Kabar tentang cucu dari pemilik perusahaan yang kabur dari rumah memang mengubah banyak hal. Xander pada akhirnya tak lagi diperintahkan melakukan tugas-tugas yang selama ini dia lakukan. Tentu saja fokus Antoni sudah berubah sekarang. Dia pun menjadi getol untuk segera menemukan sang anak. Rencana yang selama ini dia susun diabaikannya. Dia berpikir bahwa, ia bisa melakukan itu nanti saat Madie telah ditemukan. Saat-saat seperti sekarang ini memang sangatlah riskan. Terlalu sensitif dan banyak mata yang akan memerhatikan. Tentu saja dia bisa membaca hal itu dengan baik. Mau bagaimanapun, dia tetap harus berada di sana. Dia harus mempertahankan posisinya. Ia tahu, mertuanya pasti telah menempatkan beberapa mata-mata untuk mengintai gerak-geriknya. Kalau sampai dia salah melangkah sedikit saja. Bisa gawat nantinya.
“Tuan, bagaimana dengan berkas yang seharusnya kita ambil dari notaris?” Xander bersuara. Dengan suara pelan, karena takut membuat sang atasan terkejut. Dia sudah tidak tahan jika harus ikut berdiam diri di ruangan tersebut tanpa melakukan apa-apa. Terlalu canggung untuk duduk berdua dan saling diam di dalam ruangan tersebut.
Antoni menggerakkan kepalanya, hingga akhirnya kedua netra mereka bertemu. Kemudian sebuah gelengan pelan dilakukannya.
“Jangan sekarang. Tunda semuanya, katakan pada mereka untuk menyimpan semua berkas itu dengan baik. Aku tidak ingin mendapat masalah di waktu-waktu seperti ini. Kau tahu, kita sedang mendapatkan banyak sorotan dari berbagai pihak.” Sebuah keputusan itu ia sampaikan dengan bijak. Agar posisinya tetap aman, agar dua tidak mendapatkan perhatian terlalu banyak dari sang mertua. Kalau dia tertangkap melakukan hal yang mencurigakan. Tentu mertuanya akan curiga dan mulai menelisik apa yang sedang dikerjakan olehnya. Ia tak ingin semuanya terbongkar. Karenanya, ia memilih menutup rencananya untuk sementara.
“Tapi, Tuan, dokumen ini penting. Bagaimana kalau sampai bocor ke luar?” kekhawatiran Xander memang beralasan. Dokumen itu sangat penting dan harus dirahasiakan. Sebab, namanya pun akan ikut terseret kalau sampai hal itu muncul ke permukaan. Dari suaranya, Xander terdengar begitu resah. Ia masih ingin bekerja, kalau hal tersebut sampai diketahui oleh orang lain. Maka, bisa saja dia akan diberhentikan karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya.
“Diam, dan ikuti saja semua perintah yang aku berikan! Aku harus menemukan anakku terlebih dahulu. Agar mertuaku semakin bangga denganku!” jawaban dari Antoni membuat Xander tersadar. Ya, dia pun menunggu hal ini diperintahkan. Dia, bisa mendapatkan banyak uang jika bisa membantu sang atasan menemukan anaknya yang kabur dari rumah. Ada senyum tipis yang terhias di wajah pria itu.
“Maaf Tuan, baiklah saya akan menunggu perintah Anda selanjutnya. Emm, kalau boleh saya juga ingin membantu mencari keberadaan sosok anak Tuan,” tawar Xander. Pria itu tidak akan melewatkan kesempatan besar seperti itu begitu saja. Dia harus bisa mengambil hati sang atasan. Bayangan hadiah besar itu telah terhias di kepalanya.
“Tentu, kau bisa melihatnya!” Antoni berdiri. Dia mengambil sebuah foto di meja kerjanya. Menunjukkan pada seorang gadis yang tampak begitu semringah di dalam bingkai tersebut. Foto mereka mengenakan pakaian putih. Wajah mereka tampak bersinar dengan tona bahagia yang terpancar di netra mereka. Begitu berbeda dengan kondisi yang ada sekarang ini. Xander membatin, apa semua orang kaya itu seperti itu? Menutupi kekacauan dalam rumah dengan menunjukkan foto keluarga yang tampak bahagia dan baik-baik saja? Terlalu miris jika mengingat istrinya meninggal, anaknya kabur, dan dia dikabarkan melakukan perselingkuhan.
“Kau bisa memerhatikan wajahnya, kalau kau bertemu dia, cepat kabari aku!” lanjut Antoni.
Hari saat dia mendengar kabar itu di rumah Neneknya, ia memang tak begitu memerhatikan detail dari foto yang ditunjukkan di layar kaca. Netranya hanya menangkap sosok cantik dan rupawan di sana. Tapi, di foto keluarga yang ditunjukkan oleh sang atasan jelas tampak berbeda. Wajah tanpa riasan itu terlihat lebih cantik dan natural. Senyum yang ada di foto tersebut tampak lebih lepas, jika dibandingkan dengan foto yang beredar di luaran sana. Mendadak dia seakan mengalami dejavu.
“Sepertinya, aku pernah melihat gadis ini. Tapi, di mana?”
“Kalau kau bisa menemukan dia, tentu hadiah yang akan kau Terima sangat besar. Aku tak akan memikirkan nominal, asalkan dia diketemukan. Kau bisa pergi sekarang!” tutup Antoni.
“Maaf Tuan, boleh saya mengambil foto?” pintanya.
“Lakukan saja, semoga berhasil!”
Setelah keluar dari ruangan itu. Xander masih terus mencoba mengingat di mana dia bertemu dengan gadis itu. Ia rasa, ia pernah begitu dekat dengan gadis itu. Tapi, dia tak ingat di mana dan kapan ia melihatnya. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Duduk di tempat kerjanya dan menyandarkan punggung di sana. Ternyata, hal itu bahkan sudah membuat dia pusing sebelum memulai.
Ponselnya berdering. Xander menatap layar ponsel miliknya. Nama sang Nenek tertera di sana. Tapi, tak berselang lama deringnya berhenti. Berganti dengan dering pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Cepat-cepat dibukanya.
‘Aku akan pergi beberapa hari. Rumah kosong, kalau kau datang jangan membuatnya berantakan!’
Xander menghela napas lega. Bukan hal buruk yang dia dapatkan. Sudah biasa sang nenek sering bepergian seperti itu. Dan sepertinya, sang nenek terlalu hafal dengan tingkah cucunya yang suka membuat pesta di rumahnya. Karenanya, ia mengirimkan pesan seperti itu.
‘Baiklah, aku tidak akan membuat rumah berantakan. Tapi, kenapa rumahnya kosong? Gadis itu ikut pergi? Atau dia memilih menyewa tempat lain?’ Xander membalas pesan tersebut. Tapi, bukannya mendapatkan balasan. Sang nenek sudah tak menggubrisnya. Pada akhirnya, dia diacuhkan lagi oleh sang nenek.
Mata-mata yang disebar oleh Eddy sedang melakukan pekerjaannya. Termasuk Xander menjadi sorotan yang juga harus diperhatikan. Karenanya, pria itu merasa sedikit tidak nyaman berada di tempat kerja. Ia menoleh ke sana-sini. Mencoba menerka, mana orang yang sedang mengawasinya. Tapi, dia tidak bisa menemukan orang tersebut. Semua orang yang ada di sana tampak sama dan biasa saja. Semuanya fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi, perasaan seperti diintai terus menghantuinya.
“Benar kata Pak Antoni, aku harus menyingkirkan berkas-berkas sensitif ini sekarang. Sebelum semuanya terlambat.” Dia berbicara dalam hati.
Ia berusaha terlihat biasa, melakukan gerakan ringan agar tak terlihat mencurigakan. Perlahan dia memilah dan memilih berkas yang seharusnya disimpan dengan rapat. Satu per satu diambilnya. Lalu, dia masukkan ke dalam laci meja kerjanya. Menguncinya dengan rapat, lalu menyimpan kunci itu dengan baik di saku kemejanya.
Suasana kantor mendadak terasa lebih horor baginya. Walau semua yang ada di sana hanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Netranya masih menelisik, mencoba mencari sumber rasa horor yang dia rasakan di sana. Tapi, tetap saja. Dia tidak bisa menemukannya.