Wajah cantik itu telah tersebar. Pada akhirnya, banyak mata yang mengetahui siapa gadis tersebut. Seorang pewaris tunggal keluarga Anderson dikabarkan kabur dari rumah. Tak ada jejak ke mana dia pergi. Tak ada informasi tempat mana yang dia tuju. Jika sebelumnya Eddy sempat terbantu dengan unggahan foto sang cucu di laman sosial media. Kini, dia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Senjata itu sudah usang dan tak bisa dia pakai lagi. Semacam kayu yang sudah lapuk, sudah tidak lagi kuat untuk dipakai sebagai pemukul. Hanya akan remuk dan hancur.
Bukan Eddy namanya, kalau dia hanya diam setelah mendapatkan serangan semacam itu. Sisi paling sensitif pada dirinya diusik. Tentu, dia langsung mengambil tindakan. Segala hal yang terpaut dengan sang reporter telah dia usut melalui tangan-tangan bawahannya. Dia tak butuh waktu banyak untuk bisa melakukannya. Sayangnya, dia kali ini harus kembali kecewa. Laporan bahwa sang reporter telah bersembunyi entah di mana mendarat di telinganya.
“Maaf Tuan, kami tidak dapat menemukannya,” ucap sang bawahan. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang cukup gemetar. Tapi, ia coba tutupi dengan menggenggam jemarinya sendiri dengan kuat.
Sebuah gebrakan di meja cukup menimbulkan suara keras.
“Apa? Bagaimana bisa? Tidak mungkin dia tidak ditemukan!” Eddy mengusap wajahnya kasar. Dia berbalik badan. Memejamkan matanya sejenak. Embusan napas yang keluar dari mulutnya menunjukkan betapa kesalnya orang tersebut. Ia kembali berbalik, kedua netranya terasa panas.
“Cari tahu, siapa yang ada di belakang orang tersebut. Aku rasa, dia bukan orang biasa. Tak mungkin ada yang bisa bersembunyi dengan begitu rapat dari pandanganku! Cari mereka sampai ketemu! Dan juga cari Madie ke mana pun! Temukan dia secepatnya!” perintah itu meluncur dengan nada yang cukup tinggi. Dengan penekanan pada beberapa kata yang cukup membuat sang bawahan bergidik ngeri. Perintah itu sungguh beban yang cukup berat baginya. Tugas itu, benar-benar akan menjadi pekerjaan yang tak akan ada habisnya. Tapi, mana mungkin dia bisa menolak. Pria yang ada di hadapan Eddy hanya bisa mengangguk setuju.
“Baik Tuan, kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin.” Hanya itu yang bisa dia lontarkan. Tak berani berkata janji, tak berani memberi kepastian, karena dia sendiri pun tahu kalau hal itu cukup sulit untuk bisa dicapai.
“Pergilah!” putus Eddy. Dia kembali duduk ke kursinya. Entakkan keras membuat kursi putar itu sedikit bergoyang dan membuat posisinya ikut bergeser sedikit.
Pria yang ada di hadapannya mengangguk, menunduk, dan berpamitan. Ia langsung melangkah pergi dari ruangan Eddy. Sebelum ada hal buruk yang akan menimpanya. Tak dimaki-maki oleh sang atasan sudah cukup baginya. Baru saja ia keluar dari ruangan Eddy. Pria itu, berpas-pasan dengan Antoni. Lirikan tajam dari Antoni tak ia hiraukan. Dia langsung segera pergi dari sana. Melakukan pekerjaan lebih cepat akan lebih cepat pula mendapatkan hasil, begitu pikirnya.
Tak mengetik pintu, Antoni langsung menyelonong masuk begitu saja ke ruangan Eddy. Pria itu memang sudah terbiasa keluar masuk di sana. Apalagi sekarang ada masalah yang cukup besar terjadi. Berbasa-basi dengan mengetik pintu tak dilakukannya.
“Ayah!” panggilnya langsung setelah membuka pintu. Eddy yang baru saja duduk dan mencoba mengusir rasa nyeri di kepalanya, dengan memijit bagian pelipisnya itu harus kembali membuka mata.
“Ada apa? Kalau kau ingin membahas masalah Madie, lebih baik kau keluar dari ruangan ini!” balasnya tegas. Dia memang sudah mendapatkan banyak cobaan. Kematian anak tunggalnya, lalu kepribadian menantunya yang semakin liar, dan sekarang malah cucunya kembali kabur dari rumah. Tanpa satu pun jejak yang bisa dia runtut.
Ucapan itu langsung membungkam mulut Antoni. Dia memang ingin membahasnya. Tapi, sudah diberikan sebuah ultimatum semacam itu. Maka, lebih baik untuk sadar diri dan melipir pergi.
“Tapi, Ayah, bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya dia dengan suara rendah dan wajah memelas.
“Kau cukup diam dan jangan melakukan apa-apa! Kau dengar? Pergi dari sini!” perintahnya. Eddy tak sedang bercanda. Dia memang ingin sendiri untuk saat ini. Dan kehadiran sang menantu sama sekali tidak membantunya. Malah memberikan beban pada dirinya. Terlebih, semua hal buruk yang menimpanya juga karena ulah si menantu yang tak tahu diri itu. Salah dia juga, kenapa dia harus menerima orang macam itu di keluarganya. Penyesalan itu tentu ada, tapi percuma. Semua sudah terjadi, dan untuk apa lagi disesali. Langkah mereka sudah terlalu jauh untuk memutar balik. Jadi, keputusan paling bijak yang bisa dia ambil adalah menerima semuanya. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Termasuk masalah hilangnya sang cucu sekarang ini.
***
Sore itu, mereka sedang menonton televisi bersama. Dengan kentang goreng hangat yang baru saja disajikan ke atas piring. Ada tiga gelas coklat di meja. Melengkapi sajian untuk bersantai mereka. Mereka duduk bersisian, Xander, Cristine, dan Madie. Kedua pemuda itu memang harus diberikan sekat saat bersama. Karenanya Cristine duduk di tengah-tengah mereka. Televisi besar itu dinyalakan, masih belum ada obrolan. Tapi, sebuah berita langsung membuat mereka tercengang. Kabar menghilangnya seorang pewaris keluar Anderson menyapa mereka. Foto-foto Madie terpampang di layarnya. Informasi-informasi yang diucapkan sang pembawa berita masuk ke pendengaran mereka. Madie hampir saja salah tingkah, dia melirik sekilas ke arah dua orang yang ada di dekatnya. Dia hanya bisa terus berdoa dalam hati, semoga mereka berdua tidak menyadari siapa dia yang sebenarnya.
“Itu tempat kau bekerja kan?” Cristine membuka suara. Ada raut yang mendadak tegang di wajahnya. Ia mengambil gelas coklat miliknya, genggaman itu terlalu kuat hanya untuk sebuah gelas. Ada gurat yang bahkan tampak di jemarinya. Ada sesuatu dalam hatinya. Mendadak menghangat dan cukup mengejutkan dirinya.
“Benar Nek, wah, aku tidak tahu kalau cucu pimpinan begitu cantik.” Sahutan dari Xander membuat hati Madie tenang. Pria itu tak menyadari apa-apa. Dalam hatinya, dia merutuk.
“Apa yang bisa diharapkan pada seorang pria seperti dia? Aku terlalu terkecoh dengan wajah tampannya.” Gadis itu pun lega.
“Kau tak pernah melihatnya?” timpal sang Nenek.
“Tidak, mana mungkin orang seperti aku bisa bertemu dengan cucu pimpinan. Aku hanya tahu dia model dan terkenal, sudah bisa dipastikan cantik. Tapi, aku tak menyangka kalau dia secantik itu.” Xander masih memuji. Membuat rona merah di wajah Madie mendadak tersembur. Dengan senyum tipis yang dia tutupi dengan kunyahan kentang goreng.
“Ada hal semacam ini di tempat kau bekerja, untunglah kau cuti hari ini!” balas sang Nenek. Lalu, cristine mengganti saluran televisi. Memilih untuk melihat hal lain. Karena dia tidak ingin merasa terus panas dalam hatinya. Sebuah drama menjadi pilihannya. Ia memilih sebuah saluran dengan tayangan drama.
“Benar, aku beruntung hari ini cuti. Kenapa diganti?” Xander mencomot kentang. Lalu mengunyahnya.
“Malas, tidak penting juga!” balas Cristine singkat. Setelah itu, tak ada lagi bantahan. Ya, memang tidak penting mendengar kabar orang hilang. Apalagi, tidak ada hubungannya dengan mereka. Berbeda dengan Madie. Dia merasa tenang, karena salurannya diganti.