Bersantai di balkon selalu menjadi rutinitas Norbert begitu pulang dan sampai di kamarnya. Dia suka duduk-duduk di sana seraya menikmati pemandangan langit malam. Sayangnya, Norbert tak bisa menikmati langit yang dipenuhi aneka bintang bertebaran. Polusi membuat langit malam di kotanya hanya tampak seperti warna kelabu suram. Sebelum pindah ke sini, ketika kecil dulu Norbert tinggal di wilayah suburban. Polusinya tak sebesar di kota besar, jadi dia masih bisa melihat kerlip bintang saat malam menjelang.
Norbert ingat ketika kecil dulu dia sering terjaga hingga malam demi melihat bintang jatuh. Waktu itu Norbert belum mengerti kalau bintang jatuh hanya fenomena langit semata. Kalau dipikir sekarang, dia merasa bodoh sekali waktu melihat bintang jatuh dan diam-diam mengajukan permohonan.
Norbert tersenyum kecil seraya mengingat hal itu. Sungguh masa kecil yang lucu dan menyenangkan, pikirnya sambil mengenyakkan punggung di kursi santai dan menyelonjorkan kakinya yang penat. Asap rokok membubung di sekitar wajahnya. Sudah lama Norbert tak merokok. Dokter mewanti-wanti kesehatan paru-parunya akan memburuk kalau dia merokok lagi. Tapi, hari ini pengecualian. Norbert ingin merokok sejenak supaya pikirannya sedikit teralihkan.
Jujur saja, mengetahui perselingkuhan Inggrid sungguh membuat pikiran Norbert kusut masai seperti benang. Belum lagi dia masih harus bertemu Inggrid di rumah. Dia belum bertemu dengan istrinya itu begitu pulang. Entah Inggrid sedang pergi ke mana. Kemungkinan dia sedang berlatih piano untuk resitalnya nanti.
Tiba-tiba saja, sebuah lengan memeluk Norbert dari belakang. Kecupan ringan mendarat di tengkuk Norbert. Norbert menatap lengan yang melingkari bahunya. Dia bisa mencium parfum yang begitu familier di hidungnya—aroma kamomil. Itu adalah parfum yang sering dipakai Inggrid tiap hari. Itu pula wangi yang dia cium tiap dia berdekatan dengan Inggrid.
“Sayang, kupikir Dokter sudah melarangmu merokok. Aku tak keberatan dengan asapnya. Aku cuma peduli pada kesehatanmu. Aku takut kau sakit lagi,” ujar Inggrid dengan nada manja. “Kenapa kau merokok, Sayang? Apa ada sesuatu yang meresahkanmu?”
Norbert diam saja, tak menjawab pertanyaan Inggrid. Dia mengembuskan asap rokoknya pelan. Bulatan asap membumbung, lalu menghilang, seperti menyatu dengan udara. Ketika batang rokoknya sudah memendek, barulah Norbert menaruh puntung rokoknya di asbak. Cukuplah dia merokok satu batang hari ini. Dadanya pun sedikit sesak. Seperti kata dokter, kalau dia mau tetap sehat, dia harus jauh-jauh dari batang nikotin itu.
Inggrid kini beringsut maju dan duduk di samping Norbert. Didekapnya d**a bidang Norbert yang hangat dan cuma berbalut kaos polo warna putih polos. Hangat napas Inggrid mampu dirasakan Norbert. Istrinya itu memang senang bermanja-manja padanya tiap mereka cuma berdua saja.
Awalnya, Norbert suka dengan perlakuan Inggrid itu. Dia senang menjadi tempat istrinya berbagi kehangatan dan kenyamanan. Tapi, kali ini dia tak merasa seperti itu. Dia bahkan mengacuhkan pertanyaan Inggrid dan masih terdiam. Norbert cuma memandang ke kejauhan. Balkonnya ada di lantai tiga. Dari kejauhan, dia bisa melihat pucuk-pucuk pohon, tiang listrik, dan atap-atap rumah. Itu adalah pemandangan yang biasa dia lihat. Tapi, pikirannya berkecamuk saat ini. Semua itu tak tampak menarik perhatiannya sama sekali.
“Sayang, sepertinya kau sedang gelisah. Apa yang kau pikirkan? Maukah kau membaginya denganku?” ucap Inggrid.
Norbert membisu. Bagaimana dia bisa berbagi kecamuk pikirannya dengan Inggrid, sementara dia tahu wanita itu berbagi kehangatan dengan laki-laki lain? Terlebih laki-laki itu adalah pengawal pribadi yang sengaja dipekerjakan Norbert.
Norbert tahu dia seorang tokoh publik yang sering mendapat sorot kamera ke mana pun dia pergi. Terlebih dia sibuk dan tak punya banyak waktu untuk Inggrid. Atas pertimbangan itu, Norbert pun mempekerjakan Simon untuk menjaga Inggrid. Inggrid boleh saja menikah dengan Norbert. Tapi, Norbert tak pernah ingin mengekang wanita itu. Dia ingin selalu menjaganya, meski tak secara langsung.
Sebuah keputusan yang bodoh, pikir Norbert dalam hati. Dia tak pernah menduga bersama Simonlah Inggrid mengkhianati dirinya. Ya, bersama seseorang yang dia sengaja pekerjakan untuk menjaganya.
“Aku ingin berbagi semuanya denganmu, Norbert. Tapi, sepertinya hatimu tidak di sini,” kata Inggrid seraya memeluk Norbert erat.
“Aku di sini,” ucap Norbert pelan. Meski hatinya panas oleh pengkhianatan, dia tetap suka tubuh molek Inggrid yang mendekap erat tubuhnya.
“Tapi, aku merasa kau berada di tempat yang jauh. Apa kau tak ingin berbagi masalahmu denganku? Aku istrimu, Norbert. Aku ingin tahu segala hal tentangmu, termasuk masalahmu. Bukan cuma hal yang membuatmu senang saja.”
Norbert rasanya ingin terbahak mendengar lelucon itu. Bagaimana Inggrid bisa mengatakannya dengan enteng padahal dia berselingkuh? Tapi, alih-alih mengkonfrontasi Inggrid, Norbert menahannya. Dia akan bersandiwara sejenak. Toh Inggrid juga melakukannya. Wanita itu pandai bersandiwara. Mungkin dia cocok menjadi artis sinetron.
“Aku hanya ingin beristirahat sejenak dari rutinitasku,” ucap Norbert akhirnya.
“Kau lelah?” Wajah Inggrid tampak prihatin.
“Yah, sedikit. Mungkin karena banyak pekerjaan akhir-akhir ini.”
“Apa kau ingin ditemani? Kita bisa pergi berlibur bersama, Norbert. Suasana kota terlalu bising dan pengap akhir-akhir ini. Kota memang menawarkan segala hal. Tapi, di satu sisi, kota bisa juga begitu menjemukan.”
“Tapi, kau ada jadwal resital piano beberapa bulan ke depan. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu,” sahut Norbert. “Kau bisa berada di sini. Aku bisa pergi sendiri.”
“Tapi, Norbert… bagaimana kalau aku merindukanmu?” Inggrid menyurukkan kepalanya dalam-dalam ke lekukan lengan dalam Norbert, seperti tak ingin laki-laki itu pergi dari sisinya.
Lagi-lagi Norbert dilanda perasaan muak. Ditatapnya rambut Inggrid yang mengombak halus. Ingin sekali dia pergi sejauh-jauhnya dari Inggrid. Tapi, ini semua sandiwara. Jadi, dipeluknya erat-erat tubuh Inggrid supaya wanita itu tak khawatir padanya.
“Tenang saja. Kita akan bertemu lagi. Aku tidak berlibur dalam waktu lama. Tenang saja. Masih banyak pekerjaan yang harus kuurus.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku mencintaimu, Norbert…”
Tubuh Norbert menegang. Dia bisa mengendus kebohongan itu di udara. Betapa mudah. Betapa konyol. Betapa kata-kata manis bisa terucap tanpa tendensi apa pun. Betapa Inggrid bisa mengatakannya dengan enteng, padahal dia berselingkuh.
Norbert bukan tipe laki-laki yang suka mengumbar kata-kata manis. Dia suka ketegasan sikap. Baginya, sikap mencerminkan segalanya dibanding kata-kata. Sementara kata-kata tak bermakna apa-apa baginya. Kecuali apabila kata-kata itu tertuang dengan persetujuan jelas, hitam di atas putih, seperti kontrak kerja sama antara kedua belah pihak.
Mungkin wanita memang berbeda dengan laki-laki. Dalam hal ini, Inggrid sangat berbeda dengan Norbert, bak kutub utara dan selatan. Tapi, itu pula yang dibenci Norbert. Bahwa di balik kata-kata manis Inggrid, tersembunyi belati yang mampu mengikis kepercayaan Norbert akan perempuan. Pengkhianatan yang begitu besar, yang tak bisa diampuni Norbert.
Norbert menghela napas. Ditatapnya pinggir balkon. Sebuah bayangan menyelinap di benaknya. Bisa saja sekarang juga dia menyeret Inggrid dan mendorong tubuh istrinya itu hingga terhempas ke bawah. Ya, dia bisa saja melakukannya untuk melampiaskan kekesalan yang memuncak. Bayangan itu begitu pekat di pikirannya. Begitu menggoda untuk dilakukan.
Tapi, Norbert tak melakukannya. Ada balas dendam yang lebih baik. Selalu ada yang lebih baik dibanding melenyapkan orang-orang yang telah membuatnya kesal hati.
“Mari kita tidur, Inggrid…” ucap Norbert dengan mata menerawang. Seketika sebuah rencana melayang-layang di pikirannya.
-to be continue-