Begitu tiba di lantai atas, Bintang terdiam di depan pintu kamar Cahaya. Ia ingin mengetuk, tapi hati ragu karna tidak tahu untuk apa ia ingin melihat Cahaya dan tahu keadaannya. Jika tidak mengetuk, ia takut Cahaya masih menangis sendirian.
Satu tangan Bintang terangkat untuk mengetuk pintu, tapi ia urungkan karena ragu.
"Kalo dia buka pintu terus tanya ada apa, gue harus jawab apa?" gumam Bintang bingung. "Mending ga usah lah, daripada dia mikir gue peduli banget sama dia. Ntar dia malah lupa udah jadi pelayan pribadi gue karna merasa gue peduliin." Bintang kembali menurunkan tangannya.
Satu kaki Bintang bergerak untuk melangkah pergi, tetapi rasa tidak tenang pada keadaan Cahaya membuat ia kembali berdiri tegak.
"Kira-kira kalo pintu gue ketuk, terus gue bilang mau pinjem bantal, aneh ga, ya?" gumam Bintang.
Bintang kembali mengangkat satu tangan untuk mengetuk, tapi ia urungkan lagi saat merasa alasan yang akan ia berikan sangat tidak tepat.
"Masa minjem bantal, sih?" gumam Bintang keheranan "Kan di kamar gue juga ada bantal, gapain gue pinjem bantal dia?" lanjutnya.
Bintang menurunkan tangan lagi, tapi masih enggan untuk pergi dari depan pintu kamar Cahaya.
"Alesan apa yang kira-kira masuk akal, ya?" gumam Bintang terus berpikir.
Sedang seriusnya Bintang berpikir, tiba-tiba pintu kamar Cahaya dibuka oleh pemilik kamar, hingga Cahaya sedikit berteriak karena kaget, sedangkan Bintang panik karena malu ketahuan diam di depan kamar Cahaya.
"Aaa!" teriak Cahaya sekian detik lalu menutup mulut begitu menyadari orang yang ada di depannya adalah orang yang emosional.
"Ngapain segala teriak, sih?" tanya Bintang kesal sekaligus menutupi kepanikannya.
"Kenapa Kak Bi ada di depan kamar Aya?" tanya Cahaya takut, karena ia yakin akan mendapatkan marah akibat teriak.
"Gu—Gue ...." Bintang diam kembali memikirkan alasan yang tepat, tapi otaknya benar-benar buntu untuk memberi jawaban hingga memilih menjawab dengan emosi. "Terserah gue mau ada di mana. Rumah-rumah gue."
"Iya, Kak maaf."
Niat Cahaya keluar dari kamar ingin ke kamar Bintang untuk menanyakan apa saja syarat-syarat melamar pekerjaan karena ia tidak sabar menunggu Prita pulang. Tetapi mendengar ucapan Bintang yang tidak lepas dari emosi, ia mengurungkan niat karena yakin tidak akan mendapat pertolongan dari Bintang, hingga ia memilih menutup pintu kamar.
Satu tangan Bintang reflek menahan pintu yang hampir ditutup karena ia masih ingin melihat Cahaya. Lebih tepatnya ingin menghibur Cahaya karena melihat mata yang masih memerah, yang ia yakini sedang sangat sedih, entah itu karena mengingat keluarganya lagi atau sedih karena masalah dengan Diva. Bahkan, karena rasa peduli itu, ia lupa untuk memikirkan alasan menahan pintu jika Cahaya bertanya.
"Kenapa pintunya lo tutup lagi, sih, Ay?" tanya Bintang masih dengan nada kesal.
"Aya mau masuk kamar lagi, Kak."
"Lo belom juga keluar kamar, udah maen tutup aja."
"Emang kenapa kalo pintunya Aya tutup lagi, Kak? Kak Bi mau masuk ke kamar Aya?"
"Dih, ngapain gue masuk ke kamar lo?" ucap Bintang ketus di mulut, tapi di hati memang berharap bisa masuk ke kamar Cahaya untuk sedikit menghibur.
"Ya udah, kalo gitu Aya tutup pintunya, ya, Kak?"
Bintang menghela nafas panjang meluapkan rasa kesal pada diri sendiri yang terlalu malu untuk menunjukkan kepeduliannya.
"Aya tutup pintunya, ya, Kak?" izin Cahaya lagi.
"Gue mau ajak Lo ikut cek steam ayah!" ajak Bintang langsung yang tidak lagi memikirkan gengsinya, tapi tetap enggan bicara dengan nada lembut.
"Sekarang, Kak?" Cahaya bertanya sembari menunjukkan ekspresi ragu pada ajakan Bintang.
"Besok!" balas Bintang, kesal.
Cahaya langsung tersenyum antara kaku dan takut.
"Mau ga?" tuntut Bintang.
Sungguh, mulut Cahaya ingin langsung menjawab tidak mau dengan tegas, tapi ia takut mendapat marah hingga ia memilih menjawab ya dengan berat hati.
"Iya, Kak, Aya ma—"
"CK! tinggal jawab aja lama banget," sela Bintang sembari menarik tangan kanan Cahaya.
Sebenarnya bukan lamanya jawaban yang membuat Bintang menarik paksa tangan Cahaya, tapi perasaan takut ditolak yang membuat ia menarik tangan Cahaya tanpa pikir panjang lagi.
Entah kenapa melihat mata memerah Cahaya juga suara yang masih terdengar menahan tangis membuat Bintang tidak mau Cahaya sendirian dan kesepian di kamar hingga ia memilih mengajak pergi untuk bisa menghilangkan kesedihannya, hingga ia lupa janji pada Dena yang sudah dibuat.
Cahaya berjalan mengikuti langkah Bintang sampai ia berhenti ketika Bintang terus menuntun memasuki kamar.
"Kenapa berenti?" tanya Bintang ketus.
"Aya tunggu di sini aja, Kak," pinta Cahaya.
"Kenapa ga mau masuk ke kamar gue? Lo takut gue apa-apain?"
"Engga, Kak. Aya cuma pengen di sini aja," balas Cahaya berbohong, padahal ia takut Bintang melakukan sesuatu padanya jika ia sampai masuk.
"Masuk!" perintah Bintang tegas.
Mau tidak mau Cahaya kembali melangkah mengikuti Bintang.
Begitu tiba di dekat tempat tidur, Bintang baru berhenti melangkah lalu sedikit menarik tangan Cahaya untuk duduk di tepi tempat tidur. "Tunggu di sini, gue ganti baju sebentar!" perintahnya sembari menurunkan tas ransel dari kedua bahunya.
Cahaya duduk dengan patuh, bahkan saat Bintang menjatuhkan tas ransel di pangkuannya pun, ia tetap diam tanpa bertanya atau protes untuk apa tas ransel dijatuhkan ke pangkuannya.
"Ini Tas Kak Bi mau disuruh taro atau diapain?" batin Cahaya kebingungan.
Bintang bergerak cepat menuju kamar mandi kemudian membuka pakaian lalu memakai baju dan jeans yang tadi ia ambil dari lemari karena tidak mau membuat Cahaya menunggu lama. Setelah itu ia keluar dan langsung menghampiri Cahaya.
"Ayo!" Bintang mengajak sembari mengambil tasnya dari pangkuan Cahaya lalu meletakkan ke tempat tidur.
"Iya, Kak," balas Cahaya patuh lalu mengikuti langkah Bintang.
••••
Bibir Bintang sejak tadi berkali-kali tersenyum kecil ketika melihat senyum ceria di wajah Cahaya baik saat menaiki motor atau tiba di tempat yang mereka datangi.
Jika sedang di perjalanan Bintang memperhatikan Cahaya melalui salah satu spion yang diarahkan ke wajahnya tanpa diketahui pemilik wajah. Jika sedang berjalan atau duduk ia akan menoleh diam-diam untuk memastikan Cahaya senang diajak ke tempat yang ia datangi.
Seperti saat ini, keduanya sedang duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar. di dekat keduanya ada minimarket yang baru saja buka dan menyediakan banyak jajanan murah sebagai promosi.
Baru sepuluh menit duduk bersebelahan Bintang sudah empat kali menoleh diam-diam untuk memastikan senyum ceria Cahaya tetap ada.
"Udah jam berapa, Kak?" tanya Cahaya sambil mengunyah gulali yang ia genggam.
"Jam sembilan."
Mata Cahaya terbelalak kaget sampai mulutnya berhenti mengunyah mendengar jawaban Bintang.
"Kenapa lo kaget gitu?" tanya Bintang, santai.
"Ini udah malem banget, Kak. Apa kita ga bakal diomelin Om Aryo jam sembilan malem masih ada di luar rumah?"
Bintang menanggapi kepanikan Cahaya dengan senyum lucu sambil menyuap makanan yang sama seperti Cahaya. Ia merasa kepanikan Cahaya terlalu sepele untuk ditanggapi karena mempermasalahkan hal yang lumrah di sini.
"Kak, kita pulang, yuk!" ajak Cahaya cemas.
"Ay, ini di Jakarta bukan di kampung. Di sini jam sembilan masih terbilang sore karena aktivitas di sini bisa dua puluh empat jam nonstop. Jangankan jam sembilan malam, jam dua malam pun masih ada orang yang keluar rumah. Jadi lo santai aja. Ayah juga pasti ngizinin kita keluar rumah sampe tengah malem."
"Jam dua masih keluar rumah?" Cahaya menunjukkan tatapan heran sekaligus tidak percaya.
"Iya."
"Ngapain jam dua masih keluar rumah, Kak? Apa ga takut setann?"
"Orang-orang di sini pemikirannya udah modern, bahkan mungkin ada yang udah ga percaya sama sekali tentang setann. Ga kaya di kampung, dikit-dikit setann dikit-dikit pamali. Ribet!"
Cahaya memukul lengan Bintang sebagai protes karena menghina kampungnya.
Bintang menoleh tanpa menunjukkan kemarahan sedikit pun untuk pukulan yang ia terima, yang ada malah menunjukkan tatapan meledek. "Kenapa? Ada yang salah sama omongan gue?" ejeknya.