Norbert sudah berada di hotel terdekat yang dia temukan. Karena kesusahan membopong Farah yang tingkahnya bak orang pingsan, Norbert sengaja menggendong Farah ala gendongan pengantin. Aksi Norbert itu mengundang perhatian beberapa orang yang melihatnya—termasuk resepsionis hotel ketika Norbert hendak check in. Norbert sendiri tak peduli. Toh dia tidak melakukan sesuatu yang macam-macam pada Farah. Dia cuma ingin Farah beristirahat sejenak. Lagipula dia tak mungkin membiarkan Farah tidur di mobilnya. Pasti rasanya sangat tidak nyaman.
“Ehm, kamar Anda nomor 145B,” ucap resepsionis setelah Norbert selesai check in. Resepsionis itu melirik ke arah Farah dengan tatapan penasaran. Dari gelagatnya, terlihat sekali dia ingin tahu kenapa Norbert sampai menggendong Farah yang tak berdaya. Hanya saja dia tahu diri untuk tidak mencampuri urusan siapa pun yang menginap di hotel.
Melihat hal itu, Norbert akhirnya mencoba menjelaskan secara singkat. Dia semata-mata melakukannya supaya resepsionis itu tak berpikir yang macam-macam tentangnya maupun Farah.
“Dia mabuk dan tiba-tiba pingsan. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja,” terang Norbert. Tangannya terulur dengan susah payah untuk menerima cardlock hotel yang diberikan resepsionis.
Resepsionis itu ber-oh kecil. Dengan senyum menawan khas pegawai hotel, dia pun mempersilakan Norbert pergi ke kamarnya di lantai lima.
Norbert mengangguk kecil dengan wajah datar sebagai balasan, lalu berjalan pergi ke kamarnya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya di lorong menatap penuh perhatian pada Norbert. Norbert berjalan mantap. Dia berusaha tak mengacuhkannya dan berkosentrasi agar Farah tak terjatuh. Untunglah fisik Norbert cukup kuat, jadi tak masalah baginya harus menggendong Farah ala gendongan pengantin seperti ini.
Bisa dibilang tubuh Norbert tampak ideal bagi kebanyakan laki-laki. Dia pun rutin melakukan olahraga dan melatih ototnya di gym. Dengan tinggi 185 cm, banyak yang berkata andai Norbert tak suka berbisnis, bisa saja dia memilih profesi sebagai model. Apalagi dari segi tampang Norbert pun terbilang tampan, tak kalah dengan artis atau model dalam negeri yang suka wora-wiri di televisi.
Tak lama kemudian, Norbert sampai juga di kamarnya. Kamar itu didesain minimalis dengan dinding warna putih tulang. Karena dia memesan fasilitas kamar yang biasa saja, tak ada yang spesial pada kamar ini. Ranjangnya pun tertutup sprei putih biasa. Tapi, itu bukan masalah besar bagi Norbert. Yang penting Farah bisa berisirahat sejenak setelah dia pingsan gara-gara mabuk-mabukan tadi.
“Hmm…” Farah mendadαk bergumam begitu Norbert membaringkan tubuhnya di ranjang. Wanita itu menggulingkan tubuhnya ke samping, tanpa tahu dia sudah menyusahkan Norbert.
Norbert berdecak kecil melihat kelakuan Farah. Tapi, dia tak bisa marah pada wanita itu. Apalagi dia juga dalam keadaan tak sadar. Akhirnya, Norbert memutuskan duduk di sofa yang diletakkan berseberangan dengan ranjang. Sofa itu panjang dan berwarna abu-abu muda. Permukaannya berbulu halus dan nyaman disentuh.
Norbert menghela napas panjang. Norbert tak mungkin pulang begitu saja dan membiarkan Farah di hotel sendirian. Kalau melakukannya, entah kenapa dia merasa seperti laki-laki yang tak bertanggung jawab. Akhirnya, Norbert memutuskan tidur di sofa untuk menunggui Farah. Meski Farah berbaring tak jauh darinya, tak ada setitik pun keinginan Norbert untuk memanfaatkan situasi ini. Bagaimanapun Norbert laki-laki yang bertanggung jawab. Tak mungkin dia melakukan hal yang bukan-bukan pada wanita yang mabuk dan tertidur pulas. Lagipula apa menariknya menjamah wanita yang tak sadarkan diri?
Keesokan harinya, Norbert terbangun dengan mata menyipit, karena tak familier dengan ruangan yang dia tempati. Ketika tersadar dia sedang berada di hotel, Norbert buru-buru bangun. Saat itulah dia tak mendapati Farah di tempat tidur. Norbert melihat sekeliling kamar. Saat mendengar percik air dari arah kamar mandi, dia tahu Farah sedang berada di sana.
Tak lama kemudian, Farah pun keluar dari kamar mandi. Jubah mandi membalut tubuhnya yang kurus dan tinggi. Rambutnya tampak basah. Wanita itu tersenyum saat melihat Norbert.
“Pagi, Norbert. Segar sekali airnya. Apa kau mau mandi juga? Setelah ini kita bisa berbincang-bincang dan sarapan bersama,” ucap Farah ceria.
Norbert mengerutkan kening mendengar penuturan Farah. “Bagaimana kau bisa bersikap seceria itu setelah mabuk-mabukan semalam? Memangnya kepalamu tidak pengar?” tanya Norbert penasaran.
“Yah, kepalaku memang sedikit pengar.” Farah memijit pelipisnya. “Tapi, tenang saja. Aku selalu siap sedia obat anti pengar di tasku, jadi jangan khawatir. Lebih baik kau mandi dulu, Norbert. Dari sini aku bisa mencium bau keringatmu.” Farah tertawa, setengah mengolok Norbert.
Norbert mendengus, walau tak merasa tersinggung dengan ucapan Farah. Dia pun ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh. Gara-gara tidur di sofa, tubuhnya memang sedikit pegal-pegal—sofa itu tak terlalu panjang, jadi Norbert harus menekuk kakinya sepanjang malam. Semoga dengan mandi air dingin, pegal-pegalnya jadi sedikit hilang.
Tak lama kemudian, Norbert keluar dari kamar mandi sambil mengaitkan tali jubah mandi. Pihak hotel memang menyediakan beberapa jubah mandi yang bisa dipakai para tamu hotel.
Waktu duduk di sofa, Norbert sadar Farah sudah memesan layanan kamar berupa dua roti isi dan dua cangkir kopi hangat sebagai menu sarapan. Wangi kopi membuat perut Norbert kerucukan. Sementara itu, Farah sudah mengunyah roti isinya dengan lahap, seperti tak pernah makan sebelumnya. Terlihat sekali saos dari roti isi mengotori sudut bibirnya.
“Kau sudah selesai mandi? Makanlah dulu, Norbert. Maaf, aku duluan. Aku kelaparan sekali,” ucap Farah.
Norbert tak begitu sarapan, terutama makan makanan berbahan karbohidrat. Tapi, aroma kopi selalu membuatnya ingin mencicipinya. Dia pun meraih cangkir kopi, lalu menghirup wanginya sejenak, sebelum akhirnya menyesapnya.
“Jadi, kenapa kau mabuk-mabukan semalam?” tanya Norbert, membuka percakapan. Dilihatnya Farah sudah selesai makan roti isi. Wanita itu kini mengelap ujung bibirnya menggunakan tisu.
“Kau tak kenal basa-basi ya?” tanya Farah balik, lalu tertawa kecil. “Apa sekarang kau ingin mengintrogasiku atas kejadian semalam?”
Norbert mendengus. “Yah, aku butuh alasan yang bagus kenapa sampai sepagi ini aku harus terdampar di hotel demi menungguimu. Apa aneh aku bertanya seperti itu?”
“Ya, ya.” Farah manggut-manggut. Dia kini meraih cangkir kopinya, lalu menyesap isinya. “Baiklah, aku memang berhutang penjelasan padamu. Aku akan menceritakannya sekarang. Semalam aku sedang stres berat. Bisa dibilang aku patah hati, Norbert. Aku butuh pelampiasan atas perasaan patah hatiku, makanya aku pergi ke diskotek untuk minum-minum sampai mabuk berat.”
Ini pertama kali Farah menyinggung mengenai kehidupan percintaannya. Norbert jadi penasaran kenapa Farah sampai terpuruk seperti semalam. “Patah hati? Jadi, kau sudah punya pacar?” tanya Norbert ingin tahu.
“Begitulah. Kami bahkan sudah bertunangan. Sebenarnya, alasanku kembali ke sini karena rencananya kami akan segera menikah. Sayangnya, rencana itu harus batal, bahkan setelah pertemuan keluarga besar kami. Kalau dipikir-pikir ini menyedihkan sekali.” Bahu Farah sedikit lunglai saat mengatakannya.
“Tapi, apa alasannya?” kejar Norbert penasaran. “Kalau kalian sudah hendak menikah, hubungan kalian pasti sudah dalam tahap serius. Kenapa bisa putus seperti itu? Apa pacarmu diam-diam punya wanita lain? Atau dia selingkuh?”
Farah mendengus pendek. Wajahnya mendadαk berubah muak. “Bukan seperti itu keadaannya. Sebenarnya, akulah yang membatalkan rencana pernikahan kami secara sepihak.”
Alis Norbert berkerut bingung. Dia makin tak mengerti arah pembicaraan Farah. “Tunggu sebentar. Aku masih tak paham. Kupikir kau diselingkuhi, karena itu kau stres sampai mabuk-mabukan. Jadi, bukan begitu ceritanya? Apa ada alasan lain?”
“Ya, tentu saja.” Farah menggeram kesal. “Ini fakta yang baru kutahu. Sungguh, aku tak pernah menyangkanya sama sekali. Tapi, pacarku itu… dia… seorang m*******i, Norbert. Apa kau bisa percaya itu?”
-to be continue-