Menjelang siang, Norbert masih bekerja di kantornya. Banyak berkas yang harus dia baca dan tanda tangani. Tumpukan berkas itu menumpuk di meja kerjanya. Pemandangan seperti ini nyaris terlihat setiap hari. Belum lagi kalau ada masalah pada lini bisnisnya, Norbert harus memeriksanya juga untuk memastikan apa masalah itu tidak mengganggu performa bisnis. Dia juga harus berkoordinasi dengan manajer untuk menuntaskan masalah tersebut.
Tak lama kemudian, Jim, sekretaris pribadi Norbert masuk ke dalam ruangan. Sudah cukup lama Jim bekerja pada Norbert. Jim sekretaris yang cekatan dan kinerjanya baik. Sejak dulu, Norbert selalu memilih sekretaris laki-laki untuk mengurus segala keperluan dirinya. Alih-alih perempuan, Norbert lebih nyaman dengan kinerja sekretaris laki-laki. Lagipula dia berusaha tak terlibat affair apa pun dengan orang kantor, terlebih wanita. Karena itulah, memiliki sekretaris laki-laki merupakan pilihan yang praktis bagi laki-laki seperti Norbert.
Begitu masuk, Jim segera mengansurkan berkas pada Norbert. Norbert memeriksanya sejenak. Setelah puas dengan isinya, Norbert menandatangani berkas yang diberikan Jim. Setelah ditandatangani, Jim memeriksanya sejenak, lalu memasukkannya ke dalam map.
“Anda punya jadwal makan siang dengan Farah Hasmi. Apa Anda bisa meluangkan waktu siang ini?” tanya Jim begitu urusannya selesai. Jemarinya dengan lincah memeriksa IPAD, tempatnya mengatur segala jadwal Norbert yang menggunung. “Beberapa waktu lalu dia menghubungi kantor, karena tak punya nomor ponsel Anda. Kalau Anda sedikit lelah, tak masalah kalau mau dibatalkan. Kita bisa menjadwal ulang. Nona Farah tak akan keberatan. Dia cuma ingin beramah tamah dengan Anda.”
“Farah Hasmi… apa aku mengenalnya? Nama itu seperti tidak asing.” Norbert mencoba mengingat di mana dia pernah mendengar nama Farah Hasmi sebelumnya.
“Kalau saya tidak salah ingat, Anda bertemu Nona Farah waktu liburan ke Prancis. Waktu itu Anda belum menikah.” Jim mengangguk kecil. “Ya, saya ingat sekali. Waktu itu Anda berlibur sekaligus meninjau produk kosmetik yang dipasarkan di sana. Anda beberapa kali menghubungi saya. Anda sempat menyebut nama Farah Hasmi. Kata Anda bisa saja suatu hari nanti kalian berbisnis bersama.”
“Ah, dia. Aku ingat sekarang.” Norbert manggut-manggut. Pantas saja dia lupa. Kejadian itu sudah cukup lama berlalu. Farah bahkan seperti menghilang dari kehidupannya. Aneh juga. Kenapa mendadak dia ingin makan siang denganku? pikir Norbert bingung.
“Apa ada alasan khusus kenapa dia ingin makan siang denganku? Apa ini urusan bisnis yang belum kutinjau ulang? Atau ada masalah lain?” tanya Norbert.
“Seperti yang saya bilang tadi, dia ingin beramah tamah. Dia baru saja pulang ke Indonesia setelah mengurus bisnisnya di Prancis.” Jim mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu sedikit berbisik. “Saya sedikit mencari informasi mengenai Nona Farah. Tenang saja, Anda tak perlu khawatir. Reputasinya cukup baik dan tak neko-neko, jadi saya harap Anda mau meluangkan waktu untuknya. Mungkin ini bagus untuk ke depannya.”
“Begitu?” Norbert mengelus dagu yang dicukurnya pagi ini. Inggrid tak suka bulu-bulu halus tumbuh di dagunya. Karena itulah, dia selalu minta Norbert rutin bercukur. “Hmm… baiklah. Aku akan meluangkan waktu untuknya siang ini. Biarkan aku menemuinya. Aku ingin tahu apa yang diinginkan Farah dariku. Pastikan tempatnya sedikit privat. Aku tidak mau orang bergosip macam-macam tentang pertemuan kami.”
“Baik. Apa ada hal lain yang Anda inginkan?” Jim sudah siap sedia mencatat.
“Oh, panggilkan Simon. Aku ingin dia menemuiku.”
Jim mengerutkan kening heran. Dia bingung kenapa Norbert mendadak meminta bertemu pengawal pribadi istrinya. “Untuk apa kalau saya boleh tahu?” tanya Jim penasaran.
“Itu bukan urusanmu, Jim. Sekarang, keluarlah dari ruanganku,” ucap Norbert dingin, sedikit ketus.
Jim menelan ludah. Dia tahu sudah kelewat batas, meski sekadar ingin tahu urusan Norbert dengan Simon. Akhirnya, Jim keluar dari ruangan Norbert. Meski demikian dia bertanya-tanya dalam hati untuk apa Norbert sampai memanggil pengawai pribadi istrinya. Apakah mungkin kinerja Simon begitu buruk, sehingga Norbert berniat memecat laki-laki itu? Ataukah ada alasan lain yang tidak dia ketahui?
Setelah Jim pergi, Norbert duduk seraya menikmati pemandangan gedung-gedung bertingkat dari balik jendela besar di ruangan kantornya. Ruangan kantornya ada di lantai paling atas gedung. Norbert senang berada di sini. Dia sendiri yang mengatur ruangan tempatnya bekerja, yang didesain minimalis dengan paduan warna cokelat dan gading.
Norbert berdiri. Dia mendekati jendela. Udara di ruangannya sejuk, meski tak terlalu dingin yang membuatnya menggigil. Perlahan, Norbert mencopot jas dan meletakkannya di sandaran kursi. Jas itu sedikit membuatnya kurang leluasa bergerak. Karena itulah, dia mencopotnya sejenak, sekadar memberi udara segar bagi tubuhnya.
Dalam diam, Norbert terngiang percintaannya dengan Inggrid semalam. Lekuk tubuh wanita itu begitu menggoda. Wanginya, pesonanya, sungguh membius. Bagaimanapun Norbert menyukai Inggrid secara fisik. Tak ada laki-laki mana pun yang tak akan tergoda dengan kepiawaian Inggrid di atas ranjang. Yah, selain cantik, wanita itu memang pintar bercinta. Norbert sudah membuktikannya.
Sejenak, Norbert sempat melupakan pengkhianatan istrinya semalam. Namun, pagi ini saat dilihatnya Inggrid tertidur pulas dengan selimut membungkus tubuhnya yang telanjang, Norbert kembali diingatkan oleh fakta yang diberikan Dominggus. Foto Inggrid yang berciuman mesra dengan Simon seketika terpampang jelas di benaknya, membuatnya nyaris kehilangan kesadaran karena amarah yang terpendam.
Norbert ingat dia mendekati Inggrid. Dielusnya rambut Inggrid yang bergelombang indah. Ditelusurinya wajah cantik Inggrid dan berakhir di lekukan lehernya yang lembut.
Saat itulah, Norbert berjuang untuk tak mencekik Inggrid dalam tidurnya yang damai dan syahdu.
“Bukan saatnya…” Norbert berbisik, lebih kepada dirinya sendiri. Dia menempelkan telapak tangan pada permukaan kaca jendela. Pengendalian diri selalu menjadi bagian terbaiknya. Dia bisa menunggu apa saja, kapan saja, sampai berapa lama, karena dia tahu tujuan pasti yang akan dia dapatkan nantinya.
Sama seperti ketika muda dulu saat dia hanya seorang pemuda miskin yang bahkan tak berani pergi ke restoran cepat saji. Bukan karena dia pengecut, tapi karena uangnya selalu tak cukup. Keluarga Norbert terbilang miskin. Karena itulah, tekad kuat membara di dadanya. Dia ingin jadi orang sukses. Dia ingin kaya raya. Dia ingin membeli segalanya yang tak pernah mampu dia beli saat dia menjadi orang tak berpunya.
Jadi, dia menunggu dengan sabar. Dia berjuang dengan sabar. Dia mengedukasi dirinya dengan pendidikan tingkat tinggi melalui beasiswa, hingga sampai di posisinya yang sekarang. Dia melakukannya dengan sepenuh hati, dengan kesabaran melebihi manusia normal. Dia juga mengukur kemampuan, prospek, apa saja, demi mencapai tujuannya.
Selama bertahun-tahun dia bersikap demikian. Dia tak mungkin goyah. Apalagi cuma karena perempuan binal seperti istrinya Inggrid, yang ketahuan berselingkuh di belakangnya. Tentu tak segampang itu bagi dirinya untuk kehilangan kontrol diri.
“Apa Anda memanggil saya?”
Sebuah suara menyentak Norbert dari lamunan. Norbert sontak menoleh. Dilihatnya Simon berdiri tak jauh darinya, ditemani Jim yang mengantar ke ruangannya.
Norbert tersenyum. Dia selalu merencanakan segalanya, dengan pertimbangan yang dia dipikirkan masak-masak. Dan, dia tahu apa yang dia inginkan pada diri Simon, begitu matanya menyusuri sosok laki-laki itu, yang sama sekali tak merasa bersalah karena telah berselingkuh dengan istrinya.
-to be continue-