Ruangan itu tidak dingin. Tapi, suasananya lebih dingin dari musim dingin mana pun di muka bumi.
Norbert tercenung. Dia tak habis pikir. Apa kurangnya dirinya? Dia tinggi, tampan, dan digilai banyak wanita. Norbert memang dikaruniai pesona fisik yang menawan. Tubuhnya jangkung, bahunya bidang, wajahnya maskulin, dan sorot matanya tegas. Namun, lebih dari itu dia tak seperti laki-laki lain yang mengumbar fisik dan kata manis demi merebut hati wanita. Oh, dia tidak seperti itu. Norbert cenderung dingin. Tapi, itulah daya tariknya. Banyak wanita jatuh hati pada sikap dinginnya yang misterius itu.
Bukan hanya itu saja keistimewaan Norbert. Kekayaannya pun melimpah ruah, tak akan habis tujuh turunan. Bagaimana Norbert bisa sekaya itu? Tentu saja tidak serta merta dia mendapatkannya. Sebelumnya, Norbert adalah CEO salah satu perusahaan multinasional yang memiliki cabang di Indonesia. Karirnya dimulai dari bawah. Dia tidak serta merta menduduki posisi itu. Kemampuannya memang mumpuni dan diakui, karena itulah dia bisa menjadi CEO.
Namun, Norbert seperti tak puas dengan posisinya. Diam-diam, dia memulai bisnis. Sejak dulu, Norbert memang suka berbisnis. Hal itu mengingatkannya pada masa-masa ketika dia masih bersekolah dan berjualan apa saja untuk bertahan hidup. Masa-masa itu sungguh tak menyenangkan. Bagaimanapun kemiskinan selalu membuat siapa pun merasa muak dengan kondisi mereka yang tak memiliki banyak uang. Tapi, kemiskinan juga yang memotivasi siapa pun untuk bisa sukses di masa depan. Tak terkecuali bagi Norbert.
Akhirnya, keinginan Norbert pun terwujud. Kini, kerajaan bisnisnya—Hutabara Corp.—berkembang pesat dan ada pada banyak sektor. Norbert memiliki aneka bisnis di bidang kuliner, kosmetik, jasa ekspedisi, bahkan properti. Di usia Norbert yang menjelang tiga puluh lima tahun, tentu itu pencapaian yang luar biasa. Siapa pun tak akan mampu menolak pesona Norbert, seorang laki-laki kaya raya yang sukses, idaman wanita mana pun.
Karena itulah, Norbert masih tak paham situasi yang dirasakannya sekarang. Ketika membicarakan kualifikasi, tentu dia adalah laki-laki yang sempurna. Masalahnya, kenapa dia sampai dikhianati seperti ini? Apa kualifikasi yang dia miliki sama sekali tak berarti bagi istrinya sendiri?
Norbert kembali melihat foto jepretan Dominggus, seorang detektif swasta yang dia sewa sebulan lalu. Dia menghela napas. Foto-foto itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana istrinya Inggrid berselingkuh dengan pengawal pribadinya Simon. Mereka berciuman di tepi danau sambil saling berpelukan erat. Siapa pun yang melihat bisa tahu ada hasrat terpendam pada wajah keduanya.
“Apa yang ingin Anda lakukan setelah ini? Apa Anda akan menceraikan istri Anda?” tanya Dominggus ingin tahu. Sudah beberapa kali Dominggus dipekerjakan Norbert untuk memata-matai saingan bisnis, bahkan anak buah yang dianggapnya mencurigakan. Baru kali ini Dominggus disuruh memata-matai istri Norbert—Inggrid Samdani—yang dinikahinya selama dua bulan terakhir.
Inggrid Samdani, seorang wanita berkebangsaan Indonesia-Italia. Dia memiliki wajah cantik, kulit putih bak pualam, dan rambut panjang bergelombang yang indah dan halus seperti sutra. Siapa pun yang melihat Inggrid, pasti mengira Inggrid jelmaan bidadari yang turun dari langit. Kecantikan Inggrid memang membius. Bahkan tanpa sapuan make up pun, kecantikan itu terpancar keluar, membuat siapa pun terpana.
Norbert berkenalan dengan Inggrid di sebuah perjamuan makan malam yang diadakan perusahaannya, kira-kira enam bulan lalu. Saat itu Inggrid memainkan piano untuk menghibur para tamu. Inggrid yang lulusan sekolah musik dan berkarir sebagai pianis sangat piawai bermain piano. Dentingan pianonya begitu memukau siapa pun yang hadir. Selama perjamuan makan malam, semua orang tak henti-hentinya mengucapkan pujian untuk Inggrid.
Melihat hal itu, Norbert memikirkan sesuatu. Dia tahu banyak orang menyanjung penampilan Inggrid. Norbert sendiri mengakui kepiawaian Inggrid bermain piano. Bisa dibilang dia tertarik dengan persona Inggrid di mata orang-orang. Satu ide pun tecetus di benak Norbert. Norbert laki-laki yang praktis. Dia tak percaya cinta. Tapi, dia percaya manusia tak bisa hidup sendiri. Norbert butuh pendamping. Itu bagus untuk citranya di perusahaan. Terlebih ketertutupannya pada wanita membuatnya belum juga memiliki seorang istri. Melihat kualifikasi pada diri Inggrid, Norbert pun berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan wanita itu.
Lalu, Norbert pun berkenalan dengan Inggrid. Saat itu, Inggrid memakai gaun warna hitam yang terbuka di bagian d**a, memperlihatkan tubuhnya yang molek. Rambutnya dikepang dengan jalinan rumit yang cantik. Helai-helai manis rambutnya membingkai wajahnya dengan lembut. Sapuan tipis make up makin menonjolkan kecantikan wajahnya.
“Kupikir aku sedang bermimpi waktu kau mendatangiku. Tentu aku tahu siapa dirimu. Tak ada yang tak mengenal Norbert Hutabara, pengusaha mapan yang digilai banyak perempuan.” Itulah yang dikatakan Inggrid begitu Norbert mendekatinya. Saat itu Inggrid tersenyum dengan mata mengerling menggoda.
Norbert cuma tertawa. Dia tahu permainan semacam ini. Dia tahu Inggrid pun menginginkan dirinya, terlepas dari motif di baliknya—entah wanita itu mengincar harta atau statusnya. Atau murni karena dia tertarik pada pesona Norbert.
“Aku terlalu sibuk sampai tak tahu siapa dirimu. Tapi, yang kutahu permainan pianomu bagus. Apa itu cukup untuk mengajakmu makan malam bersama besok?” Norbert tersenyum. Dia mulai melancarkan trik untuk menunjukkan ketertarikannya pada Inggrid.
“Hmm… aku pun cukup sibuk. Tapi, tentu saja aku bisa meluangkan waktu untukmu, Norbert.”
Saat itulah, Norbert tahu umpannya termakan Inggrid. Terbukti meski wanita itu berkata dia cukup sibuk, tapi dia tak menolak untuk diajak bertemu lagi.
Setelah hari itu, pertemuan demi pertemuan dilakoni Norbert dan Inggrid. Semua menyenangkan. Semua terencana. Paling tidak, Norbert tahu Inggrid tak akan menolak andai tiba-tiba Norbert menyematkan cincin berlian dengan harga selangit di jari manisnya. Norbert membayangkan pernikahan akan menjadi akhir yang bagus bagi kisahnya dan Inggrid.
“Apa bukti-bukti ini masih kurang?”
Ucapan Dominggus seketika membuyarkan lamunan Norbert akan masa lalu saat dia berkenalan dengan Inggrid. Mata Norbert terfokus pada foto bukti perselingkuhan istrinya. Dia menatapnya lama dengan pikiran berkecamuk dalam benaknya.
“Tidak. Kupikir ini cukup,” jawab Norbert akhirnya.
“Jadi, apa Anda akan menceraikan istri Anda?” tanya Dominggus lagi.
Norbert mendengus kecil, lalu tersenyum miring. Diperhatikannya kembali foto-foto perselingkuhan Inggrid. Dia tak pernah suka pengkhianatan, sekecil apa pun itu. Baginya loyalitas adalah harga mati. Dia tak pernah mengampuni pengkhianatan. Yah, dia memang tak percaya cinta. Pada dasarnya dia memang tak mencintai Inggrid. Tapi, dia sudah mencurahkan segalanya demi wanita itu. Dan, inilah yang dia dapatkan? Sebuah pengkhianatan?
“Tentu saja aku tak akan menceraikannya,” sahut Norbert. “Ada balasan yang lebih baik dari itu, Dom. Bercerai hanya akan membuat diriku menjadi seorang laki-laki menyedihkan. Orang-orang akan berpikir buruk tentangku. Mungkin saja mereka berpikir aku tak becus menjadi seorang suami. Yah, kau tak bisa mengontrol apa yang dipikirkan orang lain tentangmu.”
“Jadi?” Dominggus mencondongkan tubuhnya ke depan. Norbert sosok yang tenang dan selalu bisa menguasai diri. Laki-laki itu memang cenderung dingin dan misterius. Karena itulah, Dominggus penasaran. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan laki-laki yang duduk di hadapannya itu ketika tahu istrinya berselingkuh. “Kalau bercerai bukan solusi, apa yang akan Anda lakukan?”
Norbert mengangkat wajahnya. Tampak ekspresi muak di sana. “Tentu saja dibinasakan, Dom. Siapa pun yang tak bisa menjaga loyalitasnya, dia tak layak untuk hidup.”
Dominggus seketika tercengang dan nyaris terjungkal dari kursinya begitu mendengar kata-kata Norbert. Dia bisa melihat keseriusan di mata Norbert, yang entah bagaimana membuat Dominggus merinding.
-to be continue-