"Tapi,'kan suasana malamnya lebih enak di kampung Aya daripada di sini," balas Cahaya tak mau kalah.
"Enak apanya? Sepi gitu kaya kuburan, apanya yang enak?"
"Ya enak lah, Kak. Sepi, sunyi, tenang, ga kaya di sini, bising." Cahaya kembali menyuap gulali ke sekian kali.
"Mending yang bising, seru, banyak aktivitas, daripada yang sepi, kaya kampung ga ada penghuninya."
"Enggak!! Lebih enak di kampung!" ucap Cahaya tegas.
"Lebih enak di Jakarta lah." Bintang membalas masih dengan nada mengejek.
"Pokoknya lebih enak di kampung!"
"Jakarta jauh lebih enak."
Tiba-tiba mata Cahaya terbelalak kaget dibarengi ekspresi menegang dan mulut berhenti mengunyah begitu ia menyadari ucapan dan tingkah lakunya sejak tadi.
"Kak!" pekik Cahaya sambil menutup mulut.
Mendengar suara Cahaya yang tegang, Bintang kembali menoleh. "Ada apa, Ay?" tanyanya yang ikutan panik melihat wajah tegang Cahaya.
"Maafin Aya, ya." Kini wajah Cahaya berubah jadi ketakutan.
"Maaf kenapa, Ay?"
"Maaf, dari tadi Aya ga sopan ngobrolnya sama Kak Bi, malah berani mukul."
Bintang langsung menghela nafas lega setelah mendengar permintaan maaf Cahaya yang tidak ia permasalahkan.
"Seharusnya pas Kak Bi bilang kampung Aya sepi, kaya kampung ga ada penghuninya, Aya terima aja bukannya bantah. Harusnya juga tadi Pas Kak Bi bilang warga kampung Aya ribet, Aya terima aja, bukan malah mukul. Harusnya juga—"
"Udah deh, Ay, ga usah masalahin yang ga gue masalahin," sela Bintang sebal karena Cahaya mengubah obrolan yang tadinya menyenangkan menjadi menyebalkan. "Ga usah ngoceh minta maaf selagi guenya santai-santai aja. Gue bukan orang yang otoriter yang semuanya harus bener dan sopan. Gue juga bukan orang yang emosian yang semuanya harus gue tanggepin pake emosi."
"I-iya, Kak, maaf" Cahaya mengangguk takut ketika nada bicara Bintang kembali ke mode semula.
"Kenapa minta maaf lagi, sih, Ay?" tanya Bintang semakin sebal.
"Permintaan maaf Aya barusan buat permintaan maaf Aya tadi. Aya minta maaf karena Aya udah minta maaf yang bikin Kak Bi marah."
"Kapan gue bilang gue marah?"
Cahaya menggeleng pelan, tapi hati berkata, "Kalo ga marah kenapa ngomongnya kesel gitu?"
Bintang menghela nafas panjang lagi, yang kali ini helaan nafas untuk meluapkan kekesalan karena obrolan yang sudah ia buat santai dan seru kini jadi kaku karena rasa takut Cahaya yang tidak seharusnya ada. Padahal ia sangat menikmati obrolan itu dan masih ingin duduk berdekatan lebih lama dengan saling bicara tanpa emosi atau rasa takut.
Selain itu, ia juga sudah puas berkeliling ke beberapa tempat tanpa disinggahi, baru di tempat ini ia berhenti karena ingin ada obrolan dengan saling berhadapan dan menikmati makanan. Namun, belum ada satu jam obrolan berlangsung dan baru secuil canda-tawa, malah sudah menjadi kacau karena sebuah permintaan maaf.
"Maaf lo bener-bener ngerusak suasana, Ay!"
Mulut Cahaya reflek terbuka untuk meminta maaf, tapi langsung ia tutup dengan satu tangannya karena yakin akan membuat Bintang semakin sebal.
Kini, suasana sudah berubah jadi kaku. Bintang ingin mengajak Cahaya pulang, tapi ia masih ingin bersama. Bila tetap bersama tapi ia yakin tidak akan ada canda—tawa lagi karena rasa takut Cahaya yang tidak tepat.
Cahaya memberanikan diri berbicara di saat Bintang masih menunjukkan wajah kesalnya. "Kak Bi, abis dari sini kita mau ke mana lagi?"
Binta menoleh tanpa menghilangkan wajah kesalnya. "Mau ke mana pun kita pergi, suasana bakal rusak sama permintaan maaf lo."
"Aya janji Aya ga bakal minta maaf lagi."
Bintang diam sejenak untuk menghilangkan rasa kesalnya dan mencoba membuat suasana seru kembali.
"Kak?" panggil Cahaya saat Bintang hanya diam menatap.
"Lo mau jajan apa lagi?" tawar Bintang mengalihkan pembicaraan meskipun makanan yang ada di tangan Cahaya masih ada.
Sebenarnya saat mendengar tawaran Bintang, ada rasa takut di hati Cahaya untuk meminta hingga ia ingin menolak tawaran itu, tapi ia takut penolakan itu akan membuat Bintang kesal lagi padanya.
"Aya mau beli itu, Kak." Cahaya menunjuk satu gerobak dorong yang tidak jauh dari keduanya duduk.
Bintang menoleh ke arah yang Cahaya tunjuk. "Lo mau makan somay?" tanyanya sambil kembali menatap Cahaya.
"Iya, Kak."
"Ya udah gue beli somay bentar. Lo tunggu di sini." Bintang beranjak bangun sambil mengusap-usap kepala Cahaya lalu melangkah.
Cahaya hanya memperhatikan Bintang berjalan dengan tatapan heran dan bingung.
"Bentar-bentar baik. Bentar-bentar galak. Bentar-bentar aku—kamu. Bentar-bentar gue-lo. Dasar manusia aneh," gerutu Cahaya lalu memakan kembali gulali yang ada di tangannya.
Dua menit kemudian Bintang kembali duduk di samping Cahaya sambil membawa dua piring somay di kedua tangannya.
"Nih, Ay," ujar Bintang sambil memberikan satu piring somay pada Cahaya.
Cahaya tersenyum sembari menerima pemberian Bintang. "Makasih, Kak."
"Makan somaynya sampe abis, ya, ay. Nanti kalo kurang aku beliin lagi."
Cahaya tersenyum menanggapi ucapan Bintang yang ia yakini hanya basa-basi semata.
"Aya janji, nanti kalo Aya udah dapet kerjaan di Jakarta, Aya akan traktir Kak Bi di gaji pertama Aya." Cahaya berkata sambil mengaduk somaynya.
Bintang yang sudah membuka mulut untuk menyuap ia urungkan begitu mendengar ucapan Cahaya. "Kerja, Ay?" tanyanya sambil menatap Cahaya yang sedang mengunyah.
"Iya kerja, Kak."
"Kamu mau cari kerja?" Bintang bertanya dengan nada sedikit kesal.
Tapi Cahaya tidak menyadari nada kesal itu, bahkan ia menjawab tanpa berhenti mengunyah. "Iya, Kak."
"Kenapa?"
"Aya malu diam di rumah terus."
"Malu kenapa?"
"Ya malu aja, Kak. Selain itu Aya juga bosen di rumah terus tanpa ngerjain apa-apa."
Entah kenapa ada rasa khawatir di hati Bintang jika Cahaya mendapatkan pekerjaan akan mengenal banyak laki-laki yang salah satunya mungkin bisa menjadi kekasihnya.
Bintang menaruh piring somay ke sampingnya karena merasa obrolannya sangat serius sampai-sampai ia hilang selera untuk memakan somay yang ia beli.
"Buat apa cari kerja kalo orang rumah ga ada yang masalahin kamu diam terus di rumah?"
Cahaya berhenti mengunyah mendengar nada bicara Bintang yang serius. "Tapi Aya malu, Kak."
"Malu itu kalo keluarga aku masalahin keberadaan kamu di rumah."
"Justru itu Aya harus cari kerja sebelum keberadaan Aya dipermasalahin."
"Emang siapa yang bakal permasalahin keberadaan kamu? Ayah? Bunda? atau Prita?"
Cahaya diam karena tidak mungkin mengatakan sikap Diva adalah faktor utama yang membuat ia ingin mencari pekerjaan karena ia yakin anak akan membela ibunya jika mendengar kata-kata buruk dari orang lain.
Melihat Cahaya diam, Bintang kembali berbicara lembut. "Ayah bawa kamu ke Jakarta bukan untuk cari kerja, tapi biar kamu ga kesepian di kampung dan punya keluarga di sini."
"Iya Aya tahu."
"Kalo udah tahu kenapa masih mau cari kerja?"
Cahaya tidak bisa menjawab lagi karena pasti akan Bintang bantah semua alasan.
"Apa tadi siang kamu sempet minta bantuan Prita?"
Cahaya menjawab dengan anggukan lembut.
"Apa bantuan yang kamu maksud bantuan cari kerja?"
"Iya."
Untuk membuat obrolan kembali santai, satu tangan Bintang merangkul bahu Cahaya. "Ay, cari kerja dengan pendidikan akhir SMA di Jakarta itu ga mudah dan ga gratis, jadi jangan pernah berpikir apalagi berusaha cari kerja karena aku yakin kamu ga akan bisa dapet."
Cahaya memajukan bibir bawahnya, menunjukkan wajah cemberut karena ia merasa perkataan Bintang ada benarnya.
Bintang gemas melihat wajah cemberut Cahaya hingga ada hasrat ingin menciumnya, tapi ia yakin jika ia lakukan hal itu, Cahaya akan berteriak yang mengundang perhatian orang sekitar.
"Heeeeeh," Cahaya menghela nafas panjang karena semangatnya mencari kerja kini hilang. Ia kemudian menoleh menatap Bintang hingga wajah mereka berdekatan. "Padahal tadi siang Aya udah semangat, Kak." ucapannya lesu.
Bibir keduanya yang semakin dekat membuat Bintang semakin ingin mencium hingga ia tidak fokus dengan ucapan Cahaya.
"Emangnya kira-kira harus bayar berapa biar bisa dapet pekerjaan, Kak?" tanya Cahaya tanpa memalingkan wajah bahkan ia tidak sadar mata Bintang terus menatap kedua bibirnya.
Bintang masih fokus pada Bibir Cahaya hingga tidak menjawab pertanyaannya.
"Kak?"
Bintang masih tetap diam menatap bibir Cahaya.
"Kak Bi?!" kali ini Cahaya memanggil sambil menggoyangkan paha Bintang.
Bintang tersadar dari tatapannya lalu kembali menatap mata Cahaya. "Ya?" tanyanya
"Kira-kira Aya harus bayar berapa supaya bisa dapet kerjaan?"
"Jutaan."
"Berapa juta tepatnya?"
"Bisa sepuluh sampe lima belas juta. Apa lagi cuma lulusan SMA bisa-bisa sampe dua puluh juta," bohong Bintang
"Haaaaaaah." Mulut Cahaya langsung terbuka lebar mendengar jawaban Bintang. "Mahal banget, Kak."
"Makanya jangan pernah berpikir cari kerja di sini. Mending jadi pelayan pribadi aku aja, nanti setiap gajian aku bakalan traktir kamu."
Cahaya menoleh menatap ke depan dan kembali memajukan bibir bawahnya, menunjukkan wajah cemberut ketika ia teringat tidak bisa menemukan jalan keluar untuk menghindari sikap ketus Diva.
"Kalo aku ada setiap hari di rumah pasti Tante Diva bakalan semakin benci sama aku," batin Cahaya.
"Bisa-bisanya gue tergoda bibirnya," batin Bintang.
Cahaya kembali menyuap somay di pangkuannya, tapi kali ini ia mengunyah dengan lesu karena semangat mencari kerja hilang sudah.
Bintang melepas rangkulannya lalu mengambil piring yang tadi ia taruh untuk ia nikmati.
Bibir Bintang mengunyah somay yang ia pegang dibarengi senyum licik dan hati berkata, "Pokoknya Aya ga boleh dapet kerjaan di sini dan dia juga ga boleh banyak bergaul sama cowok mana pun selain gue."
•••••
Dena membuka pintu kamarnya lalu merebahkan diri di tempat tidur begitu ia sampai di rumah. Matanya langsung menatap langit-langit kamar dengan pikiran tertuju pada keberadaan Bintang.
"Heeeeeh," Dena menghela nafas lelah. lelah karena memikirkan Bintang, lelah karena ia harus pergi menghadiri acara pernikahan sahabatnya seorang diri, juga lelah karena menunggu kabar dari Bintang.
Dena meraih handbag di dekatnya untuk mengambil ponsel karena ia ingin melihat chat yang sejak tiga jam lalu berkali-kali ia kirimkan ke nomor Bintang.
"Belum di baca juga," ucap Dena ketika melihat dua tanda centang kecil di pojok layar HP-nya belum berwarna biru.
Dena menaruh HP di sisinya lalu kembali menatap langit-langit kamar. "Kamu ke mana Bintang? Kenapa ga ada kabar kalo ga jadi temenin aku pergi?" ucapannya penuh kecewa.
Dena kembali mengambil HP yang baru ia taruh karena ingin menelepon nomor Bintang, tapi sedetik kemudian ia urungkan niat itu karena bingung apa yang ia katakan jika Bintang menjawab teleponnya. Ia ingin marah, tapi ia merasa tidak berhak karena hubungannya belum resmi dengan Bintang, tapi jika tidak marah ia merasa disepelekan oleh Bintang dan kecewa dengan sikapnya yang seperti ini.
"Aku harus apa?" ucap Dena pada layar ponselnya.
Akhirnya waktu istirahat Dena hanya dihabiskan dengan menatap layar ponsel berkali sambil berpikir untuk menelepon atau tidak dan mengirim chat atau tidak.
•••••