang dan menyaksikan semua penyiksaan itu. Dia terlihat begitu menikmati setiap teriakan dan isak tangis si wanita. Sesekali wanita yang tak kuat menahan siksaan itu meraung. Meminta ampunan, meminta dilepaskan, meminta hal yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Ia bahkan tidak mengerti, kenapa dia harus menerima penyiksaan itu. Padahal, dia tidak mengenal orang di balik topeng yang selama ini selalu mengawasinya dari balik dinding kaca. Ia tahu, tempat penyiksaan itu berbeda dengan sebelumnya. Ia juga pernah mendengar tentang kabar kematian yang cukup mencengangkan. Bukannya penyiksaan itu berhenti. Tapi, dia malah mendapatkan hal yang berkali-kali lipat lebih buruk dari sebelumnya.
Seorang anak laki-laki yang selama ini ada di sana juga mulai menunjukkan pemberontakan. Mulai tak mau makan. Mulai uring-uringan. Mulai banyak bertingkah dan meminta banyak hal. Segala hal itu membuat sang pimpinan menjadi kesal dan menempatkan anak tersebut di dalam kamar. Tanpa boleh lagi keluar dari sana.
Saat dia akhirnya mendapatkan sebuah laporan lain tentang rencananya. Dia cukup terkejut mendengarnya. Keluarga Anderson memang sangat sulit ditembus. Mereka tentu telah meletakkan banyak pengamanan di mana-mana. Tapi, demi melancarkan balas dendamnya pada keluarga tersebut. Dia akhirnya bisa meletakkan beberapa orang suruhannya di dalam perusahaan tersebut. Kini, dia mendapati sebuah kabar yang cukup mencengangkan. Ternyata, bukan hanya dirinya yang ingin membuat keluarga itu hancur. Ternyata sang menantu pun melakukan hal yang sama. Sebuah kabar yang baru saja masuk ke dalam ponselnya membuat pimpinan itu tersenyum lebar.
Namun, di luar dugaan. Sebuah kabar lain pun dia terima. Hal ini adalah hal paling mengejutkan. Ini adalah kesempatan yang penting. Kesempatan yang tidak akan datang untuk kedua kalinya. Ia pun memutuskan untuk menyebarkan hal tersebut. Bukti-bukti yang sudah ia terima begitu banyak. Sangat cukup untuk mendukung argumen yang akan dia kirimkan pada seorang reporter.
Di tempat lain, reporter yang menerima email dari orang tersebut langsung membelalakkan matanya. Kabar yang akan menjadi heboh masuk ke dalam emailnya. Dia mendapatkan berita besar. Dia harus segera merilisnya. Sebelum ada orang lain yang akan melakukannya. Dia akan mendapatkan promosi besar nantinya. Berita itu bisa dia pastikan akan berjalan dengan baik dan mendapatkan perhatian publik yang sangat besar.
Lalu, tak berselang lama. Sebuah siaran terpampang di semua media. Menunjukkan bukti-bukti bahwa kabar itu benar adanya. Sang reporter mengabarkannya dengan sangat profesional. Dia tahu, posisinya tidak aman. Tapi, dengan banyak mata publik yang sedang menyorotnya. Maka, Orang-orang besar itu juga akan mendapatkan sorotan yang sama. Seakan pergerakan mereka terbatas untuk melakukan hal buruk. Walau tak berlangsung lama. Setidaknya, hal itu cukup untuk mengguncang sang orang besar untuk turun bicara.
Kabar menghilangnya Madie tersebar dengan cepatnya. Layaknya angin topan yang datang dan membawa banyak hal di dalamnya. Menyerbu, menderu, merusak beberapa tempat dan membuatnya porak-poranda. Kabar itu langsung mencuat tinggi. Pencarian di internet tentang sang gadis langsung menjadi teratas. Nama Madie memenuhi banyak laman sosial media. Orang-orang membicarakan tentang dirinya. Tentang kematian ibunya. Dan tentang hubungan gelap yang dituduhkan pada sang ayah. Semua hal itu menjadikan alasan dia kabar menjadi benar. Sehingga banyak orang yang merasa iba padanya. Banyak orang yang akhirnya berpikiran bahwa keluarga Anderson hanyalah besar di satu sisi. Tapi, tidak memerhatikan sisi yang lain. Jika cucu satu-satunya, seorang pewaris kekayaan yang sebegitu besarnya bahkan memilih kabur dari semua kenyamanan yang dia dapatkan. Maka, banyak orang yang bertanya-tanya. Apakah benar dia merasa nyaman di sana? Apakah benar dia dijadikan putri di rumah itu? Lantas, kenapa dia akhirnya memilih kabur dari rumah?
Foto-foto Madie terpampang di mana-mana. Di layar televisi, laman sosial media, berita online, dan banyak tempat lainnya. Hal mengejutkan itu tentu mengguncang Eddy. Mengguncang perusahaan besar itu cukup keras. Harga saham mulai menurun. Eddy tak tahu harus berbuat apa. Bawaannya sedang bekerja sekarang. Memikirkan pembelaan yang bisa mereka sampaikan pada publik. Agar masyarakat tidak banyak berspekulasi atas kejadian itu. Para bawahannya begitu sibuk mempersiapkan konferensi pers. Di sisi lain, Antoni pun ikut geram dengan pemberitaan itu. Dia merasa direndahkan karena kabar perselingkuhan yang mencuat ke permukaan. Tapi, dia sendiri bahkan tak cukup mempunyai keberanian untuk secara langsung menghadapi segala media yang terus mendesak dia untuk berbicara. Dia memilih diam dan tak menjawab satu pun telepon yang masuk ke dalam ponselnya.
Tak hanya berhenti di sana, di tempat Harry berada pun juga sedang heboh akan berita hangat yang baru saja diluncurkan. Pria itu tersenyum tipis. Cukup terkejut, karena ada orang yang berani mengungkap hal itu ke permukaan. Menyenggol Eddy bukanlah hal yang akan untuk dilakukan. Tapi, reporter itu cukup mempunyai keberanian untuk melakukannya. Hanya satu hal yang Harry pikirkan sekarang. Siapa orang yang ada di belakang reporter tersebut? Hingga dia bisa sebegitu berani mengungkap hal sensitif seperti itu. Siapa dia? Kenapa dia melakukannya? Apa tujuannya? Banyak pertanyaan yang melintas di pikirannya. Dan itu tak bisa dia bendung.
Sekarang, giliran ponsel miliknya yang terus berdering. Satu per satu panggilan masuk. Telepon kantornya pun sama saja. Dan dia langsung memerintahkan untuk tetap diam dan berkata sesuai fakta. Bahwa mereka tidak ada sangkut-pautnya dengan kejadian itu. Berpura-pura tak tahu adalah hal paling aman untuk dia lakukan saat ini.