Norbert dan Farah selesai makan siang bersama. Farah terlihat gembira karena bisa bertemu Norbert lagi. Terlihat sekali dia berusaha mengakrabkan diri dengan berusaha mencairkan suasana. Sementara Norbert cuma menanggapi seperlunya saja. Bukan karena dia tak menyukai Farah. Tapi, pada dasarnya Norbert memang sedikit irit bicara—walau tak bisa disebut pendiam. Lebih tepatnya Norbert lebih suka mendengarkan lawannya bicara. Untunglah Farah tak keberatan dengan sikap Norbert tersebut. Malah menurutnya Norbert adalah pendengar yang baik. Bagaimanapun wanita selalu ingin kata-katanya didengarkan, terutama oleh para laki-laki.
“Kau tak berubah ya,” ucap Farah ketika mereka sampai di tempat parkir. “Aku jadi penasaran apa dari dulu kau memang seperti ini? Apa orang-orang tak kesal dengan sikapmu itu?”
“Apa kau kesal dengan sikapku?” tanya Norbert balik.
Farah tertawa. “Tentu saja tidak. Mungkin karena aku suka melihat wajahmu, jadi aku tak merasa kesal,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Ups, maaf. Aku selalu lupa kau tak mempan digoda. Apalagi sekarang, setelah kau sudah menikah.”
Norbert diam saja. Dia tahu sejak berkenalan dulu, Farah memang tipe wanita yang seperti itu. Dia kerap menggodanya tanpa malu. Norbert sama sekali tak tahu-menahu mengenai status Farah, apa dia sudah menikah atau punya kekasih, sehingga dia kerap menggodanya seperti itu. Tapi, Norbert tak ingin memikirkan terlalu jauh. Baginya hubungannya dengan Farah hanya sebatas relasi semata. Atau menurut pengakuan Farah, mereka cuma selayaknya teman.
“Oh ya, aku ingin kita bertemu lagi. Kalau kau sedang senggang tentunya.” Farah mengeluarkan ponsel. “Boleh aku tahu nomormu? Setelah pulang dari Prancis, aku mencoba menghubungimu. Sayangnya, nomormu tak lagi tersambung.”
“Aku memang mengganti nomorku,” ucap Norbert, lalu menyebutkan nomor ponselnya. Diam-diam dia melirik Farah. Meski Farah berkata hanya ingin berteman dengannya, entah kenapa dia masih ingin tahu motif tersembunyi dari sikap Farah. Boleh saja Farah menawarkan pertemanan. Tapi, mereka sama-sama pebisnis. Bagaimanapun pebisnis tak punya banyak waktu luang—apalagi hangout dan menghabiskan waktu secara percuma. Mungkin saja Farah memang punya agenda tersendiri yang tidak dia ketahui, yang menyangkut bisnisnya.
Setelah bertukar nomor ponsel, Norbert pun pergi menuju mobilnya. Farah yang membawa mobil sendiri mengikuti di belakangnya. Mereka pun akhirnya berpisah jalan, karena tempat tujuan mereka berbeda.
Norbert sampai di kantornya setelah menembus lalu lintas perkotaan yang padat merayap. Begitu sampai di lobi, mendadαk saja Jim muncul dan menghampirinya. Wajah sekretarisnya itu tampak khawatir, seperti ada hal gawat yang sedang terjadi.
“Saya pikir sesuatu terjadi pada Anda. Anda susah sekali dihubungi,” kata Jim.
“Aku sedang menyetir. Kau tahu sendiri aku tak suka diganggu ketika sedang menyetir. Apa ada yang mencariku? Kenapa kau tergopoh-gopoh seperti ini begitu aku datang?” tanya Norbert penasaran.
“Begini…” Jim membetulkan letak kacamatanya dengan tidak sabar. “Ada beberapa berkas yang harus Anda baca mengenai rapat hari ini. Ini masalah promosi yang sempat disinggung seminggu lalu. Saya kira Anda belum sempat memeriksanya.”
“Hmm, begitu. Baiklah. Bawa saja berkasnya ke ruanganku, nanti akan kuperiksa. Ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang, jadi aku akan mengurusnya sebentar.”
“Baiklah.” Jim sedikit penasaran urusan apa yang hendak dilakukan Norbert. Tapi, karena dia tak mau ikut campur dan mendapat tatapan tajam Norbert lagi, akhirnya dia pun kembali ke ruangannya.
Norbert memutuskan pergi ke taman yang terletak di samping gedung kantornya. Taman itu tampak asri dan diatur sedemikian rupa, sehingga siapa pun yang berada di sana bisa menikmati aneka bunga yang bermekaran. Disiapkan juga beberapa bangku berbentuk estetik, menawarkan kenyamanan bagi siapa pun yang ingin bersantai di sana. Akhirnya, Norbert duduk di salah satu bangku, lalu mengambil ponsel dari dalam saku. Dia memencet sebuah nomor, lalu meneleponnya.
“Jadi, apa keputusanmu atas pembicaraan kita tadi di kantorku?” ucap Norbert begitu teleponnya tersambung.
“Saya… saya…”
Norbert bisa mendengar suara di seberang terdengar gugup. “Aku tak keberatan dengan nominalnya, seperti yang kita bicarakan tadi. Yang kau perlu lakukan hanya menerima penawaranku.”
“Penawaran itu terlalu besar bagi saya. Saya tak yakin bisa melakukan apa yang Anda minta. Saya rasa ini tak sebanding.”
Norbert tertawa kecil. Dia bisa mengendus bau kepengecutan dari suara orang yang dia telepon saat ini. “Apa maksudmu tidak sebanding, Simon?” Akhirnya ketahuan juga siapa yang ditelepon Norbert. “Aku menawarimu uang lebih demi sesuatu yang kuinginkan. Ini juga menyangkut istriku.”
Suara Simon kembali terdengar gugup. Malah kini terdengar terbata-bata. “Sa-saya kira ini tak pantas dilakukan. Maksud saya, memata-matai istri Anda sendiri bukannya terdengar aneh? Apalagi saya yang harus melakukannya.”
Karena kau tahu kaulah biang keladinya, bukan? pikir Norbert dalam hati. “Aku ingin tahu pergaulan istriku. Kalau kau tak mau melakukannya, mungkin aku harus mencari penggantimu, Simon. Itu bukan masalah besar bagiku. Tapi, apa kau mau dipecat begitu saja?” tawar Norbert, lebih kepada paksaan agar Simon mau menerima tawarannya.
“Oh, jangan, jangan. Anda tak boleh melakukan itu.” Simon terdengar panik begitu Norbert menyinggung kata ‘dipecat’. “Saya sedang butuh uang. Susah payah saya dapat pekerjaan. Tolong jangan pecat saya. Pekerjaan ini begitu besar artinya bagi saya.”
“Jadi, bagaimana? Apa kau akan menerima tawaranku?”
Cukup lama keheningan melingkupi keduanya. Dalam hati, Norbert ingin terbahak sekencang-kencangnya. Dia suka permainan ini. Dia suka mempermainkan orang. Terlebih Simon. Laki-laki tak tahu diri seperti Simon pantas mendapatkannya.
Yah, Norbert tahu kondisi keluarga Simon. Laki-laki itu hanya tinggal dengan ibunya. Orang seperti Simon adalah tipe orang yang selalu butuh uang. Mereka golongan kaum ‘bawah’. Mereka akan melakukan apa pun demi uang, uang, dan uang. Tak peduli mereka harus merangkak di bawah kaki orang lain, yang penting mereka bisa mendapat uang untuk makan.
Jujur saja, Norbert tak suka konfrontasi terang-terangan. Alih-alih melabrak Simon, Norbert malah memberinya uang untuk membuktikan perselingkuhan istrinya. Norbert tahu Simon pasti kebingungan. Kalau laki-laki itu masih punya moral, bisa saja dia hengkang dari hidup Inggrid untuk selamanya.
Tapi, uang selalu menjadi magnet yang ampuh. Sekarang, Norbert hanya harus menunggu keputusan Simon. Apa dia akan termakan umpannya? Atau malah memikirkan opsi lain?
“Sampai kapan aku harus menunggu, Simon?” kejar Norbert setelah dirasanya Simon terlalu bertele-tele dalam berpikir.
“Jadi, saya hanya harus mencari bukti kalau istri Anda berselingkuh? Seperti itu, bukan?”
“Ya.”
“Bagaimana kalau saya tak menemukannya?”
“Oh, kupikir kau pasti mendapatkannya. Jadi, apa aku mendapat jawaban ‘ya’ darimu, Simon?”
“Ba-baiklah…” Simon akhirnya bersuara.
Norbert tertawa dalam hati. Dia bisa membayangkan Simon memotret dirinya sendiri saat b******u dengan istrinya Inggrid. Begitu lucu. Begitu konyol. Norbert jadi ingin tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu nanti setelah menerima tawarannya ini.
“Baiklah kalau begitu. Kirim nomor rekeningmu. Aku akan mentransfer uang muka sesuai kesepakatan kita. Kalau kau sudah mendapat buktinya, baru aku akan melunasi sisanya.” Norbert mengakhiri pembicaraan.
Tak lama, Simon mengirim nomor rekening pribadinya. Norbert mentransfer uang sebanyak sepuluh juta pada Simon. Norbert tersenyum. Dia tahu, permainannya dengan Simon baru saja dimulai. Bagaimanapun Norbert akan memenangkan permainan ini. Dia akan menyingkirkan Simon setelah dia memberinya sedikit uang untuk menunjukkan kalau Norbert mampu membeli apa pun yang dia mau. Tentu saja dia melakukannya bukan tanpa alasan. Norbert sengaja melakukannya sebagai bentuk penghinaan atas apa yang Simon lakukan padanya.
-to be continue-