Hari itu, Madie hanya banyak terdiam. Dia tidak menyangka hal semacam itu akan terjadi. Karena selama ini, dia tahu bagaimana sifat sang kakek. Pria itu tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuat perusahaan yang dia miliki merugi. Kematian sang anak saja dia samarkan. Kaburnya sang cucu saat pertama kali juga dia samarkan. Lalu, sekarang mendadak ada kabar bahwa dirinya kabur dari rumah malah mencuat dengan deras. Madie penasaran, siapa orang di balik kabar tersebut. Kini, dia juga harus semakin waspada. Agar tidak ada orang yang bisa mengenalinya. Dia harus pintar-pintar mencari celah. Supaya persembunyiannya tidak diketahui oleh siapa pun. Terlebih pentingnya, jangan sampai keberadaannya diketahui oleh sang kakek.
“Nek, kalau Nenek melihat cewek tadi. Cepat hubungi aku ya! Anak Bos tentu tidak akan murah bayarannya,” tukas Xander dengan santainya. Dia mengatakan itu pada sang Nenek dengan penuh harap. Tapi, malah mendapatkan sebuah jeweran keras lagi di telinganya.
“Aduh, aduh, sakit Nek!” pekiknya. Ia langsung menghindar dengan wajah cemberut. Satu tangannya menggosok bekas jeweran dari sang nenek.
Melihat kejadian itu, Madie hanya bisa tersenyum tipis. Lucu melihat tingkah pria itu. Tapi, kalau mengingat apa yang sebelumnya dia ucapkan. Ia merasa ngeri. Pria itu, tentu tak hanya asal bicara. Atau hanya sekedar bercanda saja. Siapa yang tidak mau mendapatkan hadiah besar? Tentu semua orang mau. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana jika nantinya dia ketahuan dan akhirnya ... Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengusir pikirannya yang mendadak melayang ke mana-mana. Ia mengatur napas, mencoba tenang dan terlihat biasa saja. Dicomotnya sepotong kentang dan mengunyahnya perlahan. Ia masih bisa mendengar rengekan si cucu dan omelan si nenek yang sedang duduk di dekatnya. Ia mencoba terlihat biasa dengan menyajikan senyum di wajah cantiknya.
***
Dunia Eddy sedang tidak baik-baik saja. Dia harus dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan yang masuk. Telepon yang terus berdering. Juga desakan klarifikasi dari banyak pihak. Mau tak mau, dia akhirnya harus melakukan klarifikasi. Pagi itu, Harry datang. Pria dengan setelan cokelat muda duduk di dekat sang paman. Menyajikan beberapa lembar yang harus dia hafalkan. Hal semacam ini, memang tak bisa lepas dengan hukum. Sebagai orang yang memang sudah ahli di bidangnya. Juga sebagai seorang keponakan yang baik. Tentu dia harus tetap membantu sang paman. Terlebih, ini juga demi kebaikan sang keponakan. Madie harus tetap merasa aman dalam persembunyiannya.
“Paman bisa langsung membacanya di depan para media. Tapi, saranku lebih baik paman menghafalnya saja. Ingat pokok pentingnya saja. Tentang alasan yang mungkin, dan usaha keluarga untuk menemukan dia selama ini. Kita juga tidak bisa mengatakan kalau ini berkaitan dengan kematian Elaine. Aku sudah siapkan alasan yang lebih baik, tentang perbedaan sudut pandang pekerjaan antara paman dan dia. Aku rasa ... Hal itu bisa diterima oleh publik. Alasan sebagai pewaris tunggal, adalah hal paling mungkin untuk diulas. Bagaimana menurut Paman?” pria itu menjelaskan rentetannya. Tentang alasan terbaik yang sebaiknya dipublikasikan.
Karena, kalau sampai publik mendengar tentang perjodohan, lalu menyangkutkan dengan hubungan orang tuanya yang memang sudah tidak harmonis. Akan melebar ke mana-mana nantinya. Pihaknya juga bisa melakukan tuntutan pada si pembaca berita. Pencemaran nama baik dan segala hal yang berkaitan dengan hal semacam itu.
Eddy masih diam. Netranya meneliti setiap kata yang tertera di lembaran kertas itu. Dia terus membacanya dengan saksama. Lembar demi lembar dia cermati. Lantas, apa yang diucapkan oleh keponakannya itu memang benar adanya. Alasan paling tepat untuk diberikan sebagai klarifikasi kaburnya sang cucu, ya tentang perbedaan pandangan sebagai pewaris tunggal. Beban itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Terlalu berat, juga besar risiko yang harus dihadapi ke depannya.
“Baiklah, apakah semuanya sudah siap? Apa yang kamu ucapkan sangat benar, alasan itu adalah yang paling masuk akal dan bisa diterima. Biarlah aku menjadi kakek jahat yang memaksakan kehendak meneruskan posisi penting di perusahaan. Asal bukan kakek jahat yang memaksa cucunya dengan sebuah perjodohan.” Pria itu berdiri dan merapikan setelan yang ia kenakan.
“Baik Paman, semuanya sudah siap. Mari kita ke ruangan!” ajaknya. Dia berjalan lebih dulu. Membukakan pintu, lalu berjalan di belakang sang paman dengan wajah semringah. Dia telah memberikan ruang pada Madie untuk berada jauh lebih banyak. Walau setelah ini pasukan pamannya pasti akan segera menyisir banyak tempat untuk mencari gadis itu. Setidaknya, akan ada banyak orang yang mengerti alasan gadis itu kabur. Dan dia berharap orang-orang yang ada di sekitarnya bisa membantu gadis tersebut dalam persembunyian yang aman.
Sebuah ruangan yang sudah penuh dengan kamera dan para awak media terasa begitu padat. Bahkan untuk mengambil napas saja susah. Harry masuk terlebih dahulu. Bersamaan dengan itu, suara klik-klik, dan sinar kamera menyambutnya. Sudah seperti seorang bintang yang menjadi sorotan. Setiap gerakannya terekam dengan jelas oleh mereka. Hanya dengan sebuah kode, semua itu akhirnya mereda. Suasana mendadak hening. Hanya ada beberapa kamera yang berdiri kokoh di depan siap merekam semua pernyataan klarifikasi dari keluarga Anderson.
“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Harry. Saya adalah seorang pengacara, dan siap mengawal setiap hal yang diinginkan oleh Tuan Anderson. Jadi, untuk rekan semuanya. Saya harap tidak akan ada hal yang membuat Beliau merasa dirugikan. Lantas malah harus melakukan tindakan hukum untuk penyelesaiannya. Sekian dari saya, kepada Tuan Anderson waktu dan tempat dipersilakan.” Harry menutup perkenalannya dengan epik. Dia mengucapkannya dengan santai dan suara yang sopan. Tapi, apa yang ada di dalam kalimatnya cukup mencekik leher-leher para reporter yang tentunya ingin mendapatkan berita lebih.
Eddy melangkah maju, ia berdiri dan kemudian membungkukkan tubuhnya sebentar. Memberikan tanda hormat pada para awak media yang memang sudah menantikan kedatangannya sejak tadi. Pria setengah baya itu duduk di samping Harry. Sebuah anggukan kepala yang mereka lakukan adalah sebuah kode. Bahwa semuanya bisa dilakukan sekarang. Eddy mengawali dengan sebuah sapaan yang sedikit terdengar sedih.
“Selamat pagi teman-teman. Saya rasa, semuanya sudah menunggu klarifikasi ini sejak berita tersebut mencuat ke permukaan. Di sini, saya sebagai seorang kakek akan menjawab beberapa pertanyaan terkait dengan berita yang sudah tersebar.”
“Sebelumnya, saya meminta maaf kepada semua masyarakat akan munculnya kabar ini. Yang mana membuat banyak orang bertanya-tanya dan menimbulkan keresahan, juga rasa penasaran.”
“Di sini, saya meluruskan. Cucu saya memang sedang berada di luar rumah. Kami juga melakukan pencarian, dan masih terus melakukannya sampai detik ini. Kami sengaja tidak melaporkan hal ini ke polisi. Karena tidak ingin menimbulkan kekacauan seperti sekarang ini.”
Harry memegang kaki sang paman, kemudian mengangguk pelan. Ia harus menghentikan pamannya berbicara terlalu banyak. Agar tak menimbulkan masalah lain di kemudian hari. Eddy setuju, dia pun menganggukkan kepala dan menarik diri.
“Saya rasa sekian penjelasan dari kami.”
“Baik, Tuan Anderson hanya akan menjawab tiga pertanyaan. Silakan!” Harry menunjuk salah seorang awak media. Seorang perempuan dengan rambut sebahu.
“Baik, pertanyaan saya adalah apa sedang ada masalah di rumah? Hingga membuat Nona Madie melakukan pelarian semacam ini?” sebuah pertanyaan yang sudah diatur meluncur.
“Sebenarnya, saya malu menceritakan ini, tapi perdebatan sebagai seorang kakek dan cucu akan pandangan masa depan perusahaan ternyata tidak semudah itu. Saya rasa, hal itu adalah alasan kenapa dia pergi dari rumah tanpa berpamitan.” Jawaban Eddy mendapatkan respons anggukan kepala pengertian dari beberapa orang yang ada di sana.
“Pertanyaan kedua? Silakan!”
“Sejauh mana kalian sudah mencarinya?”
“Baik, untuk pertanyaan ini akan saya jawab. Pada intinya kami sudah mencari, dan masih akan terus mencari. Tolong jangan mengerucutkan lokasi pencarian. Saya tidak ingin Nona muda semakin rapat menutup diri karena pemberitaan ini.” Harry menyela. Dia langsung menjawabnya dan Eddy pun setuju dengan jawaban yang ia berikan.
“Pertanyaan terakhir?”
“Bagaimana tanggapan Anda tentang perselingkuhan yang terjadi?”
“Tidak ada tanggapan. Baik, sudah cukup sampai di sini pertemuan ini. Terima kasih, dan sekian.” Harry berdiri. Disusul dengan Eddy. Keduanya membungkukkan badan memberi hormat. Lalu berjalan dengan santai keluar dari ruangan. Diiringi dengan perlindungan dari para pengawal. Sementara itu, di dalam ruangan itu mendadak ricuh. Pertanyaan-pertanyaan lanjutan masih terus mereka lontarkan. Kamera-kamera itu terus memotret, merekam semua kejadian yang terjadi di sana. Tentu saja para wartawan itu tidak pus dengan jawaban yang mereka terima. Hanya klarifikasi kecil atas kaburnya sang Nona muda. Tanpa ada penjelasan lain tentang perselingkuhan yang sangat ingin diketahui oleh publik.
Di masyarakat saat ini sedang tersebar isu-isu. Tentang perselingkuhan yang berkaitan dengan kematian sang anak tunggal. Wanita cantik seperti Elaine dikhianati dan bahkan meninggal karena terkejut. Ada pula yang mengatakan kematian Elaine karena tak sanggup menahan sakit hati, sampai membuat dia sakit-sakitan dan meninggal. Seorang anak yang kabur karena melihat perselingkuhan orang tuanya. Dan segala macam isu lainnya. Hingga membuat perusahaan Anderson pelan-pelan menjadi goyah.
Mau bagaimanapun, mereka memang sudah saatnya menghadapi semua itu. Kematian yang memang sengaja ditutupi. Perselingkuhan yang bahkan diacuhkan oleh sang mertua sendiri. Lalu, perjodohan yang begitu dipaksakan. Tentu saja tidak akan ada orang yang mau berada di posisi Madie. Jika orang-orang mengetahui keburukan itu. Sayangnya, pada kacamata mereka yang terlihat hanyalah seorang cucu yang egois dan tidak ingin melanjutkan posisi penting sang kakek di sebuah perusahaan besar. Seharusnya bisa menerima semua itu dengan nyaman. Tinggal duduk dan memerintahkan. Semua itu yang ada di pikiran masyarakat luar. Sementara mereka tidak pernah tahu. Hal buruk apa yang sudah dialami oleh gadis itu di dalam sebuah rumah yang tertutup rapat.
Media online, koran, majalah, bahkan papan pencarian di internet dipenuhi dengan nama Madie dan keluarganya. Semua orang seakan terseret ke dalam arusnya. Larut dan ikut membicarakan hal tersebut. Rasa iba, rasa tak suka, dan para pembenci pun turut memberikan komentar mereka.
Di sisi lain, Madie pada akhirnya harus tetap berada di rumah. Tak bisa ikut berjualan dengan Cristine dalam kondisi seperti itu. Ia harus menunggu semuanya mereda. Barulah dia akan berani untuk keluar rumah dan melihat dunia lagi.