Fakta itu membuat mata Norbert membeliak sesaat. Itu adalah sesuatu yang tak disangkanya sama sekali akan keluar dari bibir Sarah. Ketika membicarakan hubungan yang tak berjalan baik, Norbert merujuk pada perselingkuhan Inggrid. Dia pikir akan mendapat jawaban serupa. Rupanya selalu ada kejutan dalam hidup manusia.
“Sungguh fakta yang mencengangkan,” reaksi Norbert. “Dan, kau baru mengetahuinya sekarang? Setelah hubungan kalian hendak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi?”
“Aku tahu hal ini secara tidak sengaja. Kami sudah berpacaran selama dua tahun. Selama ini kami berhubungan jarak jauh. Walau begitu, dia kerap mengunjungiku di Prancis, jadi kupikir aku bisa percaya padanya. Yah, terbukti itu tak menjamin bagaimana watak asli seseorang. Pacarku itu bekerja sebagai agen model dan artis di sini. Aku tahu dia berhubungan dengan banyak wanita. Tapi, aku tak menyangka dia memeras banyak model dan ‘menjualnya’ ke laki-laki hidung belang. Kau mengerti maksudku, kan? Dia memperlakukan banyak model seperti itu demi keuntungan pribadi.”
Norbert seketika berdecak. “Sungguh tidak berperikemanusiaan. Siapa yang memberitahumu hal ini? Kalau mendengar ceritamu, kupikir pasti tunanganmu menyembunyikannya dengan sempurna. Yah, sampai dia ketahuan olehmu.”
“Bisa dibilang dia ‘bermain’ dengan sangat rapi. Interaksinya dengan para model terbilang cukup normal. Aku pernah melihatnya tentu saja, jadi aku tahu pacarku tak tertarik pada mereka secara fisik. Hanya saja siapa yang menyangka kalau ketertarikan itu berada pada definisi lain? Maksudku, semua ini masalah uang, Norbert. Seorang model yang jadi korbannya tiba-tiba datang dan menemuiku. Dialah yang menguak sosok asli pacarku itu.”
“Tunggu sebentar,” sanggah Norbert. “Apa kau tak memikirkan opsi andai ini semua rekaan semata? Maksudku bagaimana kau tahu model itu tidak berbohong? Siapa yang tahu kalau dia cuma menjebakmu saja?”
Farah tertawa pendek. Walau demikian tak ada kesan lucu pada tawanya. Malah tawa itu terdengar miris di telinga Norbert, “Sungguh, aku pun ingin berpikir demikian, Norbert. Awalnya aku juga berpikir semua ini karangan semata. Tapi, foto-foto itu menunjukkan segalanya. Di foto itu pacarku bertemu dengan para laki-laki hidung belang di sebuah pesta privat. Ada pula video waktu pacarku ‘menjual’ modelnya. Oh, kau tak akan percaya kalau tak melihatnya sendiri.”
“Siapa yang memberitahumu hal ini?”
“Tentu saja model yang diperas oleh pacarku. Kau tahu, pacarku itu baik. Sangat baik. Dia juga orang yang loyal dan senang meminjamkan uang pada model asuhannya. Sayangnya, ketika modelnya tak bisa mengembalikan uang yang dipinjam, saat itulah dia beraksi. Dia suka memeras orang, Norbert. Padahal di depanku dia benar-benar sosok yang sangat baik. Aku masih tak menyangka…” Farah menunduk sedih. “Bahkan model itu memberitahuku nomor telepon khusus yang digunakan tunanganku untuk menawarkan model-modelnya.”
Tak urung Norbert kesal juga mendengar cerita Farah. Norbert benci laki-laki b******k yang memanfaatkan wanita demi keuntungan pribadi. Menurutnya laki-laki semacam itu sungguh laki-laki rendahan. Bagaimanapun laki-laki dianugerahi banyak hal yang lebih dari perempuan. Mereka lebih kuat, lebih bisa berpikir logis, dan objektif. Seharusnya laki-laki selalu bisa diandalkan oleh wanita mana pun, tak peduli bentuk relasi mereka. Laki-laki juga seharusnya menjadi sosok yang melindungi perempuan, bukannya memberi teror buruk pada kehidupan mereka.
“Aku tak tahu harus bilang apa. Pacarmu pantas masuk penjara.” Norbert sadar suaranya sedikit dingin saat mengatakannya. Fakta mengenai pacar Farah sungguh membuatnya naik pitam.
“Yah, mungkin nasib percintaanku sedang buruk. Aku tak masalah dengan itu. Hanya saja, ini semua cukup berat bagiku.” Farah mendesah. “Omong-omong, aku yang memutuskan hubungan kami semalam secara sepihak. Sambil memberikan bukti-buktinya tentu saja. Dia cuma terdiam seperti orang bodoh.” Farah tertawa. “Sejak semalam, aku tak mau tahu lagi tentangnya. Kupikir semua ini cukup. Aku tak mungkin bisa bersama orang seperti dia. Aku juga tak mau mengurusi apa yang dia lakukan di belakangku."
“Kau bukan pendendam, kukira?” tanya Norbert.
“Tentu saja tidak. Buat apa dendam pada orang seperti itu? Hanya akan membuang waktuku. Semalam, aku memang menyesali waktu yang kubuang bersamanya. Dia memberiku mimpi-mimpi akan masa depan, jadi aku sedikit merasa terhanyut. Tapi, kalau dipikir lagi aku masih muda. Masih banyak yang harus kulakukan. Boleh saja aku gagal dalam cinta. Tapi, hidupku harus terus melangkah ke depan. Masih banyak yang ingin kulakukan.”
“Untuk orang yang semalam mabuk-mabukan, ucapanmu bak motivator.” Norbert kembali menyesap kopinya. Rasa pahit kopi menyusup masuk, menghangatkan tenggorokannya yang kering.
Farah seketika terbahak. “Hei, aku butuh sesuatu untuk ditraksi. Lagipula aku cuma melakukannya sekali saja. Jangan mengolokku, Norbert.” Farah sedikit manyun, walau tak merasa tersinggung sama sekali. “Omong-omong, aku sudah menceritakan masalahku. Bagaimana denganmu? Kau tak ada masalah sama sekali? Sebagai teman, aku bersedia mendengar keluh kesahmu.” Farah ikut mengambil cangkir kopi dan menyesap isinya.
Norbert diam saja, tak kunjung bicara. Dia tak berniat untuk membicarakan kehidupan pribadi dengan siapa pun. Norbert memang memiliki krisis kepercayaan yang cukup akut. Sudah sejak lama dia tak pernah membicarakan masalahnya pada orang lain. Norbert begitu menutup rapat masalah pribadinya dari orang lain—dia begitu tertutup. Dia tak masalah dijadikan tempat berkeluh kesah seperti yang dilakukan Farah padanya. Tapi, dia tak mau kelihatan lemah di hadapan orang lain dengan membicarakan masalah pribadi.
“Kecuali kalau mau mendengar strategi promosi produk perusahaanku, aku bisa menceritakannya padamu sekarang,” ucap Norbert akhirnya. Itu adalah jawaban praktis bagi pebisnis sepertinya. Membicaran promosi selalu bisa menjadi topik yang bagus untuk diperbincangkan.
“Oh, tidak. Norbert. Jangan bicara pekerjaan.” Farah tertawa seraya mengibaskan tangannya. “Aku tak ingin ‘mengotori’ obrolan kita dengan pembicaraan mengenai bisnis. Kita punya waktu lain untuk itu. Kau mengerti kan?”
Norbert tersenyum saja. Dia tahu dengan situasi seperti sekarang, Farah akan menolak mendengarnya bicara masalah pekerjaan. Jawaban itu sudah dia prediksi sebelumnya. Lagipula Farah melihatnya sebagai sosok yang serius. Norbert tak bisa berkata secara gamblang kalau dia ingin menolak keinginan Farah. Karena itu, jawaban yang dia kemukakan sangat cocok pada situasi sekarang.
Kebisuan mengudara selama beberapa saat. Mata Norbert tertuju pada pemandangan di luar jendela hotel yang mempelihatkan pucuk-pucuk gedung bertingkat. Tirainya memang sengaja dibuka Farah sehingga mereka bisa melihat pemandangan itu, sekaligus pemandangan awan kelabu yang menggelayut di langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
“Omong-omong, istrimu tidak marah kau tidak pulang semalam?” tanya Farah tiba-tiba. “Ya, ya, aku tahu kau pasti bosan kalau aku menyinggung topik mengenai istrimu. Hanya saja aku sangat penasaran. Bagaimana bisa dia membiarkanmu berduaan dengan seorang wanita di sebuah hotel? Kau yakin dia tak akan membunuhku?”
Norbert terdiam. Dia benar-benar lupa tentang hal itu sama sekali. Dia bahkan belum menghubungi Inggrid. “Dia tak akan berani melakukannya. Istriku tak suka melakukan tindak kriminal.”
“Kenapa kau bisa yakin begitu? Kalian baru saja menikah.”
“Yah, kupikir dia bukan wanita seperti itu. Dia pasti mengerti.”
“Yah, kecuali kalau kau tak berniat mengatakan yang sesungguhnya.” Farah mengerling menggoda. “Perlu kau tahu, semua istri pasti cemburu buta kalau tahu suaminya bersama wanita lain. Yang jelas, kau harus menemukan alasan yang bagus untuk istrimu. Para wanita tak suka dibohongi.”
Tapi, dia berkhianat, bisik Norbert dalam hati. Hanya saja Norbert tak bisa membicarakannya terang-terangan pada Farah. “Tenang saja. Istriku pasti mengerti kalau aku sedang ada urusan. Aku sudah mengatakannya semalam.”
“Baiklah, baiklah. Aku hanya sedikit memberi saran.” Farah akhirnya berdiri. Dia lalu mendekati Norbert yang duduk di sofa. Ditatapnya Norbert dengan senyum manis merekah di bibirnya yang berwarna merah sehat. “Omong-omong, terima kasih untuk waktumu, Norbert. Aku sangat menghargai apa yang kau lakukan untukku,” ucap Farah tulus. Wanita itu kemudian menundukkan tubuh, lalu mengecup pipi Norbert.
-to be continue-