Norbert sengaja membeli grand piano untuk Inggrid begitu mereka menikah. Piano itu sengaja diletakkan Norbert di ruang tengah, jadi Inggrid bisa memainkannya setiap hari. Harga piano itu cukup mahal, dan diproduksi sebuah merk kenamaan. Norbert sengaja memesannya secara khusus, karena Inggrid suka warna biru lembut, serupa warna laut.
Inggrid sama sekali tak meminta piano itu pada Norbert. Hanya saja, Norbert merasa harus membelikan sesuatu sebagai kado atas pernikahan mereka. Dia pun memilih piano itu. Tentu saja Inggrid gembira atas kado yang diberikan Norbert. Dia berkali-kali mencium Norbert setelah piano itu sampai di rumah.
Norbert kembali teringat, resepsi pernikahannya dengan Inggrid terbilang mewah dan dilangsungkan di sebuah hotel bintang lima. Banyak sekali relasi Norbert dan Inggrid yang hadir di sana. Bisa dibilang itu pernikahan akbar tahun ini—meski Norbert melarang awak media untuk meliput jalannya proses pernikahan. Bahkan dia melarang siapa pun yang hadir untuk mengambil foto dan video, kecuali para staf dari wedding organizer yang ditugaskan khusus untuk mendokumentasikan pernikahan mereka.
Kalau dipikir lagi, betapa seremoni itu terasa konyol sekarang. Norbert tak menyangka uang yang dia keluarkan untuk mengurus pernikahannya yang mewah itu—nominalnya tak sedikit tentu saja—akan berakhir seperti ini. Norbert terpekur. Dia duduk sambil memegang gelas tinggi berisi wine. Dari tempatnya duduk, suara dentingan piano terdengar indah, melantun merdu dari ruang tengah. Norbert memejamkan mata. Meski sedang dihantui nasib pernikahannya sendiri, dia selalu suka aksi Inggrid tiap istrinya itu bermain piano.
Permainan piano Inggrid memang begitu indah dan memukau. Wajar saja. Inggrid lulusan sekolah musik di LA dengan spesialisasi pada permainan piano. Setelah lulus, karir Inggrid pun dimulai sebagai pianis kenamaan. Dia kerap melakukan resital dan berkeliling dunia dengan kemampuannya itu. Dia bahkan punya album musik hasil aransemennya sendiri yang laris di pasaran.
Inggrid memang layaknya selebriti. Fansnya ada di mana-mana, bahkan di seluruh dunia. Perpaduan Norbert—seorang pebisnis andal dan Inggrid—seorang pianis memang tampak sempurna di mata orang-orang. Fakta itu tak bisa ditampik. Terlebih banyak orang mengelu-elukan mereka sebagai pasangan ideal.
Awalnya, Norbert berpikir pernikahannya akan berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Memang dia tak mencintai Inggrid. Tapi, Norbert sudah berkomitmen pada wanita itu. Dia pikir itu saja sudah cukup. Dia masih belum percaya—bahkan belum sampai setahun—dia akan dikhianati seperti ini. Hal itu sungguh membuatnya sakit hati. Padahal bersama Inggrid adalah kondisi sempurna yang dia dambakan. Norbert memang menyukai kesempurnaan. Dia perfeksionis sejati. Ketika hubungannya dengan Inggrid menyentuh titik ideal, Norbert tak ingin hubungan itu hancur. Bagaimanapun citra adalah segala-galanya bagi Norbert.
“Kau melamun, Norbert.”
Sebuah suara melempar Norbert pada kenyataan dia sedang melamun saat ini. Norbert tak sadar Inggrid menyudahi permainan piano dan mendatanginya. Wanita itu duduk di sampingnya di sofa dan bersandar pada lengan Norbert.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Kulihat kau melamun saja dari tadi,” ucap Inggrid sambil mengelus lengan Norbert yang dibalut kemeja panjang warna krem.
“Bukan apa-apa.” Norbert meletakkan gelas wine-nya di meja depan sofa. Ditatapnya Inggrid yang malam ini mengenakan gaun selutut warna hitam. Meski gaun itu tampak biasa-biasa saja, tapi karena Inggrid yang memakainya, gaun itu membalut indah tubuhnya yang memiliki lekuk sempurna. “Mungkin karena permainan pianomu begitu sempurna, makanya aku jadi melamun,” ujar Norbert.
Inggrid tertawa dengan nada manja, karena dipuji oleh Norbert. “Terima kasih, Norbert. Pujianmu membuatku gembira.”
Norbert tersenyum saja. Makin lama, dia makin pandai dengan sandiwara kecil semacam ini. Diperhatikannya Inggrid yang kini melingkarkan lengan untuk memeluknya. Inggrid seperti kucing kecil lugu yang selalu minta diperhatikan. Dulu, Norbert menyukai sikapnya itu. Tapi, begitu tahu Inggrid bisa saja melakukan hal serupa dengan Simon, Norbert tahu Inggrid tak selugu yang dia pikirkan. Di matanya sekarang Inggrid layaknya rubah licik yang diam-diam menggerogoti kepercayaannya.
Detik itu juga, Norbert merasakan penyesalan atas apa yang dia lakukan. Mungkin tak seharusnya dia menikahi Inggrid, hanya karena dia tahu wanita itu akan memberinya status bagus di mata orang-orang. Dia tahu tak ada cinta yang dia rasakan pada Inggrid. Seharusnya dia hanya bermain-main saja dengan wanita itu. Hanya saja, ada masa-masa di mana dia berdua saja dengan Inggrid, dan Norbert merasa ini saat yang tepat untuk berkomitmen. Toh tak ada salahnya laki-laki berkomitmen, terlepas bagaimana perasaan mereka. Menurutnya komitmen bak bisnis, dia tahu ada peraturan-peraturan yang harus dia sepakati dan jalankan. Salah satunya adalah kesetiaan.
Bagi Norbert, kesetiaan adalah kesepakatan mendasar pada pernikahan. Norbert bukan petualang cinta. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Memang ada malam-malam di mana dia menghabiskan waktu bersama wanita. Tapi, itu cuma hiburan sesaat, karena desakan hormon belaka. Bagaimanapun dia laki-laki normal yang ingin menyalurkan hasratnya.
“Entah kenapa aku selalu merasa jiwamu tak bersamaku, Norbert…”
Ucapan Inggrid membawa Norbert pada kenyataan dia sedang bersama Inggrid sekarang.
“Aku selalu ingin tahu apa yang kau pikirkan. Kau terlalu susah dimengerti. Aku ingin mengenal dirimu seutuhnya. Sayangnya, kau jarang membagi isi pikiranmu padaku. Aku jadi merasa kesepian, Sayang…” ucap Inggrid dengan nada manja.
“Oh, maafkan aku.” Norbert berkata spontan.
Inggrid menggeleng. “Jangan minta maaf. Tidak ada yang salah di sini.”
“Jadi, siapa yang harus minta maaf?” Norbert ingin sekali merongrong Inggrid dengan fakta bagaimana dia berselingkuh dengan Simon.
“Apa maksudmu?” Inggrid menelengkan kepalanya bingung, tak mengerti arah pembicaraan Norbert.
“Bukan apa-apa,” sanggah Norbert seketika. Dia tak ingin mengumbarnya sekarang. Ini terlalu cepat. Dia tak ingin semua berakhir sebelum dia melakukan sesuatu pada Inggrid.
Inggrid memanyunkan bibirnya dengan mimik lucu. “Kau memang misterius, Norbert. Itulah yang kusuka darimu. Kau susah sekali ditebak!” Mata Inggrid berbinar.
Norbert menatap Inggrid penuh arti. Dia tak tahu kenapa Inggrid memandangnya seolah dia adalah segala-galanya bagi wanita itu. Mata Norbert tertuju pada bibir Inggrid. Bibir itu pun sempat beradu dengan bibir Simon. Mungkin pula Simon menjamah tubuh Inggrid, seperti yang dilakukannya tiap malam. Norbert berusaha mencoba menahan muak di hatinya. Dia masih ingin melanjutkan permainan. Dia ingin melanjutkan rencananya pada Inggrid dan Simon. Sebelum semuanya selesai, dia tak ingin menyudahi sandiwara kecilnya sebagai suami yang baik dan pengertian.
“Oh, Norbert…” Inggrid kini bergelayut pada leher Norbert seraya mencoba mencium bibir laki-laki itu.
Norbert mengerti kehendak wanita itu. Dia pun mendekap Inggrid erat dan memberinya kecupan panas membara. Dengan lembut, didorongnya tubuh Inggrid ke sofa, sehingga dia sepenuhnya berada di atas wanita itu.
Pipi Inggrid memerah. Norbert tahu pertahanan wanita itu sudah luruh oleh hasrat menggebu. Bagus sekali, Norbert membatin dalam hati. Inggrid tak akan pernah tahu apa yang akan menantinya di masa depan. Atau bagaimana Norbert ingin membalas dendam atas perlakuan yang diam-diam Inggrid lakukan padanya.
-to be continue-